ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Hot News


__ADS_3

Ricky menatap dengan lekat Anindita yang juga sedang memandangnya dengan sorot mata lemah. Jantung Ricky berdetak lebih kencang. Sungguh dia tidak mengharapkan kejadian seperti kemarin akan terulang lagi, karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara dirinya dengan Anindita, karena selama ini hubungan mereka berdua memang berjalan tidak pernah lancar.


" Tuan, terima kasih Tuan sudah membantu mengurus kepulangan jenazah dan mengurus pemakaman suaminya saya," lirih Anindita menyampaikan rasa terima kasihnya.


Ricky menelan salivanya mendengar ucapan Anindita. Dia bersyukur ketakutannya jika Anindita masih berhalusinasi tidak sampai terjadi.


" Sama-sama, Nyonya Arya." Ricky kemudian mendekati Ramadhan dan mengusap kepala anaknya itu.


" Apa dia rewel semalam, Bu Fatma?" tanya Ricky kepada ibu mertua dari Anindita.


" Iya, Rama merengek terus mencari Arya." Mama Arya menjawab.


" Pak Arya sangat menyayangi Rama, karena itu Rama sangat kehilangan Pak Arya," ucap Ricky.


" Iya, Arya memang sangat dekat dengan Rama, sampai pernah membuat Putri cemburu." Mama Arya tersemyum kecil menceritakan hubungan ayah dan anak itu.


" Nak Ricky ingin bicara dengan Anin?" tanya Mama Arya kemudian.


" Hmmm, saya ingin bicara sama Bu Fatma juga." Ricky tidak ingin Mama Arya menjadi salah sangka apalagi setelah kejadian semalam.


" Ada masalah apa?" tanya Mama Arya nampak serius mendengarkan.


" Tidak ada masalah, Bu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau besok saya akan ke luar negeri. Jadi saya tidak bisa datang ikut acara tahlil Pak Arya dalam beberapa hari ke depan." Ricky menjelaskan jadwal kegiatannya.


" Oh, itu ... Ibu kira ada masalah apa. Tidak apa-apa kok, Nak Ricky. Nak Ricky sudah mengurus kepulangan jenazah Arya saja Ibu sudah berterimakasih banyak." Mama Arya tak putus-putus mengucapkan rasa terima kasihnya.


" Iya, Bu. Sekalian saya mau titip Rama juga," ujar Ricky.


" Tentu Rama pasti akan kami urus baik-baik," sambut Mama Arya.


Sementara Mama Arya dan Ricky terlibat perbincangan, Anindita tiba-tiba merasakan perutnya terasa diaduk-aduk hingga rasa mual seketika melanda hingga naik ke atas tenggorokan.


" Hoek ..." Anindita menutup mulutnya dan segera bangkit hendak bergegas menuju kamar mandi. Namun karena terburu-buru Anindita sampai tersandung kursi roda Mama Arya hingga dia hampir saja terjatuh jika Ricky tidak dengan cepat menahan tubuh Anindita dengan lengan kekarnya.


" Astaghfirullahal adzim, kamu hati-hati, Anin." Mama Arya terkesiap saat melihat Anindita hampir terjatuh.


" Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Ricky menanyakan kondisi Anindita yang saat ini berada dalam pelukannya.


Anindita yang merasakan dorongan dari dalam perutnya ingin segera dikeluarkan semakin kuat langsung menepis tangan Ricky dan berlari ke arah kamar mandi.


" Anin jangan lari-lari, hati-hati!" Dengan kursi rodanya Mama Arya mengikuti langkah Anindita karena dia merasa khawatir pada menantunya itu.

__ADS_1


" Hoek ... Hoek ...."


" Kamu mengalami morning sickness lagi, Nin?" tanya Mama.


" Hoek ..."


" Ta, Tita!!" Mama Arya berteriak memanggil Tita.


" Apa Nyonya Arya tidak apa-apa, Bu?" Ricky yang ikut merasa khawatir ikut mendekat ke arah kamar mandi.


" Kebanyakan wanita hamil memang seperti itu." Mama Arya menjelaskan.


" Hoek ... hiks ..."


" Anin, kamu nggak apa-apa 'kan, Nin?" Mama Arya merasa semakin cemas saat mendengar Anindita terisak.


" Hoek ... Hoek ...."


" Tita ...!!" Mama Arya kembali memanggil ART di rumah anaknya itu, namun orang yang dipanggil tak juga nampak batang hidungnya.


Ricky yang melihat Anindita sampai membungkukkan tubuhnya di depan wastafel langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dan dengan cepat Ricky memijat tengkuk Anindita.


Anindita menyalakan kran air untuk membersihkan mulut dan mencuci wajahnya. Setelah itu dia hendak kembali ke tempat tidur seraya memegangi perutnya karena otot perutnya teregang karena muntah tadi.


" Mari saya bantu, Nyonya." Ricky hendak membantu Anindita namun tangan Anindita terangkat seolah menahannya untuk tidak menyentuhnya.


" Tidak usah, terima kasih, Tuan," tolak Anindita berjalan perlahan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.


" Ibu, Ibu memanggil saya?" Tita yang sedari tadi dipanggil baru masuk ke dalam kamar Anindita


" Kamu dari tadi dipanggil ke mana saja?" tanya Mama Arya.


" Saya tadi sedang di menyapu di depan, Bu." Tita menyahuti.


" Anin tadi mual-mual lagi." Mama Arya memberitahukan alasannya memanggil Tita.


" Bu Anin mual pasti karena kemarin nggak mau makan jadi begitu."


" Tidak makan?" Ricky menoleh ke arah Tita.


" Makan tapi cuma dua suap saja, Pak." Tita menjelaskan.

__ADS_1


" Kamu tolong ambilkan air hangat untuk Anin, Ta." Mama Arya memerintahkan Tita untuk mengambil air hangat.


" Baik, Bu." Tita bergegas keluar kamar.


Setelah Tita keluar kamar Anindita. Ricky kemudian duduk di tepi tempat tidur Anindita. Dia menatap wajah Anindita yang nampak pucat.


" Nyonya, saya tahu hal ini bukanlah hal yang mudah diterima untuk Nyonya. Tapi Nyonya tidak boleh menyerah dengan keadaan. Ada anak-anak yang membutuhkan Nyonya. Rama dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Nyonya ini. Nyonya tidak sendiri, banyak orang yang sayang dengan Nyonya dan akan memberi dukungan terhadap Nyonya untuk melalui semua ini." Ricky mencoba memberikan nasehat kepada Anindita dan menyemangati wanita itu hingga membuat Anindita menolehkan wajahnya ke arah Ricky.


Ricky mendapati mata sendu Anindita yang kini melelehkan cairan bening yang langsung membasahi pipinya. Ricky merasa tersentuh melihat Anindita seperti ini. Hatinya merasa tergerak, bahkan tangannya sudah terangkat ingin menghapus air mata di pipi Anindita.


" Anin, sebaiknya kamu istirahat lagi saja. Jangan banyak pikiran dulu." Perkataan Mama Arya seolah menahan tangan Ricky yang sudah terangkat hingga akhirnya pria itu mengarahkan tangannya ke arah tengkuknya sendiri lalu mengusapnya.


***


Ricky sedang mempersiapkan data untuk rencana kepergiannya ke Dubai. Ketika Dirga tiba-tiba menghubunginya.


" Rick, ke ruanganku sekarang!" perintah Dirga saat Ricky menerima panggilan dari bossnya itu.


" Baik, Pak." Ricky segera keluar dari ruangannya menuju ruang kerja Dirga.


" Ada apa Pak Dirga memanggil saya?" tanya Ricky sesampainya dia di ruangan Dirga.


" Kau sudah dengar hot news yang sedang beredar saat ini, Rick?" tanya Dirga menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.


" Berita tentang apa, Pak?" tanya Ricky yang memang tidak sempat mengikuti perkembangan berita karena sejak kemarin sibuk mengurus pemakaman Arya.


" Bukalah! Sudah aku share ke ponselmu," ujar Dirga.


Ricky lalu mengecek ponselnya dan membuka berita yang dikirimkan oleh Dirga. Dan mata Ricky membulat sempurna saat dia membuka link berita yang terbuka di ponselnya.


" Seorang Executive Assistant muda dari perusahaan properti ternama berinisial RP yang selama ini diketahui hampir tidak pernah dekat dengan seorang wanita ternyata sudah mempunyai anak di luar nikah dari seorang wanita pelayan toko yang pernah bekerja di sebuah toko Florist berinisial AP."


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2