
Anindita membuang pandangan ke lain arah saat Ricky terus menatap lekat ke arahnya. Dia seakan tidak berdaya untuk menolak apa yang inginkan oleh Ricky. Karena jika menentang dan harus lari, dia sendiri tidak tahu harus lari ke mana.
" Sekarang Anda istirahatlah, Nyonya. Cika akan menemani malam ini. Besok pagi dia akan menyiapkan sarapan untuk kalian," ujar Ricky kemudian.
" Kalau saya ingin berangkat kerja dari sini saya harus naik kendaraan umum apa, Tuan?" Anindita teringat kalau dia besok akan beraktivitas, dan dia tidak tahu kendaraan umum apa yang mesti dia pakai.
" Anda tidak akan ke mana-mana, Nyonya. Aktivitas Anda sehari-hari adalah berdiam diri di apartemen ini. Semua pekerjaan nanti Cika yang urus."
" Maksud, Tuan?" Kening Anindita berkerut, dia tidak memahami arti ucapan Ricky.
" Anda tidak akan bekerja lagi mulai sekarang," tegas Ricky.
" Apa? Tidak bekerja?" Anindita terkesiap.
" Tidak, Tuan! Saya tidak mau berhenti bekerja! Saya harus mencari uang untuk biaya hidup anak-anak saya, untuk biaya persalinan saya." Anindita menolak dilarang Ricky untuk berhenti bekerja.
" Masalah itu Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Saya yang akan menanggung semua biaya hidup Nyonya dan anak-anak Nyonya. Termasuk Anak yang ada dalam kandungan Nyonya." Ricky melirik ke arah perut Anindita, sehingga Anindita reflek memegang perutnya.
" Tidak, Tuan! Saya tidak bisa terima itu!" tolak Anindita cepat
" Jika Tuan bersikeras ingin membiayai Rama, saya masih bisa mengerti. Tapi untuk anak dalam kandungan saya ini, Tuan tidak punya kewajiban untuk menanggung biaya hidupnya." Anindita tetap tidak menyetujui rencana Ricky.
" Saya ingin membalas kebaikan Pak Arya yang sudah menyayangi Rama selama ini, layaknya anak kandung Pak Arya sendiri."
Ucapan Ricky seketika membuat hati Anindita merasa sendu, bahkan Anindita tidak mampu menahan air mata yang akhirnya menetes di pipinya hingga dia tersedu.
" Nyonya, maaf ... saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih." Tentu saja Anindita yang menangis membuat Ricky serba salah. Sebuah pelukan adalah hal yang tepat diberikan kepada orang yang menangis karena kesedihan. Tapi dia sadar, tidak mungkin dia lakukan hal itu kepada Anindita.
" Nyonya, sebaiknya Nyonya beristirahat saja, biar pikiran Anda menjadi tenang. Semua persoalan yang terjadi pasti membuat hati Anda lelah, dan itu tidak baik untuk perkembangan janin yang ada dalam kandungan Nyonya." Ricky mencoba menenangkan Anindita yang masih saja tersedu.
" Ibu kenapa, Pak?" tanya Cika yang baru saja datang dari mengantar Lucy dan anak buahnya. Sementara kedua tangan Cika menggenggam plastik mini market berisikan beberapa makanan dan juga susu ibu hamil.
" Cika, kamu tolong temani, Nyonya Arya. Saya akan ke bawah," perintah Ricky kepada Cika.
" Baik, Pak." Cika dengan cepat menyahuti.
__ADS_1
" Saya permisi, Nyonya." Setelah berpamitan Ricky pun segera keluar dari apartemen yang ditempati Anindita.
" Mari, Bu. Saya temani ke kamar." Cika membawa Anindita masuk ke dalam kamarnya.
" Saya buatkan susu dulu ya, Bu. Ibu tunggu sebentar ..." Setelah sampai di kamar Anindita, Cika pun berpamitan ingin membuatkan susu hamil untuk Anindita.
Anindita kembali mengedar pandangan ke suluruh sudut ruangan kamarnya. Kamar ini sangatlah nyaman dengan suhu pendingin ruangan yang diatur agar membuat orang yang berada di kamar ini merasa nyaman dan mungkin bisa tertidur pulas. Namun untuk Anindita, senyaman apapun kamar yang dia tempati sekarang, dia merasa lebih nyaman berada di kamarnya di rumah suaminya dulu, apalagi jika sang suami ada di sampingnya.
Mengingat akan suaminya, Anindita kemudian menarik koper dan ingin mengangkat koper itu ke atas tempat tidur karena dia ingin mengambil sesuatu dalam koper itu.
" Ibu, jangan angkat- angkat koper!" Suara Cika yang memekik sontak membuat Anindita terperanjat sampai memegangi dadanya.
" Aduh maaf sudah bikin Ibu kaget," ucap Cika menaruh susu hamil yang dia buat di atas nakas.
" Ibu mau ambil apa? Mari saya bantu." Cika dengan cekatan mengambil koper di tangan Anindita lalu menaruhnya di atas tempat tidur.
" Ini sudah malam, Bu. Sebaiknya Ibu istirahat saja. Besok siang saya bantu taruh baju-baju Ibu dan Rama ke lemari," ucap Cika.
" Oh iya, Mbak. Terima kasih." Anindita kemudian membuka koper itu lalu mengambil beberapa bingkai foto yang dia bawa dari rumah Arya.
" Saya dengar dari Pak Ricky tentang suami Ibu. Saya turut belasungkawa ya, Bu. Saya tahu ini tidak akan mudah untuk Ibu, tapi Ibu masih bersyukur karena Ibu dekat dengan Pak Ricky. Saya rasa Pak Ricky akan melindungi Ibu dan keluarga Ibu. Apalagi Rama adalah darah daging Pak Ricky sendiri, Pak Ricky pasti akan menjamin kehidupan masa depan Rama."
" Sudah tidak ada lagi yang ingin dikeluarkan, Bu?" tanya Cika berniat ingin menutup kembali koper yang tadi dia buka.
" Oh, tidak, Mbak Cika. Saya hanya ingin mengambil ini saja," sahut Anindita menunjuk beberapa bingkai foto tadi.
" Panggil saya Cika saja, Bu." Cika meminta Anindita memanggil namanya saja.
" Oh, iya, Cika." Anindita menuruti apa yang diinginkan Cika.
" Cika sudah lama bekerja di sini?" tanya Anindita merasa penasaran dengan ART Ricky itu.
" Kalau bekerja di sini sejak saya mulai kuliah dua tahun lalu, Bu."
Anindita terbelalak mengetahui jika ART yang bekerja di tempat tinggalnya saat ini adalah seorang mahasiswa.
__ADS_1
" K-kuliah?" tanya Anindita agak syok mengetahui jika Cika adalah orang terpelajar.
" Benar, Bu."
" Kuliah di mana?"
" Saya kuliah di fakultas hukum universitas xxx."
" Kamu ambil jurusan hukum?"
" Iya, Bu."
Anindita menelan salivanya, pantas saja penampilan Cika sangat berbeda, menurutnya.
" Kamu kuliah tapi kamu kerja juga di sini?" tanya Anindita heran. Karena menurutnya sangat langka seorang mahasiswa yang mau bekerja seperti yang dilakukan Cika sekarang.
" Iya, Bu. Kebetulan Om saya bekerja di perusahaan tempat Pak Ricky bekerja. Dan kebetulan saya juga butuh uang tambahan untuk biaya kuliah agar tidak terlalu membebani orang tua saya di luar kota. Kebetulan Pak Ricky menawarkan pekerjaan ini. Saya rasa tidak ada salahnya saya mencoba, toh pekerjaan ini adalah pekerjaan yang halal dan waktunya juga tidak terlalu mengikat karena saya harus kuliah. Akhirnya saya terima pekerjaan ini." Cika menjelaskan.
" Apa kamu tinggal di sini?" tanya Anindita.
" Tidak, Bu. Saya tinggal bersama Om dan Tante saya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini."
" Biasanya saya hanya ke sini seminggu tiga kali. Tapi mulai besok saya akan tiap hari tinggal di sini menemani Ibu. Itu yang Pak Ricky perintahkan kepada saya." Cika kembali menjelaskan.
" Sebelumnya apa ada orang lain yang menempati apartemen ini, Cika?" tanya Anindita penasaran,
" Tidak ada, Bu. Yang menempati hanya Pak Ricky saja, jika beliau merasa bosan di apartemen bawah. Tapi seingat saya Pak Ricky pernah bilang kalau saya harus bisa merawat apartemen ini sebaik mungkin, karena beliau mempersiapkan apartemen ini untuk anak dan ibu dari anaknya yang sudah lama Pak Ricky cari jika nanti mereka sudah ditemukan. Dan ternyata janji Pak Ricky menjadi kenyataan, karena Pak Ricky benar-benar menepati janjinya itu."
Anindita dibuat kembali terkesiap mengetahui fakta jika Ricky benar-benar mempersiapkan tempat tinggal ini untuknya dan juga untuk Ramadhan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️