
" Dedek bayinya pintar ya, nggak mau bikin mamanya sakit lama-lama," ucap Bidan Cicih saat menggendong dan menyodorkan bayi Anindita kepada ibunya.
Tak lama setelah bayi Anindita lahir, Ibu Bidan Cicih pun datang dan segera membantu menuntaskan persalinan Anindita termasuk memotong tali pusat bayi dan mengeluarkan plasenta dari rahim Anindita.
" Dedek bayinya ganteng ini, pasti mirip papanya, ya?"
Pertanyaan Bidan Cicih seketika membuat hati Anindita seakan tercubit. Tapi Anindita tetap berusaha untuk tetap tersenyum.
" Terima kasih Bu Bidan atas bantuannya." Sandra langsung mengalihkan perhatian Bidan Cicih, karena dia tahu Anindita pasti akan sedih jika disinggung soal ayah dari bayinya itu.
" Nggak usah sungkan-sungkan, Bu Sandra." Bidan Cicih menyahuti. " Saya nggak tahu kalau di tempat Bu Sandra sedang ada yang hamil, selama ini periksa di mana?" tanya Bidan Cicih.
" Ah iya, itu kerabat jauh lagi ikut di sini, Bu Bidan. Biasanya dia saya bawa periksa ke dokter kandungan teman saya, Bu." Sandra menjelaskan.
" Oh, ya sudah ... periksa di mana saja yang penting ibu dan bayinya sehat. Nanti besok saya ke sini lagi ya Bu Sandra, untuk mengecek kondisi Ibu sama bayinya," ujar Bidan Cicih.
" Oh, silahkan Bu Bidan." Sandra kemudian menyodorkan amplop yang telah diisi beberapa lembar uang seratus ribu.
" Alhamdulillah, terima kasih, Bu Sandra. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu Sandra. Permisi." Bidan Cicih pun berpamitan kepada Sandra.
" Mami, Dedek bayinya Mbak Anin lucu, gemas Ivone lihatnya. Mau gigit pipinya kaya bakpau," celoteh Ivone menciumi bayi Anindita.
Anindita tersenyum menanggapi omongan Ivone.
" Masa dedek bayinya mau digigit, Von? Nanti dedek nangis, dong." Sandra menyahuti omongan anaknya. " Ivone juga jangan cium-cium dedek bayinya dulu. Ivone 'kan baru dari luar, habis kena debu. Kasihan dedek bayinya." Sandra melarang anaknya mencium bayi Anindita.
" Ivone harus mandi dulu ya, Mi?" tanya Ivone.
" Iya mandi dulu sana sama Mbak Susi." Sandra menyuruh Ivone untuk mandi yang langsung dituruti oleh anak bungsunya itu.
" Selamat ya, Nin. Kamu sudah menjadi ibu sekarang." Sandra membelai wajah bayi yang dengan punggung jarinya.
" Terima kasih ya, Ci. Atas kebaikan Cici dan Koh Leo selama ini," ucap Anindita dengan nada lemah.
" Anak kamu tampan, Nin. Maaf kalau Cici menyinggung masa lalu kamu. Kamu masih ingat wajah ayah dari anak kamu ini, Nin?" tanya Sandra hati-hati.
Anindita menarik nafasnya yang terasa tercekat.
" I-iya, Ci. Saya masih bisa mengingat wajah orang itu," lirih Anindita.
" Nin, kalau seandainya suatu saat nanti kamu bertemu dengan orang itu, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Sandra tiba-tiba.
Anindita mendesah, memangnya apa yang dia harapkan dari pria yang telah menghancurkan masa depannya itu?
__ADS_1
" Saya tidak tahu, Ci. Dan saya berharap, saya tidak akan bertemu dengan dia lagi," ucap Anindita.
" Oh ya, anak kamu sudah kamu kasih nama, Nin?" Sandra mengalihkan topik pembicaraan.
" Ramadhan Syahrizky, Ci." Anindita menoleh menatap bayi suci yang ada di sampingnya itu.
" Semoga anak kamu nantinya membawa rejeki buat kamu ya, Nin."
" Aamiin, Ci. Terima kasih ..."
" Nin, kamu makan dulu. Ini Bibi sudah buatkan sayur bayam mumpung masih hangat" Bi Teti berkata dari pintu sembari membawa nampan berisi semangkuk sayur bayam, wortel dan tahu rebus, nasi juga segelas air putih.
" Makasih ya, Bi. Jadi merepotkan Bi Teti yang sedang puasa," ucap Anindita.
" Jangan sungkan sama Bibi, Nin. Mau Bibi suapi?" Bi Teti menawarkan diri.
" Nggak usah, Bi. Biar saya sendiri saja." Anindita menolak halus.
" Kamu makan, dulu, Nin. Biar ASI nya banyak." Sandra langsung mengambil bayi Ramadhan dan menggendongnya.
" Iya, Ci ..."
" Mami, Ivone mau gendong dedek bayinya." Ivone yang sudah selesai mandi langsung berlari masuk ke kamar Anindita.
" Cici Ivone masih kecil, jadi belum boleh gendong Dedek Rama." Sandra kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi dekat pintu kamar Anindita.
" Iya, Cici Ivone belum kenalan sama dedek bayinya Mbak Anin, kan? Namanya Rama, Ci Ivone." Sandra memperkenalkan Ramadhan kepada putrinya.
" Mami, kenapa Ivone nggak boleh gendong Dedek Rama?" tanya Ivone kemudian.
" Karena Cici Ivone masih kecil, kalau gendong Dedek Rama, Cici belum kuat nanti jatuh. Karena Dedek bayi 'kan masih kecil masih lemah tubuhnya." Sandra mencoba pengertian kepada Ivone.
" Kalau cium boleh 'kan, Mi?" tanya Ivone lagi.
" Kalau Cici Ivone sudah mandi boleh saja, tapi jangan lama-lama ya, Cici. Nanti Dedeknya bangun."
" Iya, Mi. Ivone cuma mau cium sebentar saja kok, Mi."
Sandra pun memberi kesempatan Ivone mencium Ramadhan. Sementara Anindita memperhatikan interaksi mereka dengan senyum di bibirnya, melihat pemandangan orang-orang yang begitu sayang dan perduli padanya.
" Ya Allah, semoga kelahiran Ramadhan akan membawakan kebahagiaan untuk hamba dan orang-orang di sekitar hamba. Dan hamba berharap suatu saat nanti hamba bisa membalas semua kebaikan yang diberikan Koh Leo dan keluarga kepada hamba selama ini," batin Anindita seraya menyeka air mata yang tiba-tiba meleleh di pipinya.
***
__ADS_1
Ricky memegang dadanya. Sedari pagi tadi entah kenapa jantungnya terus berdetak kencang. Tidak biasanya dia seperti ini. Apa dia mempunyai masalah dengan jantungnya? Tapi dia termasuk orang yang rajin check up rutin dan selama ini tidak pernah ada masalah dengan kesehatannya.
" Ada apa, Rick?" tanya Dirga saat melihat asistennya itu terus memegang dadanya.
" Tidak tahu, Pak Dirga. Sejak pagi tadi saya merasa jantung saya berdetak kencang." Ricky menjawab pertanyaan Dirga.
" Kau periksalah segera. Saya butuh kamu, Rick. Jangan sampai kamu jatuh sakit," ucap Dirga kepada Ricky.
" Baik, Pak Dirga." Ricky lalu menoleh jam tangannya. " Lima menit lagi rapat segera mulai, Pak." Ricky memberitahukan Dirga.
" Saya segera ke sana." Dirga segera mematikan laptopnya dan merapihkan arsip di meja kerjanya.
Rapat baru berlangsung sekitar lima belas menit ketika Ricky melihat Dirga beberapa kali melirik ponsel di saku bajunya. Entah siapa yang menghubungi bos nya saat ini tapi Dirga seperti terpengaruh dengan panggilan yang akhirnya membuat Dirga meninggalkan rapat itu dan memyerahkan kepada dirinya yang memimpin rapat itu.
Namun tak lama tiba-tiba ruang rapat diketuk kencang dari luar, membuat semua yang hadir dalam rapat itu menoleh ke arah pintu. Seorang OB muncul dari balik pintu.
" Maaf, Pak. Pak Dirga ..." OB itu terlihat gugup menyampaikan berita yang ingin dia sampaikan.
" Ada apa dengan Pak Dirga?" Ricky bangkit dan dengan langkah lebar dia keluar ruangan rapat itu.
Ricky kemudian mendapati bosnya itu terduduk dengan kepala tertunduk dan ponsel yang tergeletak di lantai.
" Ada apa, Pak Dirga?" Ricky langsung mendekat ke arah Dirga dan menepuk pundak Dirga.
Dirga menegadahkan wajahnya ke arah Ricky. Dan Ricky melihat wajah yang biasa nampak tegas kini terlihat sendu dengan mata memerah dan cairan bening yang mengembun di mata elangnya.
" Ada apa, Pak Dirga?" Ricky seketika dilanda kecemasan melihat kondisi bosnya itu.
" Bang Bima, Rick."
" Pak Bima? Ada apa dengan Pak Bimantara?"
" Bang Bima kecelakaan dan tewas seketika di tempat."
Serasa dihantam ribuan palu Godam rasanya saat Ricky mendengar berita mengejutkan yang baru saja disampaikan Dirga tentang kecelakaan yang menimpa anak tertua dari Pak Poetra Laksmana itu
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Dukung selalu karya²ku dengan like & komen kalian ya, Makasih🙏
Happy Reading❤️