ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Mencari Info Tentang Anin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke toko florist Anindita terus saja meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja hal itu membuat Pak Daus keheranan, namun dia tak berani bertanya kepada Anindita tentang apa yang menyebabkan wanita itu menangis.


Sesampainya di Alabama florist, Anindita langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam toko. Dia pun bergegas ke ruangan Lucy dengan terburu-buru.


" Ada apa, Nin?" Lucy terkaget saat terlihat Anindita masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa.


" Ci, maaf ... Sa-saya ijin, tidak bisa melanjutkan bekerja hari ini." Anindita berkata dengan nada bergetar.


" Kenapa, Nin? Ada apa? Kamu habis menangis? Ada masalah apa tadi?" Lucy langsung menghampiri Anidita dan memegang lengan Anindita karena dilihatnya Anindita sedang ketakutan.


" Orang itu ada di sini." Anindita langsung mendekat ke arah Ramadhan dan dengan cepat dia mengangkat tubuh anaknya kemudian menggendong dan memeluknya dengan erat.


" Siapa, Nin? Orang siapa yang kamu maksud?" Lucy semakin dibuat bingung oleh sikap Anindita.


" Pria itu, Ci. Pria yang telah menodai saya. Dia ada di Jakarta ini, Ci. Bagaimana kalau dia mau mengambil Rama dari saya, Ci?! Saya nggak mau kehilangan Rama, Ci. Saya takut ..." Anindita terisak semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ramadhan.


Lucy terkesiap hingga menutup mulutnya mendengar cerita Anindita.


" K-kamu bertemu pria itu, Nin? Di mana?" tanya Lucy.


" Di-di tempat tadi wa-waktu antar bunga, Ci. Ci, saya takut dia akan ambil Rama." Anindita menciumi wajah anaknya membuat Ramadhan ikut menangis.


" Anin, Anin ... kamu tenang dulu, ya!" Lucy meminta Anindita untuk tenang lalu menuntun Anindita untuk duduk di sofa. Dia lalu mengambil air mineral dari showcase, membuka seal nya lalu menyodorkan ke Anindita.


" Kamu minum dulu, Nin."


Anindita melihat botol mineral yang disodorkan Lucy kepadanya.


" Tuan, apa Anda sakit?"


" Tuan, ini minumlah."


Seketika dia teringat kilasan-kilasan saat dia menyodorkan botol air mineral kepada pria yang akhirnya merenggut kesuciannya itu.


Anindita memejamkan matanya, mencoba menghilangkan bayangan-bayangan itu.


" Nin ..." Lucy menyentuh pundak Anindita. " Apa orang itu melihat kamu? Apa orang itu mengenalimu?"


" Sa-saya tidak tahu, Ci. Tapi orang itu tadi melihat saya. Bagaimana kalau orang itu tahu saya di sini, Ci?" Anin masih terlihat gelisah.


" Anin, kamu tenang, ya! Semua akan baik-baik saja." Lucy mengusap lengan Anindita. " Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja di belakang, nggak usah lanjutkan kerja lagi." Lucy pun akhirnya meluluskan permintaan Anindita yang ingin meminta ijin tidak melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu Ricky yang melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan Anindita langsung tertegun beberapa saat. Dan saat wanita yang nampak ketakutan melihatnya itu berlari, Ricky pun segera mengejar wanita itu.


Ricky tak mendapati wanita itu, hanya terlihat mobil pick up yang melaju keluar meninggalkan halaman parkir apartemen itu.


" Ke mana wanita tadi?" gumam Ricky mengedar pandangan ke setiap sudut halaman parkir.


" Kenapa, Pak Ricky? Ada apa?" Pak Syamsul yang melihat Ricky berlari, dia pun mengikuti langkah Ricky.


" Wanita tadi, siapa wanita tadi?" tanya Ricky kepada Pak Syamsul.


" Wanita tadi?" Pak Syamsul dibuat terheran dengan pertanyaan Ricky. " Pak Roni, bapak tahu siapa perempuan yang menabrak itu tadi?" Pak Syamsul menunjuk arah standing banner kepada security yang berjaga.


" Oh, itu dari toko bunga, Pak. Tadi ada yang kirim bunga ini kemari." Pak Roni menunjuk karangan bunga.


" Toko bunga? Maksud Bapak dia bekerja di toko bunga?" tanya Ricky penasaran.


" Sepertinya begitu, Pak. Tadi saya disuruh tanda tangan surat tanda terima barang." Pak Roni menjawab.


Ricky kini memutar tubuhnya, dia memandang beberapa karangan bunga ucapan selamat di sana.


" Yang mana karangan bunganya, Pak?"


" Yang tepat di belakang bapak berdiri," sahut Pa Roni.

__ADS_1


Ricky langsung memperhatikan karangan bunga itu. Dia mencari nama toko florist di bagian bawah.


Alabama Florist


021 xxxxxx


Ricky dengan cepat mengambil ponsel di saku bagian dalam blazernya. Dia segera menyimpan nomer telepon dan nama toko bunga itu di ponselnya. Setelah menyelesaikan urusannya Ricky pun kembali ke kantor nya.


***


Mobil yang dikendarai Ricky memasuki halaman parkir Alabama Florist. Dia mendapatkan alamat itu setelah mencari di aplikasi Goo gle.


Ricky memperhatikan bangunan toko bunga yang cukup besar di hadapannya. Dia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya turun dari mobil mewahnya.


Teet


Bel sensor pintu berbunyi saat Ricky melewati pintu masuk toko florist itu.


" Selamat sore, ada yang bisa kami bantu? Sedang mencari bunga apa, Tuan?" sapa Mita menyambut kedatangan Ricky. Namun kening Mita seketika berkerut saat memperhatikan wajah Ricky.


" Maaf, Mbak. Saya sedang mencari orang. Apa benar ada yang bernama Anindita Purbaningrum bekerja di sini?" tanya Ricky kemudian.


Mita membulatkan kedua bola matanya saat Ricky menanyakan soal Anindita.


" Maaf, Tuan ada perlu apa mencari Mbak Anin?" tanya Mita.


" Jadi benar dia bekerja di sini? Bisa saya bertemu dengan Anindita?" Ricky terlihat sangat antusias saat mendapatkan informasi dari Mita bahwa Anindita memang bekerja di toko florist itu.


" Siapa yang mencari Anin, Nit?" Lucy yang baru saja keluar dari ruangannya langsung bertanya saat Lucy mendengar nama Anindita disebut.


" Ini, Ci. Tuan ini mencari Mbak Anin ..." ujar Mita.


Lucy lalu memperhatikan pria yang saat ini berdiri di hadapan Mita. Namun seketika bola mata Lucy terbelalak lebar saat mendapati sosok pria yang wajahnya sangat mirip dengan Ramadhan.


" Ya Tuhan, apa yang Anin bilang benar, dia ada di sini." gumam Lucy.


" A-ada apa Tuan mencari Anin? Anin sudah tidak bekerja di sini!" tegas Lucy berbohong.


Mita yang mendengar bos nya berbohong langsung mengeryitkan keningnya. Dia bingung tak mengerti kenapa Lucy harus berbohong soal Anindita.


Sementara Ricy yang mendapat jawaban tak memuaskan dari Lucy langsung memandang heran Lucy.


" Sudah tidak berkerja di sini? Bukankah dia baru saja mengantarkan karangan bunga ke apartemen Angkasa Raya Landmark siang tadi?" tanya Ricky.


" I-iya tapi tadi dia langsung resign keluar dari sini." Lucy berasalasan.


" Apa Nyonya tahu di mana Nona Anindita tinggal?"


" Tidak! Saya tidak tahu," tegas Lucy.


" Apa ada pegawai di sini yang tahu alamat Nona Anindita?"


" Tidak! Pegawai saya tidak ada yang tahu di mana dia tinggal." Lucy tak memberi kesempatan Ricky untuk mencari informasi tentang Anindita.


" Baiklah, Nyonya. Hmmm, seandainya Nyonya bertemu kembali dengan Nona Anindita ...."


" Maaf, Tuan. Toko kami akan segera tutup, sebaiknya Tuan pergi dari tempat ini," usir Lucy memotong kata-kata Ricky.


" Baiklah, Nyonya ... maaf jika saya mengganggu waktu Anda. Permisi ..." Ricky kemudian berpamitan kemudian melangkah keluar bangunan toko.


" Siapa orang itu, Ci? Kenapa Cici bilang kalau Mbak Anin sudah keluar dari sini?" tanya Mita yang sedari tadi merasa penasaran.


" Dia itu Papanya Rama."


" Hahh?" Mita sampai tercengang dengan mulut terbuka lebar saat mengetahui jika pria yang berhadapan dengannya tadi adalah ayah dari Ramadhan.

__ADS_1


" Pantes wajahnya saya lihat kok kaya mirip Rama gitu. Ternyata papanya Rama ganteng juga ya, Ci. Nggak beda jauh kaya Pak Kepsek." Mita terkekeh.


" Ganteng tapi jahat!" Lucy merasa kesal karena tahu jika pria tampan berpenampilan perlente tadi adalah pria yang telah menodai Anindita.


" Jahat?"


" Iya, kamu tahu sendiri 'kan, Anin kerja banting tulang untuk membesarkan Rama, pria itu malah menelantarkannya. Sekarang dia datang ingin mengambil Rama dari Anin, apa nggak jahat itu namanya?" ketus Lucy.


" Hahh? Orang itu mau ambil Rama?! Enak saja itu orang!" Mita pun mulai terpengaruh hingga merasa kesal.


" Iya, makanya kamu kasih tahu pegawai yang lain, jika pria itu datang ke sini lagi tanya-tanya soal Anin, bilang saja Anin sudah tidak bekerja di sini dan tidak tahu dia tinggal di mana." Lucy memerintahkan Mita untuk menutup informasi tentang Anindita kepada Ricky.


" Baik, Ci." Mita pun menyahuti.


Sedangkan Ricky yang merasa kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Anindita kembali ke dalam mobilnya. Dia memandangi bangunan toko bunga itu. Sebenarnya dia merasa ada keanehan dari sikap Lucy yang tidak bersahabat dengannya


Ricky kemudian melirik ke kaca spion dia melihat pegawai parkir yang kini telah berdiri di belakang mobilnya yang hendak memarkirkan mobilnya itu. Dia kemudian menurunkan kaca mobilnya dan memanggil petugas parkir itu.


" Pak ..." seru Ricky kepada petugas parkir hingga membuat petugas parkir itu mendekat.


" Ada apa, Tuan?" tanya petugas parkir seraya membungkukkan badannya.


" Hmmm, apa Bapak kenal dengan wanita yang bernama Anindita dan anak kecil yang bernama Ramadhan?" Ricky lalu menyodorkan gambar Anindita dan Ramadhan dari ponselnya.


" Oh, Mbak Anin sama Rama, ya? Kenal, Tuan. Mbak Anin 'kan kerja di toko bunga ini." Petugas parkir menjawab pertanyaan Ricky.


" Apa dia sudah berhenti kerja dari toko itu, Pak?" selidik Ricky kembali.


" Berhenti kerja? Setahu saya Mbak Anin masih kerja kok, Tuan. Tadi siang juga habis keluar antar barang." Petugas parkir menjelaskan.


" Tapi tadi saya dapat info dari orang di dalam sana katanya siang ini Anindita sudah berhenti kerja."


" Wah kalau itu saya kurang paham, Tuan. Coba Tuan tanyakan sendiri saja dengan Mbak Anin nya."


" Saya tidak tahu dia ada di mana sekarang, bagaimana saya bisa tanya, Pak?"


" Lho, Tuan tidak tahu Mbak Anin tinggal di mana? Mbak Anin 'kan tinggal di sana, Tuan." Petugas parkir menunjuk bangunan kecil di belakang toko florist.


Ricky langsung menoleh arah yang dituju oleh petugas parkir. Dia langsung menautkan kedua alisnya saat melihat bangunan yang menurutnya sangat kecil yang dikatakan petugas parkir sebagai tempat tinggal Anindita.


" Dia tinggal di sana?" Ricky terkesiap seakan tak percaya.


" Iya, Tuan. Sejak pertama kali kerja di toko bunga ini, Mbak Anin sama anaknya itu tinggal di sana," sahut petugas parkir.


Ricky menarik satu sudut bibirnya mendengar penjelasan dari petugas parkir itu. Dia kemudian merogoh dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyodorkan ke petugas parkir tadi.


" Ini untuk Bapak, ambillah!"


Petugas parkir langsung terkesiap melihat lembaran uang yang disodorkan kepadanya.


" I-ini buat saya, Tuan?"


" Iya, ini untuk info yang telah Bapak berikan kepada saya."


" Wah .. terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak." Petugas parkir itu mengucap rasa bersyukurnya.


" Tapi ngomong-ngomong Tuan ini siapanya Mbak Anin? Kalau saya lihat wajah Tuan ini mirip ...."


" Saya ayahnya Ramadhan ..." sahut Ricky memotong ucapan petugas parkir hingga membuat petugas itu terperanjat dengan membuka mulutnya lebar-lebar.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2