ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Nasi Rendang


__ADS_3

Mama Arya memperhatikan penampilan Anindita yang terlihat rapih, menandakan jika wanita yang sedang hamil besar itu akan berpergian.


" Kamu mau ke mana, Anin?" tanya Mama Arya kemudian.


" Ma, Anin ingin ziarah ke makam Mas Arya." Anindita menyebutkan alasannya berdandan rapih siang itu.


" Ke makam?" Mama Arya terkesiap seraya menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah Anindita. " Anin, kamu ini sebentar lagi melahirkan, kemarin kamu sudah kerasa nyeri-nyeri. Kenapa kamu mau pergi ke makam?" Mama Arya nampak tidak menyetujui rencana menantunya itu meskipun makam yang akan dikunjungi adalah makam putranya sendiri.


" Iya, Ma. Sebentar lagi Anin 'kan mau melahirkan, aku ingin berdoa untuk Mas Arya, Ma." ucap Anindita.


" Anin, Mama nggak setuju kamu ziarah dalam kondisi hamil besar seperti ini. Berdoa itu bisa dari mana saja, Nak." larang Mama Arya.


" Tapi, Ma ...."


" Anin, Mama nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan cucu Mama. Bagaimana kalau tiba-tiba di sana kamu mengalami kontraksi? Apa itu tidak merepotkan orang lain? Mama minta kamu jangan membandel atau Mama akan bilang sama Ricky rencana kamu ini?!" ancam Mama Arya.


Anindita membelalakkan matanya mendengar ancaman yang diucapkan oleh Mama mertuanya itu. Dia tidak mengira jika Mama Arya akan melaporkan hal ini kepada Ricky.


" Sekarang kamu beristirahat dan jangan berpergian untuk alasan apapun juga!" tegas Mama Arya membuat Anindita mendesah pasrah dan berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Sesampai di kamarnya Anindita berjalan hilir mudik. Dia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa keluar dan mengunjungi makam suaminya itu. Anindita lalu mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan kepada seseorang.


" Assalamualaikum, Pak saya kepingin makan nasi rendang, Bapak bisa antar saya ke rumah makan Padang?" Anindita lalu mengirimkan pesan itu kepada Ricky.


Lebih dari sepuluh menit pesan yang dikirim Anindita tidak direspon oleh Ricky, membuat Anindita menaruh kasar ponselnya ke atas tempat tidur seraya mendengus kesal. Namun tak lama dia mengambil kembali ponsel itu karena dia berniat menghapus pesan yang dikirimnya tadi. Tapi saat ponselnya baru tersentuh tangannya tiba-tiba sebuah pesan masuk berbunyi dan pesan itu berasal dari Ricky.


" Nanti saya atur orang untuk membelikan makanan yang kamu inginkan ke sana." Itu isi balasan pesan dari Ricky.


Mengetahui jika Ricky justru akan menyuruh orang mengantarkan makanan yang dia inginkan, membuat dia dengan kesal mengetikkan kembali pesan kepada pria itu.


" Saya mau makan di tempat, nggak mau makanannya yang diantar ke sini," protes Anindita.


" Kalau Bapak nggak bisa mengantar saya biar saya pergi sendiri saja cari restorannya." Anindita memberikan ancaman kepada Ricky.


Sekitar tiga menit kemudian Ricky membalas pesan yang Anindita kirimkan.


" Baiklah, saya akan ke sana."


Senyum Anindita langsung melebar saat membaca pesan dari Ricky.

__ADS_1


" Terima kasih, Pak. Assalamualaikum." Anindita cepat-cepat membalas pesan kepada Ricky.


" Waalaikumsalam. Tunggu saya, jangan pergi sendiri." Ricky sempat membalas pesan Anindita.


Selang waktu setengah jam kemudian Ricky sudah berada di depan pintu apartemen Anindita. Dia sengaja meminjam motor salah satu karyawan kantornya karena dia mengejar waktu agar tidak terlalu macet di jalan dan dia bisa mencari jalan pintas yang tidak bisa diakses oleh kendaraan roda empat.


" Bapak sudah datang, ya?" tanya Anindita saat keluar dari dalam kamarnya. Namun matanya tertuju pada sosok Mama Arya yang sedang berbincang dengan Ricky.


" Mama ..." Anindita menggigit bibirnya. Dia menduga jika Mama mertuanya itu sudah menceritakan rencananya yang ingin berziarah ke makam suaminya dan pasti Ricky juga sudah cerita tentang keinginan makan di luar yang hanya merupakan akal-akalannya saja.


" Kita sekalian saja makan sama Ibu sekalian jemput Rama sekolah."


Ucapan Ricky membuat semangat Anindita yang tadinya menggebu-gebu kini menguap seketika.


" Kita berangkat sekarang?"


Anindita langsung mengerjap saat mengetahui jika Ricky sudah berdiri di sampingnya. Dan akhirnya Anindita kembali harus pasrah menuruti apa yang diperintahkan Mama mertuanya juga Ricky.


***


Anindita mengerutkan keningnya karena mereka akan pergi dengan mobil yang biasa dipakai Pak Syaiful untuk mengantar jemput Ramadhan.


" Lalu tadi pulang pakai apa, Nak?" tanya Mama Arya.


" Tadi saya pinjam motor karyawan, Bu."


Anindita langsung terbelalak mendengar Ricky kembali ke apartemen dengan menggunakan motor.


" Ya ampun, Nak. Kenapa harus repot-repot naik motor segala." Mama Arya menampakkan kekhawatirannya saat Ricky mengatakan jika dia tadi menggunakan motor.


" Saya mengejar waktu, Bu. Biar Anin tidak terlalu lama menunggu." Ricky memberikan alasan yang sebenarnya kenapa dia sampai menggunakan motor.


Seketika itu juga Anindita langsung menundukkan kepala seraya menggigit bibirnya, karena dia menduga jika Mama mertuanya pasti akan menegurnya karena masalah ini.


" Anin, kamu lihat? Ricky sampai panas-panasan naik motor hanya untuk mengikuti keinginan kamu. Ricky itu sedang bekerja, kenapa kamu ini minta yang aneh-aneh saja, sih?"


Benar saja yang Anindita duga jika Mama Arya itu akan menegurnya. Selama Anindita menikah bersama Arya, Mama mertuanya itu tidak pernah sekali pun bersikap keras dan menegurnya seperti sekarang ini. Namun entah kenapa justru sekarang ini Mama Arya menegur bahkan menyalahkannya dan lebih memihak kepada Ricky.


***

__ADS_1


Setelah menjemput Ramadhan, mereka pun pergi ke rumah makan Padang seperti yang Anindita inginkan.


" Kenapa dilihatin saja makanannya, Anin? Ayo dimakan! Bukankah kamu tadi bilang ke Ricky kalau kamu ingin makan nasi rendang?" tanya Mama Arya saat melihat Anindita tak menyetuh nasi yang tersedia di depannya.


" Saya ..." Anindita melirik ke arah Ricky yang mengarahkan pandangan ke arahnya saat Mama Arya berbicara." Saya nggak nafsu makan."


" Mama nggak napsu makan, ya? Harus dikasih vitamin, Eyang. Rama juga kalau sudah makan sama Mama dikasih vitamin," celetuk Ramadhan langsung disambut tawa yang lainnya.


" Kalau kamu tidak cepat menghabiskan makanan kamu, saya akan cancel rencana ziarah ke makam Pak Arya setelah ini!" tegas Ricky sedikit mengancam.


Bola mata Anindita membulat sempurna saat dia mendengar perkataan Ricky yang mengatakan kalau setelah pulang makan mereka akan berziarah ke makam Arya.


" Bapak mau mengajak kami berziarah ke makam Mas Arya?" Anindita nampak bersemangat.


" Tidak, jika kamu tidak mau mengahabiskan makanan yang ada di depan kamu itu," tegas Ricky kembali.


" I-iya, saya akan habiskan makanannya sekarang." Anindita langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


" Ma, baca doa dulu sebelum makan. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar ...."


Anindita langsung menghentikan kunyahannya saat Ramadhan mengingatkannya untuk membaca doa dan sudah pasti semua yang ada di meja makan itu memusatkan pendangan kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Untuk Readers ASKML, mohon maaf kalau aku jarang up di sini. Karena jujur aja, sepertinya mulai patah semangat karena empat bulan levelnya anteng ga naik². Tapi jangan khawatir, aku ga akan ninggalin kisah ini begitu aja, tetap akan diakhiri sesuai keinginan readers. walaupun ga rutin tiap hari up nya. Karena aku juga ada kisah baru RAMADHAN DI HATI RAYA yang udah masuk bab ke 8



Dan juga lagi menyiapkan novelnya Azkia yg Insya Allah akan direlease tgl 10 nanti.



Untuk yang biasa kasih vote & gift di sini kalau boleh minta dialihkan saja ke novel yang baru ya, makasih banyak atas dukungannya selama ini. Aku tetap berusaha bertahan di NT/MT jadi mohon dibantu untuk kasih dukungan like, komen dll nya. Makasih🙏🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2