
Anindita berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil memegangi dadanya yang dia rasakan detak jantungnya saat ini berpacu begitu cepat.
" Nggak, ini nggak benar! Aku nggak bisa terus seperti itu!" Anindita nampak gelisah. Entah kenapa, semakin lama semakin sering terjadi peristiwa yang secara tak sengaja membuatnya harus melakukan kontak fisik dengan Ricky, dan dia rasa itu adalah hal yang salah.
Anindita seketika teringat ucapan Dirga, jika Dirga berniat ingin menjodohkan dirinya dengan asisten pria itu.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa Tuan Dirga bicara seperti itu, ya?" Anindita memijat pelipisnya.
Anindita kemudian menoleh ke arah figura pernikahannya dengan Arya. Dengan cepat dia mengambil dan mendekap foto dia dengan suaminya itu.
" Kalau Mas Arya masih ada, aku nggak akan sesulit ini, Mas." Anindita terisak. Dia merasa dia sedang berada di posisi yang membingungkan. Sikap Ricky yang selalu memberikan perhatian kepadanya membuat dia merasa jengah. Belum lagi sikap Dirga yang seolah sengaja mendekatkan dirinya dengan Ricky, benar-benar membuat dia merasa tidak nyaman.
Sementara di luar, Ricky sedang menatap kesal Sang Bos besar Angkasa Raya Group. Tentu saja karena ucapan-ucapan dari bosnya itu bisa membuat Anindita bersikap salah paham kepadanya.
" Sepertinya Kayla menularkan comelnya kepada Anda, Pak Dirga!" Walau geram tapi Ricky masih menghormati posisi Dirga sebagai atasannya.
" Hahaha ... kalau kau ingin mendapatkan seorang wanita yang sulit didapati hatinya, kau harus belajar banyak padaku, Rick. Anin itu setipe dengan Rania, harus sedikit kenekatan untuk meluluhkan hatinya." Dirga seolah tak perduli dengan rasa serba salah dan salah tingkah yang dirasakan Ricky dan Anindita saat ini.
" Abang, tadi Mama Utami telepon, katanya kita disuruh mampir ke sana dan suruh bawa Rama ikut ke sana juga." Kirania yang baru keluar dari kamar Ramadhan berucap kepada suaminya.
" Mama mau ketemu sama Rama?" tanya Dirga.
" Iya, Abang. Kita ke rumah Mama sekarang saja. Pak Ricky aku bawa Rama ketemu Mama Utami nggak apa-apa, kan?" tanya Kirania kini mengangkat tubuh Ramadhan dan menaruh di lengannya.
" Maaf, Nyonya. Sebaiknya Anda jangan membawa Rama sekarang." Ricky yang merasa Anindita pasti akan marah kepadanya meminta Kirania untuk tidak membawa pergi Ramadhan saat ini.
" Hei, kau melarang Mama menemui cucunya?!" protes Dirga kepada Ricky yang tak mengijinkan Kirania untuk membawa Ramadhan.
" Bukan saya tidak mengijinkan, Pak. Tapi saya tidak ingin Anindita akan ...."
" Akan marah padamu? Kalau begitu biar aku saja yang minta ijin ke Mamanya." ucap Dirga.
__ADS_1
" Di mana kamar Anin?" tanya Dirga pada Ricky sembari melangkahkan kakinya ingin mencari kamar Anindita.
" Pak Dirga, saya mohon jangan menambah masalah!" Ricky dengan cepat menghadang langkah Dirga dengan mencekal lengan Dirga.
" Hei, kau ini apa-apaan sih, Rick?" Dirga mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Ricky, namun asistennya itu enggan melepaskan hingga mereka berdua seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar.
" Kalian ini sedang apa-apaan, sih?" Kirania yang melihat suami dan asisten suaminya itu bertingkah seperti anak kecil langsung bertanya keheranan.
" Sayang, cepat kau ke kamar Anin dan minta ijin Anin untuk membawa Rama ke rumah Mama!" " Dirga menyuruh istrinya itu bertindak sesuai perintahnya.
" Lho, memang Mbak Anin sudah ada di sini?" tanya Kirania yang tidak mengetahui kehadiran Anindita di apartemen itu.
" Sudah. Ah, sayang sekali kamu tadi nggak lihat ada adegan romantis." Dirga berniat memberitahukan istrinya. " Tadi itu Ricky hmmpptt ...."
" Pak Dirga, berhentilah bergosip, Anda ini seorang CEO, jagalah wibawa Anda! Jangan urusi masalah pribadi karyawan Anda!" Ricky membekap mulut Dirga hingga bos perusahaan yang bergerak di bidang property itu kesulitan untuk membuka mulutnya dan bicara.
" Astahfurullahal adzim!! Kalian kenapa seperti anak kecil seperti ini?!" pekik Kirania kaget melihat kelakuan kedua pria tampan di hadapannya itu.
Sementara dari dalam kamarnya, Anindita yang mendengar keributan di luar langsung bergegas membukakan pintu. Tak beda jauh dengan Kirania, dia pun sama kagetnya saat mendapati Dirga dan Ricky layaknya anak ABG yang sedang bercanda. Dengan posisi Ricky memeluk tubuh Dirga dari belakang dan tangan membekap mulut Dirga.
Dirga yang berhasil meloloskan diri dari Ricky langsung tertawa puas apalagi melihat Ricky mengibaskan tangannya karena sakit, membuat Ramadhan ikut tertawa melihat penderitaan yang dialami oleh Ricky.
Anindita yang melihat anaknya ikut menertawakan Ricky langsung mengeryitkan keningnya.
" Rama, nggak boleh menertawakan orang seperti itu!!" tegur Anindita kepada anaknya. Dan suara Anindita yang terdengar di ruangan itu membuat orang-orang di sana menolehkan wajah ke arahnya, sehingga saat ini dia menjadi pusat perhatian.
" Oh, maaf ..." Anindita tertunduk seraya mendekati Ramadhan ingin mengambil Ramadhan dari tangan Kirania.
" Ah, Mbak Anin akhirnya keluar juga. Mbak saya sama suami saya mau bawa Rama ke rumah mertua saya. Boleh 'kan, Mbak? Nanti pulangnya Rama bisa dijemput sama Pak Ricky." Kirania yang tidak tahu ada kecangungan antara Anindita dan Ricky dengan santai mengatakan hal itu.
" Hmmm ...."
__ADS_1
" Pak Ricky itu sudah seperti anak sendiri untuk Mama Utami, makanya Mama ingin bertemu dengan Rama. Boleh ya, Mbak?" pinta Kirania memohon.
" Maaf, Bu. Bukannya tidak boleh, tapi saya takut nanti Rama nakal di sana." Anindita memberikan alasan agar Kirania tidak membawa anaknya ke rumah orang tua Dirga.
" Rama anak pintar, kok! Nggak mungkin nakal ya, Nak? Rama mau ikut Tante ke rumah Nenek, kan? Di rumah nenek ada kolam renang, Rama bisa renang, kan? Nanti Rama bisa berenang di sana sama Om Dirga. Rama mau, kan?" Kirania terus membujuk Ramadhan agar bocah itu menyetujui ajakannya. Tentu saja tawaran Kirania soal kolam renang langsung disambut antusias oleh Ramadhan hingga anak itu langsung bersorak gembira.
" Rama mau, Tante! Rama mau ..." Ramadhan langsung menyetujui ajakan Kirania.
Keputusan Ramadhan yang menyetujui keinginan Kirania membuat Anindita mendesah. Dia mungkin bisa menentang jika yang mengajak adalah Ricky. Tapi dia tak punya keberanian untuk menentang keinginan Kirania dan juga Dirga.
" Mbak ...! Mbak ...!" teriak Kirania memanggil salah satu asisten rumah tangga di apartemen itu.
" Saya Bu?" tanya Tita yang tak lama muncul di sana.
" Mbak tolong gantikan pakaian Rama dan tolong siapkan baju untuk ganti sama baju renangnya sekalian, ya! Saya mau ajak Rama pergi." Kirania lalu menyerahkan tubuh Ramadhan ke Tita.
Setelah Dirga, Kirania dan Ramadhan pergi, Anindita memilih ingin kembali ke kamarnya, karena dia enggan berhadapan dengan Ricky yang masih ada di ruangan tamu.
" Anin, saya mau bicara ..." Suara Ricky menghentikan langkah Anindita yang langsung menelan salivanya saat mendengar Ricky ingin bicara dengannya.
" Ikut saya! Kita bicara di apartemen saya ..." Ricky meminta Anindita untuk mengikuti langkahnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️