
Sejak kejadian kemarin sore di dapur, Anindita selalu berusaha menjaga jarak dengan Ricky karena dia tidak ingin terjadi salah paham apalagi kejadian kemarin sempat terekam mata Ramadhan juga Cika. Anindita tidak ingin orang beranggapan jika dia itu bermesra-mesraan dengan pria lain padahal suaminya baru saja meninggal dunia, terlebih lagi kini Tita sudah mulai bekerja membantu pekerjaan Cika di apartemen yang ditempati Anindita. Jadi Anindita bisa menyuruh Tita yang menghadapi Ricky jika berhubungan dengan Ramadhan.
Anindita lebih banyak memilih bersembunyi di dalam kamarnya saat Ricky menjemput Ramadhan sekolah atau mengunjungi Ramadhan sepulang kerja. Karena Ricky sekarang ini sering berlama-lama di apartemen itu menemani Ramadhan atau ikut membantu Ramadhan belajar. Sepertinya rasa lelah seharian bekerja luntur seketika saat pria itu bisa bersenda gurau dengan anaknya itu.
Sepergi malam Minggu ini, Ricky sengaja menjemput Ramadhan ingin mengajak anaknya itu bermalam Minggu di luar.
" Ma, Papa Ricky mau ajak jalan-jalan Rama, Mama ikut nggak?" tanya Ramadhan kepada Anindita.
" Rama saja yang ikut, ya! Mama nggak bisa ikut." Anindita menolak ajakan anaknya itu.
" Kenapa, Ma?" Ramadhan mulai kritis menanyakan alasan penolakan Anindita.
" Karena Rama 'kan sudah biasa pergi jalan-jalan sama Om Ricky ...."
" Papa Ricky, Ma!" Ramadhan memprotes Anindita yang masih menyebut Ricky dengan panggilan Om.
" Iya, maksud Mama ... Rama sudah biasa pergi berdua sama Papa Ricky, jadi Rama saja yang ikut sama Papa Ricky. Mama di sini saja sama Mbak Tita. Kalau Mama pergi jalan-jalan, kaki Mama nanti capek, kasihan dedek bayinya kalau Mama kecapean." Anindita sengaja memijat kakinya agar Ramadhan mau mengerti dengan alasan yang diberikannya.
" Kaki Mama sakit, ya?" tanya Ramadhan memperhatikan kaki Mamanya yang sedang dipijat sendiri oleh Mamanya itu.
" Iya, Sayang. Kaki Mama sakit jadi Mama nggak ikut sama Rama jalan-jalan." Anindita mendramatisir.
Mendengar apa yang dikatakan Anindita, Ramadhan kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Anindita tanpa menutup pintu membuat wanita itu terheran karena anaknya tak memberi salam karena akan pergi.
Sementara itu setelah keluar dari kamar Anindita, Ramadhan langsung menemui Ricky.
" Rama sudah siap, kita berangkat sekarang?" tanya Ricky kepada Ramadhan.
" Pa, kita panggil dokter dulu, ya! Kaki Mama sakit jadi Mama nggak bisa ikut kita jalan-jalan." Ramadhan mengadukan apa yang dirasakan Mamanya.
" Kaki Mama Anin sakit?" Ricky langsung terkesiap, karena Ricky pun merasa belakangan ini dia jarang bertatap muka kembali dengan wanita itu, tapi dia tidak menyadari hal itu terjadi karena Anindita memang sengaja menjaga jarak dengan dirinya.
" Iya, Pa. Kasihan Mama Anin, kita panggil dokter dulu saja ya, Pa." Ramadhan mengusulkan.
__ADS_1
Ricky langsung bergegas menuju kamar Anindita disusul oleh Ramadhan di belakangnya.
Dukk
" Aawww ..." Anindita meringis saat dia hendak menutup pintu namun dari arah luar kamar, Ricky yang mendengar Anindita sakit terburu-buru membuka pintu yang belum sepenuhnya tertutup hingga membuat Anindita terdorong ke belakang dan keningnya terbentur daun pintu kamar.
" Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Ricky terkesiap saat mendapati Anidita berdiri di belakang pintu dengan memegangi dahinya.
Sementara Anindita langsung memberengut karena tanpa sengaja Ricky telah mencederai keningnya itu.
" Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu jika Anda ada di belakang pintu. Kening Anda terluka?" Ricky langsung menyingkirkan tangan Anindita yang menutupi dahinya itu. Ricky melihat daerah sekitar ke dahi Anindita yang memerah bahkan sedikit menonjol karena benturan tadi cukup keras.
" Sebaiknya Nyonya duduk dulu." Ricky langsung merangkulkan lengannya di punggung Anindita membuat Anindita terkesip dan dengan cepat dia menepis tangan Ricky itu.
" Saya bisa sendiri, Tuan." Anindita kemudian bergegas menuju tepi tempat tidurnya seraya mengusap keningnya yang terasa cenut-cenut.
" Mama kenapa, Pa?" tanya Ramadhan yang melihat Anindita memegangi keningnya.
" Keningnya sakit ya, Ma?" tanya Ramadhan menatap Anindita yang terlihat matanya mulai mengembun karena benturan itu membuat kepala Anindita mendadak pusing.
Tak lama Ricky pun kembali ke kamar Anindita membawa obat oles.
" Biar saya oleskan obatnya, Nyonya." Ricky lalu duduk di samping Anindita kemudian membaluri telunjuknya dengan obat berbentuk gel lalu mengoles perlahan ke kening Anindita hingga jarak antara mereka berdua duduk begitu dekat.
Anindita bahkan bisa merasakan aroma maskulin dari tubuh Ricky yang langsung terhirup di penciumannya. Anindita menatap wajah Ricky yang hanya berjarak kurang dari tiga puluh sentimeter. Dia mengamati wajah Ramadhan memang tercetak dari wajah pria yang ada di hadapannya itu.
Ricky pun yang merasakan jika sedari tadi Anindita nampak intens menatapnya kini menurunkan pandangannya ke arah mata wanita cantik itu. Hingga saat ini mereka beradu pandang satu sama lain, menatap kuat sosok yang ada di hadapannya masing-masing hingga beberapa saat.
" Papa sama Mama lagi ngapain, sih? Kok liat-liatan gitu?"
Anindita dan Ricky seketika terkesiap saat mendengar suara Ramadhan. Dan mereka berdua pun sama-sama salah tingkah karena lagi-lagi kepergok oleh anak mereka.
" Hmmm, Rama, kita berangkat sekarang? Ricky langsung bangkit dan mengulurkan tangannya ke arah Ramadhan.
__ADS_1
" Rama nggak mau pergi, Pa." Tiba-tiba Ramadhan membatalkan niatnya untuk pergi keluar malam Minggu ini.
" Lho, kenapa?" tanya Ricky heran.
" Kita di sini saja temani Mama ya, Pa! Kasihan Mama, tadi kakinya sakit sekarang kepalanya juga sakit. Kita main dokter-dokternya saja ya, Pa. Papa jadi dokternya, Mama orang yang sakitnya. Rama jadi perawatnya." Ramadhan terkikik.
Sontak ucapan Ramadhan membuat Anindita dan Ricky saling pandang namun tak lama Anindita memutus tatapan itu.
" Rama, Mama nggak apa-apa, kok! Rama kalau mau pergi, pergi saja. Mama di sini ada Mbak Tita yang menemani Mama." Anindita dengan cepat menolak usul yang disampaikan anaknya.
" Tapi Rama mau di sini temani Mama!" Ramadhan bersikeras dengan keinginannya itu.
" Sekarang Mama bobo saja." Ramadhan lalu naik ke tempat tidur dan menyiapkan bantal yang akan dipakai Anindita tidur.
" Rama mau temani sampai Mama bobo, seperti Mama juga temani Rama sampai bobo kalau Rama lagi sakit," ucap Ramadhan kemudian tangan kecilnya menarik bahu Anindita untuk segera berbaring, hingga membuat Anindita tidak dapat berkutik dan menuruti semua yang diperintahkan anaknya itu.
" Mama bobo, ya! Biar cepat sembuh sakitnya. Nanti Rama sama Papa Ricky yang jagain Mama." Kemudian tangan Rama menyelimuti tubuh Anindita yang telah berbaring.
" Selamat bobo, Ma." Ramadhan lalu mencium pipi Anindita.
" Papa Ricky mau cium pipi Mama Anin nggak?"
Anindita dan Ricky kembali terkesiap saat mendengar permintaan Ramadhan yang mereka anggap terlalu berlebihan dan tidak masuk akal.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1