ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Om Ricky Sudah Jadi Pengantin?


__ADS_3

Dari cermin Anindita yang sedang melepas jepit rambut bekas sanggul menatap pantulan sosok pria yang baru masuk ke dalam kamar yang biasa dia tiduri bersama Ramadhan. Dan sosok itu adalah Arya, pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.


Anindita merasakan hatinya berdebar saat Arya berjalan menghampirinya.


" Mau Mas bantu bukakan?" bisik Arya saat kini sudah berada di belakang Anindita, bahkan hangatnya hembusan nafas Arya terasa di dekat telinga Anindita, membuat darah Anindita seketika berdesir, dan sukses membuat bulu kuduk Anindita berdiri.


" Hmmm, ng-nggak usah, Mas." Anindita langsung mengusap tengkuknya. Dia tiba-tiba merasa gugup. Walaupun dia sering berdekatan dengan Arya, tapi untuk saat ini dia merasa sangat grogi, terlebih lagi Arya sekarang menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'Mas' bukan 'aku' seperti biasanya.


" Kalau nggak aku bantu, kapan kelarnya?" Arya seakan tidak menggubris ucapan Anindita, tangannya sudah ikut melepaskan satu persatu jepit itu dari rambut Anindita seraya menciumi tengkuk dan ceruk leher Anindita membuat Anindita sampai menahan nafasnya karena dia merasakan gelenyar aneh saat menerima sentuhan Arya.


" M-Mas, a-aku belum membersikan wajah." Anindita mencari alasan agar bisa menghentikan aksi Arya yang sedang mulai mencumbunya.


" Sini Mas bantu bersihkan biar cepat. Pakai apa?" tanya Arya kini duduk di samping Anindita.


" B-biar aku saja, Mas." Anindita kembali menolak.


" Jangan membatah, deh!" sergah Arya. " Pakai yang mana membersihkannya?" Arya kemudian mengambil kapas.


" Ibu salonnya bilang pakai ini, biar meresap lebih lama di kapasnya dulu." Anindita menunjuk botol make up remover. Dia sendiri segera melepas bulu mata palsu terlebih dahulu.


" Mana dulu yang mau dibersihkan?" tanya Arya dengan tangan memegang kapas yang telah dibasahi make up remover.


" Disekitar mata dulu saja, Mas."


Arya pun mulai membersihkan wajah Anindita dari make up tebal yang menempel di wajahnya. Setelah itu Anindita membilas wajahnya dengan facial foam.


Sembari menepuk lembut wajahnya dengan handuk Anindita keluar dari kamar mandi.


" Aakkhh ... astaghfirullahal adzim, Mas. Turunkan aku!" Anindita memekik kaget saat dia merasa tubuhnya melayang di udara karena Arya sudah mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.


Arya tak menggubris permintaan Anindita. Dia malah merebahkan tubuh Anindita ke atas tempat tidur. Dan dia pun langsung menindih tubuh Anindita membuat Anindita diserang rasa gugup.


" M-Mas, a-aku malu," ucap Anindita terbata.


Arya terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.


" Memangnya malu kenapa? Memangnya kita mau ngapain sampai kamu merasa malu?" Arya menatap lembut mata Anindita dan kini memandang lekat bibir ranum Anindita.


" M-Mas mau melakukannya sekarang, kan?" Bahkan telepak tangan Anindita sudah dingin berkeringat.


" Apanya yang sekarang?" Arya semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Anindita.

__ADS_1


" M-Mas, nanti malam 'kan kita masih ada acara lagi." Anindita masih saja memakai alasan agar Arya tidak menyerangnya saat ini.


" Hanya mencium saja tidak masalah, kan?" Arya langsung mengecup bibir Anindita memberikan sentuhan yang membuat Anindita membeku. Arya terus me****** bibir Anindita walaupun wanita itu hanya terdiam tak membalas.


" Buka mulutnya ..." Arya menyuruh Anindita menuruti perintahnya membuat Anindita melakukan apa yang diminta suaminya itu. Arya semakin memperdalam ciumannya hingga kini dia mengeksplor rongga mulut Anindita, membuat wanita itu nampak kesulitan bernafas.


" Huft ... huft ..." Anindita segera mengambil nafas saat Arya menjeda pagutannya membuat pria itu terkekeh.


" Kamu nggak ahli berciuman, ya?" sindir Arya terkekeh.


" Aku nggak pernah punya pacar, bagaimana bisa ahli berciuman?!" Anindita mencebikkan bibirnya.


Arya kembali tertawa kecil dia kemudian mengecup kening Anindita lalu merebahkan tubuhnya di samping istri cantiknya itu kemudian memeluknya.


" Kita istirahat saja, ya! Biar nanti selepas acara resepsi nanti malam tenaganya prima " Arya menyeringai seraya menenggelamkan wajahnya diceruk leher Anindita hingga wanita itu merasa kegelian.


***


" Mama sama Papa Arya jadi pengantin ya, Om. Rama juga mau jadi pengantin ah, Om." Ramadhan berseloroh saat dalam perjalanan menuju apartemen Ricky.


Ricky terkekeh mendengar kelakar anaknya itu.


" Nanti kalau Rama sudah besar ya, Nak. Karena yang boleh jadi pengantin itu orang-orang yang sudah dewasa seperti Mama Anin dan Papa Arya itu." Ricky dengan bijak memberikan penjelasan kepada Ramadhan seraya mengusap kepala anaknya itu.


Pertanyaan Ramadhan membuat Arya menelan salivanya. Dia pun bingung harus menjawab apa.


" Hmmm ...."


" Oh, iya ... Om 'kan sudah punya anak. Kata Abel teman Rama, kalau punya anak itu harus jadi pengantin dulu. Memang benar ya, Om?"


Deg


Hati Ricky seakan mencelos mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan dari mulut darah dagingnya itu.


" Hmmm, Rama ... mau langsung ke tempat Om atau mau main dulu di Mall?" Ricky dengan cepat mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Ramadhan.


" Ke Mall, Om. Rama mau mainan dulu." Ramadhan langsung antusias mengetahui Ricky mengajaknya pergi di arena permainan.


Ricky menarik nafas lega karena berhasil mengalihkan perhatian Ramadhan.


***

__ADS_1


Acara resepsi malam ini begitu meriah, hampir sebagian besar tamu yang hadir adalah kerabat, dan rekan sejawat Arya. Sedang dari pihak Anindita hanya teman kerja dia di Alabama Florist, juga guru Ramadhan dan sebagian orang tua dari teman sekolah Ramadhan.


Ricky sendiri ikut datang menemani Ramadhan di acara itu. Dan tentu saja kehadiran Ricky menjadi pusat perhatian tamu yang hadir di sana. Tidak sedikit yang mengenali Ricky sebagai salah satu petinggi di perusahaan ternama.


" Mbak, coba lihat, deh! Yang ngobrol sama Papanya Rama, orang-orang yang punya jabatan semua." Lanny yang memperhatikan Ricky berbisik kepada Ria.


" Iya, Mbak juga dari tadi perhatikan. Hoki banget sih, perempuan itu." Ria menyahuti.


" Tapi bagaimana ceritanya dia bisa berhubungan dengan pria itu ya, Mbak?" Lanny masih tak habis pikir. " Apa, dia itu simpanan pria itu, ya?"


" Mbak dengar sih, dia belum pernah menikah. Kenapa tidak menikahi wanita itu saja, ya! Jadi Mas Arya nggak harus menikahi wanita itu." Ria masih saja menunjukkan rasa tak sukanya kepada Anindita.


Sementara di sudut lain ruangan resepsi beberapa wanita seumuran Anindita terdengar sedang asyik berbisik.


" Suaminya Mama Rama ganteng, tapi kok sepertinya bukan orang yang pernah saya lihat waktu ketemu Rama di Mall dulu ya?" Mama Celia merasa heran.


" Mungkin Mama Celia lihatnya sepintas waktu ketemu di Mall itu. Jadi nggak jelas lihatnya." Mama Abel berkomentar.


" Mungkin juga, sih. Eh, tapi Rama ke mana, ya? Kok nggak kelihatan." Mama Celia tidak melihat keberadaan Ramadhan.


" Om, Rama mau ke Mama, ya!" Ramadhan sedikit berteriak bicara kepada Ricky.


Suara Ramadhan terdengar oleh Mama Celia dan Mama Abel. Mereka pun langsung menoleh ke arah suara itu. Dan mereka pun terkesima melihat sosok Ricky yang sedang menggandeng tangan Ramadhan berjalan melewatinya.


" I-itu dia, Mam. Itu orangnya. Itu yang saya lihat waktu itu di mall sama Rama." Mama Celia menunjuk ke arah punggung Ricky.


" Iya, wajahnya memang mirip Rama tadi sepintas saya lihat, Mam. Apa mungkin dia mantan suaminya Mama Rama, ya? Mama Abel pun mengomentari seraya ikut memperhatikan punggung Ricky yang semakin berjalan menjauh dari pandangan mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Banyak yg Unfavorit novel ini sejak tahu Anin dan Arya menikah🤭 Sepertinya mereka menyerah dan melambaikan tangan ke kamera😁.


Waktu mau buat novel ini, aku memang ingin membuat kisah yg agak beda dengan kisah novel yg lain. Ini baru masuk bab ke 52. Kalau Anin dan Ricky dibuat bersatu sekarang terasa ga dapet feel-nya dan kurang greget. Aku ingin bikin kisah perjalanan kisah cinta Anindita dan Ricky berjalan natural, romantis dan menyentuh. Bagaimana proses Ricky akhirnya jatuh cinta pada Anin dan bagaimana akhirnya Anindita bisa menerima kehadiran Ricky. Cuma mungkin Readers harus sabar menunggu moment itu tiba.


Makasih buat Readers yang masih tetap bertahan mengikuti kisah ini🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2