
Ricky berulang kali mencoba memejamkan mata, namun ternyata itu sulit sekali dilakukannya. Tentu saja hal itu tidak terlepas dari kejadian di kamar Anindita saat Anindita tiba-tiba memeluk dan menciumnya. Walaupun dia tahu hal itu terjadi karena Anindita tidak menyadari jika dia bukanlah suaminya.
Tanpa sadar Ricky menyentuh bibirnya. Seakan masih terasa bibir Anindita yang tadi membenamkan sentuhan penuh kelembutan di bibirnya. Ini adalah kedua kalinya Ricky merasakan bersentuhan dengan wanita. Dan itu terjadi dengan wanita yang sama.
" Ya Tuhan, kenapa aku terus kepikiran kejadian tadi?!" Ricky mengusap kasar wajahnya.
Ricky melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia kemudian memilih bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah balkon.
Angin dingin langsung menyambut saat Ricky membuka pintu balkon. Dia berjalan menuju tepi balkon memandang kota Jakarta yang tak pernah terlelap meskipun sebagian besar penghuninya sudah terlelap dengan mimpinya.
Ricky menghela nafas panjang. Dia tidak mengerti mengapa dia mesti terlibat dengan semua ini. Kehadiran Arya di dalam mimpinya, sikap Anindita dan juga perkataan Mama Arya membuatnya terus bertanya-tanya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Anindita terjaga dari tidurnya. Dia meraba sisi tempat tidurnya dan merasakan ada tubuh yang tertidur di sebelahnya, tapi tubuh itu lebih kecil dari yang biasa dia rasakan saat memeluk suaminya.
Anindita membuka matanya perlahan lalu menoleh ke arah tubuh yang tertidur di sebelahnya, ternyata itu adalah Ramadhan. Anindita kemudian bangkit dan mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tak ada siapapun selain dia dan anaknya di ruang kamarnya itu.
" Mas Arya ..." Anindita teringat jika semalam suaminya itu datang kembali menemuinya.
Anindita akhirnya memilih bangkit dan berjalan keluar kamar untuk mencari suaminya itu. Saat sampai di luar dia mendapati Tita dan Yeti yang tertidur di lantai beralas karpet di ruang keluarga.
" Ibu, kok ibu di luar?" Tita yang saat itu terbangun langsung bertanya pada Anindita.
" Mbak, Mas Arya mana?" tanya Anindita sementara pandangannya masih mencari-cari keberadaan suaminya itu.
" Bu, Bapak 'kan sudah nggak ada. Ibu yang sabar, Ibu mesti mengikhlaskan Pak Arya biar Pak Arya tenang." Tita bangkit dan mengarahkan Anindita agar duduk di sofa. Dia mesti berjaga-jaga kalau sampai Anindita terjatuh pingsan lagi.
" Mas Arya nggak jadi pergi, Mbak! Tadi malam dia datang, kok!" Anindita mencoba menyangkal ucapan Tita.
" Semalam 'kan bukan Pak Arya yang Ibu peluk, tapi Pak Ricky." Tita segera menutup mulut dengan tangannya saat dia keceplosan mengatakan kejadian semalam kepada Anindita.
" M-masksud Mbak Tita apa?" Anindita mengerutkan keningnya.
" Ah, nggak apa-apa, Bu. Saya nggak ada maksud apa-apa." Tita dengan cepat menepis kesalahan yang dia ucapkan tadi. Bukan karena ucapannya yang salah, tapi waktunya tidak tepat mengatakan hal itu kepada Anindita saat ini.
" Lalu Mas Arya mana sekarang?" Anindita masih percaya jika suaminya itu masih hidup.
" Bu, Ibu harus banyak istighfar. Saya tahu apa yang Ibu lalui ini sangat berat." Tita menjadi serba salah dengan sikap Anindita yang bersikukuh jika suaminya itu masih ada.
" Tapi semalam Mas Arya datang, Mbak! Mas Arya semalam peluk aku. Mas Arya juga cium aku." Anindita memegang bibirnya karena apa yang dia alami semalam terasa sangat nyata untuknya.
Sementara Tita menahan tawanya saat mendengar ucapan Anindita. Karena setahunya Anindita lah yang memeluk dan mencium Ricky hingga membuat Ricky sampai tertegun.
" Ibu hanya berhalusinasi semalam, karena Ibu sangat merindukan Pak Arya." Tita mengusap lengan Anindita.
" Ya Allah, aku berharap semua kejadian ini hanya mimpi ..." lirih Anindita dibarengi lelehan air mata yang mulai menetes di pipinya.
__ADS_1
" Sebaiknya ibu kembali ke kamar dan istrirahat kembali. Ibu harus jaga kesehatan Ibu dan janin yang ada di perut Ibu. Pak Arya pasti tidak ingin melihat Ibu terus bersedih seperti ini." Tita lalu membantu memapah Anindita agar kembali ke kamar untuk kembali beristirahat.
***
Sebelum berangkat ke kantornya, selepas Shubuh Ricky mendatangi tempat kediaman Arya.
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam. Eh, Pak Ricky sudah datang," sapa Tita saat mendapati Ricky keluar dari mobilnya.
" Oh, iya, Mbak. Saya mampir sebelum ke kantor." Ricky berjalan mendekat ke arah Tita.
" Bagaimana dengan Anindita? Apa semalam dia terbangun lagi?" tanyanya kemudian.
" Iya, Pak. Dini hari tadi Ibu terbangun dan menanyakan keberadaan Pak Arya." Tita menceritakan yang terjadi pada Anindita dini hari tadi.
" Lalu?" tanya Ricky penasaran.
" Yaaa ... Ibu merasa kalau semalam itu Pa Arya datang menemui Ibu, karena Ibu merasakan Pak Arya memeluk dan mencium Ibu." Tita menggigit bibirnya seraya tertunduk. Karena selain rasa haru ada hal lucu juga yang dia ingat tentang kejadian semalam.
Ricky sendiri langsung berubah warna mukanya saat Tita menyinggung masalah semalam. Karena jujur saja dia sendiri merasa sedikit syok dengan tindakan Anindita yang tiba-tiba memeluk dan menciumnya.
" Hmmm, lalu kamu bilang apa?" Ricky mencoba menutupi rasa groginya dari Tita.
" Kamu tidak bilang kalau yang dia peluk itu saya, kan?" Ricky agak penasaran, karena kalau Anindita sampai tahu jika wanita itu salah orang, bisa dibayangkan bagaimana kikuknya mereka berdua jika bertatap muka
" N-nggak kok, Pak. Saya nggak bilang!" Tita menjawab sedikit berbohong, karena dia juga menduga jika Anindita tidak mendengar apa yang dia ucapkan dini hari tadi.
" Sebaiknya kamu rahasiakan hal ini dari siapapun juga. Kamu paham?!"
" I-iya, Pak." Tita mengangguk cepat.
" Sekarang Ibu sudah bangun?" tanya Ricky.
" Tadi sih sudah sholat Shubuh. Tapi saya nggak tahu apa Ibu tidur lagi atau tidak."
" Rama bagaimana? Apa dia rewel semalam?"
" Iya, Rama nangis menanyakan Pak Arya."
Ricky menghela nafas panjang saat mengetahui anaknya itu merasakan kehilangan mendalam terhadap Arya.
" Dia sudah bangun?"
" Belum, masih di kamar Ibu."
__ADS_1
" Bu Fatma sudah bangun?" Ricky seakan mengabsen satu persatu penghuni di rumah Arya.
" Bu Fatma sepertinya tadi masuk ke kamar Bu Anin."
" Oh, ya sudah. Saya masuk dulu ke dalam." Ricky kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Arya.
" Tuan Ricky?" Yeti yang melihat kedatangan Ricky langsung menyapa.
" Mbak Yeti, Anin sudah bangun?"
" Sudah, Tuan. Anin sedang berbincang dengan Ibu mertuanya di kamar." Yeti menjelaskan.
" Tuan mau saya buatkan kopi atau teh?" Yeti lalu menawarkan.
" Tidak usah, Mbak." Ricky menolak halus tawaran Yeti.
" Saya mau bicara dengan Bu Fatma dan Anin," lanjut Ricky.
" Oh, sebentar saya beritahu Anin dulu." Yeti kemudian melangkah menuju kamar Anindita namun tak lama Yeti kembali keluar dari kamar Anindita.
" Silahkan masuk saja, Tuan." Yeti lalu mempersilahkan Ricky untuk masuk ke dalam kamar Anindita.
" Assalamualaikum, selamat pagi, Bu Fatma." sapa Ricky dengan nada santun saat memasuki kamar Anindita. Ricky langsung mendekat dan menyalami tangan Bu Fatma.
" Waalaikumsalam. Eh, Nak Ricky."
" Maaf saya pagi-pagi sudah datang kemari, Bu." Ricky lalu menoleh ke arah Anindita yang duduk bersandar di sandaran dipan dengan pandangan mata kosong menatap ke sembarang arah.
" Nyonya Arya, apa Anda sudah membaik?" tanya Ricky bertanya pada Anindita.
Anindita menoleh ke arah Ricky dengan pandangan lemah hingga tatapan mata mereka saling terpaut dan entah mengapa saat pandangan mata mereka bertemu, seketika membuat hati Ricky berdebar-debar.
" Apakah Anin akan menyangka jika aku adalah suaminya lagi?" tanya Ricky dalam hati.
*
*
*
Bersambung ...
Ayo dukung terus karya ini ya, Kak. Like, komen dan lainnya jangan ketinggalan. Hatur nuhun🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1