ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Keinginan Rachel


__ADS_3

Teett


Suara bel berbunyi saat pintu toko Alabama terbuka dan muncullah seorang wanita cantik yang mengenakan kaca mata hitam dari luar toko.


" Selamat siang, selamat datang di Alabama Florist," sapa Mita kepada wanita yang baru masuk itu.


" Lho, ini ... ini Mamanya anaknya Mas Arya, kan?" tanya Mita yang sepertinya mengenali sosok wanita yang datang ke toko itu.


" Oh hai, iya benar saya Mamanya Putri. Mbak yang waktu itu menemani Anin di rumah Mas Arya, ya?" Kini Rachel pun menyapa dan mengenali Mita.


" Iya, benar itu saya, Mbak." Mita menyahuti dengan cepat. " Wah, Mbak sampai ke sini juga rupanya, ya?" Mita agak surprise mendapati Rachel bisa sampai di toko baru.m Alabama. Apa itu suatu kebetulan atau memang wanita itu memang sudah tahu keberadaan toko itu.


" Oh iya, Mbak. Saya mau bertemu dengan Anin," ujar Rachel menyahuti perkataan Mita.


" Oh, mau ketemu Mbak Anin, ya? Mbak Anin nya sedang sholat, Mbak." Mita memberitahu Rachel jika Anindita saat ini sedang melaksanakan ibadah sholat Dzuhur.


" Oh, ya sudah nggak apa-apa, saya tunggu saja." Rachel bersedia menunggu Anindita.


" Duduk saja dulu, Mbak. Silahkan ..." Mita mempersilahkan Rachel untuk menunggu.


" Terima kasih ..." Rachel pun akhirnya duduk di sofa tunggu.


" Bagaimana toko di sini, Mbak? Ramai?" tanya Rachel berbasa-basi.


" Alhamdulillah, Mbak. Karena waktu pembukaan toko ini, Tuan Dirgantara pemilik PT. Angkasa Raya bersama Tuan Ricky, asistennya datang juga ke sini. Jadi toko ini jadi ramai berkat mereka itu." Mita menerangkan.


" Oh ya?" Rachel nampak surprise karena mengetahui seorang Bos dan Assisten dari perusahaan ternama mau datang kemari.


" Mbak Rachel?" Anindita yang baru saja selesai mengerjakan sholat Dzuhur langsung ke luar ruangan dan melihat keberadaan Rachel di sana.


" Hai, Anin ..." Rachel langsung mendekati Anindita.


" Perut kamu sudah besar ya, Anin?" Rachel menyentuh baby bump Anindita.


" Iya, Mbak."


" Mamanya nggak boleh telat makan kalau bayinya sudah besar begini," ucap Rachel.


" Iya, Mbak."

__ADS_1


" Hmmm, bagaimana kalau kita makan siang bersama sambil mengobrol? Saya lihat ada rumah makan di dekat sini." Rachel mengajak Anindita untuk makan siang bersama.


" Iya, hanya beda beberapa ruko dari sini." Anindita teringat pernah diajak makan oleh Ricky.


" Ya sudah kita ke sana saja sekarang. Kamu belum makan, kan? Aku yang traktir kalau begitu."


" Oh iya, terima kasih, Mbak. Sebentar saya ijin sama rekan saya dulu."


" Oh, silahkan ..."


Anindita mendekat ke arah Mita dan berpamitan untuk makan siang dan Mita pun mempersilahkan.


***


" Bagaimana toko bunga di sini? Ramai?" Hal yang tadi ditanyakan pada Mita, kini Rachel tanyakan lagi kepada Anindita.


" Alhamdulillah, setiap hari ramai pengunjung." Anindita menyahuti.


" Kata teman kamu tadi, waktu pembukaan toko, Bos besar Angkasa Raya ikut datang juga. Enak ya, punya koneksi langsung sama petinggi-petinggi perusahaan. Bisa bikin usaha jadi prestise."


Anindita agak sedikit terusik dengan perkataan Rachel tentang koneksi dengan petinggi.


" Oh, i-itu karena Rama, Mbak." Anindita tidak ingin Rachel berpikir yang tidak-tidak tentang perhatian ysng diberikan Ricky kepada dirinya juga Ramadhan.


" Oh ya, Anin. Kalau saya boleh bertanya, Apa kamu berniat kembali dengan Pak Ricky?"


Petanyaan Rachel seketika membuat Anindita membulatkan matanya.


" M-maksud saya, apa kamu punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan Pak Ricky?" Rachel memperjelas kalimatnya.


" Tentu saja tidak, Mbak. Saya tidak ada niat seperti itu!" sangkal Anindita cepat menepis anggapan Rachel yang mengatakan dirinya berniat ingin menjalin hubungan dengan Ricky, yang ada dia ingin jauh bahkan kalau bisa sejauh mungkin dari pria itu.


" Oh syukurlah kalau kalian tidak ada apa-apa." Rachel tersenyum seraya menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinga.


Ucapan Rachel selanjutnya justru membuat Anindita mengeryitkan keningnya.


" Sebenarnya saya tertarik dengan sosok Pak Ricky, makanya saya tanya ke kamu. Kalau kalian ada hubungan spesial saya 'kan nggak enak. Tapi kalau kalian memang benar-benar tidak ada suatu yang spesial saya punya kesempatan untuk mendekati Pak Ricky."


Anindita kembali terbelalak, dia tidak menyangka jika Rachel menyukai Ricky. Tapi untuk dia itu hal yang sangat bagus. Kalau Rachel bisa mendekati Ricky, artinya dirinya terbebas dari sosok ayah biologis dari Ramadhan itu. Dan kalau bisa dia pun ingin membantu agar rencana Rachel untuk mendekati Ricky berhasil. Karena menurutnya Rachel itu sosok wanita baik yang punya tutur kata yang santun. Sangat cocok jika seorang eksekutif muda seperti Ricky. Tanpa dia sadari sebuah senyuman samar terukir di sudut bibirnya.

__ADS_1


***


Hari ini adalah empat puluh hari kepergian Arya. Sebenarnya Anindita ingin mengadakan tahlilan mengenang suami tercintanya, namun dia tak enak mengundang rekan-rekan kerja Alabama dan mengadakan acara di apartemen Ricky. Kalau saja dia masih bekerja di Alabama yang dulu, mungkin dia bisa mengadakan tahlilan kecil-kecilan seperti waktu mengadakan tahlil tujuh hari.


" Mbak, saya nanti mau ijin, ya! Saya mau ke makam Mas Arya. Hari ini sebenarnya empat puluh hari Mas Arya, tapi saya nggak bisa mengadakan tahlilan bersama teman-teman." Mata Anidnita nampak berembun saat mengatakan kalimat itu.


Mita yang melihat Anindita akan menangis langsung merangkul pundak dan mengusap lengan Anindita.


" Sabar ya, Mbak Anin." Mita mencoba menguatkan Anindita membuat Anindita buru-buru menghapus air matanya.


" Oh ya, Mbak Anin ke makam sama Pak Saiful?" tanya Mita.


" Nggak, Mbak. Aku juga nggak ajak Rama. Aku takut kalau sampai Rama tahu, nantinya bisa sampai ke telinga Pak Ricky." Anidita mengatakan alasannya tidak membawa Ramadhan dan supir pribadinya.


" Lho, memangnya kenapa kalau sampai Tuan Ricky tahu, Mbak?" Mita terkikik.


" Nggak enak saja, Mbak." Anindita tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Mita.


" Oh ya saya mau beli mawar putih sana Lily ya, Mbak. Saya ingin membawa ke makam," ujar Anindita mengalihkan pembicaraan. " Saya mau ke makam sekarang saja, kalau sore takut hujan."


" Ciee, yang mau kasih mawar untuk belahan jiwa." Mita menggoda Anindita membuat Anindita merona.


" Dulu Mas Arya nggak pernah kasih bunga, sekarang ini malah saya yang memberikan Mas Arya bunga." Anindita tersenyum getir hingga cairan bening tanpa bisa ditahan meleleh di pipinya dan Anindita seketika terisak.


" Mbak Anin harus mengikhlaskan Pak Arya, kalau Mbak Anin masih saja menangisi Mas Arya yang ada Mas Arya akan sedih di sana, Mbak." Mita mengusap punggung Anindita.


" Aku siapkan bunganya sekarang ya, Mbak" Mita pun lalu menyiapkan bunga yang dipesan oleh Anindita, membuat Anindita menganggukkan kepalanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


,

__ADS_1


__ADS_2