ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Aku Nggak Selingkuh


__ADS_3

Sebenarnya bukan hanya Anindita saya yang terperanjat, Ricky pun sama kagetnya saat menyadari pintu tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Anindita di depannya. Dia seperti tertangkap basah seperti orang yang sedang mengintip.


" Maaf, jika saya membuat Nyonya kaget." Dengan wajah menahan malu Ricky mengucapkan kalimat itu.


" Memangnya kenapa Tuan berdiri di sini?"Anindita mengulang pertanyaannya.


" Saya ... saya hanya ingin berterima kasih karena ... karena Nyonya sudah mengijinkan Rama memanggil saya dengan sebutan Papa," Ricky benar-benar tidak tahu harus berkata apa hingga dia memberikan alasan itu.


Anindita mengeryitkan keningnya mendengar alasan Ricky yang membuat pria itu berdiri di depan pintu kamar karena dia sudah merespon ucapan terima kasih pria itu sebelumnya walaupun hanya dengan anggukan kepala.


" Oh, iya ..." Anindita hanya membalas dengan kata-kata itu.


" Maaf, apa Tuan bisa bergeser? Saya ingin ke dapur ..." Anindita meminta Ricky untuk tidak menghalangi langkahnya.


" Oh ... maaf, Nyonya." Ricky segera bergerak hingga dia tidak menutupi arah jalan Anindita.


" Terima kasih, Tuan." Anindita melirik ke arah Ricky yang sedari tadi tak lepas menatap Anindita hingga membuat Anindita buru-buru melangkah pergi dari sana.


" Pria itu kenapa, ya? Aneh sekali, bikin aku takut kalau dekat-dekat dia," gumam Anindita seraya masih memegangi dadanya.


" Aku tadi mau apa ya ke dapur?" Tiba-tiba Anindita lupa akan tujuannya pergi ke dapur.


" Ini pasti gara-gara pria itu bikin aku jadi pelupa." Anindita menyalahkan Ricky karena hal yang membuatnya lupa.


" Apa Nyonya sudah menghubungi mantan pengasuh Rama dulu?" tanya Ricky yang tak lama mengikuti Anindita ke arah dapur. Sepertinya Ricky sudah menemukan topik yang bisa dijadikan perbincangan dengan Anindita.


" Astaghfirullah adzim, Tuan kenapa mengagetkan saya terus? Bikin jantung saya mau copot saja," gerutu Anindita. Dia berharap Ricky tidak mendengar umpatannya tadi.


" Maaf jika saya mengagetkan Nyonya lagi. Saya ingin menanyakan soal pengasuh Rama." Ricky yang selama ini dikenal sebagai seorang eksekutif muda yang cakap dan cekatan dalam menghadapi rekan ataupun lawan bisnis seolah-olah berubah seperti pria bodoh saat menghadapi wanita seperti Anindita.


" Iya, sudah." Anindita menyahuti dengan mengerucutkan bibirnya.


" Kapan dia bisa bekerja kembali?" tanya Ricky.


" Dia bilang lusa baru bisa bekerja," sahut Anindita, kemudian dia teringat jika dia ingin mengambil air mineral untuk minum obat. Dia dengan cepat menarik kursi ingin naik ke atas kursi dan mengambil air mineral yang diletakan di laci atas kitchen set.


" Anda mau apa, Nyonya?" tanya Ricky saat melihat Anindita sudah menaikkan satu kakinya ke atas kursi.

__ADS_1


" Saya mau ambil air mineral." Kini kedua kaki Anindita sudah berhasil berdiri di atas kursi.


" Anindita apa yang kamu lakukan?!" Ricky dengan cepat mengangkat tubuh Anindita yang sedang berdiri di atas kursi makan hingga dia pun refleks menyebut nama Anindita.


Anindita pun yang tak menduga Ricky mengangkat tubuhnya sampai memekik kaget hingga tanpa sengaja dia merangkulkan tangannya ke leher Ricky karena takut terjatuh.


" Tuan, apa yang Tuan lakukan?" pekik Anindita.


" Apa yang Anda lakukan sangat berbahaya, Nyonya! Bagaimana jika Anda terjatuh?! Itu akan mencelakai bayi dalam kandungan Anda! Apa Nyonya ingin bayi Nyonya ini celaka?!" Ricky nampak kesal dengan sikap Anindita yang dianggapnya teledor.


" Mama sama Papa lagi ngapain? Kok Mama Anin digendong Papa Ricky?"


Anindita dan Ricky terkesiap mendengar suara Ramadhan yang tiba-tiba terdengar di dapur hingga membuat mereka berdua menoleh ke arah suara Ramadhan tanpa merubah posisi mereka. Dan mereka semakin terkejut saat mendapati Cika yang berdiri di samping Ramadhan seraya menahan senyuman melihat apa yang dilakukan oleh Anindita dan Ricky.


" Tuan, lepaskan saya!!" Anindita yang terkesiap langsung meminta Ricky untuk menurunkan tubuhnya seraya memukuli dada Ricky.


" Mama kenapa, Pa?" tanya Ramadhan kemudian.


" Mama Rama bandel karena mau naik-naik kursi. Kalau jatuh 'kan kasihan dedek bayinya." Ricky sengaja mengadukan kelakuan Anindita kepada anaknya hingga membuat Anindita mendelik ke arahnya.


" Mama nggak boleh naik-naik! Kan Mama juga suka larang Rama naik-naik." Ramadhan menggerakkan jari telunjuknya persis seperti orang tua yang melarang anaknya melakukan sesuatu.


" Ini, Nyonya ..." Ricky lalu menyodorkan botol air mineral kepada Anindita.


" Terima kasih ..." Anindita mengambil botol air mineral itu dan bergegas meninggalkan Ricky sendiri menuju kamarnya, karena dia sangat malu dengan kejadian tadi.


Sesampainya di kamar, Anindita segera menutup pintu kamar. Dia pun kemudian bersandar di pintu seraya kembali memegangi dadanya yang tiba-tiba saja merasakan getaran aneh.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa hati aku berdebar-debar." Anindita memejamkan matanya namun tak lama pandangannya terarah pada foto pernikahannya. Anindita kemudian melangkah dan meraih foto pernikahannya dengan Arya.


" Mas, maafkan aku, Tadi itu terjadi bukan karena mauku. Hati aku hanya untukmu, Mas. Cintaku juga hanya untukmu. Tidak akan aku ganti dengan pria manapun." Anindita mengecup gambar Arya di foto itu hingga lelehan air mata menetesi figuranya.


***


Anindita terkesiap saat sebuah tangan menyentuhnya. Dia pun terbangun karena merasakan kehangatan saat tangan itu menyentuh perutnya.


" Mas Arya??" Anindita terbelalak lebar saat mendapati sosok Arya yang duduk di tepi tempat tidurnya.

__ADS_1


Anindita langsung bangkit dan terduduk seraya memandangi wajah Arya yang nampak tampan dan bersinar, apalagi dengan senyuman yang terkulum di bibirnya.


" Mas aku kangen, akhirnya Mas datang juga." Anindita langsung memeluk tubuh Arya dan menangis di dada suaminya itu.


" Mas jangan pergi lagi, aku hampa tanpamu, Mas. Rama juga kangen sama Mas Arya. Sekarang kalau perut aku sakit nggak ada lagi yang mengusap, nggak ada yang menciumi perutku, Mas. Mas Arya jangan pergi lagi, ya!" Anindita terus mengadu kepada suaminya. Dan dia merasakan Arya hanya membelai rambutnya tanpa suatu katapun terucap dari mulut pria itu.


Anindita kemudian mengurai pelukannya. Dia kini menangkup wajah Arya dengan kedua tangannya.


" Mas, Mas kenapa diam saja? Apa Mas marah karena tadi ... sama Tuan Ricky ..." Anindita menjeda ucapannya seraya menggigit bibirnya.


" Aku nggak berbuat apa-apa sama dia kok, Mas. Aku hanya ... tadi dia itu hanya khawatir aku jatuh karena aku naik-naik kursi. Tapi demi Allah aku nggak selingkuh, Mas!" Anindia mencoba meyakinkan Arya agar percaya kepadanya. " Aku hanya sayang sama Mas Arya, aku hanya cinta sama Mas Arya!" Anindita mencoba menegaskan.


Arya kembali tersenyum, kini dia membelai wajah Anindita kemudian dia mengusap kembali perut Anindita. Kemudian dia pun bangkit lalu berjalan menjauh dari Anindita dan menghilang tiba-tiba dari hadapan Anindita.


" Mas, Mas Arya ..." Anindita menyibak selimutnya dan berlari ke arah Arya menghilang.


" Mas Aryaaaaa ...!!" Anindita menagis kencang memanggil nama suaminya.


" Bu, Ibu, Ibu bangun, Bu. Ibu bermimpi, ya?" Sebuah suara dan tepukan halus di lengan Anindita menyadarkan wanita itu yang akhirnya terbangun.


" Astaghfirullahal adzim ..." Anindita bangkit seraya beristighfar.


" Ibu mimpi, ya?" tanya Cika kemudian mengambil air mineral yang ada di atas nakas. " Minum dulu, Bu" Cika menyodorkan air mineral itu kepada Anindita.


" Makasih, Cika." ucap Anindita.


" Sebaiknya Ibu tidur lagi, baru jam satu malam." Cika menyuruh Anindita untuk kembali beristirahat.


" Saya mau sholat dulu." Anindita kemudian turun dari peraduannya. Dia merasa butuh untuk menenangkan diri dan mendoakan suaminya.


" Ya sudah, kalau begitu saya kembali ke kamar ya, Bu." Cika pun kemudian keluar kamar Anindita. Sementara Anindita berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


Happy Reading❤️


__ADS_2