
Anindita menatap wajah Rachel yang nampak tenang sama sekali tidak terlihat olehnya emosi ataupun kebencian di mata wanita cantik di hadapannya itu.
" Mas Arya pasti sudah cerita tentang penyebab kami berpisah, kan?" tanya Rachel, membuat Anindita yang sedang asyik memandangi wajah cantik Rachel mengerjap. Anindita buru-buru menggelengkan kepalanya.
" Dia nggak bilang ke kamu alasan kami berpisah ya?" tanya Rachel nampak terkesip mengetahui jika Anindita tidak mengetahui sama sekali alasan dibalik perceraiannya dan Arya.
" Tidak, Mbak." Anindita menjawab, tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia takut dianggap terlalu ingin tahu urusan orang lain.
Rachel menghela nafas dalam-dalam sebelum memulai bercerita. "Tidak ada orang ketiga di antara hubungan kami. Perpisahan kami ini bukan dikarenakan hadirnya wanita lain dan pria lain. Kami hanya kurang komunikasi. Kurangnya waktu bersama dan sudah tidak ada kesamaan pola pikir di antara kami berdua sehingga sering terjadi selisih paham."
" Kami berdua sama-sama bekerja dan Mas Arya meminta saya untuk berhenti bekerja. Tapi saya tidak bisa mengikuti kemauannya. Saya anak sulung dan tulang punggung keluarga. Saya harus membantu membiayai kuliah kedua adik-adik saya. Mas Arya memang bersedia menanggung keluarga saya, tapi saya tidak ingin merepotkan Mas Arya, karena Mas Arya juga punya saudara. Saya tidak ingin apa yang dilakukan Mas Arya untuk keluarga saya menjadi masalah untuk keluarga Mas Arya di kemudian hari. Karena itu saya memilih tetap bekerja."
" Mas Arya menginginkan saya berperan sebagai ibu rumah tangga seutuhnya, namun hal itu yang tidak bisa saya lakukan. Dan pada akhirnya Mas Arya memberikan saya pilihan. Tetap bersama tapi saya berhenti bekerja atau berpisah dan saya tetap bisa mencari rejeki untuk menghidupi keluargaku."
" Karena saya lebih memikirkan keluarga, Mama dan adik-adik saya, yang entah akan seperti apa jika saya berhenti bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk berpisah dan merelakan Putri diurus oleh Mas Arya."
Anindita mendengarkan cerita Rachel dengan seksama. Dia bisa membayangkan apa yang dirasakan Rachel sangatlah berat. Dia harus merelakan rumah tangga hancur karena lebih memilih berbakti kepada orang tua dan adiknya.
" Sebenarnya sebelum menikah juga Mas Arya sudah tahu jika saya bekerja, tapi kita tetap maju terus, dengan harapan seiring berjalannya waktu setiap permasalah bisa teratasi. Tapi dengan semakin meningkatnya jenjang karir saya, semakin sedikit waktu yang bisa saya sediakan untuk Mas Arya dan Putri."
" Eh, maaf kalau kamu harus mendengar cerita saya." Rachel yang melihat Anindita hanya diam hanya mendengar tak berkomentar apapun atas ceritanya merasa tak enak hati.
" Oh, tidak apa-apa, Mbak." Sebenarnya Anindita bukannya tidak ingin berkomentar tapi dia bingung ingin berkomentar apa, dia takut salah dalam berucap.
" Oh ya, tujuan saya kemari sebenarnya ingin mengenal lebih dekat calon ibu sambung Putri. Saya berharap jika kamu nanti mendampingi Mas Arya, kamu bisa menyayangi Putri layaknya anak kandung sendiri. Karena saya tidak bisa mengurus Putri dengan tangan saya sendiri, saya ingin Putri mendapatkan ibu sambung yang baik yang mengasihi dia secara tulus," ujar Rachel penuh harap.
" Saya rasa harapan saya tidak terlalu berlebihan sebagai seorang ibu. Kamu juga seorang ibu
'kan? Jadi saya rasa kamu juga mengerti kekhawatiran saya ini."
__ADS_1
Anindita menganggukkan kepala pelan dan menjawab kalimat singkat, " Iya, Mbak."
" Kamu wanita yang sangat sederhana, saya merasa kamu wanita yang cocok untuk Mas Arya. Wanita seperti kamulah yang sesungguhnya Mas Arya cari. Semoga rumah tangga kalian nanti akan langgeng selamanya."
" Aamiin, terima kasih, Mbak." Anindita berucap malu-malu.
" Masalah Putri, pasti dia tidak akan mudah menerima sosok ibu sambung. Dia pun sudah bicara dengan saya, dia tak ingin punya ibu tiri. Dia terpengaruh dengan cerita-cerita buruk tentang ibu tiri. Nanti saya akan berusaha memberi pengertian kepada Putri agar dia bisa mengerti dan menerima keputusan papanya untuk menikah kembali."
Entah Anindita harus bicara apa? Baginya sosok Rachel sangatlah sempurna. Cantik dan berkelas. Kalimat yang terucap dari bibir wanita itu terdengar santun. Bahkan wanita itu tidak mempermasalahkan dengan posisi Anindita yang hanya seorang pelayan toko bunga. Seketika itu juga Anindita merasa sangat rendah diri jika dibandingkan dengan Rachel. Dan dia pun berpikir apakah dia pantas mendampingi Arya? Orang yang mengenal mantan istri Arya pastilah akan membanding-bandingkan dirinya dengan Rachel.
***
" Ya ampun, anaknya ganteng sekali, Om. Mirip sekali sama Papanya. Gemes, deh. jadi ingin cubit Papanya." Komentar salah seorang wanita muda saat Ricky dan Rama sedang duduk sambil menunggu pintu studio bioskop dibuka.
" Hot Daddy banget, deh." Wanita di sebelah wanita yang tadi bicara ikut menimpali
" Berdua saja nih, Om? Tantenya ke mana?" tanya wanita pertama tadi.
" Om, boleh kenalan nggak, nih? Saya Regina, Om." Wanita yang mengaku bernama Regina memperkenalkan dirinya.
" Kalau saya Sabrina, Om." Wanita lainnya tak kalah semangat memperkenalkan diri.
Ricky menatap kedua wanita muda itu lalu mengulum senyuman tak membalas perkataan kedua wanita itu.
" Astaga, Om. Senyumnya bikin kita mau semaput, deh." Regina memegangi dadanya hingga membuat Sabrina terkikik.
" Om, butuh baby sitter, nggak? Aku mau dong, Om. Disuruh ngasuh anaknya Om yang ganteng ini," ucap Sabrina kemudian.
" Aku juga mau dong, Om. Kalau aku ngurus Om nya saja, deh. Kan anak Om sudah diurus sama dia," seloroh Regina menunjuk ke arah Sabrina.
__ADS_1
" Diihh, enakan lu dong ngasuh bokapnya, gue disuruh ngasuh anaknya!" protes Sabrina.
" Lho, yang minta 'kan lu sendiri tadi. Minta jadi baby sitter anaknya Om ganteng ini," sindir Regina.
" Ya tapi enak di lu, dong! Gue juga pilih ngasuh bokap saja kalau begitu."
" Ya nggak bisa, dong! Lu 'kan tadi pilih anaknya, ya bokapnya buat gue!"
Ricky yang melihat dua orang wanita itu berdebat langsung menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menggenggam tangan mungil Ramadhan dan membawa Ramadhan masuk ke dalam studio karena pintu studio itu sudah mulai dibuka, meninggalkan kedua orang wanita yang terus memperdebatkan pepesan kosong.
" Om, Tante-tante tadi itu kenapa, sih? Kok berantem?" tanya Ramadhan yang dibuat bingung oleh kehadiran Regina dan Sabrina.
" Om juga nggak tahu, Nak. Sudah Rama nggak usah dengar kucing yang sedang berantem." Ricky terkekeh menjawab pertanyaan Ramadhan.
" Kok nggak disiram, Om?" tanya Ramadhan lagi.
" Lho, memang kenapa harus disiram?" Ricky mengeryitkan keningnya.
" Kata Tante Mita kalau ada kucing berantem harus disiram, Om." Ramadhan menjawab polos.
Ricky tergelak mendengar ucapan Ramadhan, karena dia juga ketika remaja pernah mendengar mitos seperti itu dari orang tuanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️