ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Selamat Datang Di Angkasa Raya Group


__ADS_3

Ricky menekuk lututnya dan berjongkok di depan Ramadhan sembari membelai lembut kepala anaknya itu. Sungguh pertanyaan Ramadhan yang ditujukan untuknya itu sangatlah membuat dirinya merasa sangat bersalah.


" Om Ricky sekarang ini bekerja untuk anak Om nanti, jika Om sudah menemukan anak Om itu."


" Kalau anak Om Ricky sudah ketemu, boleh nggak Rama berteman sama anak Om Ricky itu?" tanya Ramadhan.


Ricky tersenyum seraya mengusap wajah Ramadhan. " Tentu saja, Nak." Ricky kemudian bangkit dan kembali meraih tangan mungil Ramadhan dan berjalan menaiki lift menuju ruang kerjanya.


" Pagi, Pak Ricky ..." Karina menyapa Ricky namun matanya memandang Ramadhan dengan kening berkerut.


" Pak, ini ...."


" Ramadhan, dia Ramadhan." Ricky memotong ucapan Karina sebelum Karina melanjutkan ucapannya. " Kamu ingat yang pernah saya ceritakan tentang masa lalu saya?"


Karina langsung membelalakkan matanya dengan mulut terbuka.


" D-dia ..." Karina menunjuk Ramadhan.


" He doesn't know who I am." Ricky menjelaskan agar Karina tidak keceplosan menyebut jika Ramadhan dan Ricky adalah anak dan ayah.


" Oh ..." Karina mengangguk mengerti.


" Halo, Ramadhan ..." Karina langsung menghampiri Ramadhan dan mencubit pelan pipi Ramadhan.


" Halo, Tante ...."


" Karina, Ramadhan panggil saja Tante Karina."


" Halo, Tante Karina ..." Ramadhan kemudian meraih punggung tangan Karina dan menciumnya.


" Ya ampun, pintar sekali kamu." Karina mengacak rambut Ramadhan.


" Saya ikut senang Pak Ricky sudah menemukan mereka." Karina kemudian berkata kepada Ricky.


" Tuhan masih berpihak kepada saya, secara kebetulan saya bertemu Mamanya Rama. Padahal lima tahun saya suruh orang untuk mencari tapi selalu gagal." Ricky menerangkan.


" Syukurlah, Pak ..." ucap Karina.


" Tante Karina ini mamanya anaknya Om Ricky, ya?"


Pertanyaan Ramadhan sontak membuat Ricky dan Karina saling pandang.


" Bukan, Nak. Tante Karina ini teman kerja Om Ricky." Ricky memberikan penjelasan.


" Oh ..." Ricky menganggukkan kepalanya.


" Rama mau duduk di situ?" Ricky menunjuk kursi kerjanya.


" Mau, Om ... biar Rama jadi bos, seperti Mommy Lucy." Ramadhan terkekeh kemudian berlari ke kursi yang ditunjuk oleh Ricky.


Ricky tersenyum melihat tingkah putranya itu.


" Rama kalau besar mau kerja kaya Om Ricky saja, ah ... kantornya bagus." Ramadhan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


" Boleh kalau Rama sudah besar nanti, Rama boleh bekerja di sini." Ricky menyahuti.


" Asyik ..." Ramadhan bersorak.

__ADS_1


" Ya ampun, Pak. Kalau dia tahu Pak Ricky adalah Papanya, pasti dia senang sekali ..." Karina berkomentar.


" Dan saya mesti bersabar untuk mencapai tahap itu, kalau saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk tetap bisa bersama dia, Rin."


Karina menoleh ke arah Ricky kemudian dia menepuk lengan Ricky.


" Semangat, Pak." Karina menyemangati.


" Dek, Mbak kirim pesan kok nggak kamu buka-buka?" Tiba-tiba Kirania masuk ke dalam ruangan Ricky.


" Oh ... ah, sorry, Mbak. Aku terpana sama Ramadhan sampai nggak lihat HP." Karina menunjuk ke arah Ramadhan kemudian berjalan ke arah mejanya.


Dan kali ini Kirania yang terkesiap saat melihat Ramadhan yang duduk di belakang meja kerja Ricky.


" Siapa ini, Pak Ricky?" Kirania bertanya pada Ricky.


" Rama, sini, Nak." Ricky memanggil Ramadhan agar mendekat ke arahnya dan Ramadhan pun menuruti apa yang dikatakan Ricky.


Sementara Karina segera membisikan sesuatu kepada kakaknya, memberitahukan siapa Ramadhan yang sebenarnya. Tentu saja Kirania langsung terkesiap seraya menutup mulutnya.


" Rama, kenalkan ... ini Ibu Kirania. Ibu Kirania ini adalah bos dari Om Ricky." Ricky memperkenalkan Kirania pada Ramadhan.


" Ramadhan, Tante Bos ..." Ramadhan kemudian mencium punggung tangan Kirania, sementara Kirania terkekeh mendengar Ramadhan memanggilnya Tante Bos.


" Hai, Ramadhan ... Ya Allah, kamu pintar sekali, Sayang." Kirania mengusap kepala Ramadhan kemudian duduk mensejajarkan diri dengan Ramadhan.


" Masya Allah, wajah kalian benar-benar mirip." Kirania membelai wajah berkulit halus Ramadhan.


" Jadi ini anak Pak Ricky dari ... hmmpptt." Ucapan Kirania terpotong karena telapak tangan Karina langsung membekap mulutnya.


" M-maaf, Pak Ricky. Saya nggak tahu kalau dia ...."


" Tidak apa-apa, Nyonya." Ricky memaklumi.


" Om, kenapa Tante Bos bilang Rama itu anak Om Ricky?"


Kini ketiga orang dewasa itu saling pandang menanggapi pertanyaan Ramadhan.


" Hmmm itu karena ... karena Om bilang ke Ibu Kirania kalau Om akan membawa Rama kemari. Dan Om bilang ke Ibu Kirania ini kalau Om sudah menganggap Rama itu seperti anak Om sendiri. Om 'kan pernah bilang ke Rama, kalau lihat Rama Om jadi ingat anak Om yang hilang." Ricky sibuk memberikan penjelasan kepada anaknya agar anaknya itu tidak menanyakan lagi hal yang dikatakan Kirania.


" Oh ..." hanya itu yang keluar dari mulut mungil Ramadhan.


" Saya boleh bawa dia ke ruangan Abang 'kan, Pak?" Kirania meminta ijin Ricky.


" Silahkan, Nyonya." Ricky memberikan ijin.


" Hmmm, Rama ikut Tante, yuk!" Kirania yang merasa bersalah langsung mengajak Ramadhan karena dia juga ingin segera memberitahukan tentang Ramadhan kepada suaminya.


Ramadhan lalu menoleh ke arah Ricky. " Rama boleh ikut sama Tante Bos, Om?" Ricky pun dengan cepat menganggukkan kepala menyetujui .


" Hahaha, Rama jangan Tante Bos, dong! Panggil saja Tante Rania, karena Tante bukan bos di sini. Yang bos itu suami Tante." Kirania merasa risih dengan panggilan Tante Bos yang disematkan Ramadhan untuknya.


" Suami itu apa, Tante?" Ramadhan memang anak yang pandai dan selalu ingin tahu banyak hal yang didengar dan dilihatnya.


" Suami itu ... hmmm, nanti kalau Rama sudah besar, Rama pasti akan mengerti. Sekarang ini Rama ikut Tante Rania saja, yuk!" Kirania yang memang sangat suka dengan anak kecil bisa langsung cepat mengakrabkan diri dengan Ramadhan.


" Abang ..." Teriak Kirania saat masuk ke dalam ruang kerja suaminya.

__ADS_1


" Abang coba lihat aku bawa siapa?" Kirania laku menarik pelan tangan Ramadhan hingga kini Dirga bisa melihat sosok miniatur Ricky dalam diri Ramadhan.


Dirga terkesiap. Dia kemudian berdiri dari kursi kebesarannya lalu berjalan mendekati Ramadhan. Dan sebelum Dirga membungkukkan tubuhnya Kirania membisikkan dulu ke suaminya itu perihal Ramadhan.


Dirga menatap haru wajah Ramadhan, dia lalu mengusap kepala Ramadhan berkali-kali.


" Ya Allah, dia benar-benar anak Ricky." Dirga membatin.


" Rama, kenalkan ini Om Dirga suaminya Tante Rania." Kirania memperkenalkan Ramadhan kepada suaminya.


" Oh, ini yang Om Bos itu ya, Tante?" Ramadhan cepat tanggap.


" Iya, Sayang. Tapi Rama panggilnya Om Dirga saja, ya!" pinta Kirania.


" Halo, Om Dirga ..." Ramadhan menyapa dan mencium tangan Dirga yang masih tertegun menatap miniatur Ricky di hadapannya itu.


" Abang ..." Kirania menepuk pundak Dirga membuat Dirga terkesiap.


" Siapa namamu, Nak?" tanya Dirga kemudian.


" Ramadhan Syahrizky, Om ..." Ramadhan dengan cepat menjawab pertanyaan Dirga.


" Ramadhan, selamat datang di Angkasa Raya Group, Nak." Dirga menepuk lembut pundak Ramadhan. Sementara Ramadhan tak mengerti maksud dari ucapan Dirga itu.


***


Beberapa Minggu kemudian ...


Anindita melihat ponselnya yang bergetar menandakan ada panggilan masuk di ponselnya itu. Anindita meraih ponsel itu dan melihat nama 'Tuan Ricky' yang muncul di layar ponselnya.


Anindita menarik nafas dalam-dalam sebelum dia mengangkat panggilan telepon itu.


" Assalamualaikum ..." Anindita menyapa terlebih dahulu.


" Waalaikumsalam ... maaf mengganggu waktu Anda, Nona Anindita." Terdengar suara Ricky dari seberang.


" Ada apa?" tanya Anindita bernada dingin.


" Maaf, Nona. Apa besok lusa Nona bisa membawa Rama ke tempat acara wedding party Pak Dirgantara sekalian mengantar bunga? Minggu ini saya sangat sibuk menghandle pekerjaan bos saya. Jadi Minggu ini saya tidak bisa mengajak Rama menginap di rumah. Apakah Nona bisa membawa Rama ikut serta ke sana? Saya ingin sekali bertemu Rama." Ricky memohon.


" Baiklah, nanti saya akan bawa ke sana. Ada lagi yang ingin Tuan disampaikan? Kalau tidak ada saya akan tutup teleponnya." ketus Anindita.


" Oh, tidak-tidak, Nona. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Maaf mengganggu waktu No...."


" Assalamualaikum." Belum sempat Ricky menyelesaikan ucapannya, Anindita terlebih dahulu mematikan panggilan telepon ayah dari anaknya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Mau tanya nih, ya! Kalau kalian yg nulis kisah ini, akan seperti apa kisah ini selanjutnya? Pengen tahu tingkat kehaluan readers pengemar ASKML deh🤭


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2