
Anindita keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Selepas sholat Shubuh tadi Arya kembali mengulang aktivitas semalam. Dan setelah mereka berdua merasa lelah mereka pun langsung beristirahat. Sekitar jam delapan pagi Anindita terbangun dan segera membersihkan dirinya.
Anindita lalu duduk di kursi rias dan memakai skin care yang disarankan oleh ibu salon.
" Mbak Anin aslinya sudah cantik, tapi kalau wanita yang sudah bersuami, perawatan itu wajib , lho! Biar suami kita semakin lengket dan sayang sama kita. Apalagi Pak Arya itu ganteng, jangan sampai ada pelakor yang siap menjerat suami kita. Nanti saya rekomendasikan skincare yang bagus dan ringan dipakainya untuk Mbak Anin."
Perkataan ibu salon sedikit banyak mempengaruhi dirinya, hingga kini dia mulai menggunakan skincare yang disarankan ibu salon itu. Selepas melakukan perawatan, Anindita kemudian berjalan menghampiri tempat tidur dan duduk di tepinya.
" Mas, sudah siang. Ayo bangun ...! Aku lapar, Mas." Anindita menepuk lengan suaminya.
" Hmmm ..." Arya menggeliat merenggagkan otot-ototnya.
" Mas, ayo bangun." Anindita kembali membangunkan suaminya.
" Jam berapa sekarang ini, Sayang?" Arya bangun dan terduduk di tempat tidur hingga menampakkan dada bidang dan berotot Arya. membuat Anindita langsung bersemu karena dia masih bisa merasakan sentuhan kulit suaminya itu di tubuhnya.
" Cepetan mandi, Mas. Kita cari makan di luar." Anindita memalingkan wajah seraya bangkit dari tempat tidur. Rasanya dia kembali diserang rasa malu jika harus mengingat percintaan yang sanggup membuatnya merasakan nikmatnya surga dunia.
" Aku pesan kamar hotel ini sudah include breakfast, minta diantar ke sini saja sarapannya." Arya kemudian ikut bangkit dari tempat tidur.
" Kita cari makan di luar saja, Mas. Aku ingin makan bubur sop ayam." Anindita menolak tawaran Arya makan menu yang disajikan pihak hotel dan memilih menu sarapan yang dia inginkan.
" Masa bubur, sih? Kita ini pengantin baru, butuh stamina ekstra. Masa sarapannya bubur? Pantas saja kamu cepat lemas kalau diajak bertanding." Arya terkekeh seraya memeluk tubuh istrinya itu. Kemudian mulai mencium leher jenjang berkulit putih Anindita.
" Mas, sudah ah ... buruan mandi." Anindita mencoba melerai pelukan suaminya itu. Karena jika dia tidak menolaknya, suaminya itu akan memulai lagi aksinya dan dia sudah pasti akan kewalahan.
" Ya sudah aku mandi dulu, ya!" Arya pun kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Anindita kemudian merapihkan tempat tidur yang nampak berantakan akibat percintaan mereka semalam dilanjut setelah shubuh tadi selepas mereka melakukan ibadah dua rakaat berjamaah.
Setelah merapihkan tempat tidur, Anindita kemudian meraih ponsel dan membuka album foto di ponselnya itu. Dia memperhatikan gambar-gambar yang sempat dia abadikan sebelum akad nikah kemarin pagi dan saat resepsi semalam. Seulas senyuman mengembang di bibirnya. Tidak bisa dipungkiri aura kebahagian nampak di wajah dirinya di foto itu. Senyuman kembali terbit di sudut bibirnya saat dia menatap foto berempat dia bersama suaminya, Putri dan juga Ramandhan.
__ADS_1
Mengingat Ramadhan, tiba-tiba dia teringat dan merasa kangen akan anaknya itu. Anindita kemudian mencari nomer kontak Ramadhan yang dia beri nama " Anak Mama Tersayang" Ricky lah yang membelikan ponsel untuk Ramadhan, karena pria itu butuh untuk melakukan video call dengan Ramadhan hampir tiap hari.
Anindita menunggu beberapa saat karena panggilan video call nya belum juga diangkat oleh anaknya.
" Assalamualaikum, Sayang ..." sapa Anindita saat panggilan video call kepada Ramadhan tersambung. Namun matanya seketika membulat saat mendapati bukan Ramadhan yang nampak di layar ponselnya, melainkan Ricky yang terlihat baru saja terbangun dari tidur dan bertelanjang dada hingga menampakkan tubuh atletis ayah dari Ramadhan itu. Hal yang sama dia jumpai pada suaminya tadi.
Tak berbeda jauh dengan Anindita, Ricky pun terkesiap saat mendapati wajah cantik Anindita yang nampak segar karena baru saja mandi. Ditambah sapaan yang diucapkan wanita itu, meskipun dia tahu tujuan wanita itu bukanlah dirinya.
" Hmmm ... m-maaf, Tuan. S-saya mau bicara dengan Rama." Anindita nampak gugup dan langsung memalingkan wajahnya dari Ricky.
" Oh, iya. tapii Rama masih tertidur." Ricky kemudian mengarahkan kamera ponselnya kepada Ramadhan yang masih terlelap dengan mulut terbuka.
" Astaghfirullahal adzim! Jam segini Rama belum bangun?" Anindita terkesiap.
" Belum, Nyonya. Semalam dia tidur hampir tengah malam." Ricky memberikan alasan kenapa Ramadhan masih belum bangun.
" Rama tidur tengah malam?" Anindita kembali terbelalak, karena selama ini dia tidak pernah membiarkan anaknya tidur di atas jam sembilan malam dan membiasakan diri anaknya sudah bangun sebelum jam enam pagi.
Anindita mendengus kesal mendengar jawaban dari Ricky.
" Tuan, selama ini saya tidak pernah mengajarkan anak saya bangun siang dan tidur larut malam. Tolong Tuan jangan mengajarkan hal buruk terhadap anak saya!" ketus Anindita emosi.
" Oh, maaf, Nyonya Arya. Lain kali saya tidak akan membiarkan Rama tidur terlalu malam." Ricky meyampaikan penyesalannya.
" Tolong jika dia sudah bangun suruh telepon saya!"
" Baiklah, nanti setelah Rama bangun akan saya sampaikan pesan agar Rama menelepon Mamanya.
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
__ADS_1
Anindita mendesah. Entah mengapa dia merasa apa yang dilakukan Ricky terhadap Ramadhan selalu bertentangan dengan apa yang dia tanamkan selama ini dan itu yang selalu membuatnya senewen.
" Bicara dengan siapa tadi kamu, Sayang?" Arya yang sudah selesai membersihkan diri langsung bertanya kepada Anindita.
" Pria itu ... dia membiarkan Rama tidur tengah malam dan jam segini dia belum bangun.. Selama ini Ramadhan nggak pernah melakukan hal sepeti itu, kenapa jadi begini sekarang? Ini pasti karena pengaruh Tuan itu yang tidak mengajarkan disiplin pada Rama, Mas." keluh Anindita kepada Arya.
" Tapi Rama tidak tiap hari seperti itu, kan? Sekali waktu tidak masalah melakukan hal itu apalagi di waktu weekend." Arya menyampaikan pandangannya.
" Tapi kalau Rama seperti itu terus bagaimana, Mas?"
" Rama 'kan lebih banyak tinggal sama kamu, dan nanti juga tinggal bersama kita. Jadi kamu nggak usah khawatir seperti itu, ya!" Arya mengusap kepala Anindita dengan lembut seraya membenamkan kecupan di kening Anindita.
Sementara itu di apartemen Ricky ...
Ricky merebahkan tubuhnya di atas spring bed empuk miliknya. Dia melipat tangan di bawah kepalanya. Masih terbayang di pelupuk matanya wajah cantik Anindita dengan rambut lembab karena habis keramas. Belum lagi tubuh putih mulus yang tadi hanya mengenakan tank top sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Ricky tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti kenapa belakangan ini dia kadang sering merasa terkesima dengan wanita itu. Wanita yang hampir jarang berkata dengan lembut kepadanya.
" Assalamualaikum, Sayang ..."
Dan sapaan yang dia dengar sangat lembut pagi ini membuat dia kembali mengulum senyumannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1