
Anindita berjalan menuju ruang makan karena Cika memberitahukan jika dia sudah ditunggu di sana untuk sarapan pagi, namun Anindita terkesiap saat dia mendapati Ricky juga ikut duduk di kursi yang mengelilingi meja makan di apartemen yang dihuninya itu.
" Anin, sini kita sarapan dulu. Ricky tadi sudah belikan nasi uduk untuk kita sarapan," ujar Mama Arya saat melihat kehadiran Anindita.
Anindita sendiri nampak kaget dengan panggilan akrab yang diucapkan Mama Arya saat menyebut nama Ricky tanpa canggung dan tanpa embel-embel kata 'Nak' seperti biasanya. Kini Anindita melirik ke arah Ricky yang nampak lekat menatapnya. Anindita tidak mengerti kenapa orang-orang terdekatnya begitu mudah terpengaruh dengan Ricky, termasuk Mama mertuanya yang mestinya berdiri di sampingnya kini justru seakan bersekutu dengan Ricky.
" Kenapa Bapak ada di sini?" Anindita memberanikan diri bertanya.
" Anin, Ricky ini 'kan sudah jadi anak Mama juga, apalagi jika nanti kalian akan bersama, jadi kamu harus membiasakan diri sarapan bersama seperti ini."
Ucapan Mama Arya seketika membuat wajah cantik mulus Anindita merona, apalagi saat dia kembali melirik ke arah Ricky, pria itu justru tersenyum ke arahnya membuat dirinya langsung salah tingkah. Dan akhirnya sepanjang Anindita menyantap sarapannya wanita itu hanya menundukkan kepalanya karena dia tahu saat ini dirinya sedang dalam pengawasan sorot mata Ricky.
" Siang ini jadwal kamu periksa kandungan, kan?" Pertanyaan Ricky membuat Anindita akhirnya menaikkan pandangannya ke arah pria itu.
" Iya."
" Nanti saya yang antar kamu periksa. Saya sudah daftarkan ke Dessy, mulai sekarang adik saya itu yang akan menangani kamu."
" Adik kamu dokter kandungan, Ricky?" tanya Mama Arya saat Ricky menyebut nama adiknya.
" Iya, Bu. Saya sudah minta adik saya untuk menanggani Anin kalau melahirkan nanti." Ricky menjelaskan.
" Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah memperhatikan menantu dan calon cucu Mama," ucap Mama Arya berterima kasih.
" Sama-sama, Bu. Dulu saya tidak mendampingi saat Anin hamil dan melahirkan Rama, jadi saya ingin menebusnya sekarang ini." Ucapan Ricky membuat Anindita kembali menatap ke arah pria yang kini sedang memperhatikan Ramadhan seraya mengusap kepala bocah kecil itu.
***
" Ciee, yang semalam habis dilamar. Kenapa mesti kabur segala sih, Mbak?" Mita langsung menggoda Anindita saat melihat Anindita memasuki toko.
" Sssttt, jangan berisik!" Anindita meminta Mita untuk jangan membicarakan hal itu di depan pegawai lain.
" Ups, maaf ..." Mita menutup mulutnya seraya terkikik.
" Jadi gimana, Mbak? Aku penasaran, nih. Diterima atau ditolak lamarannya?" Mita berada dalam mode kepo tingkat tinggi
__ADS_1
" Saya nggak mau bahas itu, Mbak Mita." Anindita segera mengenakan apron berwarna purple bertulisan Alabama Florist.
" Pak Ricky itu sudah ganteng, baik, tajir, tipe setia lagi ... kalau Mbak Anin nggak mau buat saya juga saya mau, Mbak." Mita kembali terkekeh.
" Pria seperti Pak Ricky itu sudah langka banget lho, Mbak. Bahaya kalau ada wanita lain model Ibu Rachel yang coba dekati terus Pak Ricky nya tergoda. Bisa menyesal lho, Mbak Anin." Mita mencoba kembali mempengaruhi Anindita
" Mbak, sudah deh jangan bahas itu lagi, apalagi bawa-bawa nama orang segala." Anindita yang mendengar Mita menyebut nama Rachel langsung berubah ketus.
" Mbak Anin cemburu ya saya sebut nama Bu Rachel?" tanya Mita semakin menggoda Anindita.
" Cemburu? Siapa juga yang cemburu?" tepis Anindita berkelit.
" Hehe, jadi semalam itu akhirnya kalian meninggalkan kami semua itu ke mana?" selidik Mita.
" Pulang ...."
" Gitu saja? Nggak ada acara lamaran ulang berdua disaksikan bintang-bintang gitu?"
" Jangan ngaco deh, Mbak!"
" Ih, sayang banget momen semalam berlalu begitu saja nggak ada hasilnya."
" Oh my God, so sweet banget sih Pak Ricky, Mbak. Ya ampun Mbak Anin, kalau model begini jangan sampai ditolak, Mbak." Mita terpukau melihat foto yang ditunjukkan Anindita.
" Kotaknya sudah aku kembali lagi ke dia, dan dia bilang mau kasih ke Mbak Rachel." Anindita memasukan kembali ponselnya ke saku bajunya.
" Lho, kok bisa?"
Anindita mengedikkan bahunya tanpa menjelaskan alasannya kemudian berlalu meninggalkan Mita yang masih terbengong mendengar cerita Anindita.
***
Siang harinya Ricky sengaja menjemput Anindita untuk memeriksakan kandungannya. Pria itu sengaja membawa Anindita ke rumah sakit di mana adiknya bertugas.
" Ayo turun." Ricky membukakan pintu mobil untuk Anindita.
__ADS_1
" Hmmm, biar saya saja yang ke dalam, sebaiknya Bapak tidak usah menemani saya. Bapak 'kan harus kembali bekerja. Saya tidak ingin nanti Tuan Dirga marah lagi terhadap Bapak." Anindita yang teringat akan Dirga yang sepertinya marah dan kesal karena ucapan Ricky semalam yang telah menyingung bos besar Angkasa Raya itu merasa khawatir jika Ricky akan terkena masalah karena menemaninya periksa kandungan.
" Kamu tidak udah khawatirkan saya. Keberadaan saya sangat vital di Angkasa Raya, tidak mungkin Pak Dirga akan memecat saya begitu saja. Jika dia memecat saya, dia sendiri yang akan merugi," ungkap Ricky penuh percaya diri.
Anindita pun hanya menghela nafas mendengar jawaban yang diucapkan oleh Ricky. Tak lama dia terkesiap saat tangannya digenggam Ricky yang kemudian membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
" Hmmm, Pak, sebaiknya Bapak melepaskan tangan saya." Anindita meminta Ricky melepas genggaman tangannya.
Ricky menoleh ke arah Anindita tanpa melepas tangan wanita itu.
" Saya masih dalam masa Iddah, rasanya tidak enak harus bergenggaman tangan dengan pria lain." Anindita menundukkan kepalanya saat bicara. Entah mengapa rasanya malu sekali harus mengatakan hal itu, dan mungkin saja saat ini rona wajahnya sudah memerah.
Ricky yang memahami apa yang diinginkan Anindita langsung melepas genggaman tangannya.
" Silahkan ..." Ricky menyuruh Anindita berjalan di depannya.
" Bapak saja yang di depan, saya tidak tahu ruangannya di mana?" Anindita yang tidak mengetahui di mana ruang praktek Dessy tentu saja binggung harus melangkah ke mana? Karena rumah sakit yang dia datangi ini rumah sakit bertaraf internasional dan sudah pasti sangat luas, tidak seperti klinik bersalin yang biasa dia kunjungi.
" Tadi kamu bilang tidak apa-apa ditinggal sendiri tanpa harus saya temani. Sekarang kebingungan cari ruangannya." Ricky tersenyum meledek.
" Jadi kamu butuh saya, kan? Kamu nggak usah khawatir karena saya akan jadi petunjuk jalan di setiap langkahmu ke depannya. Saya akan ada untukmu saat kamu merasa tersesat atau tidak tahu ke mana kamu akan melangkah." ucap Ricky penuh makna.
" Bapak nggak usah ngegombal. cukup kasih tahu saja di mana ruangan dokter Dessy berada?" Anindita membuang pandangannya ke samping karena dia tidak ingin Ricky melihat perubahan rona wajahnya.
Ricky menarik sudut bibirnya ke atas mendengar ucapan Anindita, kemudian dia melangkah mendahului Anindita menuju ruangan adiknya praktek.
Anindita yang menyadari jika Ricky kini sudah jauh berjalan di depannya langsung mendengus kesal.
" Bapak ini mengerti nggak, sih?! Saya itu sedang hamil nggak bisa jalan cepat! Kalau Bapak nggak niat mengantar saya ya sudah Bapak pergi saja! Saya bisa kok cari ruangannya sendiri!" ketus Anindita kini berjalan dengan bergegas melewati Ricky yang kini menghentikan langkahnya walaupun dengan langkah agak kesusahan karena perutnya yang sudah membesar.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️