
Anindita merasa penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan Tita soal ciuman. Apa maksud dari kata-kata Tita tadi soal ciuman.
" Maksud Mbak Tita apa?" tanya Anindita.
" Ah, nggak, Bu. Bukan apa-apa, lupakan saja." Tita mengibaskan tangan ke udara.
" Mbak, jangan bohong sama saya! Maksud ucapan Mbak Tita tadi apa? Siapa yang berciuman?" Anindita mendesak Tita untuk jujur mengatakan apa maksud ucapannya tadi. Dia merasa jika Tita sedang menyembunyikan sesuatu di belakangnya.
" Aduh, gimana ini?" Tita menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tita menyadari jika dia baru saja keceplosan bicara soal kejadian di kamar Anindita saat Arya meninggal. Sebenarnya dia sudah diperingatkan oleh Ricky dan Mama Arya untuk tidak menceritakan hal ini kepada Anindita.
" Mbak, bilang sama saya, siapa yang Mbak Tita maksud tadi?" Anindita terus menekan Tita untuk menceritakan apa yang terjadi.
" Aduh ..." Tita menjadi serba salah.
" Kalau Mbak Tita tidak mau jujur sama saya, sebaiknya Mbak Tita nggak usah bekerja di sini lagi!" ancam Anindita agar Tita mau bicara jujur.
" Aduh, jangan begitu, Bu. Saya betah ikut Bu Anin." Tita menolak dilarang bekerja dengan Anindita.
" Kalau begitu jangan bohong sama saya!"
" Hmmm, gimana ya ceritainnya?" Tita nampak bingung.
" Cepat ceritakan dan jangan bertele-tele!"
" Hmmm, jadi ... jadi waktu itu waktu selesai tahlil pertama Pak Arya, Ibu 'kan pingsan. Dan saat sadar, Ibu berhalusinasi kalau Pak Ricky itu adalah Pak Arya ...."
Wajah Anindita menegang seketika mendengar sepenggal cerita Tita yang belum selesai. Dia menduga jika sesuatu telah terjadi saat dia berhalusinasi dan hal itu membuat jantungnya berdetak kencang. Dia berharap apa yang terjadi tidak seburuk apa yang duga.
" Waktu melihat Pak Ricky datang, Ibu mengira kalau itu adalah Pak Arya, dan Ibu langsung memeluk Pak Ricky. Ibu menciumi wajah Pak Ricky dan juga mencium bibir Pak Ricky."
Seakan tersengat tegangan tinggi Anindita saat mendengar kelanjutan kisah yang diceritakan Tita, yang mengatakan jika dia telah mencium Ricky. Anindita seolah tidak percaya dengan apa yang telah dia perbuat. Benar-benar perbuatan yang memalukan. Disaat dia baru saja kehilangan suami, dia malah menciumi pria lain.
" Mbak Tita jangan bercanda, Mbak. Saya nggak mungkin melakukan itu!" Anindita mencoba memyangkal apa yang dikatakan Tita.
" Ya ampun, Bu. Untuk apa saya bohong? Saya saja waktu itu melihatnya sampai kaget, tapi nggak lama setelah itu ibu pingsan lagi."
" Saya itu sangat mencintai Mas Arya, Mbak! Mana mungkin saya begitu." Anindita terus saja mencoba menepis kenyataan yang diceritakan oleh Tita.
" Tapi memang kenyataannya seperti itu, Bu. Kalau Ibu tidak percaya, coba saja Ibu tanyakan sama Bu Fatma kalau nanti Ibu bertemu Bu Fatma lagi." Tita bahkan menyebutkan saksi lain yang mengetahui kejadian itu.
Anindita tersentak kaget saat mendengar Ibu Fatma, Mama mertuanya pun mengetahui kejadian itu.
" Mama tahu soal itu?" Anindita membulatkan bola matanya.
" Iya, Bu. Ibu Fatma juga sampai bengong waktu Ibu tiba-tiba memanggil Mas Arya tapi Ibu malah memeluk Pak Ricky."
__ADS_1
" Ya Allah, Astaghfirullahal adzim ..." Anindita memegangi kepala dan menggelengkannya. " Mama pasti kecewa sama saya, Mbak. Mama pasti benci sama saya." Anindita seketika terisak seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.
" Nggak, kok. Bu. Ibu Fatma nggak benci sama Ibu." Tita yang melihat Anindita menangis langsung mengusap punggung Anindita meminta Anindita supaya tenang.
" Ibu Fatma memang sempat menyuruh saya keluar lalu bicara dengan Pak Ricky berdua. Tapi Ibu tahu sendiri Ibu Fatma tetap bersikap baik sama Bu Anin, bahkan waktu adik-adik Mas Arya mengusir Ibu, Bu Fatma malah nangis karena merasa sedih dengan sikap anak-anaknya itu." Tita mencoba menenangkan Anindita yang masih terisak. Tita menduga jika Anindita sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi malam itu.
***
Ricky baru selesai merapihkan posisi tidur Ramadhan selepas dia membacakan dongeng Kancil Dan Buaya untuk anaknya itu.
Ddrrtt ddrrtt
Notif di ponsel Ricky berbunyi membuat pria itu kemudian meraih benda pipih itu. Dia melihat pesan masuk dari Tita.
" Pak, maafkan saya. Saya tadi keceplosan bilang sama Ibu soal kejadian di kamar Pak Arya waktu Ibu Anin berhalusinasi."
Ricky langsung mengerutkan keningnya membaca pesan dari Tita. Dan dengan cepat dia melakukan panggilan telepon ke nomer milik Tita.
" Halo ...."
" Kenapa kamu sampai bilang ke Anin soal itu? Saya 'kan sudah bilang jangan sampai dia tahu masalah ini!" Ricky nampak geram karena kecerobohan Tita, Anindita sampai mengetahui peristiwa yang sudah pasti sangat memalukan untuk Anindita..
" Maaf, Pak. Saya mengaku salah," sesal Tita.
" Lalu bagaimana dengan Anin sekarang?" tanya Ricky.
" Kamu bilang juga ke Anin kalau Ibu Fatma juga tahu tentang ini?"
" I-iya, Pak."
" Ya ampun, Tita! Kenapa mulut kamu itu susah untuk dikunci?!" Ricky benar-benar merasa kesal dengan apa yang dilakukan Tita.
" Iya maaf, Pak."
" Apa sekarang Anin masih menangis?"
" Ibu sudah tertidur, Pak."
" Ya sudah, tolong jangan pernah ceritakan lagi soal kejadian itu kepada siapapun juga, kamu paham?!"
" I-iya, Pak. Saya paham."
Ricky kemudian langsung menutup panggilan teleponnya dan mencoba berbaring sambil menatap Ramadhan yang sudah terlelap ke alam mimpi.
" Papa janji akan membuat Rama dan Mama Anin bahagia selamanya." Ricky mengusap kepala Ramadhan dan mengecup kening putranya itu.
__ADS_1
***
Anindita menatap sendu wajah suaminya di pigura potret Arya.
" Mas, maafkan aku. Aku sudah mengecewakan kamu. Tapi aku benar-benar tidak berniat melakukan itu, Mas. Hiks ..." Anindita tersedu dengan mendekap pigura foto Arya. Namun tak lama dia mengerjap saat sebuah tangan membelai kepalanya membuat Anindita langsung membuka matanya dan mendonggakkan wajah ke atas.
" Mas Arya?" Anindita langsung memeluk tubuh Arya dan langsung menangis kencang. " Mas, maafkan aku, aku sudah menodai pernikahan kita." Anindita merasa apa yang dia lakukan ibarat dia sudah mengkhianati suaminya itu.
" Anin ...."
Anindita tersentak saat dia mendengar suara seseorang, yang dia tahu bukanlah suara suaminya membuat dia kembali mendongak ke atas. Dan matanya kini terbelalak saat mengetahui jika pria yang dia peluk saat ini adalah Ricky bukan Arya, suaminya.
" P-Pak Ricky?" Anindita langsung melerai pelukannya dan bangkit menjauh dari Ricky, namun tangan Ricky mencekal lengan Anindita, hingga langkah Anindita terhenti, bahkan tubuh Anindita sudah dalam rengkuhan tubuh berotot Ricky.
" B-Bapak mau apa? Lepaskan saya!" Anindita berusaha berontak melepaskan diri.
" Saya ingin meminta pertanggungjawaban kamu, Anin."
" Pertanggungjawaban? M-maksud Bapak apa? Bapak ingin saya tanggung jawab apa?" tanya Anindita menatap kedua mata Ricky dengan penuh kebingungan.
" Pertanggungjawaban karena kamu sudah mencuim saya tanpa seijin saya!"
Anindita terbelalak mendengar ucapan Ricky dengan wajah memerah menahan rasa malu.
" Karena kamu sudah berani mencuim saya, sebagai balasannya saya akan melakukan seperti apa yang sudah kamu lakukan kepada saya beberapa waktu lalu" ancam Ricky membuat Anindita tercengang apalagi saat dirasakan bibir Ricky sudah semakin mendekati bibirnya.
Saat bibir pria itu mendekat, bukannya menghindar, Anindita justru memejamkan matanya hingga dia merasakan sentuhan hangat bibir Ricky di bibirnya. Bahkan saat bibir Ricky melakukan gerakan melu*mat Anindita seolah terhanyut sampai membuka bibirnya membuat Ricky langsung menyerang bagian rongga mulut Anindita, hingga suara le*nguhan terdengar di bibir Anindita. Ricky tak hanya menyerang dengan mencium bibir Anindita, kini pria pun memulai membasahi leher dan pipi Anindita dengan kecupan-kecupan membuat Anindita menggeliat.
" Mama, bangun ... cup .. cup ..."
Anindita seketika mengerjapkan matanya saat mendengar suara Ramadhan tepat di telinganya. Dia kemudian langsung terperangah saat mendapati anaknya itu sedang menciumi pipinya.
" R-Rama?"
" Hihihi ... Mama kegelian ya tadi dicium Rama?" Ramadhan terkikik.
Anindita bangkit dengan satu tangan kiri memegang dadanya, satu tangan lainnya memijat pelipis.
" Ya, Allah. Kenapa aku bisa sampai bermimpi seperti itu?"
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️