ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Semangat, Rick!


__ADS_3

Anindita menatap pantulan sosok Mama Arya dari cermin di hadapannya saat dia memperhatikan dirinya yang kini sudah berbalut kebaya brokat warna putih.


" Mama ..." Anindita langsung menoleh ke arah belakang dan berjalan menghampiri Mama Arya.


" Kamu cantik sekali, Anin." Mama Arya memuji kecantikan wanita yang pernah menjadi menantunya itu.


" Ah, Mama ..." Anindita langsung merona mendengar pujian Mama Arya.


Mama Arya menggenggam tangan Anindita.


" Anin, mulai hari ini, kamu akan menjadi istri Ricky. Jadi mulai hari ini, Mama minta kamu jangan lagi membahas soal rindu akan Arya. Cukup simpan Arya di dalam hati kamu karena bagaimanapun juga dia adalah mantan suami kamu dan ada anak di antara kalian, tapi tidak untuk selalu diingat dan terus-terusan kamu tangisi. Karena mulai hari ini ada pria yang lebih berhak atas kamu dan juga wajib untuk kamu cintai sepenuh hati. Mama doakan akan pernikahan kamu kali ini langgeng." Mama Arya mendoakan kebaikan untuk Anindita.


" Aamiin, Ma. Anin minta doa restu dari Mama." Anindita menatap haru Mama Arya, bisa dibayangkan betapa beruntungnya dia. Mendapatkan mantan mertua seperti Mama Arya yang mendukung dan merestui pernikahannya dengan pria lain.


" Mama merestui kamu, Anin. Raihlah bahagia bersama Ricky."


" Mbak Anin, acara akan segera dimulai, ayo ..." Dessy yang menggendong Arka memanggil Anindita untuk segera bersiap-siap karena penghulu dan tamu undangan sudah tiba.


" Mbak Dessy, maaf jadi merepotkan karena harus mengurus Arka." Anindita merasa tidak enak dengan adik Ricky itu.


" Nggak masalah, Mbak. Mulai sekarang Mbak Anin panggil aku Dessy saja karena Mbak Anin 'kan kakak iparku."


" Mbak Anin, ayo sudah ditunggu di luar." Ternyata Kirania pun ikut menyusul Anindita. " Ayo, Mbak Anin," Kirania mengulurkan tangannya menuntun langkah Anindita. Sementara Tita yang yang juga hadir di sana langsung membawa Mama Arya untuk segera ke ruangan depan rumah Poetra Laksmana untuk mengikuti prosesi akad nikah Anindita dan Ricky.


Sementara di ruangan bagian depan rumah orang tua Dirga, beberapa orang tamu undangan telah berkumpul. Tak terlalu banyak tamu yang hadir, hanya beberapa kerabat dekat saja. Namun itu tak membuat Ricky merasa tenang. Pria itu nampak agak tegang menghadapi hari pernikahannya itu.


Suara sedikit agak berisik saat Anindita terlihat memasuki ruangan itu dengan Mama Utami dan Kirania yang mendampingi wanita cantik itu.


Ricky langsung menolehkan wajahnya ke arah mempelai wanitanya. Cantik, itu yang dia dapatkan saat menatap Anindita dengan balutan kebaya warna putih, sama seperti saat dia melihat Anindita di pernikahan pertamanya.


Ricky mengembangkan senyumnya saat melihat Anindita berjalan mendekat dan duduk di sampingnya walaupun Anindita sejak memasuki ruangan itu tak sedikit pun menoleh ke arahnya.


" Bagaimana kedua mempelai, apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Penghulu.

__ADS_1


" Iya, Pak. Silahkan." ujar Ricky.


Setelah mendapat persetujuan dari Ricky. Prosesi pernikahan pun berjalan tahap demi tahap hingga kini tiba waktunya pengucapan ijab qobul.


" Saudara Ricky, apakah sudah siap untuk prosesi pengucapan ijab qobul? Sudah hapal 'kan nama calon istrinya?" Pak Penghulu menggoda Ricky hingga membuat ketegangan semakin meningkat dirasakan oleh pria itu.


" Semangat, Rick! Semangat ...!" seruan dari Dirga yang duduk di belakang Ricky membuat semua tamu menoleh kepada bos property itu bahkan tidak sedikit tamu yang tertawa kecil melihat ekspresi Dirga yang nampak antusias.


Anindita langsung menundukkan wajahnya karena malu dengan ucapan Dirga tadi.


" Wah, Pak Dirga sampai semangat sekali memberi dukungan kepada Mas Ricky." Pembawa acara sampai berkomtar.


" Mas Ricky jangan tegang, ya! Semangat kata Pak Dirga bilang tadi," lanjut MC tadi.


" Bisa kita mulai sekarang, Saudara Ricky?" tanya Penghulu yang bertugas sebagai wali hakim itu.


" Siap, Pak." Ricky lalu menjabat tangan penghulu itu.


" Bismillahirrohmanirrohim ..." Penghulu itu membaca basmalah terlebih dahulu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Anindita Purbaningrum binti Muhammad Gufran dengan mas kawin tersebut tunai."


" Sah?"


" Saaaaaahhhh ...!" pekik Dirga cepat bersamaan dengan Penghulu berbicara seraya mengepalkan kedua tangannya ke udara hingga kembali ulah Dirga mengundang perhatian tamu yang datang.


" Astaghfirullahal adzim, Abang! Jangan norak seperti itu!" Kirania yang kesal dengan melakukan suaminya langsung menegur.


" Sayang, aku ini senang, excited karena Ricky akhirnya sold out. Akhirnya dia punya istri juga bukan norak!" Dirga menampik anggapan istrinya mengatakan dirinya norak.


" Apapun alasan Abang, tadi itu tidak pantas dilakukan seorang CEO seperti Abang!" ketus Kirania.


" Serba salah," gerutu Dirga.

__ADS_1


Setalah pengucapan kalimat ijab qobul acara dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen-dokumen dan penyerahan mahar. Acara prosesi ijab qobul pun kini akan ditutup dengan penyematan cincin pernikahan di kedua tangan mempelai.


Ricky meraih tangan kiri Anindita. Dia kini menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Anindita yang sebelumnya diisi oleh cincin pernikahan Anindita bersama Arya.


Anindita menatap cincin yang berbeda dari yang sebelumnya dia pakai selama hampir satu tahun ini.


" Silahkan Mbak Anin, kini giliran Mbak Anin menyematkan cincin di suami tercinta." Suara MC membuat Anindita mengerjap dan tersadar.


Anindita menatap pria di hadapannya yang kini sudah sah berstatus sebagai suaminya. Ricky nampak mengulas senyuman termanisnya saat pertama kalinya Anindita menatap pria itu setelah resmi menjadi suaminya.


Anindita menelan salivanya sebelum dia mengambil cincin nikah milik Ricky. Dia lalu meraih tangan lebar Ricky. Perlahan dia menyematkan cincin itu ke jari Ricky sementara hatinya masih saja bergejolak.


" Maafkan aku, Mas Arya." batinnya.


" Alhamdulillah, lancar jaya ya, dari pembacaan ijab qobul sampai penyematan cincin nikah. Silahkan, Mbak Anin mencium tangan suaminya, dilanjut Mas Ricky mencium kening istrinya.


Anindita lalu mengikuti apa yang dianjurkan oleh MC dilanjut oleh Ricky yang kini mengecup kening Anindita.


" Mbak Anin, Mas Ricky tahan sebentar ya, pasti banyak yang ingin mengabadikan momen ini.' MC meminta Ricky tidak menyudahi kecupannya di kening Anindita karena sang MC kini mempersilahkan tamu yang ingin mengabadikan lewat kamera. " Silahkan netizen, waktu an tempat kami persilahkan ..." MC pun berkelakar.


" Rick, tunggu dulu. Aku mau kirim adegan ini ke Edo. Si*al, dari tadi aku coba hubungi dia tapi tidak juga diangkat teleponnya. Padahal dia bilang ingin menyaksikan live acara pernikahan kau ini," gerutu Dirga sambil sibuk menghubungi Edward.


" Bang Edo mungkin masih tidur, Abang. Ini jam sembilan, di sana mungkin masih jam tiga dini hari." Kirania mengingatkan jeda waktu enam jam antara waktu Jakarta dan Milan.


" Ah, iya ... kenapa aku lupa?" Dirga kemudian mematikan panggilan teleponnya. " Pasti dia habis bercinta dengan Nadia hingga tidur lelap tak mengangkat teleponku dari tadi," gerutu Dirga kembali.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2