
Anindita mengecek semua bunga yang naik ke atas mobil pick up. Karena siang ini dia mendapat tugas mengantar standing flower untuk wedding party Dirgantara dan Kirania, bos dari ayah kandung Ramadhan.
Atas rekomendasi Ricky, Alabama Florist dipilih sebagai salah satu toko florist yang ikut berpartisipasi dalam perayaan akbar pemilik dari Angkasa Raya Group itu.
" Sudah masuk semua, Pak Daus?" tanya Anindita kepada Pak Daus yang akan mengantarnya ke convention hall, tempat di mana perayaan itu akan dilaksanakan.
" Sudah, Mbak Anin." Pak Daus menutup pintu belakang mobil pick up itu.
" Sebentar, saya mau bawa Rama dulu ya, Pak." Anindita meminta ijin ke Pak Daus yang sudah siap berangkat.
" Oke, Mbak. Santai saja ..." ucap Pak Daus.
Anindita pun segera masuk kembali ke dalam toko dan bergegas menghampiri ruang kerja Lucy.
Tok tok tok
" Ci, saya mau berangkat sekarang ya antar bunganya." Setelah mengetuk pintu, Anindita langsung masuk ke dalam ruang Ci Lucy.
" Tapi Rama nya tidur, Nin." Lucy menunjuk Ramadhan yang sudah tertidur di sofa ruangan Lucy dengan memeluk mainan action figure pemberian Ricky.
" Ya Allah, ngantuk ya, Nak?" Anindita segera mendekati Ramadhan.
" Badannya juga agak sedikit demam, Nin. Jangan dibangunin, kasihan ..." ucap Lucy kemudian.
" Iya, Ci ..." sahut Anindita.
" Sebaiknya Rama jangan ikut, Nin. Cici rasa, Tuan Ricky juga bisa memaklumi jika Rama sedang tidur," ujar Lucy.
" Iya, Ci. Saya titip Rama ya, Ci." Anindita sebenarnya tidak tega meninggalkan Ramadhan tapi Lucy meyakinkannya kalau dia akan menjaga Ramadhan.
Akhirnya tanpa Ramadhan, Anindita mengantar pesanan hiasan bunga untuk dekorasi pelaminan Dirga dan Kirania.
" Biaya pernikahan orang kaya gini pasti milyaran ya, Mbak?" tanya Pak Daus saat perjalanan menuju gedung convention hall.
" Sudah pasti, Pak." Anindita menyahuti.
" Biaya pesta sehari mereka bisa buat beli beberapa rumah orang seperti kita-kita ya, Mbak."
Anindita hanya tersenyum menanggapi perkataan Pak Daus. Memang ada benarnya, buat orang-orang kaya seperti mereka menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk pesta pernikahan itu semudah mengeluarkan uang untuk jajan.
" Kalau Mbak Anin sendiri, kenapa dulu pisah dengan Papanya Rama?"
Deg
Pertanyaan Pak Daus tiba-tiba membuat hati Anindita merasa terusik. Sejak terjadi keributan antara Ricky dan Arya di toko bunga saat itu, apalagi kini Ricky sering membawa Ramadhan, semua pegawai toko bunga itu tahu kalau Ricky adalah ayah biologis dari Ramadhan.
" Hmmm, maaf ya, Pak. Tidak usah bicarakan hal itu, ya!" Anindita memang tidak ingin membicarakan hal seputar Ricky.
" Oh, maaf ya, Mbak Anin." Pak Daus menyampaikan penyesalannya dan Anindita hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Sesampainya di tempat tujuan, Anindita menemui salah satu perwakilan dari WO untuk meminta paraf tanda terima barang. Setelah itu dia mengedar pandangan melihat hiasan dekorasi yang terlihat sangat megah dan mewah. Dan kini pandangan matanya bertumpu pada sosok seorang pria yang saat ini sedang menatapnya. Tak lama pria yang tak lain adalah Ricky kini datang menghampirinya.
__ADS_1
" Hai ..." Ricky menyapa Anindita. " Rama mana? Apa dia di mobil?" tanya Ricky kemudian.
" Maaf, Tuan. Rama tadi tertidur, Saya tidak tega untuk membangunkannya." Anindita menjelaskan alasannya kenapa dia tidak membawa Ramadhan.
" Oh ..." Ricky terlihat kecewa.
" Hmmm, saya permisi, Tuan." Anindita segera berpamitan dan melangkah meninggalkan Ricky.
" Nona Anin ..." teriak Ricky memanggil Anindita hingga membuat langkah kaki Anindita berhenti.
Ricky kemudian menyusul langkah Anindita.
" Ada apa, Tuan?" tanya Anindita heran.
" Ada titipan untuk Rama di mobil, ikut saya sebentar." Ricky meminta Anindita mengikutinya menuju mobil pria itu. Namun Anindita bergeming masih berdiri seperti tadi tak mengikuti langkah Ricky.
" Kenapa?" tanya Ricky saat dilihatnya Anindita masih terdiam.
" Anda tidak perlu repot-repot, Tuan." Anindita mencoba menolak.
" Tentu saja saya tidak merasa repot. Saya justru senang melakukan hal ini untuk darah daging saya sendiri."
Ricky menatap wajah cantik Anindita yang nampaknya tidak merasa nyaman dengan ucapannya tadi.
" Nona tunggu sebentar di sini. Saya akan ambilkan titipan saya untuk anak kita."
Hati Ricky serasa berdesir saat tanpa sadar mengucapkan kata 'anak kita' dari bibirnya. Sementara wajah Anindita langsung memberengut. Sepertinya dia tidak suka dengan kalimat Ricky menyebut nama anak kita.
" Tunggu sebentar." Ricky bergegas menuju mobilnya untuk mengambil mainan yang akan dia berikan kepada Ramadhan.
Tak lama kemudian Ricky kembali menghampiri Anindita dengan dua buah goodie bag berukuran besar di tangannya.
" Saya titip ini untuk Rama." Ricky menyodorkan dua goodie bag itu kepada Anindita, membuat Anindita mendengus.
Anindita menatap tajam Ricky yang sedang mengulum senyuman di bibirnya.
" Maaf, Tuan. Saya sudah katakan pada Tuan, jangan terlalu memanjakan Rama dengan semua yang Tuan berikan ini. Saya membesarkan dia dengan kesederhanaan bukan dengan kemewahan. Saya tidak ingin apa yang saya tanamkan selama ini terhadap Rama rusak karena semua yang Tuan berikan kepada anak saya!" tegas Anindita kesal. Karena entah sudah berapa banyak mainan yang Ricky berikan untuk Ramadhan dan Anindita yakin jika itu tidaklah murah.
" Nona, saya hanya ingin menebus waktu yang saya lewatkan dengan Rama. Dan Rama itu anak saya juga, Nona. Saya harap Nona Anin dapat mengerti." Ricky beralasan.
" Lagipula apa yang saya berikan tidak sebanding dengan kebahagiaan saya bisa menemukan Ramadhan," tegas Ricky.
Anindita mendesah, dia tak ingin berdebat kembali dengan Ricky.
Akhirnya Anindita dengan terpaksa menerima dua buah goodie bag itu dari tangan Ricky.
" Terima kasih, permisi, Tuan ..." Anindita kemudian memutar tubuhnya untuk meninggalkan Ricky.
" Misi-misi, Mbak."
Dan saat Anindita membalikkan tubuhnya dia terkaget dan menabrak orang yang sedang mengangkat meja prasmanan hingga dia terdorong dan kehilangan keseimbangan. Anindita hampir terjatuh namun tangan Ricky dengan cepat meraih tubuh Anindita yang terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Saat tertabrak orang itu, Anindita sudah pasrah dia akan terjerembab jatuh. Namun tiba-tiba dia merasakan tangan kokoh melingkar di punggungnya hingga aroma maskulin menyeruak di penciumannya. Wangi maskulin yang sama yang pernah tercium di hidungnya dulu.
Anindita mendongakkan kepalanya dan kini didapatinya Ricky yang sedang memasang wajah penuh emosi.
" Apa kalian tidak bisa hati-hati dalam bekerja?!" geram Ricky pada orang-orang yang menabrak Anindita tadi.
Anindita langsung terkesiap, dia mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Ricky namun tangan Ricky begitu kuat memeluknya.
" Maaf, Tuan. Kami tidak melihat," jawab orang yang menabrak Anindita tadi.
" Kalau bekerja lihat-lihat dulu sekitar! Jangan main tabrak-tabrak saja!" Ricky masih terlihat kesal.
" Ada apa, Pak Ricky?" tanya Kiki, pemilik WO yang menghandle wedding party Dirga dan Kirania.
" Apa mereka orang-orang Anda, Bu Kiki?" tanya Ricky.
" Oh, iya benar, Pak Ricky. Mereka pegawai dari pihak cathering. Ada apa ya, Pak? Apa mereka berbuat salah?" tanya Kiki.
" Mereka bekerja teledor dan tidak hati-hati," tuding Ricky.
" Oh, saya minta maaf atas kecerobohan mereka, Pak Ricky." Kiki menyampaikan permintaan maafnya, Namun pandangan matanya menatap Anindita yang masih berada dalam dekapan Ricky.
" Kalian, cepat minta maaf ada Pak Ricky!" Kiki kemudian menyuruh orang-orang yang tadi membawa meja prasmanan untuk meminta maaf.
Anindita yang merasa jika sikap Ricky terlalu berlebihan terhadap pegawai itu tentu saja merasa tidak enak, karena dia juga merasa bersalah.
" Kami minta maaf, Tuan." Orang-orang itu kembali menyampaikan permintaan maafnya.
" Ya sudah, kali ini saya maafkan." Ricky menyahuti, " lanjutkan pekerjaan kalian!" lanjutnya.
" Hmmm, sekali lagi saya minta maaf, Pak Ricky." Kiki membungkukkan sedikit badannya
" Ya sudah ..." sahut Ricky.
" Kalau begitu saya permisi, Pak Ricky. Saya ingin memantau persiapan lainnya." Kiki berpamitan dan meninggalkan Ricky dan Anindita.
" Lepaskan saya Tuan!" Saat mereka tinggal berdua, Anindita kembali berontak meminta Ricky melepas tangan dari tubuhnya.
" Oh ... maaf, Nona." Ricky langsung melerai pelukannya dari tubuh Anindita.
" Saya permisi." Selepas Ricky melepaskan pelukannya. Anindita tergesa berlari menjauh dari Ricky. Karena harus berdekatan kembali secara intim seperti tadi dengan pria yang dulu pernah merengut kesuciannya membuat hatinya tak nyaman.
*
*
*
Bersambung
Untuk readers ASKML, terima kasih atas dukungannya selama ini. Untuk bulan ini karya ini berhasil dapat level 7 dukung terus ASKML ini ya agar bulan depan bisa mencapai level yg lebih baik lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak baik like juga komentarnya karena itu banyak membantu popularitas karya ini. Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️