ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Wanita Paling Bahagia


__ADS_3

Ricky memperhatikan Ramadhan yang sedang asyik bermain dengan mainannya di kamar apartemennya. Dia sangat senang anaknya itu nampak riang dengan permainannya. Seketika dia teringat akan ucapan Ramadhan tadi yang mengatakan jika dirinya tidak menyanyangi putranya itu.


Ricky berjalan menjauh dari Ramadhan menuju ruangan kerjanya. Dia lalu mengambil ponsel dari sakunya dan mencoba menghubungi nomer seseorang.


" Assalamualaikum, Rama kenapa, Tuan?" sapa suara dari dalam ponsel Ricky.


" Waalaikumsalam, Rama tidak apa-apa, Nyonya." Ricky menyahuti pertanyaan Anindita.


" Lalu ada perlu apa Tuan menghubungi saya?" tanya Anindita terheran.


" Saya hanya ingin bicara dengan Anda, Nyonya."


" Ada apa memangnya?"


" Nyonya, saya memaklumi jika Anda membenci saya karena perbuatan saya dulu. Tapi kenapa Nyonya menanamkan kebencian kepada Rama terhadap saya?"


" Maksud Tuan apa?" Anindita nampak tidak suka Ricky mengatakan hal itu.


" Kenapa Nyonya mengatakan kepada Rama jika ayahnya tidak menyanyangi dia?"


" Maaf, Tuan! Saya tidak pernah mengatakan hal itu!" tepis Anindita.


" Rama bilang, Mamanya mengatakan jika ayahnya pergi jauh saat dia masih di dalam kandungan. Ayahnya tidak sayang kepadanya karena tidak pernah menemuinya. Bukankah saya pernah jelaskan kepada Nyonya jika saya selama ini berusaha mencari kalian berdua?!"


" Tuan, saya tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap Rama kepada siapapun termasuk Anda. Saya mengatakan jika ayahnya pergi jauh saat dia di dalam perut ketika dia bertanya di mana Papanya, karena saya memang tidak mengenal siapa Tuan. Apa saya salah mengatakan itu? Apa saya harus bilang kepada Rama bahwa dia lahir dari hasil perko*saan yang Tuan lakukan terhadap saya?! Jika Rama mengatakan Papanya tidak menyanyanginya, itu anggapan dia pribadi bukan karena saya mengajarkan dia agar dia membenci Anda!" Anindita yang memang emosinya sensitif karena kehamilan seketika meradang mendengar tuduhan Ricky yang mengatakan jika dirinya telah mempengaruhi Ramadhan.


" Setidaknya Nyonya ijinkan Rama mengetahui jika saya adalah ayahnya."


" Tidak untuk saat ini, Tuan! Anda sudah menyepakati itu, kan?!"


" Tapi, Nyonya ...."


" Jika Anda bersikeras ingin mengatakan kepada Rama bahwa Anda adalah ayah biologis Rama, saya pastikan Tuan tidak akan saya perbolehkan lagi bertemu dengan Ramadhan! Rama anak saya, hanya saya yang berhak atas dia!" tegas Anindita dengan emosi yang meledak-ledak. " Assalamualaikum, klik ... Tut Tut Tut ....'


Ricky mendengar sambungan teleponnya yang terputus sepihak. Dia menghela nafas panjang. Rasanya sulit sekali untuk menaklukan hati wanita yang menjadi ibu atas anaknya itu.


Sementara Anindita di dalam kamarnya langsung menangis karena dia merasa tersulut emosi atas apa yang dikatakan Ricky kepadanya.


" Sayang, kamu kenapa menangis?" Arya yang baru masuk ke dalam kamarnya langsung mendekati Anindita saat dia melihat istrinya itu duduk di tepi tempat tidur sambil terisak.


" Mas ..." Anindita langsung memeluk Arya dan kembali menangis tersedu dalam pelukan suaminya itu.


" Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Arya membelai rambut Anindita.

__ADS_1


" Tuan Ricky, Mas. Hiks ...."


" Ricky? Kenapa memangnya Pak Ricky?" Arya mengeryitkan keningnya mendengar nama Ricky yang menyebabkan istrinya menangis.


" Dia menuduh aku sudah mempengaruhi Rama untuk membencinya. Dia juga memaksa ingin mengatakan pada Rama jika dia adalah papanya."


" Pak Ricky bicara seperti itu?"


Anindita menganggukkan kepalanya.


" Iya, Mas. Kita larang saja dia agar tidak usah bertemu dengan Rama lagi ya Mas. Aku kesal jika lihat dia." Anindita merajuk.


" Nanti Mas bicarakan ini sama Pak Ricky. Mungkin ini hanya kesalahpahaman saja."


" Tapi aku nggak mau bertemu dia, Mas. Aku benci dia."


" Sayang, kamu jangan benci dia, dong! Nanti kalau wajahnya jadi mirip dia gimana? Aku yang menanam saham masa wajahnya mirip sama dia! Aku ingin anakku jika laki-laki mirip dengan wajahku yang tampan dan kalau perempuan pasti akan secantik Mamanya." Arya kemudian memberikan kecupan singkat di kening Anindita.


" Mas baru pulang?" tanya Anindita kemudian mengurai pelukan dan menyeka air matanya.


" Iya, tadi ada rapat dengan guru di sekolah."


" Aku siapkan makan dulu ya, Mas." Anindita bangkit ingin melangkah keluar kamar.


" Kenapa, Mas?" Kening Anindita berkerut.


" Mas mau itu ...."


Alis lebat Anindita bertautan mendengar ucapan Arya.


" Mau apa, Mas?" Anindita memang benar-benar tidak paham apa maksud dari ucapan Arya.


Arya kemudian merengkuh pinggang Anindita dari belakang dan berbisik. " Mas mau tengokin adik bayi. Sudah aman. 'kan sekarang?"


Anindita membelalakkan matanya mendengar suaminya itu mengatakan keinginannya. Apalagi saat rambut yang tumbuh di sekitar dagu dan di atas bibir Arya mulai mengenai kulit lehernya, gelenyar aneh pun kembali hinggap di dirinya.


" M-Mas, ini masih siang ..." Anindita mencoba melepaskan diri dari belitan tangan kekar Arya yang merangkul pinggangnya.


" Memangnya kenapa kalau masih siang?" tanya Arya melirik jam dinding yang menunjukkan waktu pukul empat sore.


" Rama tidak ada, Putri juga tadi baru keluar ijin les. Tidak akan ada yang mengganggu kita, kan?"


" I-iya, Mas."

__ADS_1


" Kamu sudah sholat ashar, kan?" tanya Arya kembali masih dengan bibir mengabsen ceruk leher Anindita.


" S-sudah, Mas." Anindita menjawab gugup.


" Aku juga sudah. Masih ada waktu 'kan untuk kita bercinta?" Tangan kokoh Arya kini mengangkat tubuh Anindita dan merebahkan di atas tempat tidur. Dia sendiri merebahkan tubuhnya di samping Anindita karena dia tak ingin menyakiti perut Anindita. Dengan posisi memiringkan tubuhnya Arya menautkan bibir mereka berdua hingga kini suara decapan terdengar di setiap sudut kamar membuat suhu udara memanas dengan aksi mereka yang akan menyalurkan has*rat dan juga ungkapan rasa kasih sayang mereka berdua.


" Mas pelan-pelan ya itunya," pinta Anindita dengan wajah bersemu merah saat Arya akan memulai aksinya memasuki sumber kenikmatan dunia.


" Tentu, Sayang. Ada adik bayi di sini, tentu Mas akan hati-hati biar adik bayi nggak kaget saat bertemu Papanya nanti." Arya terkekeh seraya mengerakkan perlahan miliknya di inti Anindita hingga Anindita mendesah.


" Rasanya nikmat sekali bercinta dengan istri yang sedang hamil. Uugghh ..." Arya melenguh merasakan sensasi berbeda dari biasanya.


" Mas, Aakkhh ..." Anindita merasakan tubuhnya menggelinjang saat dia merasakan pelepasan setelah pergumulan mereka berjalan selama setengah jam.


" Sebentar, Sayang. Sebentar lagi ..." Arya mencoba mengatur ritme permainannya agar tidak menyakiti janin yang ada di dalam rahim istrinya itu.


" Anindita, Sayang ... Oouugghhh ..." Akhirnya Arya pun mencapai pelepasan dari penyatuan mereka.


" Terima kasih ya, Sayang." Arya kemudian merebahkan tubuhnya kembali di samping Anindita dan menghujani kecupan dihampir seluruh wajah Anindita yang berpeluh.


" Apa terasa sakit?" tanya Arya kepada istrinya.


Anindita menggelengkan kepalanya mejawab pertanyaan Arya.


" Enak?" Arya menggoda Anindita.


Anindita tersipu malu seraya mengangguk lemah.


" Kalau begitu bisa dong kita ulangi lagi?" Arya menyeringai membuat Anindita membelalakkan matanya.


" Mas ...." Anindita mencubit pinggang Arya hingga membuat gelak tawa Arya tak tertahankan.


" Bercanda, Sayang." Arya kemudian memeluk tubuh Anindita dan kembali menghujani wajah Anindita dengan kecupan penuh kasih sayang membuat Anindita merasakan jika dia adalah wanita paling bahagia di dunia ini.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2