ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Menjemput Azab


__ADS_3

Anindita menggelengkan kepala merasa tidak percaya dengan sikap adik-adik Arya yang mengusirnya. Walaupun ini bukan pertama kali dia diusir oleh mereka, tapi melihat kondisi dia yang sedang hamil dan berduka atas kepergian Arya, ternyata itu sama sekali tidak menggugah rasa empati mereka.


" Mbak, saya nggak masalah diminta pergi dari sini, tapi jangan sekarang. Mas Arya baru saja meninggal dan itu belum tujuh hari. Saya mohon mengertilah keadaan saya ini. Saya baru saja berduka, Mbak." Anindita berkata dengan berurai air mata mengharapkan sedikit belas kasihan


" Kamu pikir cuma kamu saja yang berduka? Dan kamu lah penyebab nasib buruk yang menimpa kakakku itu!" ketus Ria dengan menyentak.


" Astaghfirullahal adzim ..." Tak henti Anindita beristighfar memohon diberikan kesabaran, sementara dadanya sudah terasa sangat sesak.


" Ria, kenapa kamu jadi seperti ini?!" Sementara Mama Arya pun menangis tak menyangka melihat anaknya berubah tak berperasaan seperti itu.


" Mama nggak usah ikut campur untuk masalah ini. Sebaiknya Mama ikut pulang dengan kami." Bahkan ucapan ibunya sendiri pun tak mampu meluluhkan kekerasan hati Ria.


" Lan, bawa Mama ke mobil!" Ria menyuruh adiknya itu membawa Mama mereka keluar dari rumah Arya.


" Mama nggak mau ikut kalian!! Kalian semua tega! Mama akan di sini menemani Anin!!" Mama Arya menolak dibawa kedua anak-anaknya. Namun karena kondisinya yang saat ini memakai kursi roda tak cukup untuk menentang kemauan kedua anaknya itu hingga akhirnya Lanny berhasil membawa Mama Arya keluar dari rumah Arya walaupun ibunya itu terus menangis.


" Kalian, cepat seret dia keluar dari rumah ini!" perintah Ria kepada tiga orang pria bertampang preman itu.


" Baik, Bos!" Ketiga preman itu menjawab serempak dan menarik tangan Anindita membuat Anindita memekik.


" Astaghfirullahal adzim! Apa yang kalian lakukan?!" Yeti yang sedari tadi ada di dapur bersama Tita langsung mendekat saat mendengar keributan. Dan dia terkesiap melihat Anindita sedang ditarik paksa tiga orang pria bertampang sangar. Sedangkan Tita langsung masuk ke kamar Ramadhan untuk melindungi agar Ramadhan tidak mendengar dan melihat Mamanya dipelakukan seperti itu.


" Kalian bukan manusia, ya?! Kalian tidak melihat Anin itu sedang hamil?! Apa kalian itu tidak terlahir dari rahim seorang ibu?! Tega sekali memperlakukan wanita hamil seperti ini!" geram Yeti dengan emosi melihat Anindita diperlakukan dengan tidak berperasaan.


" Heh, kalau kamu kasihan lihat dia, cepat bantu dia kemasi barangnya dan tinggalkan tempat ini secepatnya!!" hardik Ria.


" Kalian benar-benar tidak punya perasaan!!" Yeti lalu mendekati Anindita dan menyingkirkan tangan-tangan orang suruhan Ria dari tangan lengan Anindita. " Awas !!" bentak Yeti.


" Cepat kau bantu kemasi pakaiannya dan segera keluar dari rumah ini!!" Ria dengan kesombongannya terus beraksi, membuat Yeti akhirnya segera menuntun Anindita yang syok dan menangis ke arah kamarnya.


Anindita terduduk seraya menangis. Dia benar-benar merasa dunia seakan benar-benar runtuh menimpanya.


" Mas Arya, hiks ..." Anindita tersedu memanggil nama suaminya seakan ingin mengadu atas rasa sakit yang dia rasakan sekarang ini.


" Nin, kamu yang sabar, ya!" Yeti mencoba menegarkan Anindita.

__ADS_1


" Aku bantu kamu mengemasi barang-barangnya ya, Nin." Yeti mengambil tas koper di samping lemari pakaian.


" Mbak tolong kemasi yang punya Rama saja, di kamar sebelah."


" Ya sudah, aku packing punya Rama." Yeti bergegas ke kamar Ramadhan.


Sementara Anindita mengemas baju-baju miliknya sendiri. Dan saat dia menatap pakaian Arya yang tersusun rapih di lemari pakaian seketika tangisnya kembali pecah. Anindita mengambil kemeja milik suaminya lalu dia mendekap dan mencium kemeja itu. Dia masih merasakan aroma maskulin yang menguar sama seperti aroma yang biasa dia hirup dari tubuh sang suami.


" Mas, aku kangen kamu ..." Anindita menangis hingga membasahi kemeja Arya yang sedang dia peluk saat itu.


Setelah memasukan pakaiannya dan beberapa pakaian Arya dan juga foto pengantin mereka, Anindita kembali duduk di tepi tempat tidur. Dia memandang ke seluruh sudut ruangan. Di kamar ini banyak kenangan indah yang telah dia lalui bersama suaminya tercinta. Dan kini dia harus pergi meninggalkan ruangan ini dan juga rumah ini.


Sementara di kamar sebelah Yeti masih mengepak pakaian dan juga beberapa mainan milik Ramadhan.


" Tante Yeti, baju sama mainan Rama mau diapain?" tanya Ramadhan yang melihat baju dan mainannya dikemasi di koper dan tas besar.


Yeti melirik ke arah Tita karena dia bingung mesti bicara apa terhadap Ramadhan. " Rama mau pindah dari sini." Yeti akhirnya menjawab pertanyaan Ramadhan.


" Memangnya Rama mau pindah ke mana, Tante?"


" Halo, ada apa, Yet?" Suara Lucy terdengar dari ponsel Yeti.


" Ci, Anin diusir adiknya Pak Arya. Sekarang saya sedang bantu packing pakaiannya." Yeti melaporkan kejadian yang menimpa Anindita dengan berbisik agar tidak terdengar oleh Ramadhan.


" Astaga!! Benar-benar keterlaluan!!" geram Lucy.


" Iya, Ci. Mereka sampai membawa preman untuk menakuti," sahut Yeti.


" Ya sudah, nanti saya langsung ke sana sekarang."


" Iya, Ci." Yeti pun langsung menutup panggilan teleponnya setelah Lucy mengakhiri ucapannya.


***


Dengan langkah gontai Anindita menarik koper yang berisi pakaian-pakaiannya dan juga mengandeng tangan Ramadhan.

__ADS_1


" Mama, kita mau ke mana? Rama mau di sini saja. Kalau Papa Arya pulang, Papa Arya nggak susah cari Rama." Ramadhan menahan tangannya yang dituntun Anindita.


" Lho, Bu Arya mau ke mana?" tanya Bu Wisnu yang melihat beberapa koper sudah dikeluarkan dari dalam rumah.


" Mereka mengusir Anin, Bu!" Yeti menunjuk ke arah Ria yang sedang melipat tangan di dadanya.


" Astaga! Kalian kok jadi orang nggak punya hati sama sekali, ya! Orang baru ketimpa kemalangan kok malah diusir!" Bu Wisnu pun nampak geram melihat kelakuan adik-adik Arya.


" Ibu jangan ikut campur urusan keluarga kami!" hardik Ria.


" Heh, belegug sia !! Sama orang tua tidak ada sopan santunnya! Kualat kamu nanti, ya!!" Bu Wisnu nampak emosi.


" Bu Arya itu sedang mengandung dan dia istri sah Pak Arya, dia itu berhak atas rumah ini! Kamu jangan sembarangan main usir-usir saja, ya!" Bu Wisnu berjalan ingin menghampiri Ria namun Anindita melarangnya.


" Bu Wisnu, biarkan saja." Anindita meminta Bu Wisnu untuk tidak berurusan dengan Ria.


" Bu Arya, Bu Arya mau ke mana sekarang? Tunggu ke rumah saya saja dulu." Bu Wisnu menawarkan.


" Kami sedang menunggu bos saya, Bu." Yeti menjawab pertanyaan Ibu Wisnu.


" Oh ya sudah, kalian tunggu di rumah saya saja." Bu Wisnu kemudian meraih koper yang sedang dibawa Anindita.


" Kalian lihat saja, azab sebentar lagi akan menjemput kalian!" ucap Bu Wisnu menunjuk ke arah Ria.


***


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2