
Sejak mengetahui istrinya positif hamil, Arya semakin menghujani Anindita dengan kasih sayang. Arya meminta istrinya itu untuk tidak melakukan aktivitas rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah dan lainnya. Namun seperti biasa, Anindita bukanlah tipe wanita yang senang bermalas-malasan dengan alasan hamil sekalipun. Sama persis ketika dia hamil Ramadhan dulu.
Anindita baru saja selesai membuat blackforest untuk Ramadhan dan Putri. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya mengelus-ngelus yang kini mulai sedikit menonjol karena kini sudah masuk usia dua belas Minggu.
" Mama capek, ya? Dedek bayinya capek juga ya, Ma?" tanya Ramadhan menghampiri Anindita seraya memeluk perut Anindita dan menciumi perut Mamanya itu
" Rama, jangan tiduran di perut Mama Anin. Kasihan adik bayi di dalam perut Mamanya nanti kejepit." Putri yang melihat Ramadhan menyandarkan tubuhnya di perut Anindita langsung berkomentar.
Ramadhan langsung bangkit dan duduk di sebelah Anindita.
" Maafin, Kakak Rama ya, Adik bayi." Ramadhan langsung mengusap perut Anindita lalu mengecupnya.
" Iya, Kak Rama. Adik bayi maafin, kok." Anindita menjawab layaknya adik bayi yang bicara membuat Ramadhan terkesiap seraya menatap Mamanya.
" Ih, Mama ..." Ramadhan tertawa membuat Anindita pun ikut tertawa.
" Kak Putri sama Rama mau blackforest, nggak?" tanya Anindita kepada Ramadhan dan Putri.
" Mau, Ma."
" Kakak mau, Mama Anin."
Ramadhan dan Putri menjawab bersamaan.
" Ya sudah sana minta sama Mbak Tita, ya!"
Ramadhan dan Putri pun berlari ke arah dapur mencari Tita.
Teett
Anindita mendengar suara bel berbunyi. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu depan rumahnya.
" Selamat siang, Nyonya."
Anindita mengerutkan keningnya saat mendapati kehadiran Ricky di hadapannya.
" Tuan ingin menjemput Rama? Tapi ini 'kan masih siang?" tanya Anindita heran karena Ricky menjemput Ramadhan siang hari. Biasanya pria itu menjemput Ramadhan sore hari dan akan mengembalikannya Minggu sore.
__ADS_1
" Oh iya, saya sudah minta ijin pada Pak Arya dan Pak Arya memperbolehkannya. Makanya saya datang ke sini sekarang." Ricky menerangkan.
" Suami saya nggak ada konfirmasi apa-apa ke saya!" Anindita melipat tangannya di dada hingga memperlihatkan sedikit perut buncitnya.
" Rama itu anak saya! Lagipula kesepakatannya itu Tuan menjemput Sabtu sore, bukan Sabtu siang!" ketus Anindita.
" Oh, maaf, jika Nyonya kurang berkenan dengan kehadiran saya." Ricky mencoba mengalah tak ingin berdebat dengan wanita yang menjadi ibu kandung anaknya itu.
" Lain kali tolong dipegang janjinya!" Anindita memutar tubuhnya.
" Om Ricky ...!" teriak Ramadhan berlari kencang ke arah Ricky hingga dia bertabrakan dengan Anindita yang membalikan tubuhnya ingin masuk ke dalam rumah. Dan tentu saja Anindita terkejut hingga dia terdorong ke belakang dan menabrak tubuh Ricky yang berdiri di belakangnya, dan itu membuat Ricky secara refleks menahan tubuh Anindita agar tidak jatuh hingga saat ini ada dalam rangkulan tangan kokoh Ricky.
Anindita langsung terkesiap saat merasakan telapak tangan Ricky yang menyentuh kedua lengannya dari arah belakang.
" Ibu Arya masih mesra saja sama mantan suami. Awas, lho, nanti Pak Arya jadi cemburu."
Anindita tersentak saat mendengar ibu tetangga sebelah rumahnya berkomentar saat mendapati Ricky menahan tubuhnya tadi. Setelah kehadiran Ricky di akad nikah beberapa bulan lalu, tetangga sekitar perumahan itu akhirnya mengetahui jika Ricky adalah ayah dari Ramadhan. Anindita langsung mendengus seraya menatap penuh rasa kesal karena kehadiran Ricky.
" Bukan begitu kejadiannya, Bu Wisnu. Tadi dia menahan saya yang hampir terjatuh karena terdorong Rama." Anindita mencoba mengklarifikasi.
" Rama hati-hati, ya! Mamanya 'kan sedang ada dedek bayi di perutnya. Jangan lari-lari! Kalau Mamanya jatuh kasihan dedek bayinya." Tetangga sebelah rumah bernama Ibu Wisnu itu menasehati Ramadhan.
" Ya sudah, saya mau masuk dulu, Bu Arya. Saya hanya ingin memperingatkan. Jangan sampai kejadian tadi terlihat sama orang-orang yang mulutnya iseng dan malah jadi bahan gosip di perumahan sini."
" Iya, Bu. Dia juga nggak akan saya ijinkan datang ke sini jika Mas Arya nggak ada di tempat." Anindita melirik sebal ke arah Ricky.
" Saya masuk dulu, Bu Arya," pamit Bu Wisnu.
" Oh, silahkan, Bu." Anindita menyahuti.
" Tuan dengarkan?! Kedatangan Tuan kemari hanya akan menjadi bahan pergunjingan di sekitar sini!" geram Anindita.
" Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud seperti itu." Ricky menepis anggapan Anindita yang menuduhnya ingin berbuat kekacauan.
" Lain kali biar suami saya yang mengantar Rama menemui Tuan seperti biasa, atau saya tidak akan ijinkan lagi Anda membawa anak saya!" tegas Anindita penuh emosi. Tentu saja Anindita kepikiran perkataan Ibu Wisnu jika kejadian tadi akan jadi bahan pergunjingan di komplek ini, Itu pasti akan mengecewakan suaminya walaupun itu semua hanya sebuah salah paham.
" Baik, Nyonya. Saya akan patuhi keinginan Anda itu." Ricky mau tidak mau terpaksa menyetujui syarat yang diajukan Anindita.
__ADS_1
" Rama, ayo ganti baju dulu." Anindita merangkul anaknya meminta anaknya itu berganti pakaian.
Ramadhan sendiri sedari tadi memperhatikan Anindita yang terlihat marah kepada Ricky, namun dia diam saja tak berkomentar, karena dia tahu jika mamanya itu sedang marah ia pun memilih untuk diam tidak bertanya.
***
" Om, kenapa sih, Mama Anin suka marah-marah sama Om Ricky?" tanya Ramadhan kepada Ricky saat mereka berdua ada di dalam mobil.
Ricky mengusap kepala Ramadhan.
" Itu karena Mama Anin nggak bisa bersama Rama kalau hari Minggu, soalnya Rama 'kan dibawa sama Om Ricky kalau malam Minggu. Jadi Mama Anin sedih dan jadinya marah deh sama Om Ricky. " Ricky berkelakar, dia mencari alasan yang masuk akal yang mudah dipahami Ramadhan.
" Oh iya, Mama juga 'kan lagi hamil adik bayi. Kata Papa Arya, kalau lagi hamil adik bayi Mama jadi suka marah-marah," ucap Ramadhan.
" Oh, Rama mau punya adik, ya?" Ricky tadi sempat melihat perut Anindita yang sedikit membuncit dan juga semoat mendengar ucapan tetangga sebelah rumah Anindita yang menyinggung soal kehamilan.
" Iya, Om. Rama sudah punya kakak, nanti sebentar lagi punya adik." Ramadhan nampak bersorak gembira.
" Kata Kak Putri, adik bayi sama Kak Putri Mamanya nggak sama. Kalau Rama sama adik bayi Papanya yang nggak sama."
Ricky kembali menoleh ke arah Ramadhan. Ada rasa ngilu mendengar perkataan anaknya itu.
" Hmmm, Rama ... Rama tahu, Papa Rama ada di mana sekarang?" Dengan hati berdebar dan jantung berdetak kencang Ricky menberanikan diri mempertanyakan itu.
" Kata Mama, Papa Rama pergi jauh waktu Rama masih di perut Mama. Papa Rama nggak sayang sama Rama. Soalnya Papa Rama pergi nggak pernah datang ketemu sama Rama."
Deg
Seketika hati Ricky terasa tertancap puluhan sembilu mendengar anggapan Ramadhan yang mengatakan jika papanya tidak menyanyanginya. Apalagi saat dia menatap wajah sendu anaknya itu. Rasanya dia sungguh-sungguh ingin memeluk Ramadhan dan berkata jika apa yang ada di pikiran Ramadhan tentang dirinya yang tidak perduli dan tidak sayang kepadanya adalah tidak benar. Ricky tidak menyalahkan Ramadhan atau Anindita jika beranggapan seperti itu. Karena mereka tidak tahu perjuangan dirinya mencari mereka selama lima tahun terakhir.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️