
Acara demi acara prosesi ijab qobul Ricky dan Anindita telah selesai. Tamu undangan pun sebagian besar sudah meninggalkan rumah kediaman keluarga Poetra Laksmana. Ricky sendiri masih berbincang dengan beberapa rekan kerjanya di Angkasa Raya.
Anindita sendiri memilih beristirahat di kamar yang sudah disiapkan untuknya. Namun dia sengaja membawa Ramadhan dan juga Arka ke dalam kamar itu. karena sebenarnya dia masih belum benar-benar siap sekamar dengan Ricky.
" Ma, sekarang Mama sama Papa 'kan jadi pengantin, nanti Rama dititipin sama siapa, Ma?"
Kening Anindita berkerut mendengar pertanyaan putranya, dia belum memahami apa maksud dari kata-kata Ramadhan itu.
" Dititipin? Memang siapa yang mau menitipkan Rama?" Anindita mengusap kepala putranya.
" Waktu Mama sama Papa Arya jadi pengantin, Rama 'kan dititipin sama Papa Ricky, Ma." Ramadhan teringat saat Mamanya dan Papa sambungnya itu menginap di hotel, dia terpaksa diungsikan pada Ricky.
Anindita tersenyum mengingat momen malam pertama pernikahannya dengan Arya. Saat itu Ricky memang meminta untuk mengurus Ramadhan karena Anindita menginap beberapa malam bersama Arya di hotel menikmati bulan madu mereka.
" Rama nggak akan dititipkan ke siapa-siapa. Rama akan tetap bersama Mama," ucap Anindita.
" Anak-anak Papa kumpul di sini rupanya." Kehadiran Ricky di pintu kamar membuat Anindita dan Ramadhan langsung menolehkan pandangan ke arah pria itu.
" Papa ..." Ramadhan langsung berhambur ke pelukan Papanya. " Pa, kata Mama nanti Rama boleh bobo di sini sama Papa sama Mama sama Adik Arka."
Ricky langsung melirik ke arah Anindita yang langsung memalingkan pandangannya.
" Rama mau bobo di sini?" tanya Ricky kemudian.
" Iya."
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk membuat semua yang ada di kamar menoleh kembali ke arah pintu.
" Maaf aku ganggu, Kak, Mbak Anin." Terlihat Dessy yang masuk ke dalam kamar. " Rama, mau ikut sama Om Ciko sama Donny jalan-jalan nggak?" tanya Dessy kemudian.
" Nggak mau, Tante Dessy. Rama aku di sini saja sama Papa sama Mama." Ramadhan menolak ajakan Dessy seraya menggelengkan kepalanya.
" Sayang banget, padahal Om Ciko bilang mau beliin mainan untuk Rama, tapi Rama nya nggak mau." Dessy sengaja mengiming-imingkan mainan agar Ramadhan tidak mengganggu Anindita dan Ricky.
" Beli mainan? Rama mau ikut, Tante." Ramadhan seketika berubah pikiran.
" Rama nggak boleh begitu, Nak." Anindita menegur sikap Ramadhan yang seolah-olah hanya menurut jika dijanjikan hadiah.
" Nggak apa-apa kok, Mbak." Dessy langsung mengomentari. Dia lalu mengambil Baby Arka dari atas tempat tidur. " Arka mau beli mainan juga, nggak? Arka biar sama aku saja, Mbak. Jadi Kak Ricky dan Mbak Anin bisa menikmati malam pengantinnya." Dessy menggoda kakaknya juga kakak iparnya membuat sepasang pengantin itu nampak salah tingkah.
" Arka biar di sini saja, Mbak. Nggak enak merepotkan Mbak Dessy." Anindita meminta Arka tetap bersamanya sebagai alasan karena dia masih merasa canggung dengan Ricky.
" Ya ampun, Mbak Anin. Masa pengantin baru diganggu adik bayi, sih? Yang benar saja ..." Dessy terkekeh. " Mbak Anin, sudah stok ASI banyak, kan? Biar beberapa hari ini Arka sama saya. Mbak Anin sama Kak Ricky nikmati saja honeymoon nya." Dessy kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Ricky dan Anindita yang nampak serba salah.
__ADS_1
Mengetahui dirinya hanya ditinggal bersama Ricky di dalam kamar, Anindita mencari-cari alasan agar dia tidak berduaan saja dengan suaminya itu.
" Hmmm, s-saya mau menemani Mama." Anindita berpamitan dan hendak melangkah ke luar kamar namun tangan Ricky dengan cepat mencekal lengan wanita keras kepala yang kini telah berstatus sebagai istrinya itu
" Ibu Fatma tadi menyuruh saya kemari untuk menemani kamu. Jadi pasti Ibu Fatma tidak akan setuju kamu menemani beliau," ucap Ricky.
" Hmmm, kalau begitu saya mau temui teman-teman yang tadi datang. Siapa tahu masih ada yang belum pulang." Anindita masih mencari-cari alasan agar dia terlepas dari Ricky.
" Sudah tidak ada teman-teman kamu, semuanya sudah pulang." Kini Ricky menarik pinggang Anindita hingga tubuh wanita itu merapat dengan tubuhnya. Sontak apa yang dilakukan Ricky membuat jantung Anindita berdebar kencang.
" B-bapak mau apa?" Anindita nampak ketakutan.
" Apa kamu lupa kalau sekarang ini saya sudah menjadi suami kamu? Saya ingin merasakan lagi apa yang dulu pernah saya rasakan."
Seketika Anindita menegang. Bayangan tentang kejadian enam tahun silam kembali berkelebat di benaknya. Malam itu Ricky secara paksa merenggut kesuciannya. Apa kali ini pun Ricky akan melakukannya secara paksa? Deru nafas Anindita nampak tak beraturan. Tangannya kini mencengkram kuat kemeja yang dikenakan oleh Ricky.
" Saya ingin merasakan lagi lembutnya sentuhan bibir kamu, seperti yang pernah kamu lakukan beberapa waktu lalu tapi dalam keadaan sadar." Ricky menatap penuh hasrat bibir merah Anindita.
Serbuan rona merah menghiasi pipi Anindita karena justru kejadian memalukan saat dia tanpa sadar mencumbu Ricky yang dia duga adalah Arla lah yang Ricky maksud saat ini.
" Apa kita bisa mengulangnya lagi sekarang?" Ricky mendekatkan bibirnya ke bibir ranum hingga kini jarak mereka semakin menipis hingga kedua bibir mereka hampir bersentuhan.
" Jangan!" Anindita mendorong Ricky hingga jarak wajah mereka yang tadi sempat menipis kini kembali melebar. " Tolong Bapak kasih waktu untuk saya, ini terlalu tergesa-gesa untuk saya." Anindita melepaskan diri dari balutan lengan kokoh Ricky kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Ricky mendengus karena penolakan yang dilakukan oleh Anindita.
***
Suasana jamuan makan malam untuk merayakan hari pernikahan Anindita dan Ricky yang diadakan di restoran milik Koh Leo malam ini nampak cukup meriah. Hampir semua yang hadir malam itu nampak bersuka cita, hanya Anindita saja yang masih nampak bingung karena sekarang ini dia sudah berstatus sebagai istri dari pria lain dengan jarak waktu kurang dari satu tahun dari pernikahan sebelumnya.
Semua sahabat-sahabat Anindita memberikan ucapan dan doa-doa terbaiknya termasuk Koh Leo dan juga Sandra. Saat ini Anindita dan Sandra sedang berbincang saat semua tamu sudah pulang.
" Anin, Cici turut bahagia untuk kamu. Cici nggak menyangka akhirnya kamu dan Tuan Ricky kini bersatu menjadi sepasang suami istri. Jalan hidup manusia tidak ada satu orang pun yang tahu. Dulu kamu terpuruk, sekarang kamu menjadi istri orang kepercayaan di perusahaan bonafit. Seperti Cici dan Koko, dulu sempat terseok-seok, Puji Tuhan restoran ini sudah mulai ramai dan punya langganan. Ini karena bantuan suami kamu tentunya."
" Ci Sandra juga banyak membantu saya dulu. Itu kebaikan yang nggak mungkin saya lupakan, Ci." Anindita menggenggam tangan Sandra.
" Anin, semoga kamu berbahagia dengan pernikahan ini." Koh Leo yang sejak tadi mendengarkan ikut memberikan doa untuk kebaikan rumah tangga Anindita dan juga Ricky.
" Aamiin, terima kasih, Koh."
" Anin, kita pulang sekarang." Ricky tiba-tiba mendekat ke arah Anindita yang sedang berbincang dengan Sandra juga Koh Leo.
" Tuan Leo, Nyonya Sandra. Sekali lagi terima kasih untuk tempatnya." Ricky mengucapkan terima kasihnya kepada pasangan suami istri itu.
" Sama-sama, Tuan Ricky." Sandra menyahuti.
__ADS_1
" Kita pulang sekarang?" Ricky melingkarkan tangannya di pinggang Anindita membuat Anindita nampak grogi.
Akhirnya setelah berpamitan kepada Koh Leo dan Sandra, Ricky dan Anindita pun berjalan menuju arah mobil milik Ricky.
" Anak-anak sama Mama mana?" tanya Anindita saat menyadari dia hanya berdua bersama Ricky.
" Mereka sudah pulang lebih dahulu," sahut Ricky kemudian menjalankan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Ricky memasuki halaman parkir sebuah hotel.
" Kita mau apa ke sini, Pak?" Sebenarnya bukan dia tidak tahu karena pernikahan pertamanya dengan Arya pun, mereka menghabiskan waktu di hotel.
" Kita akan menginap di sini."
Anindita memutar pandangannya ke arah Ricky.
" Lalu anak-anak bagaimana? Arka pasti akan cari saya, saya mesti memberikan ASI kepada Arka." Anindita terlihat keberatan
" Ada Dessy yang akan menghandle Arka." Ricky kemudian membuka seat belt lalu keluar dari dalam mobilnya. Dia lalu berjalan ke arah pintu sebelah kiri dan membukan pintu untuk Anindita.
Anindita mau tidak mau turun dari mobil dan mengikuti langkah Ricky menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh pria itu.
Anindita menatap kamar hotel yang di pesan oleh Ricky. Terlihat simpel namun nampak manis dengan dekorasi handuk berbentuk sepasang angsa dan taburan kelopak mawar berbentuk hati di atas spring bed dengan view pemandangan laut.
Dan juga terlihat sebuah vas yang berisikan bunga berwarna pink dan putih di meja. Membuat suasana honeymoon semakin romantis.
" Kamar ini tidak terlalu mewah, tapi saya harap kamu akan suka," bisik suara Ricky di belakang Anindita membuat Anindita tersentak. Apalagi saat bibir Ricky yang mulai menciumi bagian pundaknya karena dia mengenakan gaun off shoulder. Anindita sampai harus menahan nafasnya karena tiba-tiba dia merasakan kembali gelenyar aneh. Bahkan Anindita dibuat membeku seketika ketika tangan Ricky mulai menurunkan resleting gaun yang dia pakai hingga dia harus menelan salivanya.
" S-saya lelah, jangan sekarang." Anindita meminta Ricky untuk tidak meneruskan aksinya.
Ricky menarik satu sudut bibirnya ke atas seraya berkata, " Saya hanya membantu kamu membuka resleting. Apa kamu ingin tidur dengan mengenakan gaun ini?" bisik Ricky membuat rona merah kembali mewarnai wajah Anindita.
*
*
*
Bersambung ...
Bab selanjutnya setelah ini adalah bab terakhir ( Tamat ). Tadinya mau dibikin tamat di bab ini tapi dari semalam mau lanjut ngetik tapi ga bisa konsen.
__ADS_1
Makasih🙏
Happy Reading❤️