ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bukan Papa Rama


__ADS_3

Anindita masih duduk di kursi tunggu karena dia masih menunggu giliran namanya dipanggil. Dia memperhatikan beberapa ibu hamil yang juga ingin memeriksa kehamilannya rata-rata didampingi oleh suami masing-masing. Seketika hati Anindita berubah sendu, karena biasanya dia selalu ditemani oleh Arya jika memeriksa kandungannya.


Walaupun ini bukan kehamilan pertamanya dan dulu saat mengandung Ramadhan hanya ditemani Sandra, tapi Anindita tidak merasa sesedih sekarang ini.


" Pi, lama sekali sih antrinya, pinggang Mimi sakit ini," keluh salah satu pasien yang duduk persis di hadapan Anindita.


" Sabar, Mi. Masih tiga nomer lagi." Suami dari wanita itu langsung mengusap-usap pinggang wanita tadi.


" Pa, Minggu depan kita jadi pergi babymoon ke Bali kan, Pa?" Kini pasien yang duduk di sebelah kiri Anindita yang berbicara dengan suaminya.


" Iya, Papa sudah atur buat cuti untuk Minggu depan," jawab suaminya.


Anindita menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya menegadahkan kepala dan memejamkan matanya, setidaknya dia harus menahan agar cairan bening tidak mengembun di matanya. Karena saat itu juga kerinduan akan kehadiran Arya begitu menguat di hatinya.


" Sendirian saja periksanya, Mbak?"


Anindita segera menoleh ke arah kanannya saat terdengar suara seolah bicara kepadanya.


" Oh, iya, Mbak ..." sahut Anindita kepada seorang wanita yang terlihat hamil besar.


" Nggak ditemani suaminya, Mbak? Kita sering kontrol kandungan bersamaan dan saya suka lihat biasanya kalau periksa kehamilan Mbak selalu ditemani suami sama anaknya," ucap wanita itu tadi.


Anindita menarik nafas yang seketika terasa sesak untuk dihirupnya.


" Suami saya baru saja meninggal, Mbak." Nada bicara Anindita terdengar lirih.


" Innalillahi wa Inna ilaihi roji'un, aduh maaf ya, Mbak. Saya nggak ada maksud bikin Mbak jadi sedih," sesal wanita itu.


" Nggak apa-apa, Mbak." Anindita menyeka cairan bening yang akhirnya mengembun di matanya.


" Kita senasib kalau begitu, Mbak."


Ucapan wanita itu membuat Anindita kembali menolehkan wajahnya ke arah wanita tadi.

__ADS_1


" Suami saya juga meninggal waktu usia kandungan saya empat Minggu. Bahkan dia nggak sempat tahu kalau dia akan punya anak. Karena saya baru ketahuan hamil ketika saya pingsan begitu mengetahui suami saya meninggal." Wanita itu menjelaskan.


" Saya turut prihatin, Mbak." ucap Anindita menunjukkan rasa empatinya.


" Menjalani kehamilan tanpa didampingi oleh ayah sang bayi memang berat ya, Mbak?" lirih Anindita kemudian.


" Dibikin enjoy saja saya sih, Mbak. Karena kebetulan saya bertemu kembali dengan mantan saya dulu dan keluarga kami sepakat kami akan menikah saat bayi ini lahir. Karena bagaimanapun juga saya butuh sosok suami untuk membesarkan anak saya ini."


Anindita terkesiap mendengar penjelasan wanita itu tadi. Semudah itukah wanita itu berpaling melupakan cinta terhadap suaminya sampai memutuskan untuk menikah kembali. Jika itu terjadi pada dirinya, sepertinya Anindita merasa dirinya tidak akan mungkin bisa mengganti rasa cintanya pada Arya kepada pria lain.


" Mama ..." Anindita terkejut saat dia mendengar suara anaknya berteriak memanggil namanya.


" Rama? Kok Rama ada di sini? Rama sama siapa ke sininya?" Anindita masih bingung bagaimana anaknya bisa tahu dirinya sendang ada di klinik Obgyn.


" Tuh, sama Om Ricky." Ramadhan menunjuk kepada sosok pria tinggi tegap yang berjalan mendekat ke arah Anindita. Bahkan kehadiran Ricky di sana membuat wanita-wanita di ruang tunggu itu terpana hingga melupakan suami-suami mereka.


Anindita langsung mendengus saat melihat kehadiran Ricky di sana, karena Ricky lah yang telah membuatnya kesal hingga membuat otot perutnya kencang karena dia menahan emosi dan kini menyebabkan rasa perih di bagian perutnya.


Anindita memandang kesal ke arah Ricky yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata merasa bersalah, namun tak lama Anindita memutuskan tatapan matanya karena menatap terlalu lama pria itu membuat dadanya bergejolak.


" Dedek bayinya kangen sama Mas Rama, Rama ke mana tadi Mama jemput ke sekolah Rama nggak ada?" Anindita mengusap rambut tebal Ramadhan.


" Rama 'kan dijemput sama Om Ricky, Ma." Ramadhan menyahuti.


" Mama tadi kebingungan cari Rama, kenapa Rama nggak kasih tahu Mama kalau Rama sudah pulang?"


" Kata Om Ricky Mama lupa jemput Rama soalnya Mama lagi asyik ngobrol sama Tante Rania."


Anindita langsung mendelik ke arah Ricky yang masih berdiri menatapnya, namun pria itu tak lama membuang muka karena merasa ketahuan telah berbuat kesalahan.


" Tapi waktu Rama ke kantor Om Ricky Mama nggak ada." Ramadhan menampakkan wajah sedihnya.


" Itu karena Mama jemput Rama ke sekolah, Mama 'kan nggak tahu kalau Rama sudah dijemput karena nggak ada yang kasih tahu Mama. Mama telepon juga diangkat," sindir Anindita.

__ADS_1


" Hihihi, Mama telepon Om Ricky, ya? Kata Om Ricky itu lagi hukum Mama, soalnya Mama lupa jemput Rama sekolah jadi kata Om Ricky telepon Mama jangan diangkat. Iya 'kan, Om?"


Sontak ucapan Ramadhan membuat Anindita dan Ricky terkesiap. Anindita dengan rasa kesal yang semakin jadi kembali menatap tajam ke arah Ricky yang saat itu langsung salah tingkah dan sudah dapat dipastikan bagaimana ekspresi wajah asisten dari bos besar Angkasa Raya Group saat itu menahan rasa malu.


" Nyonya Anindita ...!" Suara panggilan dari pegawai klinik yang memanggil nama Anindita bisa membuat Ricky sedikit menarik nafas lega karena akhirnya terhenti dari tatapan penuh intimidasi dari Anindita.


Anindita akhirnya segera masuk ke ruangan dokter Obgyn untuk memeriksakan kandungannya sedangkan Ramadhan dan Ricky menunggu di luar.


" Om, Rama mau ikut Mama." Ramadhan menunjuk pintu masuk ruang periksa Anindita.


" Rama tunggu di sini saja, Mama Anin nggak akan lama, kok." Ricky membujuk anaknya untuk tetap menunggu dengannya di luar.


" Rama mau lihat dedek bayinya, Om." Ramadhan bersikukuh ingin tetap menemani Mamanya.


" Adik ganteng, kok panggil ke Papanya Om, sih?" tanya wanita yang tadi duduk di sebelah kiri Anindita seraya mencubit gemas pipi Ramadhan.


" Mas ini sih bukan suaminya Mbak tadi, Bu. Suaminya Mbak tadi saya tahu orangnya, karena sering periksa bersamaan jadwalnya sama saya. Suami Mbak tadi katanya sih baru meninggal." Wanita yang tadi sempat berbincang dengan Anindita kemudian menjelaskan.


" Innalillahi wa Inna illaihi roji'un, duh ... kasihan sekali ya, sedang hamil harus kehilangan suami," sahut wanita di sebelah kiri posisi Ricky duduk saat ini.


" Tapi adik ini kok wajahnya mirip sama Om nya, ya? Kalau jadi Papanya cocok, deh! Sama-sama ganteng." Wanita di depan Ricky yang tadi mengeluh pinggangnya sakit ikut berkomentar.


" Om Ricky bukan Papa Rama, Tante. Papa Rama itu Papa Arya, tapi sudah meninggal." Ramadhan dengan cepat menjawab pertanyaan wanita tadi.


Seketika hati Ricky langsung mencelos mendengar perkataan Ramadhan yang menepis anggapan wanita itu jika dia adalah Papa dari Ramadhan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2