ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Tolong Jangan Sakiti Mereka


__ADS_3

Ricky melirik dari kaca spionnya ke arah Anindita yang duduk di kursi belakang Sedangkan Ramadhan tertidur dalam pangkuan Anindita


" Nyonya, saya minta maaf karena kelalaian saya memberi kabar Nyonya soal menjemput Rama." Ricky yang sedari tadi melihat Anindita hanya diam tak berkata sepatah katapun akhirnya mencoba menyampaikan rasa penyesalan kepada wanita itu.


" Sebenarnya apa mau, Tuan? Tuan ingin mempermainkan saya?!" ketus Anindita.


" Saya tidak bermaksud seperti itu, Nyonya! Saya sama sekali tidak berpikir ke arah sana," sanggah Ricky.


" Kenapa Tuan mengajarkan kebohongan terhadap anak saya?!"


" Saya tidak bermaksud mengajari Rama berbohong, Nyonya." Ricky menepis tuduhan Anindita.


" Tapi apa yang Tuan katakan kepada Rama adalah suatu kebohongan dengan mengatakan saya lupa menjemput Rama."


" Sekali lagi saya minta maaf untuk itu." Ricky kembali mengatakan penyesalannya.


" Tolong antar saya kembali ke toko bunga!" perintah Anindita, dia seolah tidak perduli kalau dia itu bukalah bos Ricky.


" Maaf, Nyonya. Saya akan antar Anda kembali ke apartemen. Bukankah kandungan Anda baru saja mengalami masalah? Sebaiknya Nyonya beristirahat saja di apartemen." Ricky meminta Anindita tidak menentang keputusannya.


" Semua ini karena Tuan penyebabnya! Kalau Tuan tidak mengerjai saya, saya tidak akan buang waktu sia-sia ke sekolah Rama!" Anindita mencebikkan bibirnya, dan ekspresi wajah Anindita terekam mata Ricky dari kaca spion. Entah kenapa ekpresi wajah memberengut Anindita membuat sudut bibir Ricky tertarik ke atas.


Ricky pun memilih tak membalas perkataan Anindita karena dia tahu jika emosi Anindita saat ini tidak stabil karena faktor kehamilannya. Dan Anindita pun memilih kembali diam tak ingin berdebat lagi dengan Ricky.


Sesampainya di apartemen, Ricky lantas membawa Ramadhan ke kamarnya sementara Anindita sendiri memilih ke kamar dia karena dia ingin melaksanakan sholat Dzuhur. Selepas itu dia berniat minum obat dari dokter, namun dia teringat jika saat ini dia belum sempat makan siang. Anindita teringat jika Cika menyimpan roti di meja makan, akhirnya dia pun memilih beranjak ke ruang makan.


" Bagus, Den. Saya ingin mereka merasakan hasil dari apa yang telah mereka lakukan terhadap Anindita."


Anindita menghentikan langkahnya saat dia mendengar namanya disebut Ricky yang dia duga pria itu sedang berbincang dengan seseorang di telepon dari dalam Ramadhan yang pintunya tidak tertutup rapat


" Buat mereka jatuh miskin sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan di manapun! Aku tidak ingin mereka bersenang-senang di atas penderitaan yang dialami oleh ibu dari anakku!"


Anindita menelan salivanya mendengar ancaman dari Ricky. Lalu siapa yang Ricky maksud dengan mereka itu? Anindita mencoba menduga-duga.


" Soal rumah tinggal Pak Arya, saya ingin rumah itu kita ambil alih. Karena mereka pasti akan menguasai dan menjual rumah itu jika mereka jatuh miskin."

__ADS_1


Anindita terperanjat, matanya terbelalak lebar bahkan mulutnya pun ikut terbuka saat dia mendengar nama Arya dibawa-bawa oleh Ricky. Seketika itu juga dugaan tentang mereka itu mengarah kepada adik-adik dari suaminya.


Mengingat kata-kata yang terdengar dari Ricky jika pria itu ingin membuat adik-adik iparnya jatuh miskin seketika Anindita kembali terkesiap. Dengan cepat dia membuka lebar pintu kamar Ramadhan yang tertutup rapat.


" Apa yang ingin Tuan lakukan kepada adik-adik suami saya?!" hardik Anindita, bagaimanapun perlakuan mereka terhadapnya tapi dia tak suka melihat Ricky ingin mencelakai mereka.


" Nyonya?" Ricky nampak terkesiap saat menyadari Anindita sudah berdiri di belakangnya.


" Apa yang Tuan rencanakan sebenarnya?!" selidk Anindita menatap curiga.


" Saya ... saya hanya ingin memberikan pelajaran kepada mereka, karena mereka telah bersikap keterlaluan terhadap Anda, Nyonya." Ricky memberikan alasan yang sebenarnya.


" Tidak! Saya tidak ingin Tuan menyentuh mereka! Saya tidak ingin Tuan menyakiti adik-adik ipar saya!" geram Anindita.


" Adik ipar? Apa mereka itu menganggap Anda ini sebagai kakak ipar mereka? Apa adik ipar itu tega mengusir istri dari kakaknya yang sedang hamil?!" Kini Ricky yang nampak emosi karena Anindita justru membela adik-adik iparnya yang sudah terang-terangan mendzoliminya.


" Apapun perlakuan mereka terhadap saya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan! Jadi berhentilah ikut campur masalah yang bukan menjadi urusan Tuan!!" bentak Anindita tak kalah kencang sambil menatap tajam ke arah Ricky.


" Selama bersangkutan dengan Rama, maka hal itu akan menjadi urusan saya, Nyonya! Anda adalah Ibu dari anak saya, saya tidak akan membiarkan satu orang pun yang berani menyakiti orang yang berhubungan darah dengan anak saya!" tegas Ricky mendekat ke arah Anindita hingga jarak mereka mengikis dan sorot mata seolah ingin menentang apa yang Anindita ucapkan.


" Tolong jangan sakiti mereka. Bagaimanapun juga mereka adalah adik-adik Mas Arya. Saya tidak ingin mereka menderita karena Tuan merasa dendam terhadap mereka." Anindita yang emosional tidak dapat membendung air matanya, akhirnya cairan bening itu menetes di pipinya dan menangis seraya menundukkan kepalanya.


Ricky yang menyadari ucapannya telah membuat Anindita menangis langsung terkesiap, bahkan tangannya refleks ingin mengusap air mata Anindita.


" Nyonya, maafkan saya ..." sesal Ricky.


" Ssshhh ... aduh..." Tiba-tiba saja Anindita merasakan perutnya kembali kencang hingga dia memegangi perutnya


" Nyonya, Anda kenapa?" Ricky merasa khawatir.


Anindita tidak menanggapi pertanyaan Ricky. Dia malah berjalan keluar dari kamar Ramadhan ingin kembali ke kamarnya seraya meringis menahan rasa nyeri di perutnya.


" Aaaakkhh ..." Anindita kembali merintih hingga dia menghentikan langkahnya.


" Nyonya, Nyonya kenapa? Masih terasa sakit? Sebaiknya Nyonya jangan banyak bergerak." Dengan cepat Ricky mengangkat tubuh Anindita hingga membuat Anindita terkesip.

__ADS_1


" T-Tuan, a-apa yang Tuan lakukan? Turunkan saya!" Anindita meronta meminta Ricky segera menurunkannya. Namun Ricky seakan tidak perduli akan protes yang dilakukan oleh Anindita.


Ricky membawa Anindita ke kamar wanita itu.


" Mana obat yang tadi diberikan oleh dokter?" tanya Ricky setelah merebahkan tubuh Anindita ke atas tempat tidurnya.


Anindita yang masih terkejut karena sikap Ricky sampai tidak fokus dengan pertanyaan Ricky. Namun Ricky yang melihat plastik obat di atas nakas langsung mengambil obat itu lalu berjalan kembali dan duduk di tepi tempat tidur Anindita.


" Mana yang mesti Anda minum?" tanya Ricky menunjuk beberapa plastik obat yang di pegang.


" Semua ..." Akhirnya Anindita menyahuti pertanyaan Ricky..


Ricky membaca aturan minum obat yang dipegangnya.


" Apa Nyonya sudah makan?" tanya Ricky.


Anindita menggelengkan kepala pelan.


Ricky melirik arloji di tangannya yang hampir menunjukkan pukul dua siang dan dia mendengus.


" Ini sudah hampir jam dua, Anda sebaiknya jangan telat makan, Nyonya. Kasihan bayi yang ada di perut Nyonya." Ricky menyanyangkan sikap Anindita yang seakan tidak memperhatikan kesehatannya.


Ricky lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Kamu di mana, Cika? Sudah jam segini kamu masih belum sampai di tempat?!" Ada nada kesal dari ucapannya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2