
Ricky memilih sikap untuk memeluk Anindita karena wanita itu menangis setelah mendengar ucapannya. Dia menduga jika Anindita merasa tersinggung dan kesal terhadapnya karena kalimat yang dia ucapkan kepadanya. Tidak terpikirkan olehnya jika Anindita merasa sedih karena diingatkan kembali tentang suaminya yang telah meninggalkannya.
Ricky benar-benar tidak menyadari jika saat ini wanita itu sedang berada di dalam kebingungan yang teramat sangat. Di saat dia merasa berat harus ditinggalkan selama-lamanya oleh suami tercintanya, tiba-tiba hadir pria yang secara terang-terang menyatakan akan menikahinya demi permintaan Arya yang hadir dalam alam mimpi pria itu. Bahkan kepergian Arya belum genap empat puluh hari, bagaimana mungkin dia berpikiran untuk berumah tangga kembali.
" Maaf kalau saya sudah menyakiti hatimu, Anin."
Anindita tersadar jika saat ini dia sedang dalam rengkuhan pria lain membuatnya dengan cepat melepaskan diri dari dekapan tubuh kekar Ricky.
" Kamu makan sekarang, ya. Rama pasti akan sedih kalau Mamanya sakit seperti ini." Ricky kemudian mengambil kembali bed tray yang tadi dia siapkan di depan Anin. Dia lalu menyusun bantal agar dapat digunakan untuk bersandar.
" Kamu bersandarlah, biar saya yang menyuapi kamu." Ricky kemudian mengambil piring yang berisi nasi dan omelet, dia juga mengambil mangkuk sup. " Makanlah ..." Ricky menyendokkan nasi yang sudah dia campur dengan sup kacang merah ke mulut Anindita membuat Anindita tertegun menatap sendok berisi nasi dan lauknya itu, kemudian dia menatap ke arah Ricky yang menganggukan kepalanya meminta Anindita untuk menerima suapannya. Walaupun dengan sikap agak ragu akhirnya Anindita pun membuka mulutnya dan mau menerima beberapa sendok nasi yang disuapkan oleh Ricky.
" Sudah ..." Anindita menahan tangan Ricky yang ingin menyuapkan kembali karena dia merasa sudah kenyang.
" Kamu baru makan lima suap, mana kenyang untuk dua orang, kamu dan bayi kamu." Ricky memprotes Anindita yang meminta berhenti makan.
" Saya sudah kenyang." Anindita beralasan.
" Dimakan sup nya saja kalau begitu." Ricky kemudian menyendokkan sup berisi potongan wortel, brokoli dan kacang merah.
" Makan sayuran seperti ini baik untuk ibu hamil." Ricky akhirnya kembali bisa membuat mulut Anindita terbuka dan menerima sendok demi sendok sayur sup yang dia siapkan untuk Anindita.
Setelah memberikan air mineral, Ricky kemudian mengambil piring berisi jeruk yang sudah dia kupas.
" Tadi sudah makan sayurannya, sekarang tinggal buahnya." Ricky kini sudah menacapkan garpu kecil ke jeruk yang sudah dia lepas satu-satu.
" Saya sudah kenyang." Anindita kembali menolak karena dia sudah benar-benar kenyang.
" Sedikit saja, makanlah buahnya! Kamu dengar 'kan tadi Rama meminta kamu agar cepat sembuh?"
Teettt
__ADS_1
Suara bel berbunyi membuat Ricky menaruh kembali piring berisi buah jeruk ke atas nampan.
" Itu pasti Dessy, saya bukakan pintu dulu." Ricky beranjak meninggalkan kamar Anindita menuju ruang tamu.
Sedang Anindita lalu menghela nafas panjang, berhadapan dengan Ricky seperti tadi membuat jantungnya berdetak kencang dan hatinya berdebar-debar sampai dia memejamkan matanya berusaha untuk menghalau semua perasaan yang muncul di hatinya.
" Assalamualaikum, Mbak Anin ...."
Anindita membuka matanya dan menoleh ke arah suara yang terdengar dari arah pintu kamarnya. Dia melihat wanita cantik berhijab masuk ke dalam kamarnya.
" Waalaikumsalam ..." Anindita menyahuti salam yang diucapkan oleh Dessy.
" Mbak Anin, sakit apa?" tanya Dessy yang berjalan mendekat ke arah Anindita disusul oleh Ricky di belakangnya.
" Badannya panas, kepalanya juga pusing." Ricky yang menjawab pertanyaan adiknya.
" Aku tanya Mbak Anin lho, Kak! Bukan tanya Kakak! Apa kakak sudah ganti nama sekarang?" Dessy menyindir kakaknya, namun apa yang dikatakan Dessy bukan hanya membuat Ricky yang tersindir, namun Anindita juga merasa malu.
" Atau Kak Ricky sudah pensiun jadi asistennya Kak Dirga, dan sekarang jadi asisten pribadinya Mbak Anin?" Dessy masih saja menyindir Ricky.
" Kalau Kakak suruh aku periksa Mbak Anin, ya Kakak pergi dari sini, dong! Ngapain Kakak masih di sini?" tanya Dessy. " Berlaganya seperti suami siaga, halalin dulu dong, makanya!"
Sindiran terakhir yang diucapkan Dessy sama-sama membuat Anindita dan Ricky sama-sama terkesiap dan kedua manusia itu sama-sama salah tingkah. Ricky pun memilih keluar dari kamar Anindita daripada dia akan terus dipermalukan oleh adiknya itu terus menerus.
" Mbak Anin apa kabar?" tanya Dessy setelah Ricky menghilang dari kamar itu.
" Saya baik, Mbak. hanya sedikit pusing saja." Anindita menyahuti.
" Pasti karena ulah Kak Ricky, ya? Maafkan kakak saya itu ya, Mbak. Dia itu terlalu lama menjomblo jadi tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan wanita."
Anindita mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dessy. Bagaimana Dessy bisa menebak jika Ricky lah yang membuat seketika kepalanya mendadak pusing. Padahal kemarin siang setelah berpamitan kepada Lucy untuk makan siang, Anindita masih dalam kondisi baik-baik saja. Namun sejak mendengar percakapan antara Dirga dan Ricky, lalu ucapan Ricky yang mengatakan jika pria itu berniat menikahinya dan akan merebut Ramadhan membuat dirinya seketika syok.
__ADS_1
" Maafkan Kak Ricky kalau selama ini membuat hati Mbak Anin kesal. Kak Ricky itu sebenarnya baik dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Setidaknya itu yang saya dan almarhumah ibu saya rasakan. Saat itu Kak Ricky berusia lima belas tahun dan saya sendiri baru sepuluh tahun saat ayah kami mengalami kecelakaan kerja dan meninggal. Sejak saat itu Kak Ricky fokus mencari nafkah menggantikan Ayah kami. Walaupun akhirnya Pak Poetra, Bos besar di perusahaan tempat ayah kami bekerja mengangkat kami sebagai anak-anak angkatnya. Tapi itu tidak membuat Kak Ricky hanya duduk santai dan berpangku tangan."
Anindita menatap Dessy dengan kening berkerut. Dia memang sempat mendengar cerita dari Kirania tentang masa lalu Ricky yang menjadi anak angkat orang tua Dirga.
" Kak Ricky selalu tekun belajar dan bekerja, meskipun saat itu Pak Poetra menjamin kehidupan keluarga kami tapi Kak Ricky tidak malu mencari nafkah sejak masuk SMA. Pagi hari sebelum berangkat sekolah Kak Ricky bekerja mengantar koran-koran. Sepulang sekolah Kak Ricky bekerja serabutan di percetakan kadang di tempat penyablonan."
" Tapi meskipun ikut membantu mencari nafkah, Kak Ricky tidak pernah melupakan pendidikan. Karena itu saat lulus SMA, Pak Poetra akhirnya mengangkat Kakak untuk bekerja di kantornya. Sampai akhirnya Kak Ricky berhasil mencapai posisi sebagai Executive Assistant di perusahaan Pak Poetra karena keuletan, kejujuran dan juga loyalitas yang ditunjukan oleh Kak Ricky selama ini."
" Sejak remaja yang ada di otak Kak Ricky hanya belajar dan bekerja, sampai akhirnya Kak Ricky melupakan tentang kehidupan pribadinya dan tidak pernah dekat dengan seorang wanita."
" Sampai suatu hari Kak Ricky datang ke rumah saya dan mengatakan jika dia telah merenggut paksa kesucian seorang wanita baik hati yang tak berdosa."
Anindita menarik nafasnya yang terasa begitu sesak mendengar Dessy menyinggung tentang peristiwa yang terjadi hampir enam tahun lalu.
" Kak Ricky sampai menitikan air matanya karena benar-benar merasa bersalah atas apa yang dia lakukan kepada wanita yang tidak bersalah. Sejak kejadian itu, bertahun-tahun Kak Ricky terus berusaha mencari wanita yang sudah menjadi korbannya, sampai akhirnya Kak Ricky dipertemukan dengan wanita itu yang ternyata adalah Mbak Anin."
" Kak Ricky begitu bahagia saat dia mengabari jika kalian sudah dia temukan." Dessy kemudian menggenggam tangan Anindita.
" Saya tahu apa yang dilakukan oleh Kak Ricky adalah hal yang tidak terpuji. Tapi saya berharap Mbak Anin bisa memaafkan Kak Ricky, karena selama ini pun telah Kak Ricky bersusah payah mencari kalian berdua untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan dulu."
Anindita menelan salivanya, entah sudah berapa kali dia mendengar cerita Ricky yang selama ini mencarinya, namun sampai saat ini rasanya hatinya masih susah untuk terketuk dengan ketulusan Ricky kepadanya selama ini.
" Ya ampun, saya disuruh kemari itu 'kan karena disuruh periksa Mbak Anin, kenapa jadi ngoceh-ngoceh seperti ini, ya? Kalau Kak Ricky tahu, nanti dia bisa-bisa ngomel-ngomel lagi. Maaf ya, Mbak Anin." Dessy terkekeh karena dia keasyikan bercerita tentang kakaknya sampai lupa akan tugasnya memeriksa Anindita.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like & Komennya ya Kak. Biar ASKML bisa naik level lagi ya, cz udah mau akhir bulan nih, Makasih🙏
Happy Reading❤️