
Sekitar jam sebelas malam Anindita dan Arya masuk ke dalam kamar hotel untuk beristirahat. Sebelumnya Anindita meminta pihak salon untuk melepas semua riasan di rambutnya dan menghapus make up di wajahnya. Dia berpikir agar bisa lekas tidur dan tidak dibuat repot melepas semua atribut pengatin yang menempel di tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki..
Ceklek
Anindita spontan menoleh ke belakang saat terdengar Arya mengunci pintu kamar hotel.
" It's showtime." Arya langsung memeluk tubuh Anindita dari belakang dan mulai memberikan sentuhan bibir di ceruk leher Anindita seperti yang siang tadi Arya lakukan kepadanya dan itu sukses menghadirkan gelenyar aneh di tubuh Anindita
Sementara bibirnya sibuk mengabsen leher jenjang Anindita, tangan Arya mulai melakukan gerakan membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan istrinya.
" Eemmm, Mas ..." Anindita menggeliat saat tangan Arya kini mulai meraba bagian asset kembarnya, apalagi saat Arya sudah berhasil menyingkirkan kain yang menutupi area yang nampak seputih salju dan menggoda dengan puncak yang berwarna pink.
Bulu kuduk Anindita seketika berdiri saat Arya memberikan sentuhan di beberapa area sensitifnya sampai dia harus menahan nafasnya. Dia bahkan beberapa kali mencoba menyingkirkan tangan Arya yang mulai aktif memainkan puncak tertinggi pegunungannya.
" Relax, Sayang. Santai saja jangan dibuat tegang. Karena kau akan sering merasakan ini." Arya kemudian mengangkat tubuh Anindita hingga tubuh ramping itu berada di antara dua lengannya.
Arya perlahan merebahkan tubuh Anindita yang setengah te*lanjang karena ketangkasan gerakan tangannya melucuti pakaian istrinya itu. Arya menatap tubuh Anindita yang sangat menggoda untuk segera dijajahnya apalagi di bagian dada wanita cantik itu.
Anindita menyilangkan kedua tangannya berusaha menutupi bagian yang sedang ditatap Arya layaknya orang yang sedang kelaparan.
" Kenapa harus ditutupi? Mas sedang mengangumi keindahan ciptaan Sang Maha Kuasa." Arya kemudian mengecup bibir Anindita penuh ga*irah dan menyingkirkan tangan Anindita dari sana hingga kini tangannya lah yang menangkup benda itu dan menulai aksi penjajahannya.
" Aakkhh, Mas ..." Anindita mendesah saat jemari Arya berada di inti Anindita yang sudah lembab. Sementara bibirnya terus melintasi setiap jengkal tubuh Anindita dan meninggalkan beberapa tanda cinta di kulit putih Anindita.
" Mas ijin masuk sekarang boleh ya, Sayang?" Arya meminta ijin kepada istrinya yang kini sudah berkabut ga*irah.
" Pelan-pelan saja ya, Mas. A-aku masih trauma," pinta Anindita memohon.
" Tentu saja, Sayang. Mas tidak akan menyakitimu. Mas akan penuh cinta melakukannya." Selepas berucap seperti itu Arya pun akhirnya menanggalkan pakaiannya sendiri. Tak lupa dia berdoa sebelum menjelajah masuk ke surga dunia yang hampir lima tahun ini tidak pernah dia kunjungi.
" Aaakkkhh, Mas ... sakiiitt !!" Anindita memekik saat dia merasakan benda asing masuk ke dalam intinya.
" Sabar, Sayang. Ini tidak akan lama." Arya semakin memperdalam serangannya.
" Mas ..." Anindita sampai memukuli tubuh Arya.
Arya yang melihat istrinya terus merintih segera mencium kembali bibir Anindita sementara alat tempurnya terus bergerak perlahan hingga semakin lama semakin cepat dan meloloskam suara de*sahan dan era*ngan atas bersatunya kedua insan yang sedang di mabuk cinta sampai akhirnya pelepasan itu didapat, setelah pergumulan berjalan hampir satu jam dan membuat Anindita kelelahan.
__ADS_1
Anindita langsung menenggelamkan wajahnya di dada Arya setelah pergumulan melelahkan untuknya. Sejujurnya dia sangat malu jika mengingat apa yang telah dia lakukan bersama suaminya tadi.
" Kenapa sembunyi seperti itu? Sini, Mas mau lihat wajah kamu." Arya sengaja menggoda istrinya itu karena dia sempat melihat jika wajah cantik istrinya itu sudah merona merah karena serbuan ga*irah tadi dan juga rasa malu yang istrinya itu rasakan.
" Bagaimana tadi rasanya? Penuh sensasi, kan? Serasa terbang ke langit ke tujuh, kan?" Arya terkekeh masih menggoda Anindita.
" Kalau kita sering melakukan itu, lama-lama bukan hanya aku saja yang ingin duluan. Nanti juga kamu yang akan minta duluan." Tak henti-hentinya Arya menggoda Anindita hingga Anindita mencubit pinggang suaminya itu.
" Mas ..." Anindita mencebikkan bibirnya masih mencubit pinggang Arya.
" Jahat deh kamu, Sayang. Sudah dikasih yang enak-enak. Balasnya malah cubit Mas."
" Sudah deh, Mas. Aku ngantuk, capek juga seharian ini," keluh Anindita.
" Ya sudah, kita istirahat sekarang, biar besok pagi kita ulangi lagi yang seperti tadi." Arya mengecup lembut kening Anindita yang masih lembab karena keringat.
Anindita menegadahkan kepalanya menatap sang suami.
" Hah?? Besok pagi kita melakukan yang seperti tadi lagi?" tanya Anindita kaget.
" Apa Mas nggak capek? Aku saja capek sekali rasanya seperti mau pada rontok."
" Kalau untuk urusan itu, tidak mengenal kata lelah, Sayang." Arya menyeringai.
* Sudah ayo tidur." Arya lalu mengeratkan pelukan pada tubuh istrinya yang juga sedang memeluknya.
" Paha kamu jangan gerak-gerak, dong! Nanti senjataku bisa bangun lagi dan bisa serang kamu seperti tadi itu sekarang ini." Arya yang merasakan kaki istrinya itu terus bergerak mencari posisi yang enak, langsung memberikan peringatan.
Sontak apa yang dikatakan Arya kembali membuat Anindita membelalakkan matanya dan mengurai pelukannya pada tubuh suaminya itu.
" Kenapa dilepas?" Arya terkekeh.
" Aku nggak mau mengulang lagi yang tadi sekarang!" Anindita langsung membalikkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
" Lho, kok tidurnya begitu? Kita ini pengantin baru bukan musuh. Ini malam penuh cinta kita. Sini Mas peluk." Arya kemudian memeluk tubuh Anindita tapi Anindita menolak.
" Aku capek, Mas! Mas Arya sana, deh!" Anindita menyingkirkan tangan Arya yang memeluknya.
__ADS_1
" Mas nggak mau, Mas maunya peluk kamu." Arya lalu menggelitik pinggang Anindita hingga wanita itu merasa kegelian.
" Mas, geli!!" Anindita berusaha menghindari serangan jari Arya yang menggelitiknya.
" Minta ampun dulu!"
" Emang aku salah apa harus minta ampun?"
" Sudah cuekin suami kamu ini."
Anindita langsung menurunkan selimutnya.
" Aku cuekin apa, Mas?"
" Tidur membelakangi suami kamu."
" Habisnya Mas Arya minta lagi. Aku 'kan lelah." Anindita merengek manja.
" Mas cuma bercanda, Sayang." Arya kembali memeluk Anindita. " Cup cup cup, sini Mas peluk."
Anindita kembali merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Anindita benar-benar merasakan bahagia hari ini (tidak seperti readersnya🤭) Akhirnya dia akan bisa merasakan kehidupan berumah tangga. Akhirnya dia bisa merasakan bahagianya dicintai dan mencintai seseorang. Dia pun merasakan bisa bermanja-manja pada seorang yang dia sayangi dan menyayangi dia. Sebuah hal yang dulu dia anggap hanya hayalan semata. Karena rasa trauma yang dialaminya setelah kejadian pemer*kosaan yang dialami dirinya. Dan kehadiran sosok Arya benar-benar bagaikan malaikat untuknya. Cinta tulus Arya yang akhirnya sanggup meluluhkan hatinya yang hampir tak tersentuh pria. Kasih sayang yang ditunjukkan pria itu terhadapnya juga Ramadhan lah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan bersedia untuk menikah dengan duda beranak satu itu.
*
*
*
Bersambung ...
Neng Rara : Readers ASKML, hayu atuh seperti Rara yang bisa berbesar hati memaafkan kesalahan Kak Gavin. Readers ASKML kan baik², jadi terimalah dengan lapang dada pernikahan Mbak Anin dengan Pak Arya.
Readers : tak sudi eyke tak sudi. Nehi! Nehi! Nehi! Othor kudu di demo ini mah!!😡😡
Othor : Sok atuh demo aja Othornya. Lemparin pakai 🌷🌷 atau ☕. Othor terima dengan senang hati 🤭🤭
Happy Reading❤️
__ADS_1