ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Berita Duka


__ADS_3

Selepas mimpi yang dia rasakan sangat meresahkan hatinya apalagi dengan kejadian bingkai foto Arya yang terjatuh, Anindita memilih menenangkan diri dengan memilih melaksanakan sholat tengah malam. Anindita terus berdzikir dan berdoa agar suaminya selalu dalam lindungan Allah SWT dan kembali kepadanya dengan keadaan selamat. Dia terus berdoa hingga tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi.


Anindita tersenyum saat dia melihat nama suaminya lah yang nampak di layar ponselnya saat itu. Dengan cepat Anindita menerima panggilan telepon dari Arya.


" Assalamualaikum, Mas. Kamu sudah bangun?" sapa Anindita dengan hati bahagia karena suaminya itu kembali menghubunginya.


" Waalaikumsalam, maaf ... apa ini dengan Ibu Anin, istri dari Pak Arya?"


Anindita menjauhkan benda pipih itu dari telinganya seraya melirik layar ponsel itu. Namun tak lama dia mendekatkan lagi benda itu ke dekat telinganya.


" I-iya, benar. M-maaf, ini dengan siapa, ya? Kenapa ponsel suami saya bisa ada sama Bapak?" Seketika rasa gelisah langsung menyerbu hati Anindita.


" Maaf, Bu. Saya Rochman. Saya teman satu sekolah Pak Arya dulu. Saya hanya ingin mengabarkan berita duka ...."


Kepala Anindita serasa ingin meledak saat mendengar kata berita duka. Hatinya sudah tidak karuan bahkan cairan bening langsung meleleh di pipinya walaupun dia belum tahu berita duka apa yang akan disampaikan oleh teman dari suaminya itu.


" B-berita duka a-apa ya, Pak?" Dengan suara bergetar Anindita berusaha menguatkan diri untuk bertanya.


" Kami mohon maaf jika harus menyampaikan berita ini kepada Ibu Anin. Tapi kami harus mengabari pihak keluarga Pak Arya. Pak Arya telah meninggal dunia sekitar pukul tiga dini hari tadi, Bu."


Seketika Anindita merasakan langit seakan runtuh menimpa tubuhnya. Isak tangisnya pun seketika pecah dan tubuhnya pun terkulai lemah dan luruh ke bawah bahkan perkataan teman dari Arya yang mengatakan jika Arya jatuh pingsan saat melaksanakan sholat tengah malam pun tak didengarnya lagi.


" Mas Arya ..." Anindita terus menangis dan berderai air mata merasakan kesedihan yang sangat mendalam saat dia mendapatkan kabar telah kehilangan suami tercintanya.


" Ya Allah, Mas Arya ..." Anindita merasakan tubuhnya semakin melemas hingga dia kehilangan kesadarannya.


***


" Mama ...! Huwaaaa ... Mama ...."


Ricky baru saja hendak terlelap kembali saat tiba-tiba dia mendengar teriakan Ramadhan yang dibarengi dengan isak tangis.


" Rama? Kamu kenapa, Nak?" tanya Ricky yang mendapati Ramadhan sudah terduduk dan menangis.


" Huwaaaa, Mama ..." Ramadhan semakin kencang menangis.


Ricky langsung memeluk Ramadhan mencoba menenangkan darah dagingnya itu.


" Mama ..." Ramadhan terus saja memanggil-manggil Mamanya. Seketika Ricky merasakan perasaan tak tenang. Dia teringat akan ucapan wanita tua kemarin sore tentang kemalangan yang akan menimpa Anindita. Dengan cepat Ricky meraih ponselnya untuk menghubungi ibu dari anaknya itu.


" Rama tenang dulu, ini Om coba telepon Mama Anin." Ricky pun mencoba menenangkan Ramadhan.


Ricky mendengus karena beberapa kali panggilannya tidak juga diangkat oleh Anindita. Hingga dia berganti memakai ponsel milik Ramadhan, berharap Anindita akan mengangkat teleponnya jika yang menghubunginya itu nomer dari anaknya. Namun setelah beberapa kali panggilan, Anindita tidak juga mengangkat teleponnya.


Ricky melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat pagi. Sementara rasa cemas pun mulai menguat. Dia mencari nama-nama lain yang tersimpan di kontak ponsel anaknya itu dan dia menemukan nama Tita. Dengan segera Ricky menghubungi nomer itu.


Sekitar tiga menit Ricky mencoba menyambungkan panggilan telepon dengan nomer ART di rumah Arya itu hingga akhirnya suara parau terdengar dari telepon milik Ramadhan.

__ADS_1


" Halo, Rama? Ada apa Rama telepon Mbak Tita malam-malam?" Suara Tita terdengar seperti bangun tidur dan setengah sadar.


" Halo, Mbak! Mbak, Rama nangis terus dari tadi panggil-panggil Mamanya. Saya dari tadi telepon Mamanya Rama tapi teleponnya tidak juga diangkat. Bisa tolong Mbak sambungkan telepon ini dengan Mamanya Rama? Biar Rama bisa tenang dan berhenti menangis."


" Oh, ini Pak Ricky, ya? Sebentar-sebentar, saya ke kamarnya Ibu dulu."


" Oke terima kasih, Mbak."


Tak berapa lama Ricky mendengar suara Tita yang sedang mengetuk pintu dan memanggil Anindita.


" Bu, Ibu sudah bangun belum? Ini Pak Ricky telepon katanya Rama nangis terus panggil-panggil Ibu."


" Halo, Pak Ricky. Sepertinya Ibu belum bangun, deh! Soalnya diketuk sama dipanggil nggak menyahuti." Tita melaporkan.


" Apa HP Mamanya Ramadhan pakai nada dering atau hanya getar saja?" tanya Ricky. Karena jika memakai nada dering rasanya aneh sekali berkali-kali ditelepon Anindita tidak juga terbangun dari tidurnya.


" Seingat saya sih pakai nada dering, Pak."


" Sebentar ..." Ricky kemudian mengambil ponselnya sendiri dan mencoba menghubungi nomer Anindita kembali.


" Apa kamu mendengar panggilan masuk di HP Mamanya Ramadhan dari luar kamar?" tanya Ricky.


" Iya kedengeran, Pak."


" Jelas?"


" Agak samar kalau dari luar tapi kedengaran ada panggilan telepon masuk."


" Tapi saya takut masuk-masuk kamar tidur Ibu tanpa sepengetahuan Ibu, Pak!" Tita ragu untuk melaksanakan perintah Ricky.


" Mbak, Saya ini khawatir terjadi sesuatu sama Mamanya Rama. Saya yakin dia tidak akan marah kalau tahu Rama tiba-tiba nangis terus." Ricky sedikit meninggikan ucapannya berharap Tita segera melakukan perintahnya.


" B-baik, Pak." Akhirnya Tita pun mau melakukan yang diperintahkan Ricky kepadanya.


" Pintunya nggak terkunci, pak."


" Ya sudah kamu masuk dan lihat Mamanya Rama, kenapa sampai tidak mengangkat telepon?" perintah Ricky kembali.


" Baik, Pak!"


" Bu, Ibu sudah bangun belum?"


Ricky mendengar suara Tita yang seolah bicara dengan Anindita.


" Astaghfirullahal adzim !! Bu, Ibu kenapa?" pekik Tita seperti orang kaget.


" Halo, Anindita kenapa, Mbak?" Ricky yang mendengar pekikan Tita langsung terkesiap, sampai dia tak sadar memanggil nama Anindita.

__ADS_1


" Bu, bangun, Bu! Ibu kenapa?"


" Halo, Mbak! Apa yang terjadi? Anindita kenapa?" Ricky kembali menampakkan kecemasannya.


" H-halo, Pak Ricky. I-ibu pingsan, Pak."


" Pingsan??" Ricky kembali terkesiap, dia pun kembali menoleh anaknya yang masih saja menangis tersedu seraya memanggil-manggil Mamanya.


" Ya sudah, Mbak tolong coba buat Anin sadar, pakai minyak aromaterapi atau lainnya. Saya segera meluncur ke sana!" Tanpa menunggu jawaban dari Tita, Ricky mematikan panggilan teleponnya. Ricky segera berganti pakaian dan segera menggendong Ramadhan yang masih terisak keluar dari apartemennya menuju rumah milik Arya.


***


" Bu, bangun, Bu! Ibu kenapa pingsan?" Tita merasa kebingungan mendapati istri majikannya itu jatuh pingsan. Dia kemudian mencari cajuput oil di kamar Anindita karena selama hamil Anindita senang menghirup minyak itu untuk mengatasi rasa mualnya.


Tita mencoba melepas mukena yang masih dipakai Anindita dan membenarkan posisi Anindita yang tetidur di bawah. Dia bahkan sempat mengecek di bagian paha Anindita karena dia khawatir dengan janin yang ada di dalam kandungan Anindita karena istri majikannya jatuh pingsan tadi.


Tita kemudian mengoleskan cajuput oil ke dekat hidung Anindita. Dia melihat sekitar mata Anindita yang nampak sembab bahkan dia bisa melihat wajah Anindita yang belum kering karena lelehan air mata.


" Bu, Ibu kenapa, Bu?" tanya Tita walaupun dia tahu Anindita tidak akan menjawab pertanyaannya.


Tita lalu melirik ke arah posel Anindita yang terjatuh tak jauh dari posisi Anindita pingsan. Dia meraih ponsel itu agak ragu. Namun akhirnya Tita memberanikan diri mengecek panggilan masuk atau keluar yang dilakukan oleh Anindita karena dia menduga jika Anindita pingsan setelah menelepon.


Banyak nama Ricky dan Ramadhan di log pangilan tak terjawab sampai akhirnya dia menemukan nama Arya yang melakukan panggilan masuk sekitar pukul tiga lewat lima puluh lima menit.


" Apa Ibu pingsan setelah terima telepon dari Pak Arya, ya?" gumam Tita bertanya-tanya. Dia pun kemudian mencoba menghubungi nomer Arya.


Beberapa saat dia menunggu sampai akhirnya panggilannya diangkat.


" Halo, Assalamualaikum, Pak. Bapak tadi menghubungi Ibu, ya? Soalnya ibu sekarang pingsan." Tita langsung melaporkan apa yang terjadi dengan Anindita pada orang yang dia duga Arya yang mengangkat teleponnya.


" Waalaikumsalam, iya benar, Mbak. Saya tadi yang menelepon Ibu Anin," sahut orang di telepon milik Anindita.


" Lho, Bapak ini siapa? Ini nomer HP nya Pak Arya, kan?" tanya Tita heran karena mendapati orang lain yang menjawab panggilan teleponnya.


" Saya temannya Pak Arya, Mbak. Tadi saya memang mengabarkan kepada pihak keluarga jika Pak Arya telah meninggal dunia dini hari tadi."


" Innalillahi Wainnaillaihi Roji'un. Ya Allah, Pak Arya ... Bu, Pak Arya, Bu ..." Tita pun tak kuasa menahan tangis saat mendengar berita duka itu. Dia bahkan sampai menjatuhkan ponsel milik Anindita dan lagsung memeluk tubuh Anindita yang masih terkulai lemas.


*


*


*


Bersambung ...


Hayo siapa yang kemarin doain Arya ketabrak? Pak Arya itu orang baik, pasti dijemputnya juga dengan cara yang indah.

__ADS_1


Dukung ASKML terus ya, Kak. Like, komen. Yang ingin kasih vote di karyaku kirim ke sini aja. Makasih🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2