
Minggu sore ini di kediaman rumah Arya sangat ramai dengan kehadiran ibu-ibu komplek di sekitar rumah Arya. Karena hari ini diadakan tasyakuran empat bulanan kehamilan Anindita. Tak hanya tetangga sekitaran rumah Arya saja yang datang, namun teman-teman Anindita pun seperti Yeti, Mita bahkan Lucy pun ikut hadir meramaikan acara tasyakuran.
" Selamat ya, Anin. Semoga Mommy and Baby nya selalu dikasih sehat." Lucy memberikan doanya.
" Aamiin, terima kasih atas doanya, Ci Lucy." Anindita mengelus perutnya.
" Sudah USG belum, Nin? Cewek atau cowok dedek bayinya?" tanya Yeti ikut mengusap perut Anindita.
" Baru kemarin ke dokter, Mbak Yeti. Perkiraan dokter bayinya laki-laki," sahut Anindita.
" Wah, Rama punya teman main, dong!" Mita menimpali.
" Iya, Mas Arya juga senang sekali tahu calon bayinya laki-laki, Mbak Mita." Anindita menjawab pertanyaan Mita.
" Pasti ganteng kaya papanya, nih!" Mita kembali menimpali seraya terkikik.
" Iya, nih! Nanti kalau sudah besar pasti banyak cewek yang bingung pilih Rama sama calon adiknya." Yeti ikut berkomentar.
" Oh ya, Nin. Kita nggak bisa lama. Karena harus kembali ke toko." Lucy ingin berpamitan.
" Nggak apa-apa, Ci. Terima kasih Ci Lucy sudah datang ke sini."
" Aku juga pamit ya, Nin."
" Aku juga, Mbak Anin."
Yeti dan Mita pun ikut berpamitan.
" Iya, Mbak Yeti, Mbak Mita, terima kasih ya sudah bisa datang," sahut Anindita.
" Mas, ini Ci Lucy mau pada pamitan. Tolong suruh Mbak Tita bawakan Goodie bag nya." Anindita memanggil suaminya itu untuk mengatur Tita membawakan buah tangan untuk mantan bos dan teman kerjanya.
***
" Sayang, apa kamu nggak ingin apa-apa?" tanya Arya menuntun Anindita ke kamar setelah semua tamu pulang.
" Ingin apa maksudnya, Mas?" Anindita mengeryitkan keningnya seraya mendudukkan tubuhnya ke sofa.
" Selama kamu hamil kenapa kamu nggak punya keinginan yang aneh-aneh? Biasanya ibu hamil itu suka ngidam yang aneh-aneh yang bikin suami kelimpungan." Arya terkekeh.
" Aku juga nggak tahu, Mas. Dulu juga waktu hamil Rama aku juga nggak ngidam yang aneh-aneh. Mungkin waktu Rama masih di dalam perut dia mengerti keadaan Mamanya," cerita Anindita mengingat kisah masa lalunya.
" Itu 'kan dulu, Sayang. Sekarang ini 'kan Papa calon adik bayinya ada menemani." Arya merangkulkan tangannya di pundak Anindita membuat Anindita lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
__ADS_1
" Aku hanya ingin Mas Arya selalu ada di dekatku dan menemaniku saat aku melahirkan nanti." Anindita mengutarakan harapannya.
"Mas pasti selalu menemanimu, Sayang. Begitupun saat kamu melahirkan nanti, Mas akan menemani menyambut kelahiran buah cinta kita," janji Arya.
" Aamiin, Mas."
" Oh ya, Sayang. Awal bulan depan rencananya Mas mau ke Semarang. Mau ada reuni teman-teman SMA dulu." Arya menyampaikan rencananya kepada Anindita.
" Reuni?"
" Iya, Sayang. Sudah lebih dari delapan belas tahun nggak bertemu." Arya menerangkan.
" Aku ikut, Mas."
" Sayang, kamu sedang hamil. Aku nggak ingin kamu kecapean karena ikut pergi jarak jauh."
" Mas Arya ingin bertemu mantan pacar Mas waktu SMA dulu, ya?!" Anindita menegakkan kembali kepalanya seraya mencebikkan bibirnya.
" Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Mas nggak mikir sampai sejauh itu. Mas hanya nggak ingin kamu merasa kecapean." Arya menepis anggapan Anindita yang menduga dia melarang istrinya itu karena dia ingin menjumpai mantan pacarnya dulu sehingga tidak mengijinkan Anindita ikut.
" Tapi aku mau ikut, Mas." Anindita merengek manja.
" Sayang, dengar Mas, deh. Kamu nggak ingin calon bayi kita kenapa-kenapa, kan? Mas melarang kamu bukan karena apa-apa. Tapi karena Mas ingin menjaga keselamatan kamu dan calon anak kita."
Anindita mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya itu.
" Astaghfirullahal adzim ... kamu jangan bicara yang tidak-tidak! Kamu sedang hamil jangan sembarang bicara, Mas nggak suka, Sayang." Arya langsung memeluk tubuh Anindita.
Anindita tercenung, dia pun tak mengerti kenapa tiba-tiba bisa berucap seperti itu.
***
Anindita memeluk erat suaminya, sore ini Arya akan pergi ke Semarang untuk mengadakan acara reuni teman-teman sekolahnya dulu besok malam. Sebenarnya Anindita berusaha memaksa ingin ikut namun Arya bersikeras menahannya.
" Mas, jangan lama-lama di sana, ya! Segera pulang kalau sudah selesai," pinta Anindita.
" Iya, Sayang. Setelah selesai Mas akan segera pulang. Mas juga nggak ingin jauh lama-lama dari kamu." Arya kemudian mengecup kening Anindita.
Arya pun kemudian berpamitan kepada Ramadhan dan Putri.
" Kak Putri sama Rama jangan nakal selama Papa pergi, ya! Papa titip Mama, ya!" Arya memeluk erat Ramadhan dan juga Putri, bahkan saat memeluk Putri, Arya sampai mengecup seluruh wajah anak perempuannya itu.
" Sayang, Mas titip anak-anak, ya! Jaga mereka selama Mas nggak ada." Arya kembali merengkuh tubuh Anindita agak lama, seolah dia pun enggan berpisah dengan istrinya itu.
__ADS_1
Anindita pun merasakan hal yang sama. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama kali Arya keluar kota, namun entah mengapa dia pun merasa berat melepas kepergian suaminya itu.
" Mas pamit ya, sayang! Jaga kesehatan, jangan tidur terlalu larut. Jangan lupa diminum vitaminnya," pesan Arya.
" Iya, Mas. Aku akan ingat itu. Mas juga hati-hati di Jalan, ya! Nanti kalau sudah sampai Semarang segera kabari aku," pinta Anindita.
" Iya, Sayang. Mas berangkat, ya! Assalamualikum ..." pamit Arya.
" Waalaikumsalam ..." Anindita akhirnya dengan berat hati melepas Arya pergi hingga sosok Arya masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.
***
Ddrrtt ddrrtt
Anindita melirik ponselnya, dia berharap suaminya yang meneleponnya namun justru nama Tuan Ricky yang nampak di layar ponselnya.
" Assalamualaikum ..." Dengan nada malas Anindita menjawab panggilan telepon dari Ricky.
" Waalaikumsalam, Nyonya. Saya ingin menjemput Rama. Tadi saya menghubungi Pak Arya, Pak Arya bilang beliau sedang berada di luar kota."
" Iya, suami saya memang sedang ada di luar kota," sahut Anindita ketus.
" Lalu bagaimana saya bisa menjemput Rama sedangkan Nyonya sendiri melarang saya datang ke rumah Nyonya?" tanya Ricky kemudian.
Anindita mendengus kasar.
" Baiklah nanti saya yang antar Rama." Akhirnya Anindita memutuskan dia sendiri yang akan menyerahkan Ramadhan pada Ricky daripada pria itu yang datang ke tempatnya.
" Baiklah, kita bertemu di mana, Nyonya?" tanya Ricky.
" Hmmm, yang tidak terlalu jauh dari sini saja."
" Baiklah, Nyonya. Kita bertemu di cafe dekat Angkasa Raya Residence. Saya dan Pak Arya beberapa kali sering bertemu di sana." Ricky menawarkan.
" Oke, saya akan ke sana. Assalamualaikum." Anindita langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu balasan salam dari Ricky.
Anindita menghempas nafas. Sebenarnya dia malas untuk bertemu dengan Ricky, namun dia terpaksa agar Ricky tidak datang ke rumahnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️