ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bonchap 5 -- Seharusnya Tidak Bersikap Egois


__ADS_3

Ricky menatap Anindita yang baru saja melepas ikat rambut yang mengikat rambut panjangnya. Anindita kemudian membuka jubah tidurnya hingga saat ini dia hanya mengenakan lingerie berwarna baby blue berbahan satin sebatas lutut.


Anindita kemudian berjalan mendekati arah tempat tidur di mana Ricky sudah menunggu dengan senyuman di bibirnya. Ricky lalu merentangkan tangannya, dia seakan menyiapkan lengannya untuk menjadi sandaran kepala istrinya itu.


Anindita lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala bersandar di lengan kokoh Ricky.


" Bagaimana Rama hari ini? Apa dia sudah bisa beradapsi dengan sekolahnya?" tanya Ricky, karena hari ini Ramadhan sesudah mulai sekolah SD.


" Iya, dia senang sekali karena bisa berada di sekolah yang baru, tapi banyak teman-teman TK dia yang juga sekolah di sana. Jadi Rama tidak begitu kesulitan beradaptasi dengan mereka," sahut Anindita menjelaskan.


" Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana Arka? Dessy bilang apa?" tanya Ricky, karena beberapa hari ini Arka nampak rewel dan deman.


" Nggak apa-apa, itu karena efek gigi Arka yang sudah mulai banyak yang tumbuh." Anindita menerangkan apa yang dikatakan oleh adik iparnya.


" Hanya itu? Tidak ada masalah dengan kesehatan Arka?" Ricky benar-benar memperhatikan Arka layaknya putranya sendiri.


" Mbak Dessy bilang sih seperti itu." Anindita melirik ke arah suaminya.


Ricky menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang dijelaskan Anindita.


" Anin, kita sudah setahun lebih menikah, apa kamu belum ada tanda-tanda hamil lagi?"


Deg


Anindita menelan salivanya saat Ricky menanyakan soal kehamilan. Dia memang tidak pernah menceritakan tentang alat kontrasepsi yang dia pakai selama dia menikah.


" Dulu waktu aku melakukan kesalahan, kamu langsung hamil Rama. Saat menikah dengan Pak Arya, tidak lama kamu pun hamil Arka."


" Maaf, Mas. Aku memang memakai alat kontrasepsi." Anindita langsung melakukan pengakuan tentang keputusannya menunda kehamilan.


Ricky terlihat terkejut dengan pengakuan Anindita, bahkan dengusan jelas terdengar di telinga Anindita.


" Kenapa kamu memakai alat kontrasepsi? Apa kamu tidak ingin mempunyai anak lagi dariku?" Nada bicara Ricky kini terdengar serius. Dia bahkan merubah posisinya hingga kini terduduk.

__ADS_1


" Maafkan aku, Mas." sesal Anindita. " Aku hanya tidak ingin buru-buru hamil karena Arka masih kecil." Anindita menyebutkan alasannya.


" Kenapa sebelumnya kamu tidak mengatakan hal itu kepadaku? Kenapa tidak berdiskusi terlebih dahulu saat ingin mengambil keputusan tentang hal ini?" Ricky terlihat kecewa dengan tidak terbukanya Anindita kepada dirinya.


Anindita hanya terdiam menunduk mendengar perkataan Ricky. Dia merasa salah karena itu dia tidak menyanggah ucapan Ricky.


" Kamu tahu, Anin? Pernikahan kita ini bukan sekedar main-main. Bukan hanya melakukan tanggung jawab atas kesalahan masa lalu aku. Tapi karena aku sungguh-sungguh ingin membangun mahligai rumah tangga didasari dengan saling percaya dan terbuka satu sama lain."


Ricky kemudian bangkit dari tempat tidur.


" Kamu tidurlah lebih dahulu." Ricky menyuruh Anindita untuk tidur terlebih dahulu, sementara dia melangkah ke luar kamar menuju ruang kerjanya.


Anindita menatap punggung Ricky yang berjalan menjauh dari pandangannya. Dia benar-benar merasakan jika suaminya saat ini sedang dalam keadaan marah. Tidak ada yang salah jika dia menunda kehamilan karena Arka masih kecil, masalahnya dia tidak jujur dan tidak meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Ricky. Itulah yang membuat Ricky merasa kecewa kepadanya. Dan kemarahan Ricky yang menjauh darinya seketika membuat hati Anindita sedih hingga tanpa terasa setitik air mata menetes di pipinya.


Anindita lalu mengambil Arka yang sedang tidur dari box nya. Dia lalu melangkah ke kamar Ramadhan. Anindita melihat anak sulungnya sudah tertidur pulas di kasur. Kemudian dia mengeser posisi tidur Ramadhan setelah meletakan Arka terlebih dahulu di tengah tempat tidur. Setelah itu dia ikut bergabung dengan kedua anaknya itu di atas kasur single berukuran seratus dua puluh sentimeter itu. Anindita mengulurkan lengannya memeluk tubuh Arka dan Ramadhan, sementara air mata terus mengalir di pipinya tanpa bisa dibendung.


Sementara itu di ruang kerjanya, Ricky nampak menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kaki berselonjor di atas meja. Dia sungguh sangat kecewa dengan sikap Anindita karena keputusan sepihak Anindita yang menunda kehamilan tanpa persetujuan darinya.


Setelah setengah jam dia merenung di ruang kerjanya, Ricky memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Dua puluh menit berselang Ricky menunggu Anindita kembali, namun istrinya tak juga nampak memasuki kamar hingga Ricky menoleh ke arah pintu kamarnya. Ricky lalu bangkit dan melangkah ke luar kamar untuk menuju ke arah dapur di mana dia menduga istrinya saat ini berada di sana.


Ricky mengeryitkan keningnya saat dia tidak mendapati sosok Anindita di dapur, hingga dia memutuskan kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar Ricky melihat ke arah box tempat tidur Arka, dia tidak menjumpai anak sambungnya di sana. Ricky kemudian menoleh ke arah pintu yang menghubung ke kamar Ramadhan.


Ricky membuka pintu kamar penghubung dengan kamar Ramadhan secara perlahan, tentu saja dia tidak ingin membangunkan putranya itu yang mungkin sedang terlelap. Dan saat pintu terbuka, dia mendapati istrinya dan kedua anak-anak tengah tertidur dalam satu kasur yang sempit.


Ricky menghela nafas dalam-dalam. Ada rasa penyesalan dalam hati Ricky karena sikapnya tadi yang terlalu berlebihan hingga Anindita memilih tidur bersama anak-anaknya.


Ricky kini berjalan mendekat ke tempat tidur Ramadhan.


" Anin, bangun ... kenapa kamu tidur di sini?" Ricky menepuk lengan Anindita mencoba untuk membangunkan istrinya itu yang sudah terlelap.


" Anin, ayo pindah! Kasihan Arka dan Rama tidurnya sempit berdesakan seperti ini." Ricky kembali membangunkan Anindita.

__ADS_1


" Anin ...."


Anindita akhirnya terbangun setelah untuk ketiga kalinya Ricky membangunkannya.


" M-mas ..." Anindita nampak terkaget karena Ricky kini sudah ada di sampingnya.


Tak beda dengan Anindita, Ricky pun merasa kaget karena dia mendapati mata sembab Anindita yang dia pastikan jika Anindita menangis tadi, dan dialah penyebab Anindita menangis.


.


Tangan Ricky lalu menangkup wajah cantik Anindita hingga kini jarinya mengusap air mata yang masih tersisa di sudut mata Anindita.


" Maafkan aku, Mas. Aku nggak jujur sama kamu tentang kontrasepsi yang aku pakai." Anindita mengucap kembali rasa penyesalannya.


" Aku yang harusnya minta maaf, Anin. Aku mestinya bisa mengerti kamu. Harusnya aku tidak bersikap egois. Aku minta maaf, ya?" Ricky kini menghujani wajah Anindita dengan kecupan. hingga membuat Anindita malah tersedu, karena dia yang berpikir jika Ricky akan marah besar ternyata itu tidak terjadi.


" Hei, kenapa malah menangis? Aku sudah minta maaf. Kita lupakan pembahasan yang tadi, oke?!" Ricky lalu memeluk Anindita dan menenggelamkan tubuh Anindita kedalam dekapannya hingga Anindita merasa tenang dan berhenti terisak.


" Kita kembali ke kamar sekarang." Ricky lalu mengangkat kembali tubuh kecil Arka dan membawa bocah cilik darah daging Arya itu kembali ke box tempat tidurnya. Setelah itu dia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan memeluk tubuh Anindita seolah ingin memberikan rasa nyaman kepada istrinya itu.


*


*


*


Untuk lanjutan kisah Anin & Ricky, silahkan tengok di Novel HOW CAN I NOT ❤️ YOU,



Oh ya yang belum mampir di kisahnya Rayya juga Azkia silahkan mampir, ya.


__ADS_1



Happy Reading♥️


__ADS_2