ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Angkasa Raya Group


__ADS_3

Setelah mengetahui jika Anindita, wanita yang telah secara paksa dia setu*buhi dan anaknya sudah tidak tinggal bersama keluarga Leo, Ricky kembali memerintahkan Deni untuk kembali mencari Anindita.


Ricky berharap pencariannya kali ini akan menemukan hasil karena Deni sudah mengetahui dengan jelas wajah wanita yang mesti dicarinya, bahkan Ricky menyuruh Deni membuat pengumuman di surat kabar di wilayah Malang dan sekitarnya. Ricky tidak menduga jika ternyata Anindita kini justru ada di Jakarta.


Satu tahun berlalu ...


Ricky tetap disibukkan dengan aktivitasnya mengurus Angkasa Raya membantu Dirga. Apalagi saat ini salah satu perusahaan Anak cabang Angkasa Raya Group di daerah Kalimantan sedang bermasalah. Perusahaan milik Pak Poetra Laksmana itu sedang diguncang rival bisnis Angkasa Raya Group yang sejak jaman Pak Poetra memimpin perusahaan pun sudah mulai diincar rival bisnisnya. Gerakan mereka pun tak tanggung-tanggung, mempengaruhi karyawan lama yang sudah bertahun-tahun bekerja di anak perusahaan itu membelot ke pihak lawan.


" Bagaimana menurutmu, Rick?" tanya Dirga saat selesai mengadakan meeting mendadak untuk membahas kebocoran di anak perusahaan di pulau Kalimantan itu.


" Saya kira harus ada sosok pimpinan yang tegas turun tangan ke sana. Saya rasa Pak Sean sangat kompeten untuk menangani permasalahan di sana." Ricky memberikan saran agar Pak Sean, wakil Dirga itu maju mengurus problem di sana.


" Aku pikir juga seperti itu, tapi kondisi Pak Sean tidak memungkinkan untuk ditugaskan ke sana, Rick." Dirga menyayangkan.


" Kalau kau sendiri yang aku tugaskan ke sana, bagaimana, Rick?" tanya Dirga menoleh ke arah Ricky.


Ricky terkesiap dengan rencana Dirga yang akan mengirimnya ke luar pulau. Ricky menghela nafas panjang. Selama lebih dari separuh umurnya dia menjadi bagian dari keluarga Poetra Laksmana, walaupun dia tetap tahu diri jika dia hanyalah anak angkat.


" Jika Pak Dirga menghendaki saya untuk pergi ke sana, saya siap, Pak." Ricky akhirnya menerima perintah Dirga untuk bertugas di luar pulau.


" Oke, Rick. Setelah acara anniversary Angkasa Raya Group, aku tugaskan kau ke sana. Kau bisa kembali ke tempatmu sekarang."


" Baik, Pak. Permisi ..." Ricky pun beranjak keluar dari ruangan Dirga kembali ke ruangannya.


***


Sementara itu di Jakarta bagian lain, Anindita diperintah Lucy untuk setor ke bank.


" Nin, tolong kamu ke bank, ya! Ada beberapa giro pembayaran jatuh tempo hari ini. Sama titipan kliring untuk tanggal besok. Kamu setorkan saja hari ini, biar besok nggak usah ke bank lagi."


" Oh iya, Ci." Anindita menerima beberapa lembar bilyet giro dan resi setoran kepada Anindita.


" Kamu ikut sama Pak Daus saja, sekalian dia mau antar karangan bunga ke Angkasa Raya, biar sekalian jalan," perintah Lucy lagi.


" Baik, Ci."


" Mama mau mana? Lama itut, Ma." Ramadhan yang sedang bersama Lucy berlari menghampiri saat Anindita menyampirkan sling bag nya.


" Rama mau ikut Mama?" tanya Anindita kepada anaknya.


" Iya, Ma." Ramadhan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ya sudah, kamu ajak saja Rama, Nin. Semua slip nya sudah saya tulis, kok." Lucy mengijinkan Anindita membawa anaknya.


" Baik, Ci." Anindita kemudian menggandeng tangan anaknya.


" Pak Daus, saya ikut ke bank, ya!" ucap Anindita kepada Pak Daus yang sedang menaikkan beberapa karangan bunga.


" Tapi saya mau antar barang dulu ya, Mbak."


" Iya, nggak apa-apa. Nggak terburu-buru juga kok, Pak." Anindita menyetujui.


" Ya sudah, Mbak Anin naik dulu saja ke dalam." Pak Daus menyuruh Anindita naik lebih dulu.


Anindita pun segera mengikuti anjuran Pak Daus.


" Mau diantar ke daerah mana bunganya, Pak Daus?" tanya Anindita ke Pak Daus saat mereka sudah berada di jalan.


" Ini untuk PT. Angkasa Raya semua kok, Mbak Anin." Pak Daus menerangkan.


" Empat-empatnya?" Anindita menoleh ke arah jendela belakang mobil pick up untuk melihat karangan bunga itu.


" Iya, Mbak."


" Kiriman orang semua sepertinya, Mbak."


" Perusahaan besar ya, Pak?"


" Kalau dilihat dari gedung perkantorannya sepertinya begitu, Mbak. Perusahaan property yang punya banyak perumahan elit sama apartemen mewah." Pak Daus menjelaskan.


" Kapan orang seperi kita-kita bisa tinggal di tempat itu ya, Pak?" Anindita berkelakar.


" Aamiin, Mbak. Siapa tahu ada Malaikat yang dengar." Pak Daus terkekeh menanggapi guyonan Anindita.


Anindita memperhatikan gedung perkantoran PT. Angkasa Raya Group. Dia juga memperhatikan beberapa karyawan yang sepertinya hendak keluar makan siang. Sementara Pak Daus dan keneknya yang tadi duduk di belakang sedang menurunkan karangan bunga sementara dirinya memangku Rama di dalam mobil.


" Mama Lama mau liat itan." Ramadhan menunjuk ke arah kolam ikan melingkar yang ada di tengah halaman gedung perkantoran itu.


" Sebentar saja ya, Sayang."


" Iya, Ma."


Anindita pun keluar dari mobil mengajak Ramadhan ke dekat kolam ikan tersebut.

__ADS_1


" Mama, itu itan nya besal." Ramadhan terlihat girang melihat ikan yang berukuran besar di dalam kolam itu.


" Mana? Ah, iya ... ikannya banyak ya, Nak."


" Iya, Lama mau itan nya, Ma."


" Jangan sayang, itu 'kan punya orang. Nanti orangnya marah kalau ikannya dibawa sama Rama."


" Mama ada kupu-kupu." Ramadhan lalu menunjuk kupu-kupu yang hinggap di kepala Anindita.


" Mana?" Anindita mendongakkan kepalanya ke atas mencari kupu-kupu yang dimaksud Ramadhan.


" Telbang, Ma." Ramadhan terkekeh.


Anindita pun ikut tersenyum memperhatikan Ramadhan yang terlihat begitu gembira memperhatikan ikan-ikan di kolam.


Anindita sendiri memperhatikan gedung kantor di depannya itu. Dia lalu menatap ke pintu masuk kantor itu. Nampak dua orang pria bertubuh tinggi keluar dari dalam kantor, walau tak nampak jelas wajah dua orang pria itu, namun Anindita bisa menangkap jika mereka itu adalah orang-orang berposisi tinggi di perusahaan itu. Apalagi saat itu sebuah mobil sport mewah berhenti di depan mereka. Dan orang di dalam mobil itu keluar menyerahkan kunci kepada salah satu pria itu, dan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil tersebut dan keluar dari halaman Angkasa Raya Group.


" Mobilnya kelen, Ma." Ramadhan mengacungkan jempolnya mengagumi mobil mewah yang baru saja melintas.


" Lama kalo besal mau punya mobil kelen itu, Ma." Ramadhan berceloteh.


Anindita tersenyum seraya mengusap kepala anaknya itu.


" Aamiin, Sayang." Anindita merengkuh tubuh anaknya. Dia hanya bisa meng-aamiin-kan keinginan anaknya. Dia sendiri tidak terlalu berharap tentang hal itu, karena dia menyadari kondisi dia saat ini. Untuk bisa bertahan hidup seperti sekarang ini saja dia sudah sangat bersyukur.


" Mbak, Anin. Ayo sudah selesai." Pak Daus berteriak memanggil Anindita.


" Iya, Pak." Anindita menyahuti. " Ayo, Rama. Pak Daus sudah mau pergi." Anindita pun kemudian menggendong tubuh Ramadhan dan membawanya kembali ke dalam mobil.


Anindita tidak pernah menduga jika kantor yang dia datangi saat ini adalah kantor tempat ayah dari anaknya bekerja dan salah satu pria yang ada di dalam mobil mewah itu adalah pria yang pernah menodainya dulu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2