
" Rama sudah siap?" tanya Ricky saat melihat Ramadhan sedang dipakaikan sepatu oleh Tita.
" Siap, Pa. Pakai sepatu dulu tapinya, hehe ..." bocah cilik itu terkekeh.
" Mama Anin mana? Kita ajak Mama Anin sekalian berolah raga biar sehat," ucap Ricky kemudian duduk dan berpangku kaki di sofa.
" Mama Anin ada di kamar, Pa." Ramadhan lalu mendekat ke arah Ricky. " Papa kenapa kasih bunga banyak buat Mama?" tanya Ramadhan menanyakan alasan Ricky memberikan buket bunga ukuran besar dengan jumlah bunga yang banyak terhadap Anindita.
" Karena hari ini Mama Rama 'kan ulang tahun." Ricky lalu mengangkat dan mendudukkan tubuh anaknya di pangkuannya.
" Kalau ulang tahun 'kan harusnya dikasih kado bukan bunga, Pa." ujar Ramadhan membuat Ricky terkekeh mendengar ucapan anaknya itu.
" Rama sudah kasih kado belum buat Mama Anin?" tanya Ricky.
" Sudah ...."
" Kasih kado apa Rama buat Mama?"
" Kadonya cium pipi Mama, hihihi ..." Ramadhan terkikik.
" Cium?" Ricky mengeryitkan keningnya.
" Iya, Pa. Rama 'kan belum kerja, nggak punya uang buat beli kado buat Mama." Ramadhan beralasan.
" Ya sudah, sekarang Rama panggil Mama, kita olah raga. Pulang olah raga, kita cari kado buat Mama Anin." Ricky kini menurunkan tubuh Ramadhan menyuruh Ramadhan untuk segera menemui Anindita di kamarnya.
***
Anindita memoles cream pagi ke kulit mulusnya. Hari Minggu ini sebenarnya jatah dia libur bekerja, namun karena dua hari lalu dia ijin tidak berangkat bekerja saat bertemu Sandra dia berencana menggantinya hari ini.
" Mama ..." Suara Ramadhan terdengar di pintu kamar Anindita.
" Ada apa, Rama?" tanya Anindita.
" Ma, ayo ... kata Papa kita mau pergi olah raga, nanti pulangnya mau beli kado buat Mama."
Anindita terkesiap mendengar ucapan anaknya.
" Hmmm, Sayang ... Mama mau kerja. Rama olah raga nya sama Papa saja ya, Sayang ..." Anindita bukan sengaja ingin menolak tapi karena dia memang sudah berjanji pada Mita jika hari ini dia akan masuk kerja.
__ADS_1
" Hari ini 'kan jatah kamu libur, kenapa harus berangkat?" Anindita langusng menoleh ke arah Ricky yang tiba-tiba saja sudah ikut masuk ke dalam kamarnya.
" Saya harus menggantikan hari libur kemarin, Pak." Anindita beralasan.
" Saya sudah meminta ijin tidak berangkat kerja ke Nyonya Lucy, bukan menukar jatah libur kamu. Sebaiknya cepat kamu berganti pakaian, kita akan berolah raga di luar." Kata-kata bernada perintah itu langsung terucap dari bibir Ricky. " Ayo, Rama kita menunggu di luar." Ricky kemudian mengajak Ramadhan keluar dari kamar Anindita.
Anindita mendengus, rasanya susah sekali menentang perintah yang sudah diucapkan ayah biologis anaknya itu.
***
Anindita memperhatikan Ricky dan Ramadhan yang sedang beradu lari di seputaran GBK, sementara dia sendiri hanya duduk memantau kedua anak dan ayah itu. Tak jarang dia terlihat tertawa kecil saat mendapati Ricky pura-pura mengalah dari Ramadhan, namun setelah dekat finish Ricky mendahului anaknya hingga berkali-kali Ramadhan mengatakan jika Papanya itu curang.
" Bu Mira, perempuan itu seperti menantunya Bu Fatma bukan ya?"
" Iya, ya ... kayak menantunya Bu Fatma ya, Bu Listy?"
Anindita langsung menoleh pandangannya saat dia mendengar dua orang wanita sedang membicarakan nama seseorang seperti nama Ibu mertuanya.
" Maaf, yang Ibu maksud itu Ibu Fatma siapa, ya?" Anindita yang merasa penasaran dengan percakapan dua orang itu langsung menanyakan.
" Oh, maaf ... Mbak ini tuh menantunya Bu Fatma bukan, ya? Istri anaknya Bu Fatma yang kemarin meninggal itu?" tanya wanita yang dipanggil Bu Listy saat melihat jelas wajah Anindita karena Anindita kini menatap ke arah mereka.
" Apa maksud Ibu-ibu ini Bu Fatma Rahardja?" tanya Anindita dengan suara tercekat di tenggorokan. Karena dia sesungguhnya sangat merindukan Mama mertuanya itu.
" Iya benar, Bu Fatma itu. Berarti benar ya, Mbak ini menantunya Bu Fatma? Soalnya saya ingat wajah menantu perempuan Bu Fatma itu cantik dan mirip seperti Mbak ini." Kini Ibu yang dipanggil dengan nama Ibu Mira mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Anindita.
" Iya saya istrinya Mas Arya. Ibu kenal dengan Mama mertua saya?" Anindita nampak antusias.
" Kenal lah, Mbak. Kami ini 'kan dulu bertetangga," sahut Ibu Listy.
" Ibu-ibu ini tetangga Mamanya Mas Arya? Bagaimana kabar Mama mertua saya, Bu? Apa beliau baik-baik saja? Saya sudah lama tidak mendengar kabar Mama mertua saya itu." Bola mata Anindita mulai berkaca-kaca, wajahnya pun berubah sendu saat mengingat terakhir kali dia bertemu Mama Arya, saat dia dipaksa keluar oleh Ria dan Lanny dari rumah suaminya.
" Lho, memangnya Mbak ini nggak tahu, ya? Oh iya, gosipnya Mbak ini diusir sama anak-anak perempuannya Bu Fatma, benar begitu?" tanya Ibu Listy lagi.
" Benar-benar keterlaluan deh mereka itu. Kakak iparnya diusir, ibunya dititipkan ke panti jompo. Kena karma mereka itu akhirnya jatuh miskin. Sama orang tua kualat," umpat Bu Listy.
" A-apa? S-siapa yang dititipkan ke panti jompo, Bu?" Anindita tersentak saat mendengar nama panti jompo.
" Siapa lagi kalau bukan Bu Fatma? Rumah yang ditempati Bu Fatma itu 'kan rumah dinas. Sedangkan anak-anak perempuannya itu, kalau dengar-dengar gosip yang beredar di komplek sih, katanya suaminya sedang kena masalah semua di tempat kerjanya bahkan sedang mengalami kesulitan ekonomi, dan akhirnya menitipkan Ibunya itu ke panti jompo." Kali ini Ibu Mira ikut menjelaskan.
__ADS_1
" Astagfirullahal adzim." Anindita seketika menangis kencang saat mengetahui jika Mama mertuanya itu saat ini ditempatkan di panti wreda.
" Eh, Mbak-Mbak ... jangan menangis begini. Aduh gimana ini?" Ibu Listy nampak kebingungan.
" Iya, Mbak. Nanti orang mengira jika kami ini berbuat jahat ke Mbak." Ibu Mira pun merasa cemas seraya memperhatikan sekitar dan mendapati orang-orang di sana memusatkan perhatiannya ke arah mereka karena tangisan Anindita.
" Apa yang Ibu-Ibu lakukan terhadap dia?" Suara Ricky terdengar dengan sorot mata penuh intimidasi menatap dua wanita paruh baya di hadapannya yang sedang berusaha menenangkan Anindita.
" Mama, Mama kenapa menangis?" Ramadhan memeluk tubuh Anindita dan ikut menangis karena melihat Mamanya itu menangis.
" Apa Ibu-Ibu ini mengganggu dia?" tanya Ricky dengan geram karena melihat Anindita menangis pilu.
" K-kami tidak bermaksud mengganggu kok, Mas." Bu Listy dengan cepat menyangkal. " Tadi itu kami sedang membicarakan tentang Ibu mertua Mbak ini." Bu Listy mencoba menjelaskan.
" Ibu mertua? Apa yang ibu maksud itu Ibu Fatma?" tanya Ricky.
" Lho, Mas nya juga kenal dengan Ibu Fatma?" Bu Listy balik bertanya.
" Iya, saya kenal. Ada apa memangnya dengan Bu Fatma hingga membuat dia menangis seperti ini?" tanya Ricky menelisik, dia curiga sesuatu terjadi dengan Mama Arya hingga menyebabkan Anindita menangis sedih seperti sekarang ini.
" I-itu tadi karena Mbak ini kaget saat mengetahui jika Bu Fatma itu sekarang tinggal di panti jompo, Mas." Bu Mira ikut membantu menjelaskan.
" Panti jompo?" Ricky terbelalak mendengar keberadaan Mama Arya sekarang. " Apa Ibu-ibu ini tahu di panti jompo mana tepatnya Bu Fatma dititipkan?" tanya Ricky kemudian.
' Kami tidak tahu di mana tepatnya, Mas." Ibu Mira menyahuti.
" Mas Arya, maafkan aku, Mas. Aku nggak bisa menjaga Mama, hiks ... hiks ..." Anindita kembali terisak menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Anin, sebaiknya kita pulang sekarang." Ricky kemudian mengangkat tubuh Ramadhan dan menaruh di lengan kirinya. Sementara tangan kanannya mencoba membantu Anindita berdiri hingga kini dia merangkulkan lengannya di pundak Anindita dan membiarkan Anindita menangis di bahunya.
" Maaf jika saya salah sangka terhadap Ibu-ibu ini dan terima kasih atas infonya. Permisi." Setelah berpamitan Ricky pun membawa ibu dan anak itu dengan kedua lengannya berjalan ke arah mobilnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️