
Ketiga wanita yang sedang berdebat saat terdengar suara pria yang berteriak dengan lantang mengatakan ...
" Apa yang kalian lakukan di sini?!"
Ketiga wanita itu langsung menoleh ke arah suara yang berasal dari pintu. Dan mereka bertiga pun terkesiap saat mendapati Arya yang sudah berdiri dengan gagahnya di pintu depan.
" M-Mas Arya ..." ucap Ria dan Lanny bersamaan.
" Apa yang kalian lakukan di rumah ini?" Suara Arya terdengar seperti menahan emosi saat melihat mata Anindita yang memerah karena menangis.
" Apa yang kalian lakukan pada Anindita?" Arya langsung menghampiri dan merangkul pundak Anindita.
" Mas, sebaiknya Mas Arya membatalkan pernikahan Mas Arya, mumpung undangan belum tersebar," Ria mencoba mempengaruhi Arya.
" Benar, Mas. Kami sudah tahu kisah masa lalu dia. Aku rasa Mas harus secepatnya membatalkan pernikahan ini sebelum semuanya terlambat." Lanny ikut menimpali, mencoba menggoyahkan tekad kakaknya
" Kalian ini gi*la, ya?! Seenaknya saja kalian meminta supaya Mas membatalkan pernikahan ini. Mas merencanakan ini sudah lama dan kalian tiba-tiba seenaknya saja meminta Mas batalkan pernikahan. Otak kalian itu ditaruh di mana, hah?!" Arya benar-benar tersulut emosi hingga mengeluarkan kata-kata yang menurutnya kasar.
" Tapi, Mas. Apa Mas Arya tidak memikirkan dampaknya akan seperti apa jika menikahi dia? Apa pandangan orang tentang keluarga kita kalau Mas menikahi wanita yang pernah hamil di luar nikah tanpa kejelasan siapa orang yang menghamilinya."
" Benar, Mas. Apa Mas nggak malu jika Mas dan keluarga kita digunjingkan oleh kerabat kita? Aku nggak bisa bayangkan jika sedang ada acara kumpul-kumpul bersama kerabat keluarga kita, lalu mereka bergosip tentang istri Mas Arya ini. Keluarganya tidak jelas dan juga hamil di luar nikah. Entah apa lagi keburukan masa lalu dia yang belum terkuak. Yang pasti malu banget rasanya aku, Mas. Mau di taruh di mana muka kita, Mas?" Lanny tak kalah dengan Ria dalam hal menghina Anindita.
" Hentikan penghinaan kalian! Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan ke kalian.untuk bersikap buruk terhadap orang lain, siapapun itu! Lantas kenapa kalian bersikap sombong seperti ini?!" Kali ini Arya yang menyerang kedua adiknya.
" Apa karena jabatan dan pangkat suami kalian itu yang kamu banggakan sehingga kamu bisa seenaknya menghina orang lain?!" geram Arya menatap dengan sorot mata tajam ke arah Ria dan Lanny.
" Dan kalau kalian merasa malu karena Mas menikahi Anindita, mulai detik ini, tidak perlu kalian menganggap Mas ini sebagai kakak kalian lagi!" tegas Arya menantang.
Tentu saja apa yang dikatakan Arya membuat Ria dan Lanny terperanjat. Seumur-umur Arya tidak pernah semarah ini terhadap mereka apalagi sampai berkata tidak usah menganggap Arya sebagai kakak mereka.
" Mas, kenapa bicara seperti itu? K-kami tidak mungkin tidak menganggap Mas Arya sebagai kakak kami. Kami melakukan ini karena kami itu menganggap Mas sebagai kakak kami. Karena kami perduli sama Mas Arya." Ria mencoba melakukan pembelaan.
__ADS_1
" Kalian tahu? Apa yang kalian perbuat sekarang ini kepada Mas dan Anin sudah benar-benar melukai hati Mas. Dan apa yang kalian lakukan itu bukan karena kalian perduli kepada Mas. Tapi karena gengsi kalian yang terlalu tinggi. Sebagai kakak, Mas benar-benar kecewa dengan sikap kalian." Arya benar-benar menunjukkan kekecewaannya terhadap kelakuan kedua adiknya itu.
" Sekarang kalian pergi dari sini, dan jangan pernah mengusik kehidupan Anindita lagi!" geram Arya.
" Pergilah!! Dan jangan pernah kalian coba untuk menggagalkan rencana pernikahan kami!" tegas Arya mengancam.
Ria dan Lanny pun langsung memberengut mendengar ancaman kakaknya itu. Mereka kemudian beranjak ke arah pintu rumah Arya namun langkah mereka terhenti saat mendengar kalimat Arya selanjutnya.
" Asal kalian tahu, ayah dari anak Anin bukanlah orang sembarangan. Jika dia sampai tahu kalian menghina anaknya. Mas bisa pastikan dia dapat membalikkan status ekonomi kalian ke titik terendah yang dia inginkan!" Arya sengaja menakuti kedua adiknya itu dengan menyinggung soal Ricky.
Dan benar saja, Ria dan Lanny langsung terbelalak mendengar ancaman yang dilontarkan Arya kepadanya. Tanpa mengucapkan kata pamit, kedua adik Arya pun bergegas meninggalkan rumah Anindita.
" Anin, aku minta maaf atas perbuatan kedua adikku tadi." Arya langsung memeluk Anindita.
" Kenapa mereka begitu membenciku, Mas?" Anindita kemudian terisak di dada Arya.
" Kamu tak perlu khawatir, aku jamin mereka tidak akan berani mengusikmu." Arya mengusap punggung Anindita, berusaha menenangkan wanita yang dicintainya itu.
" Aku kangen." Arya menyeringai seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Ck, kamu ini, Mas." Anindita menyeka air matanya.
" Kamu benar tidak kenapa-kenapa?" tanya Arya ikut menyeka air mata Anindita.
" Aku sedih kalau ada yang menghina Rama, Mas." Anindita kembali meneteskan air matanya.
" Iya, aku mengerti perasaan kamu, Nin. Aku benar-benar minta maaf, ya." Arya kembali merengkuh tubuh Anindita dan menenggelamkan ke dalam pelukannya.
***
Anindita tertegun menatap dirinya di cermin dengan balutan kebaya yang seminggu lalu dicobanya. Dia tidak menyangka jika dirinya akan melewati moment seperti ini juga. Sebuah moment yang mungkin dia tidak pernah dia sangka akan bisa dia rasakan setelah kejadian pemer*kosaan yang pernah dialaminya. Dia sempat berpikir jika tidak akan ada pria yang akan menerimanya setelah kejadian yang menimpanya dulu. Dan dia merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan pria sebaik Arya yang sesaat lagi akan menjadi suaminya.
__ADS_1
" Nin ..." terdengar suara Lucy yang kini berada di kamar rias bersama Yeti.
" Ci ..." Anindita merasakan haru, meskipun tidak ada sanak saudaranya namun dia masih punya mantan bos dan teman yang begitu sangat perhatian dan selalu mensupportnya.
" Wah, pengantinnya manglingi ya, Ci. Cantik banget," puji Yeti.
" Iya benar, Yet. Aura pengantinnya benar-benar terpancar. Pak Arya bisa makin cinta sama kamu, Nin." Lucy pun setuju dengan Yeti.
" Ah, Ci Lucy sama Mbak Yeti bisa saja." Anindita tersipu malu.
" Mama ..." Ramadhan yang kini sudah berpakaian stelan jas berwarna silver masuk ke dalam ruang rias.
" Wah, Rama keren sekali pakai baju ini." Lucy yang melihat penampilan Ramadhan langsung berkomentar.
" Rama pakai baju ini jadi seperti Om Ricky 'kan, Ma?"
Deg
Anindita menelan salivanya saat Ramadhan menyamakan dirinya dengan Ricky.
" Om Ricky 'kan kalau ke kantor pakai bajunya seperti ini, Ma." Ramadhan kemudian bergaya layaknya Ricky seperti yang dia lihat setiap pria itu mengajaknya ke kantor.
Tentu saja perkataan Ramadhan yang menyinggung soal Ricky sedikit mengusik hati Anindita di hari bahagianya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️