ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Papanya Rama


__ADS_3

Arya memperhatikan Ramadhan yang sedang asyik bermainan dengan mainan action figure terbaru di tangannya. Dia menduga jika mainan itu adalah pemberian Ricky. Arya kemudian melirik action figure pemberiannya yang terpajang di lemari kaca yang ada di ruang tamu yang tak disentuh Ramadhan.


" Rama, dapat mainan dari mana?" tanya Arya seolah dia tidak mengetahui dari mana Ramadhan memperoleh mainan itu.


" Dari Om Ricky ..." Ramadhan kemudian bangkit dan menghampiri Arya seraya bergelayut di paha Arya menunjukkan mainan pemberian Ricky.


" Bagus ya, Om?" Ramadhan menyodorkan action figure Spider Man dan Captain America kepada Arya.


" Iya, bagus sekali ..." Arya membelai kepala Ramadhan. " Rama senang ya diberi mainan sama Om Ricky?" tanya Arya kemudian.


" Senang, Om." Ramadhan mengangguk.


" Rama juga senang kalau dikasih mainan sama Om Arya." Kalimat Ramadhan selanjutnya begitu menyejukkan hati Arya, membuat Arya mengembangkan senyuman.


" Mas, aku buatkan wedang jahe sama ini aku beli ketan bakar juga. Tadi di depan toko ada yang lewat." Anindita meletakan secangkir minuman hangat dan cemilan untuk Arya.


" Makasih, Nin." Arya menyesap wedang jahe sementara matanya masih memperhatikan Ramadhan yang telah kembali asyik dengan mainannya.


" Mainan dari Tuan Ricky." Anindita yang menyadari Arya memperhatikan terus Ramadhan yang sedang bermain dengan mainan barunya langsung menjelaskan.


" Aku sudah menebak ke sana." Arya menyahuti.


" Aku sebenarnya sudah melarang dia untuk membelikan mainan yang mahal-mahal pada Rama, tapi dia tetap saja melakukan itu." Anindita terlihat kurang setuju dengan sikap Ricky yang seakan memanjakan anaknya dengan segala kemewahan yang pria itu punya.


" Aku rasa sikap dia itu wajar, Nin. Jika aku berada di posisi dia, aku pun akan melakukan hal yang sama untuk menebus kesalahan dan waktu yang telah terlewatkan." Arya berpendapat.


" Oh ya, Mas. Besok Tuan Ricky minta aku antar bunga untuk acara wedding party bos dia. Dia minta aku membawa Rama karena pekan ini dia sangat sibuk dan nggak bisa membawa Rama menginap di tempatnya. Nggak apa-apa 'kan, Mas?" Anindita selalu terbuka tentang hal yang bersangkutan dengan Ricky kepada Arya. Dia tidak ingin terjadi salah paham dengan kehadiran Ricky di antara mereka.


" Nggak masalah, sih. Hanya saja ... sebenarnya ada satu hal yang membuat aku khawatir, Nin." Arya terlihat gelisah.


" Hal apa, Mas?" tanya Anindita penasaran.


" Aku takut kamu nantinya akan terpikat olehnya dan ingin kembali dengannya." Arya mengatakan hal yang membuatnya khawatir.


" Kembali?" Anindita mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Mas, aku dengan Tuan itu tidak pernah ada perasaan saling cinta. Kami adalah dua orang asing yang apes karena peristiwa malam itu. Aku bukan mantan dia yang ditinggalkan saat aku hamil. Hubungan aku dan dia hanya sebatas sama-sama orang tua Ramadhan. Dia mungkin beranggapan punya kewajiban terhadap Rama karena dia papanya. Tapi dia tidak harus bertanggung jawab terhadap aku. Aku sudah punya kamu, Mas. Selama ini Mas sudah buat aku merasa nyaman. Bagaimana mungkin aku akan berpaling dari Mas Arya?" Anindita mencoba meyakinkan Arya.


" Maafkan aku, Nin. Aku hanya terlalu khawatir. Apalagi dia ternyata bukan orang sembarangan."


" Mau seperti apapun dia, buat aku dia adalah orang yang telah melakukan kesalahan. Dan aku tidak mungkin terpikat olehnya. Lagipula siapa tahu juga dia itu punya kekasih atau istri." Anindita menegaskan.


Arya hanya menghela nafas yang terasa berat seraya memandangi wajah cantik Anindita. Entahlah kenapa rasa takut akan kehilangan Anindita tiba-tiba saja menyeruak di hatinya.


" Jika Mas Arya meragukan aku, sebaiknya Mas Arya pikir-pikir lagi keinginan untuk menikah denganku, Mas."


" Tidak, Nin. Itu hal yang tidak akan mungkin aku lakukan!" tegas Arya.


" Kalau begitu Mas Arya harus hilangkan pikiran seperti itu. Mau sebaik apapun sikap yang dia tunjukkan kepada Rama, bukankah Mas Arya sendiri bilang itu wajar? karena dia adalah papanya. Tapi itu nggak ada pengaruhnya buat aku, Mas."


" Justru apa yang sudah Mas Arya tunjukkan ke aku dan Rama selama ini jauh lebih berarti untukku. Mas Arya mau menerima aku apa adanya dengan kisah masa lalu aku. Mas juga bisa menerima dan menyayangi Rama seperti anak sendiri."


" Mas Arya nggak perlu berkecil hati, Mas Arya juga bukan orang sembarangan, lho. Mas seorang kepala sekolah, kan? Kalau Mas mau, Mas Arya bisa memilih wanita yang lebih berpendidikan yang mempunyai bibit bebet bobot yang baik untuk Mas jadikan istri, tapi Mas memilih aku. Seorang wanita yang hidup tanpa saudara dan mempunyai anak hasil per*kosaan ..." Mata Anindita berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.


" Sssttt, jangan mengungkit-ungkit hal itu lagi." Ibu jari Arya menyeka setitik air mata yang menetes di wajah cantik Anindita.


" Mungkin rasa sayang aku ke Mas Arya tidak sebesar rasa sayang Mas Arya ke aku, tapi percayalah, Mas. Aku bukan tipe wanita yang mudah berpaling dan mudah jatuh hati pada pria lain," tegas Anindita seraya menepuk punggung tangan Arya.


Arya mengulum senyuman seraya menatap wajah cantik yang tak bosan untuk dipandang olehnya.


" Aku beruntung kelak akan mempunyai istri sepertimu, Nin." Arya kini menggenggam tangan Anindita lalu mengecup punggung tangan berkulit putih mulus itu.


" Aku lebih beruntung mendapatkan calon suami sebaik kamu, Mas." Anindita tersipu malu.


" Iiihh ... Mama sama Om Arya lagi pacaran, ya?" Suara Ramadhan tiba-tiba membuat mereka berdua terkesiap hingga mereka berdua melerai genggaman tangan mereka dan tersenyum kikuk kepada Ramadhan.


" Rama sini, Nak." Arya merentangkan tangannya meminta Ramadhan untuk mendekat ke arahnya.


" Kenapa, Om?" Ramadhan mendekati Arya, masih dengan action figure pemberian Ricky di tangannya.


" Memang Rama tahu pacaran itu apa? Rama 'kan masih kecil, belum boleh bilang pacaran-pacaran seperti itu ya, Nak." Arya mencoba menegur Ramadhan dengan bahasa yang santun apalagi dengan jabatan dia sebagai kepala sekolah yang mengayomi siswa-siswinya.

__ADS_1


" Kata teman Rama, kalau mama sama papanya lagi pegang-pegang tangan itu lagi pacaran, Om." Ramadhan mengatakan apa yang didengar dari teman sekolahnya.


" Oh gitu ... memangnya Rama mau Om Arya jadi Papa Rama?" tanya Arya memancing reaksi calon anak sambungnya.


" Mau, Om. Rama mau punya papa seperti Om Arya. Mommy Lucy, Tante Mita sama Tante Yeti bilang sebentar lagi Om Arya jadi Papa Rama. Benar ya, Om?"


Arya menoleh ke arah Anindita seraya mengulum senyuman.


" Kalau Rama mau punya Papa seperti Om Arya, Om Arya mau 'kok jadi Papanya Rama." Arya kemudian menjawab pertanyaan Ramadhan.


" Yeay, horeee ... Rama punya Papa, Rama punya Papa ..." Ramadhan bersorak kegirangan seraya melompat-lompat mengekspresikan kebahagiannya akan segera mendapatkan sosok ayah.


*


*


*


Bersambung ...


Aku ingin bikin alur kisah ini mengalir dan berjalan secara natural. Seperti yang dikatakan Anin kalau dia dan Ricky bukanlah dua orang yang saling kenal dan saling cinta sebelumnya walaupun telah hadir Rama pada akhirnya. Jadi tidak akan mudah untuk dua orang ini untuk bisa saling jatuh cinta.


Di RTB aku udah kasih clue ke depannya hubungan mereka akan mengarah ke mana? Tapi tentu saja tidak akan mulus perjalanan menuju ke sana.


Jadi untuk readers semua, harus bersabar sampai Othor membolak-balikkan hati mereka🤭🤭


Sembari menunggu ASKML ini up, yg belum sentuh karya aku yang lain, dimohon kehadirannya di sana ya, makasih🙏





Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2