
" Anin, saya permisi dulu kalau begitu." Rachel langsung menghampiri Anindita selesai menutup panggilan telepon dari Ricky.
" Lho, katanya Mbak Rachel berjanji bertemu dengan Pak Ricky?" tanya Anindita heran, namun dia bisa melihat raut wajah kecewa di wajah cantik Mama dari Putri itu.
" Baru saja Pak Ricky mengabari jika dia tidak bisa kemari karena dia ternyata dapat tugas mendadak dari bosnya." Akhirnya Rachel mengatakan apa yang menyebabkan Ricky tidak jadi menemuinya siang ini.
" Oh, begitu ...."
" Saya pamit kalau begitu ya, Nin. Assalamualaikum ..." Rachel pun berpamitan. Dia memilih pergi dan tak berniat menemui orang marketing yang diperintah Ricky untuk menemuinya.
" Waalaikumsalam, hati-hati, Mbak Rachel." Anindita mengantar Rachel sampai pintu.
" Hush ... hush ...hush, sana pergi, pergi ..." celetuk Mita seolah mengusir Rachel dengan menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam.
" Hush, Mbak Mita ini ada-ada saja." Anindita terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
" Alhamdulillah, nggak jadi 'kan ketemu sama Pak Ricky nya? Kode itu, Mbak. Kalau alam pun tak merestui Mbak Rachel dengan Pak Ricky," ujar Mita menganalisa.
" Mbak Mita ini senangnya main kode-kodean terus, deh. Sudah ah, lanjut lagi kita bikin buketnya." Anindita melingkarkan lengannya di pundak Mita, dan akhirnya mereka kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka.
Tiga jam kemudian
Teett
Pintu toko terbuka saat Ricky memasuki toko bunga.
" Selamat siang, Tuan Ricky." Mita menyapa dan menyambut kedatangan Ricky.
" Kamu mulai sekarang panggil saya seperti Anin saja, jangan pakai sebut Tuan. Beritahukan yang lain juga." Ricky mulai merasa jengah dengan panggilan Tuan. Sepertinya dia harus mengakrabkan diri dengan lingkungan di sekitar Anindita, setidaknya itulah yang dilakukan Arya hingga bisa menaklukkan hati Anindita.
" Hmmm, baik, Pak Ricky ..." Mita langsung merespon.
" Anin mana?" tanya Ricky saat tak mendapati sosok wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu.
" Mbak Anin sedang makan siang di belakang, Pak Ricky." Mita menjawab.
" Makan siang?" Ricky melirik arlojinya dan saat ini sudah menunjukan pukul dua siang. Pria itu mendengus saat mengetahui Anindita baru makan siang.
Ricky lalu melangkah dengan lebar menuju arah belakang toko bunga dan dia mendapati Anindita sedang menyantap nasi dengan lauk tempe goreng, ikan asin jambal roti, sambel juga kerupuk aci. Tak lama berselang Anindita nampak sedang membersihkan sisa sambal di jari dengan mulutnya karena dia tidak menggunakan sendok.
" Jam segini baru makan siang?" tanya Ricky dengan berkacak pinggang dan berjalan mendekati Anindita yang nampak terkejut dengan kedatangannya.
" Makanan apa ini? Mana sayurannya? Mana buahnya? Sudah makannya telat, menunya asal-asalan seperti ini. Kamu ini sedang hamil, butuh asupan gizi yang baik. Bukan asal perut kamu kenyang saja!" protes Ricky.
" Ikut saya." Ricky langsung menarik tangan Anindita.
" Eh, eh, Bapak mau bawa saya ke mana?" tanya Anindita menahan tubuhnya.
" Ke restoran sebelah, perut kamu itu harus diisi dengan makanan yang sehat dan bergizi," ucap Ricky.
" Tapi saya sudah kenyang, kalau saya makan lagi nggak kuat perut saya, Pak." Anindita menolak Ricky yang ingin membawanya ke restoran sebelah.
Ricky mendengus mendengar alasan yang diberikan Anindita.
__ADS_1
" Mulai besok saya akan suruh orang dari restoran sebelah untuk menyiapkan menu makan siang untuk kamu."
" Restoran sebelah 'kan mahal, Pak."
" Tidak masalah soal harga."
Anindita tahu untuk seorang Ricky, harga bukanlah suatu masalah.
" Tapi saya nggak mau Pak. Biar nanti saya masak sendiri saja." Anindita merasa keberatan dengan usul Ricky..
" Masak sendiri terlalu repot, cari yang praktis saja."
" Hmmm, kalau begitu saya nanti pesan dari catering Ci Sandra saja, rute antar pesanan Ci Sandra ada yang dekat-dekat sini, kok." Anindita kepikiran soal Sandra yang juga mengantarkan pesanan menu sarapan dan makan siang.
" Ya sudah, kalau begitu kamu pesan saja dari Nyonya Sandra, sekalian sama karyawan yang lain," sahut Ricky.
" Bapak yang bayarin?"
" Iya, nanti saya yang bayar."
Anindita mengembangkan senyuman seraya menyalami tangan Ricky.
" Terima kasih, Pak. Terima kasih."
Ricky memandangi tangannya yang kini disentuh tangan Anindita yang masih belepotan sisa sambal.
" Eh, maaf, Pak. Saya belum cuci tangan." Anindita terkikik seraya meninggalkan Ricky menuju wastafel membuat Ricky pun mengikuti langkah Anindita hingga kini dia berhenti tepat di belakang Anindita.
" B-bapak mau ngapain?" tanya Anindita saat melihat pantulan wajah Ricky yang sedang menatapnya dari arah cermin membuat Anindita salah tingkah.
" Oh, s-silakan, Pak." Anindita mempersilahkan Ricky untuk bergantian menggunakan wastafel, sementara dia langsung keluar dari ruang belakang karena ditatap oleh sorot mata tajam Ricky membuat hatinya berdebar-debar.
***
" Mit, saya pesan buket bunga satu, ya!" ujar Ricky saat dia selesai mencuci tangannya.
" Oh, boleh, Pak. Silahakan, mau pilih yang model apa, Pak?" tanya Mita menyodorkan beberapa pilihan model buket dari laptop.
" Model ini saja." Ricky memilih buket berisi beberapa bunga berwarna pink dan putih.
" Mau diambil sekarang atau mau dikirim, Pak?" tanya Mita kembali.
" Saya tunggu saja, mau saya kasih buat orang sekarang," sahut Ricky, kemudian dia menghubungi seseorang dari ponselnya.
Sementara Anindita memperhatikan gerak-gerik Ricky dari sudut ekor matanya. Karena selama mengenal pria itu, baru kali ini dia nelihat Ricky memesan sebuah buket bunga, dan sudah pasti orang yang akan diberikan buket itu sangat istimewa
" Halo, Nona Rachel. Baiklah, nanti malam saya akan menemui Anda. Maaf jika siang tadi saya sudah mengecewakan Anda, Nona Rachel."
Anindita langsung memalingkan wajahnya saat Ricky menelepon Rachel.
" Baiklah, pukul delapan kita ketemu di sana."
" Mbak, aku mau lihat Rama dulu, ya!" Anindita berpamitan pada Mita, kemudian berjalan ke luar toko Alabama menuju apartemen tempat dia tinggal untuk menemui anaknya.
__ADS_1
" Assalamualaikum, anak Mama sedang apa ini?" sapa Anindita sesampainya di apartemen dan saat masuk ke dalam kamar Ramadhan.
" Waalaikumsalam, Rama baru saja tertidur, Bu." Tita menjawab berbisik agar tidak membangunkan Ramadhan.
" Jam segini baru tidur?" tanya Anindita.
" Iya, dari tadi disuruh tidur sudah sekali, Bu."
'" Ya sudah, Mbak Tita boleh keluar."
" Iya, Bu." Tita kemudian meninggalkan Anindita dan Ramadhan berdua di kamar.
Selepas Tita meninggalkan kamar, Anindita lalu merebahkan tubuhnya di samping Ramadhan. Dia melingkarkan tangannya di tubuh mungil Ramadhan.
Anindita memandangi wajah putranya yang nampak tenang. Kemudian dia mengusap wajah Ramadhan dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Hanya Rama dan adik bayi ini sumber kebahagiaan untuk Mama. Mama berjanji akan terus membesarkan kalian berdua walaupun tanpa Papa Arya di samping kita." Anindita mengecup kening Ramadhan cukup lama, hingga akhirnya dia pun ikut terlelap dalam buaian mimpi.
Sementara di Alabama Florist
" Anin mana?" tanya Ricky saat menyodorkan kartu debitnya untuk pembayaran buket yang dia pesan.
" Mbak Anin pulang, Pak. Hmmmm, kayaknya Mbak Anin ngambek deh, waktu dengar Pak Ricky tadi telepon Bu Rachel."
Ricky mengeryitkan keningnya mendengar perkataan Mita.
" Ngambek?"
Mita menganggukkan kepalanya cepat.
" Iya, Pak. Kayaknya Bu Anin cemburu lihat Pak Ricky dekat dengan Bu Rachel. Tadi saja waktu Bu Rachel menunggu Pak Ricky di sini Mbak Anin kelihatan sedih banget. Terus waktu tahu Pak Ricky nggak bisa datang siang tadi, Mbak Anin kelihatan senang. Apa coba itu namanya kalau bukan cemburu?" Mita mulai beraksi, dia sengaja mengarang cerita, karena dia tidak suka melihat Ricky kembali membuat janji bertemu dengan Rachel. " Maaf ya, Mbak Anin." batin Mita
" Maaf ya, Pak Ricky. Habisnya Pak Ricky itu sebagai laki-laki baik sekali sama Mbak Anin, jadi ya nggak heran kalau Mbak Anin jadi baper sama kebaikan Pak Ricky. Terus kalau sekarang tiba-tiba Pak Ricky dekat dengan Bu Rachel dan Mbak Anin jadi ngambek itu wajar sih, soalnya perhatian Pak Ricky ke Mbak Anin selama ini tuh nggak wajar."
" Tidak wajar? Maksudnya?"
" Biasanya yang bersikap seperti Pak Ricky ke Mbak Anin itu ditujukan kepada pasangan, pacar atau suami, sementara Pak Ricky ini 'kan ...."
" Saya calon suaminya Anin, setelah dia melahirkan saya akan menikahi dia!" tegas Ricky memotong kalimat Mita.
Tentu saja kalimat blak-blakan yang diucapkan Ricky membuat Mita tercengang seketika. Awalnya dia sedikit mendramatisir cerita agar Ricky membatalkan niatnya bertemu dengan Rachel, tapi justru kata-kata penegasan dari mulut Ricky membuat Mita melongo saat itu juga.
*
*
*
Bersambung ...
Oya kemarin ada yg readers yg ingetin tingkat kebucinan Dirga karena asyik ngebully Ricky. Nggak inget dia dulu lebih parah bucinnya 😁😁. Buat ingetin barangkali udah pada lupa 👇Yang belum mampir kisahnya Dirga bisa tengok di novel RINDU TAK BERTUAN, makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️