ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bonchap 3 -- Menepati Janji


__ADS_3

Sudah satu bulan ini Anindita dan Ricky menikah. Apa yang dirasakan Anindita selama satu bulan menyandang gelar sebagai Nyonya Ricky Pratama? Yang pasti hal yang indah yang dia rasakan. Dari perlakuan Ricky yang manis terhadapnya terutama sikap yang ditunjukkan Ricky di depan banyak orang, maupun sikap Ricky saat bercinta di atas ranjang, selalu membuat rona merah membias di wajah cantiknya.


Anindita menoleh ke arah suaminya yang sedang menyemprotkan parfum ke tubuh berototnya, hingga tanpa sadar Anindita sampai menelan salivanya. Wangi maskulin ini dan kulit yang membalut otot liat itu selalu memberikan sensasi saat bersentuhan dengan kulitnya.


Anindita mengerjapkan matanya, karena dia sudah berpikiran me*sum karena melihat tubuh suaminya itu, hingga dia harus memalingkan wajahnya agar suaminya itu tak mendapati dirinya yang sedang mencuri pandang.


" Tolong, ambilkan dasinya."


Anindita kembali menoleh ke arah suaminya yang kini sudah memakai kemejanya. Dia lalu mengambilkan dasi yang diminta oleh Ricky.


" Biar saya yang pasangkan, Pak." Anindita memakaikan dasi itu dan menyimpulkan di kerah kemeja Ricky. Hal seperti ini sering dia lakukan saat menjadi istri Arya dulu namun baru kali ini dia lakukan kepada Ricky.


Ricky tersenyum seraya menatap istrinya yang sedang memasangkan dasi untuknya.


" Sudah selesai." Anindita kemudian mengangkat pandangan ke wajah suaminya yang masih menatapnya.


" Terima kasih." Ricky lalu mengecup kening Anindita, mata, hidung dan kini bertumpu ke bibir wanita itu. Ricky yang awalnya hanya mengecup singkat seakan tak rela melepaskan sentuhan itu. Ricky kini memperdalam ciumannya dengan melu*mat bibir kenyal Anindita. Apalagi saat Anindita pun membalas ciumannya, membuat pagi itu suara decapan terdengar mendominasi kamar mereka.


" B-bapak harus kerja." Anindita sengaja menghentikan tautan bibir mereka saat dia merasa akan terbawa ga*irah kalau saja aksi mereka tidak segera dihentikan.


" Kita lanjutkan nanti malam." Ricky tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah seperti kepiting rebus, membuat Anindita memalingkan wajahnya tak ingin menatap sang suami yang sedang menggodanya.


" Anin ...."


" Iya, Pak?" Anindita mau tak mau kembali menoleh ke arah Ricky karena suaminya itu memanggilnya.


" Mulai sekarang jangan panggil saya Bapak lagi. Panggil sesuka kamu tapi jangan panggil Bapak." Ricky meminta Anindita berhenti menyebutnya Bapak.


" Saya harus panggil apa?"


" Terserah yang sreg di hati kamu."


" Mas?"


" Hmmm, boleh juga. Kamu boleh panggil itu mulai sekarang."


Anindita menganggukkan kepalanya.


" Saya sudah siapkan sarapan."


" Tunggu dulu ...!"


" Apa apa lagi?"

__ADS_1


" Mungkin panggilan saya juga kita ganti menjadi aku. Bagaimana?" Ricky kembali memberi usulan.


" Terserah Mas saja." Anindita menyahuti. " Sebaiknya kita ke ruang makan sekarang." Anindita lalu membawakan tas kerja Ricky kemudian membawanya turun ke bawah beriringan bersama Ricky.


***


" Assalamualaikum, Mbak Anin."


Anindita mendapati Dessy yang sudah berdiri di depan pintu apartemen milik suaminya.


" Eh, Mbak Dessy. Waalaikumsalam, ayo masuk, Mbak." Anindita yang sedang menggendong Arka langsung mempersilahkan Dessy masuk ke dalam apartemen.


" Hai, Baby Arka. Sini gendong sama Tante." Dessy meminta Anindita menyerahkan Arka kepadanya. " Arka mau diimunisasi, ya? Pintar 'kan nanti nggak nangis? Anak pintar nggak akan nangis." Dessy menciumi pipi chubby Arka.


" Kayaknya Arka tambah berat nih, Mbak Anin. Pasti naiknya tambah banyak."


" Iya, Mbak. ASI nya kuat," sahut Anindita.


" Memang harus kuat ya, Sayang. Daripada nanti direbut sama Papa Ricky."


Anindita membelalakkan matanya mendengar ucapan absurd dari adik iparnya, membuat wajahnya langsung merona.


" Bagaimana setelah sebulan menikah sama Kak Ricky, Mbak Anin? Apa kelabakan melayani Kakakku itu? Maklumlah, Mbak. Tidak pernah dekat sama wanita, terus kejadian sama Mbak Anin. Setelah itu nggak juga dekat sama wanita lain. Jadi harus dimaklum kalau Kak Ricky sedang hot-hotnya." Dessy terkikik menceritakan bagaimana Ricky selama ini seperti tidak tertarik dengan wanita lain.


" Kalau Mbak Anin mau, nanti aku kasih rekomendasi alat kontrasepsi apa yang bagus," lanjut Dessy.


" Hmmm, saya sudah pakai suntik KB kok, Mbak."


" Suntik KB? Oh Mbak Anin sudah pakai, ya? Sejak kapan, Mbak?" tanya Dessy.


" Seminggu sebelum menikah, Mbak." aku Anindita malu-malu.


" Rupanya Mbak Anin sudah prepare jauh-jauh hari ya menghadapi serangan Kak Ricky?" Dessy menyeringai mengetahui jika Anindita sudah membentengi dirinya sebelum menikah dengan Ricky.


" Iya, Mbak." Anindita tersenyum kaku.


" Suntik yang berapa bulan?"


" Yang satu bulan, Mbak."


" Jangan sampai telat suntik ya, Mbak Anin. Kalau nggak mau kebobolan dulu. Kasihan Arka masih kecil begini." Dessy kembali menatap bayi kecil yang berada dalam gendongannya.


" Iya, Mbak."

__ADS_1


" Oh ya, apa Kak Ricky sudah tahu Mbak Anin pakai KB?"


" Nggak, Mbak. Saya nggak kasih tahu Mas Ricky."


" Mas Ricky?" Dessy tersenyum mendengar panggilan Anindita untuk kakaknya sudah berubah.


" Ya sudah, ayo kita kasih imunisasi dulu untuk Arka." Dessy kemudian menyerahkan Arka kepada Anindita sedang dia sendiri menyiapkan untuk menyuntikan imunisasi kepada Arka.


***


Anindita memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Setelah melakukan ritual berbagi peluh dan kehangatan di atas ranjang, tangan nakal Ricky tak berhenti memainkan bagian puncak asset kembar miliknya.


" Mas, tolong singkirkan tangannya! Geli rasanya." Anindita yang tidur membelakangi Ricky meminta Ricky menghentikan aktivitasnya.


" Kenapa? Aku suka menyentuhnya." Ricky kini mencium tengkuk Anindita dan merapatkan tubuhnya yang tak terbalut bahan ke tubuh Anindita yang juga dalam posisi telan"jang.


" Apa kamu merasa bergairah lagi?" Kini bibir Ricky mengabsen ceruk berkulit putih istrinya. Sementara tangannya terus memilin bagian yang membuat Anindita harus melawan rasa geli dan gelenyar yang mulai muncul setiap dia bersentuhan intim dengan suaminya, hingga tanpa sadar bibirnya terbuka dan menimbulkan suara de*sahan.


Ricky tersenyum melihat istrinya sudah kembali terbakar ga*irah.


" Mas, aku lelah ..." keluh Anindita terus memohon agar suaminya itu menghentikan aksinya..


Cup


Sebuah kecupan mendarat ke pipi Anindita.


" Ya sudah kalau merasa lelah kamu istirahat saja. Aku akan memelukmu seperti ini." Ricky tak mau menjauhkan tubuhnya dari tubuh Anindita, padahal hal itu yang membuat dirinya tak nyaman.


" Oek oek oek ...."


" Lho, Arka bangun, ya?" Sebelum Anindita beranjak dari tempat tidur, Ricky sudah lebih dulu turun dan mendekati box bayi yang ada di samping tempat tidurnya dengan tubuh tak berbalut sehelai benang pun.


Anindita langsung memalingkan wajahnya, karena justru dia sendiri yang merasa malu dengan pemandangan tubuh polos suaminya itu. Dia pun kembali mengenakan baju tidurnya.


Ricky mengangkat tubuh Arka yang menangis dan memberikannya kepada Anindita. Ricky benar-benar menepati janjinya ingin menjadi Papa yang seutuhnya untuk Arka, sampai dia belajar menggendong Baby Arka yang kini berusia tiga bulan. Kadang jika Arka terbangun dan menangis tengah malam, Ricky lah yang menggendong Arka dan menggantikan pampers putra dari suami pertama istrinya. Sehingga lambat laun hati Anindita pun mulai tersentuh dengan ketulusan pria yang kini menyandang status sebagai suaminya itu.


*


*


*


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2