ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Mengantar Makanan


__ADS_3

Hati Anindita seketika merasa haru mendapati tulisan di tas angkut barang ini. Dia bahkan langsung terisak saat dia menyentuh tulisan nama orang yang dulu pernah menolongnya. Pasangan suami istri yang membuatnya bisa bertahan hidup di saat dia berada dalam keterpurukan.


" Maaf, kenapa Mbak ini menangis? Ada apa dengan tas obrok saya, Mbak? Suara seorang wanita yang sangat Anindita kenal membuat Anindita menolehkan wajahnya ke arah asal suara tadi.


Anindita mendapati orang yang dulu sangat dikenalnya itu bertubuh lebih kurus, bahkan wajah cantiknya pun nampak sedikit berkerut.


" Ci Sandra?" Anindita langsung memeluk tubuh Sandra yang terbengong saat tiba-tiba dipeluk oleh wanita cantik yang tadi menangis di depan motornya.


" Cici apa kabar? Cici ke mana saja? Saya ke tempat Cici, ke rumah dan mini market Koh Leo, tapi Cici sudah tidak tinggal di sana." Anindita mengurai pelukannya. Dia sungguh merasa bahagia akhirnya bisa menemukan Sandra, salah satu orang yang sangat berjasa dalam hidupnya


" I-ini siapa, ya?" Sandra nampaknya tidak terlalu mengenali Anindita.


" Ini saya Anin, Ci. Anindita, saya dulu kerja di tempat Koh Leo dan pernah ikut tinggal bersama Cici dan Koh Leo." Anindita mencoba membangkitkan ingatan Sandra.


" Anin? Ya Tuhan, ini kamu Anin? Mamanya Rama?" Sandra akhirnya ingat akan Anindita juga.


" Iya, Ci. Ci Sandra apa kabar? Cici sekarang tinggal di Jakarta juga? Koh Leo bagaimana kabarnya sekarang, Ci?" Rasanya banyak pertanyaan yang ingin disampaikan Anindita kepada Sandra.


" Ceritanya panjang, Anin. Koh Leo sekarang terkena stroke ringan " Wajah Sandra berubah sendu.


" Ya Allah, apa itu karena ulah Koh Johan, Ci?" Anindita menduga jika Johan lah yang membuat Koh Leo dan Sandra seperti sekarang ini


" Anin, dengan siapa kamu bicara?" tanya Ricky yang kini sudah menyusul Anindita karena harus mencari tempat parkir terlebih dahulu.


Anindita dan Sandra langsung menoleh ke arah Ricky. Ricky yang mendapati sosok Sandra begitu juga sebaliknya sama-sama terkesiap.


" Nyonya?" Ricky pun mengenali Sandra.


Sandra kembali menoleh ke arah Anindita dan baby bump Anindita.


" Anin, kamu sudah bertemu dengan Tuan ini? Kalian sudah menikah sekarang?" Melihat perut buncit Anindita, Sandra menduga jika Anindita dan Ricky kini pasangan suami istri.


" Tidak, Ci! Bukan begitu ..." Anindita menyangkal dengan cepat.


" Lalu, apa dia menghamili kamu lagi?" tanya Sandra berbisik.


" Bukan, Ci. Ini anak suamiku ..." Anindita langsung mengelus perut buncitnya.


" Suami kamu? Kamu sudah menikah? Lalu dia?" Sandra dibuat bingung dengan penjelasan Anindita.


" Nanti saya ceritakan, Ci. Cici sekarang tinggal di mana? Aku kehilangan ponsel saat tiba di Jakarta jadi nggak bisa menghubungi Cici." Anindita mengambil ponsel di Sling bag nya.

__ADS_1


" Nomer ponsel Ci Sandra berapa? Saya mau save," ucap Anindita siap-siap menyimpan nomer ponsel milik Sandra.


" 0811 2** *** "


" Saya miscall ya, Ci. Itu nomer saya yang baru." Anindita pun langsung melakukan panggilan terhadap nomer yang disebutkan Sandra tadi.


" Cici sekarang buka catering?" tanya Anindita kemudian.


" Iya, Nin. Untuk menyambung hidup," lirih Sandra.


Ricky lalu mengmbil dompet dari sakunya kemudian mengeluarkan dan menyodorkan kartu namanya kepada Sandra.


" Nyonya, ini kartu nama saya, simpanlah."


" Oh iya, Tuan. Kartu nama yang Tuan beri dulu, saya lupa taruh di mana karena kami harus pindah rumah, dan ada beberapa barang yang dijual juga." Sandra menerima kartu nama itu.


" Jika Nyonya butuh bantuan, Nyonya segera hubungi saya. Jangan sungkan-sungkan meminta bantuan saya, karena selama ini Nyonya dan suami Nyonya sudah banyak membantu Anin dan anak saya."


" Baik, Tuan." Sandra langsumg memasukkan kartu nama Ricky ke dalam waistbagnya.


" Nyonya, maaf ... kami harus pergi dulu. Anin ayo, kamu harus segera sarapan, ini sudah hampir jam sembilan." Ricky meminta ijin berpamitan dengan Sandra.


" Tapi saya masih ingin mengobrol dengan Ci Sandra." Anindita nampak menolak diajak pergi oleh Ricky.


" Ah, iya benar, Tuan. Anin, nanti kita lanjut lagi mengonbrolnya."


" Ci Sandra mau antar ini ke mana saja? Saya ikut bantu kirim, biar cepat selesai. Jadi saya bisa berkunjung ke tempat Ci Sandra." Ucapan Anindita membuat Ricky dan Sandra memusatkan perhatian pada wanita yang sedang hamil itu.


" Aduh, nggak usah repot-repot, Nin. Lagipula kamu sedang hamil masa harus capek-capek keliling antar barang, Nin." Sandra menolak halus tawaran Anindita.


" Saya nggak capek kok, Ci. Saya 'kan hanya duduk di mobil, nanti Pak Ricky yang bantu antar makanannya." Anindita lalu menoleh ke arah Ricky yang sedang memicingkan mata menatapnya.


" Bapak bisa bantu Ci Sandra, kan?" tanya Anindita penuh harap.


" Anin, saya harus bekerja." Ricky yang memang harus berangkat ke kantor menolak halus permintaan Anindita, membuat Anindita mendengus kesal.


" Bapak ini bagaimana, sih? Tadi bilang kalau Ci Sandra butuh bantuan segera hubungi Bapak. Sekarang Ci Sandra perlu bantuan antar makanan malah menolak." Anindita menggerutu.


" Maksud saya tidak sekarang ini karena saya memang harus ke kantor, Anin."


" Ya sudah, kalau Bapak mau ke kantor, Bapak pergi saja sana! Saya akan bantu Ci Sandra antar makanan-makanan ini sampai selesai," tegas Anindita seraya memberengut.

__ADS_1


" Memangnya kamu mau antar pakai apa?" tanya Ricky. Karena dia tahu butuh kendaraan untuk mengantar makanan-makanan itu ke pemesan.


" Saya bisa sewa ojek online untuk antar saya," sahut Anindita.


" Saya nggak ijinkan kamu naik ojek!" larang Ricky tegas.


" Bapak nggak bisa larang-larang saya! Bapak nggak berhak mengatur hidup saya!" hardik Anindita emosi.


" Anin, Anin ... sudah-sudah, jangan bertengkar. Cici menghargai niat baik kamu, Nin. Tapi biar Cici saja yang menyelesaikan mengantar makanannya. Ini sudah jadi rutinitas Cici sehari-hari sekarang ini. Tuan Ricky ini benar, dia harus ke kantor. Kita bisa bertemu sore hari, nanti Cici share loc tempat tinggal Cici, ya, Nin." Sandra yang merasa tak enak hati karena Anindita dan Ricky bertengkar hanya karena urusan mengantar makanan mencoba menengahi.


Anindita menghempas nafas kasar. Dia pun langsung menatap Ricky dengan tatapan kesal.


" Ya, sudah. Kalau begitu, Bapak pergi saja ke kantor! Saya mau kembali ke apartemen! Saya nggak mau makan!" ancam Anindita kemudian berjalan meninggalkan Ricky dan juga Sandra, tapi tidak ke arah mobil Ricky namun ke seberang jalan arah pulang.


" Saya permisi, Nyonya." Ricky berpamitan terlebih dahulu kepada Sandra sebelum menyusul Anindita.


" Oh, i-iya, Tuan ..." Sandra menyahuti sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Anindita dan Ricky. Dan dia pun bingung dengan hubungan antara Ricky dan Anindita.


Sementara Ricky sedikit berlari mengejar langkah Anindita yang berjalan cepat seraya memegangi perutnya.


" Anin tunggu!" Ricky berhasil meraih lengan Anindita hingga tubuh wanita itu menghadapnya, namun dia terkesiap saat melihat Anindita kini sedang menangis dengan berurai air mata.


" Saya itu hanya ingin membalas kebaikan Ci Sandra dan Koh Leo, Pak. Mereka itu orang baik yang sudah menolong saya waktu saya terpuruk saat Bapak perko*sa! Mereka itu yang menemani dan membantu saya waktu saya hamil dan melahirkan anak Bapak! Sekarang saya hanya meminta Bapak untuk mengantar makanan, Bapak menolaknya! Di mana balas budi kepada orang yang sudah membantu anak Bapak terlahir dengan sehat dan selamat?!" Anindita menangis semakin kencang hingga membuat sebagian pengendara mobil dan motor memperhatikan mereka.


Ricky yang bingung menghadapi sikap Anindita langsung merengkuh tubuh wanita itu.


" Ya sudah, kita bantu Nyonya Sandra antar makanan-makanan itu. Tapi kamu jangan menangis lagi, malu dilihat orang-orang yang lewat." Ricky mencoba menenangkan Anindita. Dia pun akhirnya mengalah pada wanita yang merupakan ibu dari darah dagingnya itu.


Ucapan Ricky membuat Anindita berhenti menangis dan dia pun mengusap air matanya.


" Biarkan saja mereka melihat, saya nggak kenal dengan mereka ini," ujar Anindita enteng menyahuti ucapan Ricky dan melepas tangan Ricky yang merangkul pundaknya kemudian berjalan kembali ke arah Sandra dengan senyum lebar di bibirnya


*


*


*


Bersambung ...


Pak Asisten dikerjain bumil, ya? Coba Abang tahu, bisa ngakak guling-guling dia🤣

__ADS_1


Happy Readingā¤ļø


__ADS_2