ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Kalah Taruhan


__ADS_3

Ricky segera bangkit saat mendengar Anindita seolah melarangnya untuk mengantar Ramadhan sekolah.


" Saya akan mengantar Rama ke sekolah, Nyonya. Karena saya ingin memindahkan Rama ke sekolah baru di TK milik yayasan Angkasa Raya Group."


Anindita kembali terkesiap dengan perkataan Ricky yang mengatakan akan memindahkan sekolah Ramadhan.


" Tuan tidak bisa seenaknya saja memindahkan sekolah Rama tanpa persetujuan saya!" Anindita merasa kesal karena Ricky seakan ingin menguasai Ramadhan.


" Saya tahu apa yang terbaik untuk Rama, Nyonya. Dan saya ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk Rama," tegas Ricky.


" Sebaiknya kita berangkat sekarang, karena Rama harus berpamitan dengan guru dan temannya di sekolah lama dan kita langsung menuju sekolah barunya. Saya sudah mengatur orang untuk mendaftarkan Rama sekolah di sana. Dan hari ini juga Rama akan sekolah di sekolah yang barunya." Ricky menjelaskan.


" Rama punya sekolah baru, Om?" Ramadhan yang menguping berdebatan Ricky dan Anindita tertarik saat Ricky mengatakan sekolah baru untuk Ramadhan.


" Iya, Rama. Rama akan pindah di sekolah baru." Ricky menjawab pertanyaan anaknya.


" Sekolahnya ada ayunan sama perosotannya nggak, Om?" tanya Ramadhan antusias.


" Ada banyak, Rama. Nanti di sekolah baru Rama juga akan punya banyak teman. Banyak tempat permainannya dan gedung sekolahnya juga besar."


Tentu saja penjelasan Ricky tentang sekolah baru Ramadhan membuat Ramadhan bersemangat.


" Mau, Om ... Rama mau punya sekolah baru." Ramadhan sampai melompat-lompat kegirangan.


Anindita yang melihat bagaimana Ricky begitu mudah mempengaruhi Ramadhan langsung mendengus kesal.


" Ayo kita berangkat sekarang." Ricky langsung meraih tangan Ramadhan dan berjalan meninggalkan Anindita yang masih mematung di depan pintu.


" Mama, ayo cepetan!" Ramadhan yang mendapati Anindita tak mengikuti langkahnya langsung menolehkan kepalanya dan memanggil Anindita.


Akhirnya mau tidak mau Anindita terpaksa bergegas mengambil sling bagnya kemudian menutup pintu dan mengikuti langkah Ricky dan Ramadhan.


" Tuan, saya harus ke toko dulu untuk mengisi absen dan ijin dulu ke Ci Lucy karena akan mengurus pindah sekolah Rama," ucap Anindita saat mereka berdua berada di dalam lift.


" Nyonya tidak perlu ijin karena kemarin saya sudah bilang ke Nyonya Lucy jika Nyonya tidak akan bekerja lagi di sana mulai hari ini."


" Apa?!" Anindita tidak menyangka jika kata-kata Ricky semalam yang melarangnya bekerja memang dibuktikan dengan pria itu berkata langsung dengan bosnya di Alabama Florist.


" Tuan jangan seenaknya saja mengatur saya! Kalau urusan Rama Tuan merasa berhak, tapi untuk urusan pribadi saya, Tuan tidak berhak ikut campur sama sekali termasuk soal pekerjaan saya! Tuan mesti ingat, saya ini bukan siapa-siapa untuk Tuan! Jadi berhentilah mendikte hidup saya!" geram Anindita dengan wajah merah padam karena emosi.


" Mama sama Om Ricky kenapa sih dari tadi berantem terus? Nggak boleh berantem, tauuuu ... dosa ...!" Ramadhan yang melihat dan mendengar Ricky dan Anindita sedari tadi berdebat langsung melancarkan protes. Kemudian tangan mungil Ramadhan meraih tangan Anindita dan tangan Ricky, lalu mendekatkan jari kelingking Anindita dengan jari kelingking milik Ricky hingga kini jari kelingking kedua orang dewasa itu saling bertautan.


" Nah, sudah maaf-maafan, jangan berantem lagi ya, Ma, Om ..." Ramadhan mendongakkan kepala menatap wajah Ricky dan Anindita bergantian seraya mengembangkan senyuman.

__ADS_1


Anindita yang tersiap dengan apa yang dilakukan anaknya buru-buru melepaskan jari kelingkingnya dari jari kelingking Ricky. Dia langsung membuang muka dan mendengus kasar. Sementara Ricky hanya tersenyum samar bahkan hampir tak terlihat jika sudut bibirnya itu tertarik ke atas.


***


Selesai berpamitan dengan sekolah lama dan mengantar ke sekolah baru Ramadhan, Ricky membawa Anindita ke kantor Angkasa Raya Group. Karena jarak sekolah baru Ramadhan dengan kantor Angkasa Raya hanya berjarak seratus meter saja. Tentu saja Anindita merasa heran kenapa Ricky membawanya ke tempat bekerja pria itu.


" Untuk apa Tuan bawa saya ke tempat ini?" tanya Anindita diselimuti rasa heran saat mobil Ricky terparkir di basement.


" Dua jam ke depan Rama akan pulang sekolah. Sementara menunggu waktu Rama pulang, Nyonya bisa menunggu di kantor saya. Saya tidak ingin membiarkan Nyonya tinggal sendirian di apartemen lalu Nyonya nekat akan berangkat bekerja ke toko florist."


Anindita terkesiap mendengar penjelasan Ricky.


" Tuan sudah gila, ya! Tuan tidak perlu bawa saya ke sini! Saya bisa menunggu di sekolah Rama tadi." Anindita benar-benar terkejut dengan alasan yang dilontarkan oleh Ricky karena dia merasa apa yang dilakukan Ricky terhadapnya terlalu berlebihan.


Sementara Ricky tak perduli dengan rasa kesal Anindita. Dia malah keluar dari mobilnya dan terlihat berjalan mendekati pintu di mana posisi Anindita duduk.


" Silahkan, Nyonya." Ricky membukakan pintu untuk Anindita.


" Saya tidak mau masuk ke dalam! Saya ingin tunggu di sini saja!" tegas Anindita. Karena tentu saja Anindita tidak ingin menjadi bahan omongan karyawan Angkasa Raya kalau sampai dia mengikuti saran Ricky. Dan pastinya dia akan merasa sangat malu jika itu sampai terjadi.


" Ini basement, Nyonya. Saya rasa Anda tidak akan nyaman berada di sini berjam-jam apalagi saat ini Anda sedang hamil." Ricky sedikit menakuti Anindita membuat Anindita akhirnya keluar dari mobil dengan memberengut kesal, dan mengikuti langkah Ricky menuju arah lift.


" Pagi, Pak Ricky." sapa Lisna, sekretaris Dirga saat mendapati Ricky keluar dari lift. Tatapan mata Lisna langsung tertuju pada sosok Anindita.


" Dia Mamanya Ramadhan." Ricky yang mengerti arti tatapan Lisna langsung memperkenalkan Anindita kepada Lisna.


" Anindita ..." Anindita pun memperkenalkan dirinya.


" Pak Dirga sudah datang, Lis?" tanya Ricky kepada Lisna.


" Sudah, Pak. Tadi Pak Dirga meminta Pak Ricky segera ke ruangannya jika sudah sampai." Lisna memberitahukan.


" Oh oke, terima kasih, Lis." ucap Ricky.


" Sama-sama, Pak." Lisna menyahuti.


" Silahkan menunggu di ruangan saya." Ricky menunjuk ruang kerjanya dan menyuruh Anindita untuk menunggu di sana.


Namun belum sempat Anindita melangkah, pintu ruang kerja Dirga terbuka dan muncullah seorang wanita cantik berhijab dari dalam ruang kerja Dirga.


" Lho, Pak Ricky sudah datang?" Tak beda jauh dengan Lisna, Kirania juga terkesiap melihat wanita di belakang Ricky.


" Ini siapa, Pak Ricky?" tanya Kirania terus memperhatikan Anindita dari atas sampai bawah.

__ADS_1


" Dia Mamanya Ramadhan, Nyonya Dirga." Ricky pun akhirnya memperkenalkan Anindita kepada Kirania.


Sementara Kirania langsung terkesiap seraya menutup mulut dengan telapak tangannya seakan tidak percaya jika wanita yang dibawa oleh Ricky adalah wanita yang pernah diperko*sa oleh Ricky dulu.


" Ini yang namanya Mbak Anin ... siapa, tuh?" Kirania mencoba mengingat nama yang pernah disebutkan Ramadhan kepadanya saat Ricky membawa Ramadhan main ke kantor milik suaminya itu.


" Anindita, Nyonya." Anindita mencoba memperkenalkan diri. Walaupun dia pun sama-sama terkejut karena namanya diketahui oleh wanita yang dia duga adalah istri dari bosnya Ricky. Karena Ramadhan juga sering menyebut tentang Tante Bos yang katanya cantik dan mengenakan kerudung.


" Oh, Hai Mbak Anindita, saya Kirania." sapa Kirania ramah seraya mengulurkan tangannya pada Anindita dan Anindita pun menerima uluran tangan dari Kirania.


" Oh ya, Rama nya mana?" tanya Kirania mencari keberadaan Ramadhan.


" Rama sedang sekolah, Nyonya Dirga. Anin saya bawa kemari sembari menunggu Rama pulang sekolah karena saya pindahkan Rama ke di TK milik yayasan ARG." Ricky menjawab cepat pertanyaan Kirania.


" Oh gitu, saya kira Rama juga dibawa. Senang saya kalau lihat Rama, anaknya menggemaskan." Kirania tertawa kecil.


" Sayang, kau bicara dengan siapa?" Tiba-tiba suara Dirga dari dalam ruangan terdengar dibarengi dengan sosok tampan yang akhirnya keluar dari ruang kerjanya itu


" Kau bicara dengan siapa tadi?" Dirga mengulang pertanyaannya.


" Ah, Abang. Ini lho, Pak Ricky bawa Mbak Anindita kemari."


" Anindita itu siapa?"


" Itu lho, Mamanya Rama." Kirania menjawab pertanyaan suaminya.


" Mamanya Rama?" Dirga menautkan kedua alisnya.


" Iya, kata Pak Ricky Mbak Anindita menunggu di sini sambil menunggu Rama pulang sekolah di TK tempat Kayla dulu sekolah." ucap Kirania.


Dirga terkesiap, dia pun lalu memperhatikan wanita cantik di belakang Ricky. Seringai tipis langsung terbentuk di sudut bibir tipis pemilik Angkasa Raya Group itu mendengar ucapan istrinya.


" Sayang, sepertinya akan ada yang kalah taruhan dan harus kehilangan telinga kirinya, nih." sindir Dirga melirik ke arah Ricky.


" Hmmm, maaf, Pak. Katanya Pak Dirga menunggu saya? Ada apa, Pak?" Ricky langsung menerobos masuk ke arah ruang kerja Dirga berusaha mengalihkan arah pembicaraan Dirga.


Apa yang dilakukan Ricky yang nampak grogi sontak membuat Dirga tertawa keras karena dia merasa memenangkan taruhannya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2