ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Seperti Burung Dalam Sangkar


__ADS_3

Teettt


Anindita bergegas menatap layar ponselnya yang tersambung ke CCTV di depan pintu saat terdengar pintu bel berbunyi untuk melihat siapa tamu yang datang. Dan wajah Anindita nampak berbinar saat mengenali siapa yang ada di depan pintu apartemen saat ini. Anindita segera menuju pintu untuk membuka dan mempersilahkan tamu yang berkunjung masuk.


" Ci Lucy?" Anindita langsung menyambut kedatangan mantan bosnya itu.


" Hai, Nin. Kamu apa kabar?" sapa Lucy memeluk Anindita.


" Alhamdulillah saya baik-baik saja, ayo masuk, Ci." Anindita mempersilahkan Lucy masuk ke dalam ruangan tamu.


" Rama mana, Nin?" tanya Lucy kemudian.


" Rama belum datang, Ci. Masih sekolah ..." sahut Anindita.


" Ci Lusy mau minum apa?" Anindita menawarkan minuman kepada Lucy.


" Nggak usah, Nin. Biar saja, ini sudah ada air minum." Lucy menunjuk cup air mineral yang tersedia di atas meja.


" Nggak apa-apa, Ci. Nanti saya ambilkan dulu." Anindita kemudian melangkah ke arah dapur dan menyediakan orange juice.


" Rama sekolah diantar siapa, Nin?" tanya Lucy kemudian.


" Sama Mbak Tita, Ci." Anindita menyahuti.


" Tita yang dulu kerja di rumah Pak Arya?" tanya Lucy terkesiap.


" Iya, Ci." Anindita berkata lirih, tiap kali terdengar nama suaminya itu seketika itu juga hatinya berubah sendu.


" Lalu pegawai yang sebelumnya kerja di sini masih ada?"


" Cika? Iya masih, Ci. Tapi sekarang dia nggak menginap di sini."


" Oh, gitu ...."


" Toko gimana, Ci?"


" Puji Tuhan selalu ramai orderan, Nin."


" Alhamdulillah kalau begitu, Ci." Anindita ikut merasa senang mendengar tempat dulu dia bekerja selalu ramai pesanan. Dia selalu percaya akan ada balasan kebaikan atas setiap kebaikan yang kita perbuat. Seperti halnya dengan mantan bosnya itu yang selama ini sudah banyak membantunya tanpa memandang dirinya hanya pegawai toko biasa.


" Iya, Nin. Ini juga yang ingin Cici sampaikan ke kamu."


Anindita mengeryitkan keningannya.


" Apa itu, Ci?" Anindita penasaran.

__ADS_1


" Cici rencananya mau buka cabang Alabama di sini, di ruko bawah apartemen ini." Lucy menyampaikan rencana yang sudah diatur Ricky sejak Anindita pindah ke apartemen itu.


" Oh ya? Wah, Alhamdulillah kalau Alabama buka cabang di sini." Anindita pun ikut merasa senang.


" Iya, kalau kamu mau kamu bisa urus cabang Alabama di sini. Nanti Mita yang akan bantu kamu di sini." Lucy menerangkan.


" Serius, Ci?" Anindita semakin sumringah mendengar tawaran yang Lucy tawarkan.


" Iya, gimana? Kamu mau?" Lucy kembali menawarkan.


" Mau, Ci. Mau banget ..." Anindita dengan cepat menyanggupi.


" Ya sudah kalau begitu kamu bisa mulai bekerja besok, karena lusa kita akan Grand Opening." Ucapan Lucy membuat Anindita terperanjat.


" Besok?" Anindita tidak menyangka jika secepat itu dia kembali dipekerjakan di tempat baru.


" Memangnya tokonya sudah jadi, Ci?" tanya Anindita.


" Sudah dong, Nin. Kalau belum mana mungkin Cici nawarin kamu." Lucy lalu membuka tabletnya lalu dia menunjukkan beberapa gambar toko baru Alabama Florist yang tanpa Anindita sadari jika sebenarnya dialah yang menjadi pemilik toko itu.


" Wah, keren ini, Ci. Makasih ya, Ci. Sudah kasih saya kesempatan buat bekerja lagi di Alabama. Tempatnya lebih dekat dengan tempat tinggal, saya harap Tuan Ricky tidak melarang saya bekerja lagi." Anindita memang berharap Ricky mengijinkan dirinya bekerja karena tempat kerjanya lebih dekat dengan apartemen.


" Iya, semoga Tuan Ricky mengijinkan." Lucy tersenyum melihat Anindita penuh harap, karena Anindita tidak tahu jika semua ini adalah rencana Ricky.


***


" Bicara apa, Nyonya?" tanya Ricky menghentikan permainan gamenya.


" Yeay, Rama menang, Papa kalah ...!" Ramadhan bersorak saat Ricky menghentikan permainannya membuat Ricky tersenyum seraya mengacak rambut anaknya itu.


" Ada apa, Nyonya?" tanya Ricky seraya bangkit dari duduknya.


" Hmmm, saya mau minta ijin Tuan, karena saya berniat kembali bekerja karena Ci Lucy membuka cabang Alabama di ruko di bawah apartemen ini." Anindita meminta ijin kepada Ricky walaupun dia berpikir sebenarnya tidak perlu meminta ijin kepada Ricky, karena dia tidak terikat hubungan apa-apa dengan pria itu.


" Oh ya? Membuka cabang di sini?" Ricky berpura-pura tidak tahu.


" Iya, Tuan."


" Nyonya 'kan sudah berjanji tidak akan bekerja jika saya mempekerjakan Tita di sini."


" Tapi, Tuan ... "


" Mama Anin sama Papa Ricky kenapa sih panggilnya Tuan sama Nyonya? Kenapa nggak kaya Rama saja panggilnya? Papa Ricky panggil Mama Anin ... Mama, Mama Anin panggil Papa Ricky ... Papa."


Ricky dan Anindita menoleh ke arah anaknya bersamaan.

__ADS_1


" Hmmm, saya permisi, Tuan." Anindita memilih segera meninggalkan kamar anaknya karena dia tidak ingin terjebak dengan pertanyaan yang diajukan anaknya itu.


Sesampainya di kamar, Anindita kemudian menutup pintu kamarnya dan meraih figura foto pengantinnya.


" Mas, aku nggak mengerti belakangan ini Rama selalu meminta hal-hal yang aneh. Aku bingung menjelaskan ke dia, Mas." Anindita mengusap gambar wajah Arya.


" Apa keputusan aku ikut tinggal di tempat ini salah, Mas? Mas aku benar-benar bingung sekarang." Anindita mendekap erat foto pernikahannya dengan Arya dibarengi air mata yang meleleh di pipinya.


***


Setelah Ricky mengantar Rahmadhan berangkat sekolah bersama Tita, Anindita bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam Alabama Florist, karena hari ini dia sudah mulai bekerja di sana. Anindita tidak memperdulikan protes yang dilakukan Ricky semalam yang melarangnya untuk bekerja di sana.


" Bagaimana, Nin?" tanya Lucy kepada Anindita.


" Ya ampun, Ci. Dua minggu ini terasa seperti burung dalam sangkar sampai nggak tahu kalau Ci Lucy buka cabang di sini, soalnya aku nggak pernah turun ke bawah, Ci. Di apartemen saja." Anindita terkikik.


" Seperti dipingit ya, Nin?"


" Bukan dipingit, Ci! Seperti di penjara, karena saya dipaksa mengikuti kemauan Tuan Ricky," keluh Anindita


" Itu karena Tuan Ricky sangat mengkhawatirkan kamu yang sedang hamil ini, Nin." Lucy mengusap perut Anindita.


" Mungkin Tuan Ricky dulu tidak bisa memberi perhatian saat kamu hamil Rama, jadi sekarang dia memberi perhatian kepada bayi yang sedang kamu kandung ini. Karena saat ini tidak ada Pak Arya yang mendampingi kamu, Nin." Lucy mengusap punggung Anindita.


Anindita menghela nafas yang terasa berat.


" Tapi saya takut, Ci." Anindita menyampaikan perasaan tak nyamannya berada dekat dengan Ricky.


" Apa yang kamu takutkan, Nin?" tanya Lucy.


" Saya takut jadi omongan tak enak, karena kami terlihat dekat. Saya baru kehilangan Mas Arya, saya nggak mau orang beranggapan miring tentang saya, Ci." cemas Anindita.


" Jangan terlalu perdulikan omongan jelek orang lain, Nin. Kalau kalian dekat itu hal yang wajar karena kalian adalah orang tua Rama."


" Tapi saya merasa tidak enak menerima kebaikan Tuan Ricky, Ci. Dia terlalu baik bahkan terlalu berlebihan kebaikannya, saya takut ...."


Ddrrtt ddrrtt


Anindita mendengar ponselnya berbunyi membuat dia akhirnya menjeda ucapannya dan mengambil ponsel dari slingbag nya. Dia mendapati nama Rachel yang muncul di layar ponselnya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2