
Sepulang dari kantor Ricky sengaja mampir ke rumah Mama Utami, Mama angkatnya. Karena dia baru saja mendengar dari Dirga jika acara wedding party antara bos dan istrinya itu Mama Utami lah yang mengatur soal Wedding Organizer.
" Assalamualaikum, Bu Mus ..." sapa Ricky kepada ART di rumah milik orang tua angkatnya itu.
" Waalaikumsalam ... eh, Mas Ricky." Bi Mus kemudian menyambut kedatangan Ricky.
" Ibu ada di mana, Bu Mus?" Ricky menanyakan keberadaan mama dari Dirga.
" Ibu sedang di dapur, Mas." Bi Mus menyahuti.
" Bu Mus gimana, sehat?" Ricky menanyakan kabar ART keluarga Poetra Laksmana itu. Ricky memang dikenal sebagai pribadi yang humble dan juga down to earth.
" Alhamdulillah, Mas."
" Syukurlah kalau begitu." Ricky mengusap pelan lengan Bi Mus. " Saya temui Ibu dulu, ya!" Ricky segera berpamitan.
Oh, silahkan, Mas Ricky." Bu Mus mempersilahkan Ricky menemui ibu angkatnya itu.
" Assalamualaikum, Bu. Ibu sedang apa?" tanya Ricky saat melihat Mama Utami sedang asyik mengeluarkan loyang dari dalam oven
" Waalaikumsalam ... kamu, Rick." Mama Utami cepat membalas salam Ricky. " Ini, Mama sedang membuat brownies," lanjutnya.
" Hmmm, seperti biasa, aromanya selalu menggugah selera." Ricky menghirup aroma brownies yang sudah matang seraya mendekati dan menyalami Mama Utami.
" Karena itu Papa kamu selalu suka kalau Mama buatkan ini."
Ricky melihat raut wajah sedih Mama Utami menyingung soal suaminya itu.
" Pak Poetra sudah tenang di sana. Beliau akan merasa sedih jika Ibu masih saja bersedih atas kepergian beliau, Bu." Ricky mengusap punggung Mama Utami.
" Iya, Rick. Cuma kalau sedang teringat suka tiba-tiba sedih dengan sendirinya. Makanya Mama banyak menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan." Mama Utami menyahuti.
" Menyibukkan diri itu baik, tapi Ibu jangan sampai kelelahan dan harus tetap jaga kesehatan." Ricky mencoba mengingatkan.
" Iya, Rick. Mama juga mengerti, kok." Mama Utami kemudian memotong brownies yang baru matang itu kemudian mengambil beberapa potong lalu disodorkan kepada Ricky.
" Terima kasih, Bu." Ricky menerima brownies yang disodorkan Mama Utami kepadanya.
" Mus, Mus ...!!" teriak Mama Utami memanggil Bi Mus.
" Kamu mau minum apa, Rick?" Mama Utami menawarkan.
" Nanti saya ambil sendiri saja, Bu." Ricky menyahuti.
" Sudah nggk apa-apa, biar Mus saja yang buatkan."
" Saya, Bu?" Bi Mus sudah menghampiri majikannya.
" Tolong buatkan kopi untuk Ricky." Mama Utami menyahuti.
__ADS_1
" Baik, Bu." Bi Mus menyahuti permintaan Mama Utami.
" Ada apa, Rick? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Mama Utami sepertinya menyadari jika Ricky memang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Hmmm ... begini, Bu. Menurut info dari Pak Dirga, untuk acara wedding party Pak Dirga dan Ibu Rania untuk WO nya Ibu yang pilihkan. Benar begitu, Bu?" Dengan sedikit agak ragu Ricky menyampaikan tujuannya bertemu dengan Mama Dirga itu.
" Iya, Dirga dan Rania menyerahkan Mama yang atur dan pilihkan." Mama Utami menjawab pertanyaan Ricky. " Kenapa memangnya, Rick? Apa Dirga berubah pikiran?" tanya Mama Utami.
" Oh, bukan Bu. Bukan itu." Ricky menepis anggapan Mama Utami jika apa yang ditanyakan ya bersangkutan dengan Dirga
" Lalu?"
" Hmmm ... saya ingin minta tolong Ibu agar meminta pihak WO nya untuk memakai Alabama Florist sebagai partner mereka khusus untuk wedding party Pak Dirga dan Bu Rania ini."
Mama Utami mengeryitkan keningnya, dia merasa heran dengan permintaan putra angkatnya itu.
" Ada apa ini, Rick? Tumben sekali kamu memikirkan tentang hal-hal seperti itu, Rick? Ada apa dengan Alabama Florist? Apa kamu jatuh hati dengan pemiliknya?"
" Tidak, Bu. Bukan seperti itu," sanggah Ricky.
" Lalu kenapa? Tidak mungkin tidak ada alasan tiba-tiba kamu meminta itu, kan?"
" Benar, Bu. Saya memang punya alasan untuk itu." Ricky menarik nafas dalam-dalam.
" Lalu apa alasan kamu, Rick?"
" M-maksud kamu apa, Rick? Kamu pasti bercanda 'kan, Rick? Mama tidak pernah melihat kamu dekat dengan wanita. Bagaimana kamu bisa punya anak? Jangan bilang kamu melakukan hal yang sama seperti Bima, Rick?" Mama Utami benar-benar syok mendengar penuturan Ricky jika pria itu sudah mempunyai anak.
" Maafkan saya, Bu. Mungkin Ibu dan Almarhum Pak Poetra akan menyesal jika mengetahui saya berbuat seperti ini." Ricky pun akhirnya bercerita dari mulai dia dijebak oleh salah satu rival Angkasa Raya, pertemuannya dengan Anindita pada malam itu, sampai perjumpaan kembali dengan Anindita beserta anaknya.
" Ya Allah, kasihan sekali wanita itu. Apa Mama boleh bertemu dengan mereka?"
" Ibu bisa datang ke toko florist itu bertemu dengan mereka. Tapi kalau mereka yang dibawa kemari, mohon maaf ... saya tidak bisa, Bu." sesal Ricky. Selain karena sikap dingin Anindita kepadanya tentu saja karena Anindita adalah calon istri pria lain. Dia tidak ingin hal itu akan memicu berdebatan dia dengan Arya. Karena dia sangat menghormati Arya sebagai calon suami Anindita yang mungkin akan beresiko hilangnya kesempatan dia untuk bisa bertemu dengan Ramadhan kembali.
"""
" Alabama Florist, selamat pagi ada yang bisa kami bantu?" sapa Lucy saat terdengar telepon masuk di pesawat telepon di meja kerjanya.
" Selamat pagi, Nyonya. Saya Ricky, ayah Ramadhan." sahut Ricky.
" Oh, iya Tuan Ricky ada apa? Apa ada perlu dengan Anin?" tebak Lucy.
" Tidak-tidak, bukan itu, Nyonya." Ricky menepis dugaan Lucy jika dia menelpon bos toko florist itu karena ada keperluan dengan Anindita. Walaupun pada kenyataannya apa yang ingin dia sampaikan memang berhubungan dengan Ramadhan.
" Lantas ada apa, Tuan Ricky?" selidik Lucy.
" Saya hanya ingin menyampaikan jika toko florist Nyonya saya rekomendasikan kepada pihak wedding organizer yang kami pilih untuk acara wedding party pemilik perusahaan Angkasa Raya Group, Tuan Dirgantara dan Nyonya Kirania, Nyonya." Ricky menerangkan maksud dan tujuannya menghubungi Lucy.
" Jadi saya mohon kerjasama Nyonya, untuk bisa menghandle penyediaan semua kebutuhan dekorasi bunga hidup untuk acara tersebut. Mungkin nanti pihak WO akan menghubungi Nyonya secara langsung. Apa Nyonya keberatan?" tanya Ricky kemudian.
__ADS_1
" Oh, ti-tidak, Tuan. Suatu kehormatan buat kami pihak Alabama Florist mensupport acara besar milik Angkasa Raya Group, Tuan Ricky." Tentu saja Lucy merasa senang toko florist nya dipakai untuk hajatan besar bos dari perusahaan besar itu.
" Itu saja yang ingin saya sampaikan, Nyonya."
" Oh, iya ... sekali lagi terima kasih atas kepercayaannya kepada Alabama Florist, Tuan Ricky." Setelah Ricky mematikan sambungan teleponnya, Lucy pun segera menaruh kembali gagang telepon yang sedari tadi digenggamnya.
Lucy segera keluar ruangannya dan mencari Anindita.
" Nin, Anin ..." Lucy memanggil nama Anindita.
" Anin sedang mengantar Rama sekolah dulu katanya, Ci." Mita menyahuti. Setiap pagi Anindita memang mengantar anaknya sekolah, setelah itu dia kembali ke toko bunga. Dan kalau waktu pulang Anindita menjemputnya kembali. Sedari kecil Anindita menanamkan kemandirian kepada Ramadhan, tanpa harus menunggunya saat belajar di sekolah.
" Oh, ya sudah. Nanti kalau dia datang suruh ke ruangan saya ya, Mit." perintah Lucy kepada Mita.
" Baik, Ci." Mita menyahuti, dan Lucy pun kemudian kembali ke ruang kerjanya.
***
" Selamat pagi, Pak Ricky." Beberapa karyawan yang menyapa Ricky dibuat heran dengan keberadaan anak kecil yang tangannya sedang digandeng tangan kekar Ricky.
" Pagi ..." Dengan ramah Ricky menyahuti sapaan mereka yang dibuat bertanya-tanya akan anak kecil yang tidak lain adalah Ramadhan. Tentunya karena kemiripan wajah anak itu dengan Ricky.
" Rumah Om Ricky besar, ya!" Ramadhan menatap kagum kantor milik Angkasa Raya Group.
" Ini bukan rumah, ini kantor Rama." Ricky meralat perkataan Ramadhan.
" Kantor itu apa sih, Om?"
" Kantor itu tempat orang bekerja, Rama."
" Oh, kaya Mama kerja cari uang di toko Mommy Lucy ya, Om?"
" Iya, benar, seperti Mama Rama kerja di toko bunga."
" Kalau Mama kerja cari uang buat Rama, kalau Om Ricky kerja cari uang buat siapa, Om?"
Deg
Ricky terdiam beberapa saat. Pertanyaan Ramadhan itu terasa menohok tepat ke jantungnya. Dia bisa membayangkan selama ini Anindita bekerja keras untuk membesarkan anak dari benih yang dia tanamkan di rahim wanita itu. Sedangkan dia sendiri selama ini bergelimang harta sebagai salah satu petinggi penting di perusahaan besar di negeri ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1