
Ricky mempethatikan Ramadhan yang terlihat asyik bermain bersama Donny, anak dari Dessy, adiknya.
" Bukan hanya wajah, tapi sifat Rama sangat mirip dengan Kak Ricky," ucap Dessy seraya menyodorkan secangkir teh dan kue lapis di meja ruang tamu rumah Dessy. Hari libur ini Ricky sengaja membawa Ramadhan berkunjung ke rumah adiknya itu.
Ricky menyunggingkan senyumnya menanggapi ucapan adiknya.
" Kak, apa Kak Ricky tidak berniat segera mencarikan Mama Baru untuk Rama?" tanya Dessy.
Ricky yang sedari tadi memusatkan pandangannya pada Ramadhan kini mengalihkan pandangan pada Dessy.
" Mama baru?" Kening Ricky pun berkerut.
" Iya! Mamanya Rama 'kan sudah memberikan Papa baru buat Rama, sekarang giliran Papa Rama yang kasih Mama baru buat Rama." Dessy terkekeh menjelaskannya maksud ucapannya.
Ricky kembali tersenyum seraya menggeleng pelan.
" Aku belum memikirkan ke arah sana."
" Ck, Kak Ricky ini." Dessy berdecak karena
setiap dia menyinggung soal pendamping hidup selalu seperti itu jawaban dari kakaknya.
" Memangnya Kak Ricky tidak ingin seperti Kak Dirga dan Kak Rania yang kini hidup bahagia? Bang Edo saja aku dengar dari Tante Utami akan menikah akhir tahun ini dengan Kak Nadia. Lalu Kak Ricky kapan? Aku ingin melihat Kak Ricky menikah, berumah tangga. Aku juga ingin merasakan punya kakak ipar perempuan, Kak."
" Bahagia seperti mereka dan rela melakukan hal-hal konyol yang tak masuk akal?" Ricky tersenyum meremehkan. Dia teringat kelakuan bosnya jika berada dekat dengan sang istri. Sama sekali tak menampakkan seorang pemimpin yang berwibawa. Tapi lebih ke sosok suami yang menurut apa yang diinginkan istri.
" Kak Ricky ini belum pernah merasakan ditembak panah asmara sama cupid, jadi bisa bicara begitu," sindir Dessy.
" Waktu cupid melemparkan panah asmara, langsung aku tangkis makanya tidak kena." Ricky berseloroh sambil terkekeh membuat Dessy hanya memutar bola matanya.
" Kak Ricky mau aku kenalin dengan rekan sejawatku tidak? Dia dokter spesialis jantung. Cantik orangnya, sepertinya cocok kalau aku jodohkan Kak Ricky dengan dia." Tiba-tiba saja Dessy teringat rekan seprofesi sebagai seorang dokter yang berusia lebih muda dua tahun dari kakaknya dan juga belum menikah.
" Ini bukan jaman Siti Nurbaya, tidak usah jodoh-jodohkan aku!" Ricky menampik.
" Ya daripada Kak Ricky tidak juga mencari pendamping, jadi mending aku carikan saja Kak Ricky calon istri," ucap Dessy.
" Memangnya Kak Ricky tidak kangen merasakan surga dunia lagi? Oh ya, waktu itu Kak Ricky 'kan dalam pengaruh obat jadi tidak bisa merasakan nikmatinya." Dessy tergelak setelah menyindir kakaknya itu.
Ricky menarik satu sudut bibirnya ke atas kemudian menyesap teh tak menanggapi sindiran adiknya itu.
***
" Om, Kok Rama lama menginap di tempat Om nya? Biasanya 'kan satu kali, kok sekarang dua kali?" tanya Ramadhan saat mereka sampai di apartemen Ricky selepas isya. Ini adalah hari kedua Ramadhan menginap di apartemen Ricky secara berturut-turut, karena itu Ramadhan bertanya heran.
__ADS_1
" Memangnya Papa Arya nggak jemput Rama ya, Om?" tanya Ramadhan kemudian.
" Iya, Nak. Papa Arya dan Mama Anin 'kan baru saja jadi pengantin jadi Rama sama Om dulu di sini. Besok baru dijemput sama Papa Arya. Karena Papa Arya dan Mama Anin sekarang ini masih menginap di hotel." Rivky memberi pengertian kepada Ramadhan
" Kok Rama nggak diajak tidur di hotel?"
" Karena Papa Arya dan Mama Anin baru saja menikah dan jadi pengantin, jadi tidak boleh diganggu."
" Memangnya kalau baru jadi pengantin ngapain sih, Om? Mau buat adik bayi ya, Om?
Ricky membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka jika pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut anaknya.
" Rama, siapa yang bilang seperti itu?"
" Teman sekolah Rama, Om. Namanya Celia. Kata Celia, kalau sudah jadi pengantin itu nantinya bikin adik bayi. Memangnya bikin adik bayinya pakai apa, Om?" Pertanyaan polos Ramadhan membuat Ricky memijat pelipisnya.
" Rama, anak kecil nggak boleh bicara seperti itu. Anak kecil belum tahu masalah itu. Nanti kalau Rama sudah besar Rama juga pasti akan mengerti. Jadi sekarang jangan suka berbicara seperti yang teman Rama bilang, ya! Kalau Mama Anin dengar Rama bicara seperti tadi, Mama Anin pasti akan marah." Ricky mencoba menasehati Ramadhan dengan hati-hati
" Iya, Om."
" Ya sudah, sekarang Rama cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu langsung tidur, ya!"
" Siap Om." Ramadhan terkikik kemudian masuk kamar mandi di kamar apartemen Ricky.
***
Kirania yang baru saja keluar dari ruang kerja Dirga hendak menuju pantry langsung menoleh ruangan kerja Ricky saat mendengar seorang anak kecil meneriakkan namanya.
" Oh, hai, Rama ..." Kirania yang semula ingin menuju pantry langsung memutar arah melangkah ke ruangan Ricky di mana dia melihat Ramadhan berdiri dekat pintu
" Rama ikut kerja dama Pap ... eh, sama Om Ricky, ya? Kirania hampir saja keceplosan menyebut Ricky dengan sebutan Papa di depan Ramadhan.
" Iya, Tante. Rama 'kan nanti kalau besar mau jadi bos seperti Om Ricky." Ramadhan menyahuti.
Kirania lalu melirik ke arah Ricky yang kemudian menghampirinya.
" Nyonya Dirga ..." Ricky menyapa Kirania.
" Kebagian mengasuh Rama ya, Pak Ricky?" Kirania tersenyum geli. Bisa dibayangkan seorang Executive Assistant sekelas Ricky Pratama harus bekerja sekaligus mengurus anak usia empat tahun..
" Iya seperti itulah, Nyonya Dirga." Ricky tersenyum.
" Sungguh diluar ekspektasi saya Pak Ricky. Saya pikir seperti di cerita-cerita novel atau sinetron pada umumnya. Biasanya orang yang berposisi seperti Pak Ricky akan menikah dengan wanita yang menjadi korbannya. Tapi ternyata, wanita itu sudah menikah dan Pak Ricky masih saja sendiri."
__ADS_1
" Saya dan dia tidak punya keterikatan apa-apa, Nyonya Dirga.".
" Iya juga, ya ..." Kirania mengangguk mengerti.
" Oh ya, Rama nggak sekolah memangnya, Pak Ricky?"
" Hari ini dia ijin tidak masuk sekolah, Nyonya. Saya rasa gurunya juga akan mengerti." Ricky memberikan penjelasan.
" Oh, iya. Karena Mamanya Rama menikah, ya?"
" Benar, Nyonya Dirga.
" Aku tunggu-tunggu kopinya nggak datang-datang, ternyata orangnya sedang ngerumpi di sini."
Kirania terkesiap saat mendengar suara suaminya sudah muncul di ruangan Ricky.
" A-Abang?" Kirania sampai lupa akan niatnya yang hendak ke pantry karena kehadiran Ramadhan yang mencuri perhatiannya.
" Mana kopinya?" tanya Dirga pada Kirania.
Kirania tersenyum seraya merangkul lengan suaminya.
* Maaf, Abang ... aku lupa karena tadi menyapa Rama." Kirania kemudian menunjuk ke arah Ramadhan.
Dirga menoleh arah yang ditunjuk oleh istrinya..
" Oh, ada Ricky junior rupanya. Hai, Rama." Dirga pun menyapa Ramadhan namun tak lama dia meringis karena istrinya mencubit pinggangnya.
" Sayang, kenapa kamu mencubitku?" tanya Dirga.
" Abang kenapa pakai bilang Ricky junior?" Kirania berbisik melotot ke arah suaminya
" Lalu harus aku panggil apa? Miniatur Ricky?" Dirga tertawa seraya meninggalkan ruangan Ricky. Sementara Kirania melangkah ke tempat yang tadi dituju. Sedang Ricky kembali dengan aktivitasnya dan Ramadhan kemudian berselonjor di sofa sambil matanya menatap layar televisi yang sedang menampilkan acara aneka satwa.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1