
Ricky serius memperhatikan rekaman dari beberapa sudut CCTV yang dikirim pihak sekolah Ramadhan ke emailnya. Dalam rekaman itu memang nampak Anindita yang baru saja sampai menggunakan ojek online, berbicara dengan satpam juga ketika Anindita berjalan menyebrang. Dia melihat Anindita berdiri seperti menunggu kendaraan seraya mengusap perutnya. Rasa bersalah pun kembali hinggap di hati Ricky karena dia sudah membuat Anindita yang sedang hamil kerepotan karena harus ke sekolah Ricky.
Beberapa saat kemudian sebuah bis berhenti tepat di depan sekolah hingga menutupi Anindita. Ricky mendengus kesal karena bis itu seolah menghalangi dirinya memantau Anindita. Dan setelah bis bergerak pergi, Ricky sudah tidak menemukan keberadaan Anindita di tempat wanita itu berdiri tadi.
" Si*al!! Ke mana dia?" Ricky mengumpat kesal karena gagal mengetahui ke mana Anindita pergi. Setidaknya jika dia tahu kendaraan apa yang membawa Anindita dia bisa meminta bantuan Deni untuk mencari tahu ke mana kendaraan itu membawa Anindita pergi.
" Rick, kau tidak ikut bersama kami?" tanya Dirga yang tiba-tiba saja terdengar di ruangan Ricky.
" Tidak, Pak Dirga. Silahkan jika Pak Dirga dan Nyonya ingin makan siang di luar," sahut Ricky.
" Hei, kau pikir kami ini pengasuh anakmu?!" sindir Dirga. " Cepatlah!" perintah Dirga kemudian meninggalkan ruangan Ricky membuat Ricky akhirnya mematikan laptopnya itu kemudian menyusul Dirga.
" Ada apa, Rick? Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Dirga saat mereka berdua berada di dalam lift, sementara Kirania dan Ramadhan sudah terlebih dahulu turun ke bawah.
" Tidak ada apa-apa, Pak Dirga." Ricky menyembunyikan apa yang membuat dia resah.
" Ayolah, Rick! Kau itu tidak ahli untuk urusan wanita." Dirga melirik Ricky.
Ricky tersenyum tipis. " Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Anindita, Pak Dirga."
Seketika Dirga tergelak mendengar jawaban Ricky, membuat Ricky melirik ke arah Dirga seraya mengerutkan keningnya.
" Perasaan aku tadi tidak menyebut nama seseorang, kenapa kau langsung menyebut nama Anindita? Apa jangan-jangan sebenarnya Anindita yang sedang ada di dalam pikiranmu sekarang ini, Rick?"
Ricky menelan salivanya. Sungguh dia benar-benar nampak konyol di mata bosnya itu. Dia tahu walaupun tujuan pertanyaan Dirga memang menyinggung soal Anindita. Namun entah kenapa mulutnya kelepasan menyebut nama orang yang memang sedang membuat pikirannya tidak tenang.
" Apa wanita itu sedang merajuk?" Nampaknya Dirga senang menggoda asistennya itu.
" Aku rasa Mamanya Rama itu wanita yang santun, apalagi tadi istriku sudah banyak berbincang dengannya. Tidak mungkin dia pulang tanpa berpamitan dengan istriku," ucap Dirga.
" Apa dia pergi tanpa sepengetahuanmu?"
Ricky menghela nafas.
" Iya ..." Entah apa yang menggerakkan Ricky hingga mulutnya menjawab kata itu
" Ke mana?" Dirga semakin tertarik mengulik masalah yang dihadapi oleh Ricky.
Ricky mengedikkan bahunya.
" Jadi itu yang membuatmu gelisah sampai tidak nafsu makan?" Dirga menyeringai. Dia pun teringat bagaimana dulu pernah dibuat senewen dengan menghilangnya Kirania yang membuatnya kelabakan sampai membuat dia melakukan hal konyol menyusul Kirania ke kampung halamannya.
Aku rasa kau harus segera pergi ke apotik, Rick." Lanjut Dirga kemudian.
__ADS_1
" Ke apotik? Untuk apa?"
" Mencari obat anti virus bucin, hahaha ..." Dirga kembali terpingkal seraya melangkah keluar lift saat pintu lift terbuka.
***
Anindita sedari tadi mengusap perutnya karena rasa sakit yang dia rasakan masih belum juga mereda.
" Shhhh ..." rintih Anindita.
" Kenapa, Mbak Anin?" tanya Mita yang melihat Anindita merintih menahan sakit.
" Nggak tahu deh, Mbak. Perasaan dari tadi rasa nyerinya nggak hilang-hilang," sahut Anindita.
" Mesti minum obat apa, Mbak?" tanya Mita khawatir.
" Aku mau periksa saja, Mbak. Bulan ini aku belum sempat periksa," ujar Anindita.
" Ya sudah, Mbak Anin mau periksa ke mana? Mau aku antar?"
" Nggak usah, Mbak Mita. Biar aku sendiri saja. Aku mau periksa ke klinik biasa aku periksa, Mbak " Anindita menolak tawaran Mita.
" Mbak Anin mau naik apa?" tanya Mita lagi.
" Aku mau pesan ojek online saja."
" Iya, Mbak Mita." Anindita pun kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online nya.
Sekitar lima belas menit Anindita menunggu akhirnya mobil pesanannya pun tiba dan membawa dirinya ke klinik yang dia tuju.
***
Ricky sedang menikmati menu makan siang yang sebenarnya tidak bisa dia nikmati karena pikirannya masih tertuju pada Anindita.
Ddrrtt ddrrtt
Ricky langsung mengambil ponselnya yang dia simpan di saku bagian dalam blazernya. Dia melihat nama Mita yang mengirimkan pesan kepadanya.
Ricky mengeryitkan keningnya namun tidak lama dia membuka isi pesan dari sahabatnya Anindita itu.
" Selamat siang, Tuan Ricky. Maaf jika mengganggu waktu Tuan. Mbak Anin baru sampai di toko tapi sepertinya perutnya mengalami keluhan, sekarang ini sedang ke klinik untuk periksa."
Pesan dari Mita membuat Ricky terkesiap, antara rasa senang dan cemas yang kini dia rasakan. Senang akhirnya dia mengetahui Anindita berada di mana sekarang, tapi dia cemas karena mengetahui jika Anindita mengalami keluhan di perutnya.
__ADS_1
" Terima kasih, Mbak Mita. Tolong kirim alamat klinik di mana Anin periksa." Ricky membalas Mita.
" Pak Dirga, Nyonya, maaf saya pamit lebih dulu. Ada yang mesti saya urus." Ricky mengusap bibirnya dengan tissue setelah dia mendapat kabar dari Mita lokasi Anindita sekarang berada.
Ricky kemudian berdiri dan mengangkat putranya turun dari kursi.
" Ada apa, Pak Ricky?" tanya Kirania heran.
" Dia sedang pusing memikirkan mantan istri orang, Sayang." sindir Dirga menyeringai.
" Mantan istri orang? Siapa, Abang?" Kirania sepertinya kurang tanggap siapa yang dimaksud suaminya.
" Siapa lagi kalau bukan wanita yang tadi berbicara denganmu," sahut Dirga.
" Rama, ayo kasih salam Om Dirga dan Tante Rania." Ricky menyuruh Ramadhan berpamitan dengan Dirga dan Kirania agar bosnya itu tidak semakin banyak bicara dan menggodanya.
" Rama mau ke mana, Om?" tanya Rama kepada Ricky.
" Rama mulai sekarang Rama jangan panggil Om lagi ke Om Ricky, tapi harus panggil Papa Ricky," celetuk Dirga.
Ucapan Dirga membuat Ricky terbelalak, dia tidak mengira jika Dirga sampai senekat ini mengatakan hal itu kepada Ramadhan.
" Abang!" Kirania pun reflek mencubit pinggang Dirga karena sikap usil suaminya itu tidak melihat sikon.
Dan Ramadhan langsung menatap kebingungan ke arah Dirga dan Ricky bergantian.
" Abang jangan mengajari yang tidak-tidak pada Rama!" protes Kirania melotot.
" Lho, aku mengatakan sesuai fakta kan, Sayang?" Dirga seolah tidak ingin disalahkan.
" Iya tapi sikonnya tidak tepat. Mamanya baru saja ditinggal suaminya, Abang jangan berpikiran ke arah situ dulu," bisik Kirania paham sifat suaminya yang sejak dulu memang senang menjodoh-jodohkan orang.
" Maaf, Pak, Nyonya Dirga. Saya permisi dulu " Ricky memilih segera pergi daripada harus terlibat perdebatan antara Dirga dan Kirania.
" Abang, aku mengerti tujuan Abang ke arah mana. Tapi Mbak Anin saat ini masih dalam suasana berduka, dia sedang menjalani masa Iddah. Aku juga sudah bisa merasakan jika Mbak Anin itu wanita yang baik dan aku rasa sangat cocok jika bersanding dengan Pak Ricky apalagi sudah ada anak di antara mereka. Tapi jangan terlalu dipaksakan, biarlah semuanya mengalir sewajarnya saja. Pak Ricky itu orang baik aku rasa tidak sulit untuk Mbak Anin bisa jatuh hati pada Pak Ricky. Apalagi sekarang ini Mbak Anin itu ternyata tinggal di apartemen Pak Ricky."
" Apa?? Anin tinggal di apartemen Ricky?" Dirga terperanjat mendengar kata-kata istrinya. Tentu saja informasi itu sangat berguna bagi Dirga karena dia akan semakin semena-mena menyindir asistennya itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️