
Ricky memperhatikan Ramadhan yang sedang asyik bermain air di bathtub dengan beberapa mainan yang mengapung di busa yang
sudah memenuhi permukaan bagian atas bathtub.
" Rama, ayo sudah mandinya, Nak. Katanya mau main di mall." Ricky langsung mengangkat tubuh Ramadhan dari bathtub dan membilas tubuh Ramadhan dengan air shower membuat Ramadhan terkekeh.
" Om, Rama juga mau punya kamar mandi kaya gini enak buat berendam."
Ricky mengeryitkan keningnya seraya tersenyum.
" Rama ingin punya kamar mandi seperti ini? Rama mau Om buatkan rumah yang kamar mandinya seperti ini?" tanya Ricky.
Ramadhan dengan cepat menggeleng.
" Lho, kenapa? Tadi Rama bilang ingin punya kamar mandi begini?"
" Kan sudah ada punya Om Arya. Om Arya 'kan sebentar lagi jadi Papa Rama, Om."
Ricky terdiam, jika Ramadhan menyinggung soal perihal itu, rasanya dia ingin berucap dengan lantang dan mengatakan kepada Ramadhan jika dia adalah papanya, Papa dari Ramadhan. Namun dia harus menahan itu demi bisa tetap mempunyai kesempatan untuk bersama buah hatinya itu.
Sementara itu di dalam sebuah mall, Arya dan Anindita memasuki sebuah toko perhiasan.
" Selamat siang, ada yang bisa kami bantu? Ingin mencari perhiasan apa Bapak, Ibu?" tanya ramah seorang pelayan toko perhiasan yang dikunjungi Arya selepas pulang dari kantor WO Tante Tiwi.
" Kami sedang mencari cincin pernikahan, Mbak." Arya yang terlihat nampak aktif mempersiapkan segala sesuatunya karena Anindita merasa dia tidak mengerti apa-apa, apalagi jika harus melihat jumlah nominal yang dikeluarkan dia hanya mampu menelan salivanya.
" Oh, maaf, Mas ... silahkan di sebelah sini." Pelayan ini mengarahkan Arya dan Anindita untuk duduk di standing chairs di depan etalase yang memajang banyak cicin couple.
" Sal, sedang ada konsumen, nggak? Tolong layani Mas sama Mbak ini," ujar pelayan toko itu kepada rekannya.
" Silahkan, nanti rekan saya yang akan melayani Mas dan Mbak nya." Pelayan tadi akhirnya meninggalkan Arya dan Anindita setelah salah satu rekannya melayani mereka.
" Mau cari cincin pernikahan model apa, Mbak? Silahkan di sini ada model-modelnya, atau mau costum sendiri?" tanya pelayan itu.
" Kita cari yang ada di sini saja ya, Nin?" Arya meminta pendapat Anindita.
" Iya, terserah Mas Arya saja." Anindita pasrah menuruti permintaan Arya.
" Kamu suka yang mana, Nin?" tanya Arya kemudian.
" Mas Arya saja yang pilih, aku ikut saja." Anindita tentu saja tak berani menentukan pilihan karena dia takut jika pilihannya terlalu mahal harganya.
Akhirnya Arya pun memilih model sepasang cincin bertahtakan berlian.
" Kamu suka yang ini?" Arya kemudian memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Anindita. " Cantik dipakai di jari kamu, Nin."
Anindita hanya bisa tersipu mendengar pujian dari calon suaminya itu.
" Saya pilih yang model ini saja ya, Mbak!" Arya kemudian menentukan pilihannya.
" Mau pakai costum nama siapa di cincinnya?" tanya pelayan itu.
__ADS_1
" Arya dan Anindita." Arya menggenggam tangan Anindita kembali setelah melepas cincin yang dia cobakan ke jari Anindita.
" Baik, sebentar saya hitung dulu ya, Mas." Pegawai itu kemudian menghitung dengan mesin kalkulatornya.
" Dua puluh enam juta lima ratus dua puluh ribu rupiah semuanya, Mas."
Anindita langsung membulatkan matanya saat mendengar nominal dari cincin kawin yang dipilihkan Arya. Untuk orang seperti dirinya uang segitu cukup untuk menghandle biaya pernikahan secara keseluruhan. Tapi ini, uang sebesar itu hanya digunakan untuk membeli sepasang cincin berlian saja.
" Oke, Mbak. Kira-kira berapa lama cincin selesainya?" Arya mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.
" Sekitar dua mingguan paling lambat, Mas." Pelayan itu menjawab. " Ini mau DP dulu atau ...."
" Bayar lunas saja." Arya memotong pertanyaan di pelayan toko.
Sementara Anindita mendesah mengetahui begitu mudahnya Arya mengeluarkan uang puluhan juta tanpa pikir panjang.
" Mas, apa nggak terlalu mahal harga cincinnya?" tanya Anindita.
" Untuk wanita spesial seperti kamu, harus diberikan yang spesial juga. Tapi maaf, hanya seharga itu yang mampu aku beri."
" Ya ampun, Mas. Itu sudah berlebihan sekali untukku. Bagaimana mungkin kamu berkata hanya?"
" Aku akan berikan apa yang aku punya untukmu, Nin." Arya lalu mengecup jemari halus tangan Anindita membuat Anindita langsung terkesiap apalagi saat dia menoleh ke kiri dan kanan banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya.
" Mas, malu itu dilihatin orang." Wajah Anindita seketika merona karena saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
Arya langsung mengedar pandangan ke sekitar dan dia memang melihat beberapa orang sedang berbisik seraya tersenyum-senyum menatapnya.
" Mas ..." Anindita melotot ke Arya karena Arya malah bercanda hingga Anindita dibuat semakin merasa malu.
" Silahkan, Pak. Nomer PIN nya." Pelayan itu menyodorkan mesin EDC ke Arya dan Arya pun mengetikan nomer PIN kartu debitnya.
" Ini kartu ATM dan ini notanya. Jika sudah selesai nanti kami kabari. Bisa minta nomer yang bisa dihubungi, Mas atau Mbak nya?"
Setelah meninggalkan nomer ponselnya, Arya dan Anindita pun keluar dari toko perhiasan itu.
" Kita makan dulu, ya! Kamu mau makan apa?" tanya Arya.
" Aku ingin makan soto ayam, Mas."
" Di Mall sini ada yang jual nggak, ya?"
" Kalau nggak ada kita cari di tepi jalan saja."
" Baik, Nyonya Rahardja. Ayo ..." Arya pun merangkulkan tangannya di bahu Anindita.
" Mama ...!"
Anindita dan Arya menhentikan langkahnya saat mendengar teriakan anak kecil menyebut kata Mama. Dan suara anak kecil itu begitu familiar di telinga Anindita dan Arya.
Anindita mencari asal suara yang menyebut Mama, dan dia langsung terkesiap saat melihat Ramadhan sedang berlari ke arahnya.
__ADS_1
" Rama??" Anindita dengan cepat menyambut tubuh Ramadhan hingga kini tubuh anaknya itu sudah ada dalam gendongannya.
" Rama ada di mall ini juga, ya?" tanya Anindita menciumi anaknya.
" Iya, Rama habis main di permainan sama Om Ricky." Ramadhan menunjuk arah Ricky di belakangannya.
" Hai, Nona Anin, Pak Arya ..." Ricki menyapa Anindita dan Arya.
" Tuan ...."
" Oh Hai, Pak Ricky ...."
Anindita dan Arya membalas sapaan Ricky. Arya sendiri sudah tidak menyebut Ricky dengan sebutan Tuan Asisten lagi.
" Mama sama Om Arya pergi jalan-jalan kok nggak ajak-ajak Rama, sih?" Ramadhan mencebikkan mulutnya.
Anindita terkekeh kemudian mencium bibir Ramadhan yang sedang mengerucut.
" Rama 'kan sedang bersama Om Ricky, bagaimana Mama sama Om Arya mau ajak Rama ikut?" ucap Anindita menjelaskan.
" Oh. iya ..." Ramadhan menepuk keningnya membuat ketiga orang dewasa itu terkekeh.
" Hmmm, mumpung kita bertemu di sini bagaimana jika kita makan siang bersama?" Ricky tiba-tiba menawarkan untuk makan bersama.
" Apa Pak Ricky dan Nona Anin keberatan?" tanya Ricky kembali.
Ajakan Ricky membuat Anindita dan Arya saling pandang.
" Asyik, ayo Ma ... kita makan ke ke ep ci sama Rama, sama Om Ricky juga." Ramadhan terlihat antusias mendengar Ricky mengajak Mamanya juga Arya ikut makan bersama.
" Bagaimana, Mas?" tanya Anindita pada Arya.
Arya kemudian menatap Ricky sebelum akhirnya menjawab, " Oke, nggak masalah."
Dan akhirnya mereka pun berjalan menuju restoran yang dituju dengan Anindita berjalan di depan bergandengan tangan dengan Ramadhan, sedangkan Ricky dan Arya berjalan beriringan di belakang Anindita dan Ramadhan. Kedua pria itu layaknya seperti bodyguard yang menjaga Nyonya dan Tuan muda pergi shopping ke mall.
*
*
*
Bersambung ...
Ini kenapa Mak emak di sini pada kejam² ya, doain Anin sama Arya putus? ckckck ...😂😂
Yang saling cinta disuruh putus, yang ga saling cinta mau dijodoh-jodohin 🤭 Sungguh teganya dirimu ...
Visual Arya & Ricky
__ADS_1
Happy Reading❤️