
Dirga langsung tergelak saat mendengar ucapan Edward yang mencibir Ricky. Tentu saja tindakan Dirga yang spontan tadi membuat semua mata mengarahkan pandangan ke arah bos besar perusahaan properti itu.
Namun hal itu tak berlaku bagi Anindita yang langsung menundukkan kepalanya karena dia tahu hal yang ditertawakan oleh Dirga pasti berkaitan dengan dirinya.
Kirania sendiri langsung menyikut pinggang suaminya saat dia mengetahui suaminya itu sedang tertawa seolah mengolok Ricky. Sudah pasti Kirania merasa tidak enak hati kepada Anindita apalagi saat dilihatnya Anindita nampak tidak nyaman di sana.
" Kalau dia tidak normal, langsung kita pecat dari keluarga besar kita, Do." Dirga langsung berkomentar.
" Syukurlah kalau dia normal, Bro!" Edward lalu menoleh ke arah Ramadhan. " Lalu kenapa anak kecil ini wajahnya mirip dia? Jangan bilang kalau anak ini hasil tanam saham dia yang selama ini dia tutupi dari kita."
Serasa disiram air mendidih rasanya wajah Anindita mendengar kembali sindiran yang diucapkan Edward. Rasanya dia ingin berlari saja dari ruangan itu seperti yang pernah di lakukan saat acara ulang tahunnya beberapa bulan lalu, namun rasanya tak mungkin dia lakukan hal itu dihadapan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini terlebih Mama Utami.
Ricky yang mendapati ekspresi wajah Anindita yang seolah menahan rasa malu dan amarah langsung menggenggam tangan Anindita hingga membuat wanita itu terperanjat.
" Mbak Anin, tolong jangan dengarkan omongan dua pria sableng ini." Kirania pun langsung mendekat ke arah Anindita dan langsung mengusap punggung Anindita.
" Apa katamu, Sayang? Kau mengatakan aku ini sableng?" Dirga langsung memprotes Kirania.
" Kalau Abang dan Bang Edo masih ingin berbincang sendiri silahkan. Sebaiknya kita para wanita memisahkan diri saja," ancam Kirania.
" Kau semakin berani mengancam suami, Sayang?!" Dirga menarik lengan Kirania hingga kini tubuh wanita berhijab itu sudah berada di dalam rengkuhan Dirga bahkan pria itu sudah mengecup pipi Kirania hingga membuat Kirania berontak.
" Abang, ada anak kecil!" Kirania melotot ke arah Dirga.
" Iiih, Mama Rania sama Papa Dirga malu, iiihh ..." Kayla langsung mencibir Om dan Tantenya itu.
" Tuh, kan ..." Kirania langsung memberengut.
" Sudah-sudah kalian ini kalau bertemu pasti saja ribut." Mama Utami melerai perdebatan antara anak, menantu dan keponakannya kemudian kembali duduk.
" Nadia, Edo, kenalkan ini Anindita, Anindita ini ibu dari Ramadhan." Mama Utami memperkenalkan Anindita kepada Nadia dan Edward. " Anin, ini Nadia dan juga Edo, Edo ini sepupu dari Dirga dan Ricky juga pastinya."
" Hai, Anin ... senang bisa bertemu. Aku sudah dengar sedikit tentang kamu dari Mama Utami dan juga Rania." Nadia menyapa Anindita dengan ramah, karena Nadia pun pernah merasakan hamil dari benih pria yang tidak dia cintai.
" Halo, Bu ..." Anindita menyapa balik Nadia.
" Dan anak kecil yang tampan ini pasti Ramadhan, ya?" tanya Nadia kepada Ramadhan.
__ADS_1
" Iya, Tante." Ramadhan menjawab tegas.
" Wah, Kayla saudara, nih." Nadia lalu melirik ke arah putrinya membuat Kayla langsung menoleh ke arah Nadia.
" Kayla, ini kenalkan, namanya Ramadhan. Rama ini cucu Nenek juga." Mama Utami memperkenalkan Ramadhan kepada Kayla.
" Kok namanya seperti bulan puasa, Nek?" celetuk Kayla polos.
" Karena Rama ini lahirnya memang saat bulan puasa." Anindita langsung memberikan alasan kenapa memberi nama Ramadhan kepada putranya itu.
" Oh ..." Kayla menganggukkan kepala mengerti. " Hai, Ramadhan, aku Kayla. Ini Mama sama Papa aku. Mama Nadia, Papa Edo, Mama Rania sama Papa Dirga," celoteh Kayla.
" Kok Kayla Mama sama Papanya ada banyak?" Ramadhan bertanya heran karena semuanya dipanggil Mama dan Papa oleh Kayla.
" Karena Om dan Tante sudah menganggap Kayla itu seperti anak sendiri." Kirania menjawab pertanyaan Ramadhan. " Kalau Rama mau panggil Tante Rania dengan panggilan Mama juga boleh, kok."
Ramadhan lalu menoleh ke arah Mamanya yang menganggukkan kepala tanda mengijinkan. Namun tanpa diduga bocah itu justru menggelengkan kepalanya menolak apa yang disarankan oleh Kirania.
" Rama panggil Tante Rania saja," ucapnya kemudian.
Kirania tetap tersenyum mendengar jawaban Ramadhan. " Nggak apa-apa, Rama mau panggil Tante atau Mama, yang pasti Tante tetap sayang sama Rama."
Sontak ucapan Kayla membuat semua orang yang mengelilingi meja itu tertawa, hanya Anindita yang hanya menyunggingkan sedikit senyuman sedang Ramadhan terlihat hanya memperhatikan wajah Kayla yang memberengut.
" Kayla nggak boleh seperti itu, Sayang." Nadia menegur putrinya itu.
" Siapa bilang sayangnya Mama Rania ke Kayla akan jadi sedikit? Justru semakin hari sayangnya Mama Rania ke Kayla itu semakin banyak, kok." Kirania menepis dugaan Kayla hingga gadis kecil itu nampak tersenyum bahagia.
" Sudah ayo kita mulai makan. Kalau mengobrol terus kapan makannya?" Mama Utami kembali menyuruh semua anggota keluarganya berhenti berbincang dan segera mulai menyantap hidangan yang telah disediakan.
Anindita melirik ke arah Kirania dan Nadia, dua wanita cantik dan berpenampilan sangat elegan. Kemudian pandangannya berpindah pada dua orang pria tampan Dirga dan Edward yang merupakan pasangan dari dua wanita cantik itu. Anindita berpendapat jika mereka itu saling cocok satu sama lain. Dua orang wanita cantik dan nampak berkelas mendampingi dua orang eksekutif muda yang tampan.
Dan entah kenapa tiba-tiba saja bola mata indahnya kini mengarah pada kepada Ricky yang secara bersamaan menoleh ke arahnya.
" Makan woi makan ... jangan saling curi-curi pandang. Kayak anak abege saja!" celetukan Dirga langsung membuat Anindita memfokuskan tatapan ke arah makanan di atas piring di hadapannya.
" Kau mestinya maklum, Bro! Dia itu nggak pernah pacaran jadi dimaklum saja jika dia sedang berbunga-bunga serasa dunia milik berdua." Edward menimpali membuat dirinya dan Dirga langsung tertawa namun berbeda dengan kedua istri mereka yang memasang wajah cemberut karena keusilan suami-suami mereka.
__ADS_1
" Kalau Abang bicara lagi, aku nggak kasih pintu kamar buat Abang!" ancam Kirania kemudian.
" Dan itu pun berlaku untukmu, Edo!" Nadia pun melakukan ancaman yang sama dengan Kirania.
" Oh, No, Sweetheart ... kamu jangan ikut-ikutan seperti itu!" protes Edward kepada Nadia.
" Tidak bisa seperti itu, Sayang!" Dirga pun ikut memprotes istrinya.
" Malam ini Abang tidur di luar kamar!" ancam Kirania kembali.
" Aku tidak mau!" Dirga lalu berdiri dan mendekat ke arah Kirania lalu memeluk tubuh istrinya yang terduduk dari belakang.
" Sayangku, cintaku, please jangan seperti itu ..." Dirga berusaha merayu istrinya itu.
" Stop, Edo! Jangan macam-macam!" Nadia yang melihat Edward hendak berdiri langsung memberikan larangan dengan memasang wajah galaknya tak berbeda jauh dengan Kirania.
" Tapi, Sweetheart ...."
" Malam ini kau akan menemani Dirga tidur di luar!" ancam Nadia menatap dengan sorot mata tajam ke arah suaminya.
Mama Utami yang melihat Dirga dan Edward tak berdaya di hadapan istri-istrinya langsung terkekeh.
Sedang Anindita harus mati-matian menahan tawanya melihat dua pria bertubuh gagah itu seolah kehilangan tajinya di hadapan istri-istri mereka.
Sementara Ricky menarik satu sudut bibirnya ke atas merasa puas karena kedua istri pria-pria usil itu beraksi hingga membuat Dirga dan Edward seakan tak berdaya.
" Jangan senang dulu kau, Rick! Sebentar lagi kau pun akan bergabung bersama kami!" sindir Dirga saat mendapati senyuman yang samar terlihat di bibir asistennya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Untuk yg ingin tahu kisah cinta Ramadhan dewasa, nanti akhir tahun langsung masukin ke favorit ya, novelnya 👇
__ADS_1
Happy Reading❤️