ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Spesial Di Hati


__ADS_3

" Ciee, ciee ... yang kemarin abis kencan dengan Mas brewok, gimana kencannya,? Sukses?" Yeti yang baru saja melihat Anindita langsung menggoda ibu beranak satu itu.


" Kencan ke mana saja nih, Mbak Anin?" Mita pun ikutan kepo.


Anindita hanya tersipu mendapatkan ledekan dari rekan-rekannya dan sudah pasti membuat pipinya sudah bersemu karena rekan-rekannya itu menggodanya.


" Biasa saja kok, Mbak. Hanya makan saja dan menemani Rama bermain." Anindita mengatakan yang sejujurnya.


" Lalu ngobrolin apa lagi? Dia mengungkapkan kata cinta nggak?" Mita semakin dibuat penasaran.


" Ah, nggak ada, kok." Anindita mencoba menyangkal padahal semalam Arya mengutarakan niatnya ingin menjalin hubungan serius dengan dirinya.


" Kamu nggak tanya gitu ke Mas Arya, mau dibawa ke mana hubungan kalian? Mau dibawa ke mana hubungan kita, jika kau terus menunda-nunda, dan tak pernah menyatakan cinta ..." Yeti mengakhiri pertanyaannya dengan melantunkan tembang milik Armada


" Saya mesti tanya apa memangnya? Saya 'kan sadar diri, Mbak. Saya hanya pelayan toko, sedangkan Mas Arya itu ternyata seorang kepala sekolah SMP Negeri, mana mungkin saya mengharapkan ke arah sana." Anindita mencoba berfikir realistis.


" Oh, Mas Arya itu kepala sekolah? Pantas pembawaannya berwibawa gitu," celetuk Yeti kemudian.


" Siapa yang kepala sekolah?" tanya Lucy yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu ruang kerjanya.


" Eh, Cici ..."


Mita, Yeti dan Anindita salah tingkah karena ketahuan sedang merumpi di waktu kerja.


" Anin, masuk ke ruangan saya!" ucap Lucy kemudian masuk kembali ke ruangannya.


Anindita pun menuruti perintah atasannya itu.


" Ada apa Cici memanggil saya?" tanya Anindita seraya menutup pintu kerja Lucy.


Lucy yang melihat kedatangan Anindita langsung menarik tangan Anindita kemudian mengarahkan Anindita untuk duduk di sofa.


" Bagaimana acara semalam, lancar?" tanya Lucy masih menggenggam tangan Anindita.


Sikap Lucy yang tak beda jauh dengan Yeti dan Mita yang terkesan ingin tahu membuat mata Anindita terbelalak. Lucy seketika menjelma seperti tukang rumpi yang ingin tahu perihal urusan orang lain.


" Ya ... iya gitulah, Ci." Anindita terlihat bingung ingin menjawab apa.


" Ya gitulah nya itu yang seperti, Nin?" Lucy makin mendekatkan tubuhnya tak sabar menunggu jawaban dari Anindita.


" Ya ... Mas Arya bilang ingin menjalin hubungan serius dengan saya, Ci." Anindita memilih jujur pada Lucy karena Lucy sudah tahu kisah hidupnya.


" Yess ...!!" Sementara Lucy langsung mengepalkan tangannya ke udara. Lucy terlihat antusias mengetahui permintaan Arya terhadap Anindita.


" Lalu kamu jawab apa, Nin? Kamu terima 'kan permintaan Arya?"


Anindita menatap Lucy seraya menggelengkan kepalanya.


" Saya bingung, Ci." Anindita berkata lirih.

__ADS_1


" Memangnya apa yang membuat kamu bingung?"


" Masa lalu saya, Ci." Anindita menyahuti. " Profesi Mas Arya, dia ternyata seorang kepala sekolah, Saya tidak ingin dia dipermalukan karena masa lalu saya. Apa jadinya kalau wali murid di sekolah Mas Arya tahu jika kepala sekolahnya menikahi wanita tidak jelas asal-usulnya seperti saya? Saya benar-benar nggak bisa membayangkan tentang hal itu." Anindita menggelengkan kepala seraya memijat pelipisnya.


" Hmmm, apa Arya sudah tahu perihal tentang Rama?" tanya Lucy hati-hati.


" Belum, Ci. Tapi saya berniat segera memberitahukan Mas Arya, agar dia bisa mempertimbangkannya. Lebih baik Mas Arya mundur dari awal daripada dia harus tahu belakangan." Kata-kata yang terucap dari mulut Anindita bernada pesimis.


Lucy menepuk pundak Anindita seraya berucap, " Cici doakan yang terbaik untuk kamu, Nin."


Anindita menatap Lucy dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa haru. Melihat kebaikan Lucy mengingatkan dirinya kepada sosok Sandra.


" Terima kasih Cici sudah begitu baik terhadap saya dan juga Rama selama ini " Anindita melihat anaknya yang sedang asyik bermain dengan serius dengan mainan yang diberikan Arya di atas playmat di ruangan kerja Lucy itu


***


Waktu terus berjalan, Ricky masih disibukkan dengan tugasnya menata kembali anak perusahaan Angkasa Raya Group yang bermasalah di Kalimantan. Peliknya permasalahan yang dialami perusahaan peninggalan Pak Poetra Laksmana itu benar-benar menyita waktunya. Dia bahkan hampir melupakan urusan pribadinya.


Sementara di Jakarta, Anindita sendiri semakin gencar didekati oleh Arya. Walaupun Anindita sudah menceritakan tentang kondisi dia yang sebenarnya agar Arya mengurungkan niatnya untuk memperistrinya, namun Arya seorang pria matang beranak satu yang berusia tiga puluh enam tahun itu nampak pantang menyerah untuk meluluhkan hati Anindita yang masih terlihat ragu terhadapnya. Apalagi saat Anindita dikenalkan dengan putri Arya, sepertinya anak Arya itu tidak terlalu suka melihat Arya dekat dengan Anindita.


" Nin, akhir pekan ini Mamaku ingin ketemu sama kamu. Kamu siap 'kan bertemu dengan Mamaku?" tanya Arya saat menelepon Anindita malam hari setelah Anindita menidurkan Ramadhan. Kini Arya pun sudah tidak pernah menggunakan kata formal saya saat berbicara dengan Anindita meskipun Anindita sendiri tetap tidak merubah panggilannya.


" A-akhir pekan ini, Mas?" Anindita terkesiap mendengar rencana Arya yang akan mengenalkan dirinya dengan Mama Arya.


" Iya, nanti kita cari gaun untukmu dan Rama, ya! Akhir pekan ini kita akan makan malam bersama, ada Putri juga." Arya menyebut nama anak perempuannya.


Anindita menarik nafas yang tiba-tiba terasa sesak. Bertemu dengan keluarga Arya, terutama dengan Mama Arya terlebih dengan anak Arya yang jelas-jelas tidak menyukainya adalah hal terberat yang harus dihadapinya


" Apa yang mesti kamu takutkan? Mamaku orangnya baik, kok" Arya mencoba menenangkan.


" Tapi mama kamu belum tahu masa lalu saya, Mas." Anindita tetap merasa tak tenang meskipun Arya mencoba memberi pengertian kepada Anindita.


" Mama sudah tahu kamu single parent, Nin."


" Tapi mama Mas Arya belum tahu bagaimana asal usul Rama 'kan, Mas?"


" Kita bicarakan itu pelan-pelan, ya! Sekarang ini biarkan mama mengenal kamu lebih dulu. Kalau mama sudah mengenal kamu, aku yakin apapun masa lalu kamu, mama akan menerima kamu, Nin." Berulang kali Arya berusaha membangun kepercayaan diri Anindita agar tidak minder dengan masa lalunya.


***


" Nin, bagaimana kamu dengan Arya?" tanya Lucy saat Anindita diminta Lucy ke ruangannya karena ingin menyuruh Anindita pergi ke bank. Lucy sudah mendengar cerita dari Anindita jika Arya tidak mempermasalahkan masa lalu Anindita. Sehingga Lucy beranggapan jika Arya adalah sosok yang tepat untuk menjadi pendamping untuk Anindita dan menjadi ayah sambung untuk Ramadhan.


" Sebenarnya akhir pekan ini Mas Arya berencana mengenalkan saya dengan orang tuanya, Ci." Akhirnya Anindita jujur mengatakan rencana Arya yang menginginkan dirinya bertemu dengan Mama Arya.


" Wah ... itu bagus, dong! Lebih cepat kamu berkenalan dengan orang tua Arya lebih cepat juga kalian bisa meresmikan hubungan kalian nantinya." Lucy nampak bersemangat.


" Tapi saya masih takut, Ci."


" Apa lagi yang kamu takutkan, Nin? Arya baik gitu lho, orangnya ...."

__ADS_1


" Jika Mas Arya itu keluarga Cici, apa Cici akan rela menikahkan Mas Arya, dengan wanita yang hamil di luar nikah seperti saya?"


Lucy terdiam, dia tidak menjawab cepat apa yang ditanyakan Anindita.


" Cici tahu kamu orang baik, Nin. Itu hanya masa lalu, lagipula kamu tidak bersalah dengan kejadian masa lalu kamu itu." Lucy berusaha bersikap bijaksana.


" Cici ingin melihat kamu hidup bahagia, Nin. Tidak hanya terus menerus harus banting tulang cari uang untuk menanggung hidup kamu dan Rama. Cici rasa sudah saatnya kamu bersandar di bahu seseorang yang membuat kamu merasa nyaman. Dan Cici lihat, Arya adalah orang yang tepat untuk kamu jadikan sandaran kamu, Nin. Bukan karena kehidupan sosial dia, tapi karena sikap dia yang sangat perhatian ke kamu juga Rama."


Anindita mendesah, seandainya setiap orang yang dia hadapi sebaik Lucy, Sandra dan Koh Leo, dan bisa berpikiran terbuka seperti meraka mungkin dia tidak akan merasa berkecil hati seperti sekarang ini.


***


Anindita sedang mengepel lantai ruangan Alabama Florist saat bel pintu berbunyi disusul dengan kemunculan pria tinggi bertubuh atletis dan berwajah tampan dengan beberapa bungkus kardus donut ternama di tangannya.


" Yeah, Mas Arya datang ...!" Seru Yeti melihat kehadiran Arya. " Bawa upeti buat kita-kita 'kan, Mas?" Yeti langsung menghampiri Arya


" Iya, buat bagi-bagi pegawai di sini. Jangan lupa pisahkan buat Rama," pinta Arya seraya menyodorkan beberapa kardus donut itu.


" Wah, makasih lho, Pak Kepsek." Yeti terkekeh menerima bungkusan makanan dari Arya.


" Ini untukmu juga Rama, Nin." Arya kemudian menyerahkan 1 kantung goodie bag kepada Anindita yang masih menggenggam alat pel di tangannya sore itu.


" Kok buat Mbak Anin dapatnya beda sih, Mas?" protes Mita terkikik.


" Beda dong, Mit. Kalau buat Ayank sih, kasihnya yang spesial, dong!" Yeti menimpali.


" Harus, dong! Khusus untuk yang spesial di hati." Arya membalas cepat selorohan Mita dan Yeti seraya mengedipkan matanya ke arah Anindita, membuat Anindita mengerjapkan matanya dengan wajah yang sudah mulai merona.


*


*


*


Bersambung ...


R : Ricky mana, Thor?😠


A : Ricky aman di Kalimantan😂😂


R : Lama amat ketemunya🙄🙄


A : Afghan bilang Jodoh pasti bertemu


R : Yess, berarti Anin sama Ricky kan Thor ending nya?


A : Yang bilang kan Afghan bukan Othor 😂😂


R : 💣💣💥💥

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2