ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Merasa Lebih Tenang


__ADS_3

Hari ini diadakan tasyakuran empat puluh hari dan aqiqah Baby Arka. Acara yang diselenggarakan dengan sederhana di apartemen yang selama ini ditinggali oleh Anindita.


Beberapa sahabat Anindita pun hadir dalam acara tersebut termasuk Sandra dan Koh Leo juga Lucy dan suaminya.


Anindita yang memangku Baby Arka dengan lengannya membawa masuk bayi itu ke dalam kamarnya setelah acara tasyakuran selesai.


" Apa Arka tertidur?" tanya Ricky yang mengikuti langkah Anindita sampai ke kamarnya.


" Iya, sepertinya dia capek karena hari ini dia banyak dipegang banyak tangan." Anindita menyahuti lalu meletakan Baby Arka di atas box bayinya.


" Bapak panggil saya?" Tiba-tiba Tita masuk ke dalam kamar Anindita.


" Kamu tolong jaga Arka sebentar," perintah Ricky kepada Tita.


" Ada saya di sini kenapa menyuruh Mbak Tita menjaga Arka?" tanya Anindita heran.


" Karena kamu akan ikut saya sebentar ke bawah," sahut Ricky kemudian menggenggam tangan Anindita membuat wanita itu tak mempunyai kesempatan untuk menolak hingga akhirnya Anindita hanya sanggup mengikuti gerak langkah pria itu yang kini mengarahkannya ke bangunan apartemen bagian bawah milik Ricky.


Ricky membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Anindita masuk ke dalam apartemennya.


Selama dia tinggal di gedung yang sama, ini kedua kalinya dia masuk ke apartemen milik Ricky. Namun dia sangat ingat jika apa yang pernah dia lihat sebelumnya dengan yang dia lihat saat ini sangatlah berbeda. Dari pemilihan warna cat dan furniture yang terkesan maskulin kini terlihat ada sentuhan feminim.


Ricky lalu membawa Anindita masuk ke dalam ruangan yang merupakan kamarnya.


" Ini nanti akan menjadi kamar kita," ucap Ricky.


Anindita mengitari seluruh bagian kamar yang nampak lebih nyaman dan lebih besar dari kamarnya. Semua perabotan nampak lengkap termasuk meja rias yang terlihat masih baru. Sepertinya baru saja dibeli oleh Ricky untuknya termasuk juga box bayi untuk Arka.


" Kemarilah ..." Ricky meminta Anindita mengikuti ke arah pintu di sudut kamarnya.


" Ini jalan pintas menuju kamar Rama. Jadi kalau kita ingin ke kamar Rama, kita tidak harus keluar kamar terlebih dahulu."


Anindita lalu melihat kamar Ramadhan. Benar-benar kamar yang sangat nyaman untuk ukuran kamar anak-anak.


" Saya sudah bilang ke Ibu Fatma, setelah kita menikah kamu dan anak-anak saya bawa pindah ke sini termasuk Ibu Fatma. Tapi Ibu Fatma menolak. Beliau ingin tetap di apartemen atas saja. Karena itu saya akan menyuruh Tita dan Cika menemani Ibu Fatma di atas sementara kita berempat di sini."


" Saya nanti berencana membuat akses tangga yang terhubung ke apartemen atas dari sini." Ricky kembali menjelaskan.

__ADS_1


Anindita tidak merasa heran dengan apa yang direncanakan oleh Ricky. Pria itu adalah Executive Assistant dari perusahaan pemilik bangunan apartemen itu. Apa saja bisa dia lakukan berdasarkan keinginannya termasuk membuat akses jalan menuju unit apartemen atas tempat Anindita saat ini tinggal.


" Masa Iddah kamu sudah selesai. Karena itu saya sudah jadwalkan kita akan menikah akhir Minggu depan."


Kali ini Anindita menatap wajah Ricky mendengar ucapan Ricky yang mengatakan akan menikahinya akhir Minggu depan.


" Apa harus secepat itu?" tanya Anindita.


" Kenapa? Saya rasa sudah tidak alasan untuk kamu menunda-nunda lagi." Ricky menyahuti.


Anindita menarik nafas yang terasa sesak. Dia sungguh tidak pernah menduga akan secepat ini harus mengikat tali pernikahan kembali dengan pria lain.


" Saya tidak ingin ada acara ramai-ramai."


" Tidak masalah, kita akan mengadakan akad saja jika itu maksud kamu."


Kali ini Anindita bisa menarik nafas lega karena permintaannya disetujui oleh Ricky.


" Selebihnya kita adakan perayaan kecil di restoran Tuan dan Nyonya Leo." Lanjutan ucapan Ricky membuat mata Anindita terbelalak.


" Perayaan? Apa Bapak berminat mengundang rekan-rekan Bapak?"


" Apa Bapak tidak malu memperistri saya? Saya hanya wanita desa bukan wanita dari kalangan atas."


" Kamu pikir asal saya dari mana? Saya hanya anak seorang mandor bangunan yang bernasib baik bertemu orang baik seperti Pak Poetra."


Anindita teringat kisah tentang Ricky dari Kirania dan Dessy. Intinya mereka sama-sama dari orang biasa yang beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik. Ricky dengan keluarga orang tua Dirga sedangkan dia sendiri dengan Arya, suaminya.


" Saya malu jika harus bertemu dengan istri-istri rekan Bapak." Anindita beralasan.


" Kenapa harus malu? Kamu punya tubuh yang sempurna. Kulit yang putih bersih. Kamu punya anggota tubuh yang lengkap. Punya wajah cantik, mata yang indah, alis yang lebat, hidung yang mancung dan bibir yang ..." Ricky menjeda ucapannya saat matanya mengarah pada bibir ranum Anindita membuat Anindita seketika menutup mulutnya.


" Kenapa melihatnya seperti itu?" tanya Anindita dengan suara teredam tangan yang membekap mulutnya sendiri.


Ricky menarik sudut bibirnya ke atas.


" Apa kamu lelah?" tanya Ricky kemudian mencoba mengalihkan pertanyaan Anindita.

__ADS_1


" Bapak mau apa memangnya?"


" Saya ingin mengajak kamu berziarah ke makam Pak Arya sebelum kita menikah."


Anindita menelan salivanya. Dia tahu maksud Ricky mengajaknya berziarah ke makam Arya untuk apa? Meminta ijin kepada suaminya untuk menikah kembali rasanya membuat hati Anindita serasa tercubit.


Dan di sinilah kini mereka berdua berada, di hadapan pusara Arya.


" Bapak bisa tinggalkan saya sendirian sebentar?" pinta Anindita, dia ingin minta Ricky meninggalkannya beberapa saat. Dan Ricky pun menuruti apa yang diinginkan oleh Anindita.


" Mas, aku nggak tahu harus bagaimana? Semua orang seakan tidak berpihak kepadaku, bahkan Mama Mas Arya sekalipun. Mama menginginkan aku menikah dengan Pak Ricky. Jika aku menerima pernikahan itu, bukan berarti aku menghkianati Mas Arya. Mas Arya tetap selalu tersimpan di hati aku. Mas Arya adalah pria terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Mas dengan ketulusan hati Mas bisa menerima aku dengan masa lalu aku. Aku bahagia bisa bertemu, mengenal dan menjadi bagian dalam hidup Mas Arya. Terima kasih untuk semua yang telah Mas Arya berikan terhadap aku selama ini. Arka adalah hadiah terindah yang Mas berikan untukku. Aku akan menjaga Arka, merawat Arka dan mendidik Arka hingga Arka bisa menjadi orang yang hebat seperti Mas Arya. Aku selalu mencintai Mas Arya. Sampai kapanpun rasa sayang aku terhadap Mas Arya tidak akan pernah pudar," ucap Anindita seraya menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Setelah membacakan doa-doa untuk suaminya Anindita pun lalu berdiri karena Ricky sudah menghampirinya kembali.


" Pak Arya, saya minta ijin untuk menikahi Anindita. Saya akan menjaga dan melindungi dia dan juga Arka. Semoga Pak Arya tenang di sana."


Setelah berucap Ricky pun kemudian membawa Anindita kembali ke mobil.


" Apa setelah menikah saya masih boleh berziarah ke makam Mas Arya?" tanya Anindita saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


" Ikatan kamu dengan Pak Arya sudah putus, namun ikatan Pak Arya dan Arka tidak akan pernah putus sampai kapanpun juga. Aku akan menemani kamu dan Arka jika ingin berziarah ke makam Pak Arya," ucap Ricky bijak.


" Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Ricky kemudian.


Anindita menggelengkan kepalanya. Entah mengapa setelah dia menyampaikan apa yang dia curhatkan di hadapan makam suaminya kini hatinya merasa lebih tenang. Seakan tekanan yang melandanya selama ini terlepaskan. Terlebih lagi kepastian dari Ricky jika dia akan diberi kesempatan untuk bisa berziarah ke makam Arya bersama Arka. Anindita berharap keputusannya menerima pinangan dari Ricky untuk menjadi istri pria itu tidak akan membuatnya merasa menyesal namun membuatnya merasakan kebahagian berumah tangga seperti yang pernah dia rasakan bersama Arya.


*


*


*


Bersambung ...


Mampir juga ke novelnya Azkia ya, makasih


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2