ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Pratama Arka Rahardja


__ADS_3

Anindita menatap haru wajah bayi mungil yang saat ini sedang dalam pangkuan lengannya. Bayi yang lahir dari buah cintanya dengan sang suami tercintanya.


" Anak kita sudah lahir, Mas. Pasti Mas juga bisa lihat anak kita. Dia sangat tampan seperti Mas Arya." Anindita mengusap kulit halus bayinya dengan punggung jarinya.


Bayi kecil itu nampak tidak terpengaruh dengan apa yang diucapkan Anindita. Dia justru nampak lahap menyesap ASI dari pu ting Anindita.


" Dedek lapar ya, Sayang?" Anindita terkekeh melihat anaknya itu terlihat rakus menyesap ASI.


Sementara Ricky yang hendak masuk ke dalam ruang perawatan Anindita langsung menghentikan langkahnya saat dia melihat Anindita sedang menyu sui bayinya.


" Ne nen nya ganti sebelah kiri ya, Sayang." Anindita memindahkan posisi bayinya kemudian dia membuka payu dara sebelah kirinya hingga saat itu pemandangan kedua bukitnya terlihat jelas di mata Ricky.


Ricky sampai menelan salivanya mendapati pemandangan bagian dada Anindita yang selama ini selalu menjadi godaan untuknya kini nampak jelas terlihat tanpa penutup hingga memperlihatkan dua bongkahan putih mulus dengan puncak berwarna pink.


" Mama ..." Suara teriakan Ramadhan dari arah pintu membuat Ricky dan Anindita terperanjat. Terlebih Anindita yang terkejut mendapati Ricky yang berdiri di dalam ruangan rawat dia. Artinya pria itu melihat saat dia memberikan ASI kepada bayinya. Anindita pun segera menarik selimut dan menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.


" Ma, dedek bayinya sudah keluar, ya?" Ramadhan berlari mendekat ke arah Mamanya.


" Assalamualaikum ...."


Suara Mama Arya dan Tita terdengar dari pintu kamar rawat inap Anindita.


" Waalaikumsalam." Anindita dan Ricky menjawab salam dari Mama Arya dan Tita.


" Ricky, terima kasih kamu sudah menemani Anin melahirkan." Mama Arya meraih tangan Ricky saat melewati Ricky yang masih berdiri di dekat pintu.


" Ah, i-iya, Bu." Ricky nampak gugup karena ketahuan oleh Anindita jika dia seolah sedang mengintip aktivitas wanita itu.


" Ma, Rama mau cium adik bayinya boleh nggak, Ma?" Ramadhan lalu mencoba naik ke atas brankar.


" Hati-hati nanti jatuh, Rama." Anindita mencoba menahan tubuh Ramadhan agar tidak terjatuh.


" Pelan-pelan ya cium adik bayinya." Anindita meminta agar Ramadhan mengecup pelan pipi adiknya.


" Anin, Mama mau lihat cucu Mama." Mama Arya mendekat ke arah Anindita. Sementara Ricky memilih keluar untuk menormalkan detak jantungnya karena penampakan yang didapatinya secara tidak terduga.


" Mbak, bisa tolong angkat dedek bayinya ke Mama?" Anindita meminta bantuan Tita untuk memindahkan bayi yang ada di pangkuan lengannya ke pangkuan Mama mertuanya. " Rama geser dulu, Sayang. Eyang mau lihat dedek bayinya." Anindita pun meminta agar Ramadhan berpindah tempat.

__ADS_1


" Ganteng banget sih bayinya, Bu. Mirip seperti Pak Arya." Tita berkomentar saat melihat wajah putra kedua Anindita itu.


" Mana cucu Eyang? Mirip seperti Papa Arya katanya? Iya Eyang, dedek 'kan anak Papa Arya." Mama Arya yang menerima adik Ramadhan itu langsung mengajak ngobrol bayi mungil itu.


" Kamu sudah kasih nama bayinya, Nin?" tanya Mama Arya.


" Belum Ma, Mama saja yang kasih namanya." Anindita menyahuti.


" Mama kasih nama Pratama Arka Rahardja saja ya, Nin."


Anindita terkesiap seraya menoleh ke arah Mama mertuanya mendengar nama Pratama terselip di nama anaknya itu.


" Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Ricky. Ricky juga akan menambahkan nama Pratama di belakang nama Ramadhan. Ricky bilang, dia ingin semua anak-anak kamu memakai nama Pratama sebagai bukti kalau dia akan menyanyangi anak-anak kamu tanpa membeda-bedakan." Mama Arya kembali memberikan dukungan kepada Ricky membuat Anindita hanya bisa pasrah menerima apa yang akan terjadi kelak.


***


Anindita memperhatikan sesosok tubuh yang berdiri tepat di samping box bayi Arka. Sosok yang sangat dia kenal.


" Mas Arya ..." Anindita mencoba mendekat ke bayangan yang menyerupai suaminya itu. Sosok itu pun menoleh ke arahnya.


Anindita memperhatikan wajah suaminya yang nampak cerah dan bersinar, bahkan senyuman tidak pernah luntur tersimpul di bibir pria tampan itu.


Arya hanya tersenyum menatap Anindita lalu menatap ke baby Arka yang nampak terlelap.


" Mas ...."


Arya kembali menoleh ke arah Anindita lalu mengusap wajah Anindita perlahan.


" Berbahagialah, Anin ..." ucap Arya kemudian Arya mengecup lembut kening Anindita hingga membuat Anindita memejamkan matanya.


" Mas ...."


Anindita terkesiap saat dia kembali membuka matanya bayangan Arya tiba-tiba hilang dari hadapannya.


" Mas Arya ...." teriak Anindita memanggil nama suaminya itu.


" Anin ... bangun, Anin ...."

__ADS_1


Anindita tersadar dari tidurnya saat dia mendengar suara Ricky memanggil namanya.


" Astaghfirullahal adzim ...."


" Kamu bermimpi?" Ricky menyodorkan air mineral ke arah Anindita.


Anindita menoleh ke arah Ricky.


" Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Anindita, karena sejujurnya setelah Ricky melihat bagian tubuhnya, Anindita merasa malu berdekatan dengan Ricky.


" Ibu Fatma, Tita dan Rama sudah pulang selepas Maghrib tadi. Saya yang akan menemani kamu di sini sampai pulang besok pagi. Nanti kalau kau perlu sesuatu suster akan membantu kamu."


" Kenapa Bapak yang menemani saya? Bapak ingin mengintip saya lagi?" ketus Anindita menyindir.


" Hmmm, maaf tadi itu saya tidak sengaja."


" Tidak sengaja kenapa tidak buru-buru pergi?" gumam Anindita menggerutu.


" Bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya? Berarti tidak masalah, kan?" Ricky menarik satu sudut bibirnya ke atas membuat Anindita mendelik seraya mencebikkan bibirnya.


" Oh ya, soal nama anak kamu, kamu nggak keberatan 'kan aku menambah namaku di nama Arka? Aku juga akan menambahkan nama Rama menjadi Ramadhan Syahrizky Pratama. Setelah kita menikah anak kamu adalah anak aku juga, jadi aku akan memberikan namaku di nama anak-anakmu."


" Terserah Bapak saja," sahut Anindita memalingkan wajahnya.


" Setelah ini saya akan suruh orang untuk menyiapkan dokumen untuk persiapan pernikahan kita."


Kini wajah Anindita menoleh kembali ke arah Ricky.


" Bapak ini apa tidak bisa mencari wanita lain? Kenapa ngebet sekali ingin menikah dengan saya padahal saya jelas-jelas tidak mencintai Bapak," ketus Anindita, dia masih merasa kesal karena Ricky sudah melihat secara langsung kedua aset berharganya.


" Kenapa saya tidak memilih wanita lain? Itu karena mereka tidak bisa membuat saya berkeinginan untuk menikah. Dan kenapa saya memilih kamu? Kamu sudah tahu jelas alasannya. Karena saya punya anak dari kamu dan kamu membutuhkan saya untuk membesarkan anak-anak kamu. Masalah kamu tidak mempunyai rasa cinta terhadap saya, bagi saya itu bukanlah masalah. Karena saya yakin suatu saat nanti saya akan bisa membuat kamu mencintai saya sebagai suami kamu dan juga sebagai ayah dari anak-anak kamu." Ricky berucap seraya mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Anindita hingga kini membuat wajah mereka sangat berdekatan satu sama lain dan seketika itu juga membuat hati Anindita berdebar-debar dengan detak jantung yang berirama cukup kencang.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2