ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Ternyata Dia Normal, Bro!


__ADS_3

" Mbak, bagus yang mana? Aku suka yang biru tapi yang hijau juga bagus." Anindita menunjukkan dua set kasur kelambu bayi berwarna biru dan hijau, warna yang cocok untuk warna bayi laki-laki kepada Tita.


" Ah, bingung saya, Bu. Biru bagus hijau juga manis warnanya." Jawaban yang diberikan Tita tidak memberikan solusi atas pertanyaan yang diajukan oleh Anindita kepada ART nya itu.


" Yah, Mbak Tita. Saya tanya malah bikin galau ..." Anindita terkekeh.


" Hehe ... abisnya memang bagus dua-duanya, Bu." Tita menyahuti. " Coba ibu tanya Pak Ricky saja siapa tahu bisa kasih masukan, hihi ..." Tita terkikik menggoda Anindita yang langsung tersipu malu-malu.


" Apaan sih, Mbak Tita ini." Anindita langsung membalikan badannya karena dia tidak ingin Tita melihat rona wajahnya, namun dia dibuat terkesiap karena mendapati Ricky sudah berdiri di belakangnya.


" B-bapak ..." Anindita nampak gugup.


" Ambil saja dua-duanya kalau kamu bingung untuk memilih yang mana," sahut Ricky, jawaban yang bukan merupakan solusi yang baik.


" Untuk apa beli banyak-banyak? Cukup satu saja, ini harganya itu mahal." Anindita kemudian mengambil set kasur berwarna biru itu.


" Tidak masalah soal harga, nanti saya yang bayar." Ricky lalu melihat harga set kasur itu lalu dia mencari dari brand lain. " Ambil yang ini saja, bahannya lebih nyaman untuk bayi." Ricky mengambil set kasur yang harganya tiga kali lebih mahal dari kasur set yang dia pilih namun Anindita tidak bisa menolak karena Ricky akan memaksakan kehendaknya.


" Totalnya sepuluh juta enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus rupiah." Petugas kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Anindita.


Anindita melirik ke arah Ricky yang sudah mengeluarkan kartu debitnya.


" Belanjanya banyak sekali, Bu. Sampai sepuluh jutaan," bisik Tita kepada Anindita saat Ricky sedang melakukan pembayaran di kasir.


" Biarkan saja, Mbak Tita. Pak Ricky yang bayar ini. Saya melarang juga pasti tidak dia perdulikan." Anindita memutar bola matanya.


" Uangnya Pak Ricky nggak habis-habis ya, Bu? Makin dipetik makin subur." Tita berkelakar.


" Mbak, saya minta tolong barang-barangnya dibawa ke mobil saya!" Ricky meminta bantuan ke pelayan toko itu karena banyak sekali perlengkapan yang dibeli dan Ricky mencarikan yang kwalitas terbaik


" Baik, Tuan," sahut pelayan toko baby shop itu.


" Kita nanti mampir ke butik sebentar, kita cari gaun untuk kamu."


" Gaun untuk apa?" tanya Anindita bingung.


" Besok ulang tahun Ibu Utami. Kamu dan Rama diundang untuk menghadiri acara makan malam keluarga," ujar Ricky.


" Makan malam keluarga?" Anindita terkesiap saat mendengar dia diundang oleh Mama dari Dirga. " Kenapa saya diundang?" tanya Anindita heran.


" Karena Rama sudah Ibu Utami anggap sebagai cucu beliau sendiri. Ibu Utami sudah tahu jika kamu adalah calon istri saya jadi beliau mengundang kalian untuk bergabung dalam acara makan malam keluarga."


Anindita mendesah. Rasanya terlalu cepat dia harus masuk dalam lingkungan keluarga besar Poetra Laksmana. Dia merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kaya raya itu.


***


" Mama cantik banget," puji Ramadhan saat melihat Anindita yang sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan menggunakan gaun berwarna broken white.


Anindita langsung menoleh dan tersenyum menanggapi ucapan putranya.


" Mama cantik, ya? Mamanya siapa dulu?" Anindita terkekeh.


" Mamanya Rama, dong!" Ramadhan pun ikut tertawa kemudian berlari memeluk Anindita.


" Rama juga ganteng sekali." Anindita menatap Ramadhan yang malam ini memakai kemeja panjang dengan lengan dilipat sebatas siku berwarna teracota motif dan celana katun berwarna khaki.


" Tentu saja Rama ganteng karena Papanya juga tampan." Suara Ricky dari arah pintu membuat Anindita dan Ramadhan terkesiap.

__ADS_1


" Papa Rama ganteng, Pa? Memangnya Papa Ricky tahu Papa Rama, ya?"


Anindita langsung menatap tajam ke arah Ricky karena ucapan Ricky membuat Ramadhan meluncurkan pertanyaan seperti itu.


" Tentu saja Papa tahu siapa Papa Rama," jawab Ricky tenang berjalan mendekati Ramadhan sementara wajah Anindita seketika menegang dengan tangan mengepal. Dia menggelengkan kepala dengan menautkan kedua alisnya berharap agar Ricky tidak membuka tentang siapa pria itu sebenarnya untuk Ramadhan.


" Papa Ricky tahu Papa Rama ada di mana?" tanya Ramadhan terlihat antusias saat Ricky menyinggung soal Papanya.


" Tentu saja Papa Ricky tahu di mana Papa Rama sekarang berada." Ricky mengusap kepala Ramadhan.


" Pak ...!" sergah Anindita menghalangi agar Ricky tidak mengatakannya kepada Ramadhan saat ini.


" Papa Rama ada di mana, Pa?" Ramadhan semakin penasaran dengan perkataan Ricky.


" Papa Rama ada di sini, ada di depan Rama sekarang ini."


Tubuh Anindita seraya lemas dia sampai terhuyung ke belakang dan tubuhnya tersudut di meja rias. Dadanya bergerjolak, wajahnya pun menampakan emosi karena kelancangan Ricky yang dia anggap sudah berani mengungkapkan rahasia tentang siapa pria itu. Anindita bahkan sampai menahan nafasnya.


Sementara Ramadhan langsung menatap bengong ke arah Ricky.


Ricky lalu memegang kedua pundak Ramadhan dan duduk berjongkok di hadapan putranya itu.


" Rama 'kan pernah bilang mau menjadi anaknya Papa Ricky. Dan Rama juga pernah bilang mau menerima Papa Ricky sebagai Papa Rama, jadi Papa Rama sekarang ini dan selamanya itu adalah Papa Ricky."


" Oh iya ya, Pa." Ramadhan terkikik.


Sementara Anindita langsung menarik nafas lega seraya memejamkan matanya. Tadi dia sangat takut jika sampai Ricky mengatakan jika dialah Papa kandung Ramadhan saat itu juga karena dia masih tidak tahu akan seperti apa reaksi anaknya jika tahu Ricky adalah Papanya.


" Kamu tidak usah khawatir, saya akan menepati janji saya." bisikan Ricky di telinga Anindita membuat Anindita terperanjat. Dia tidak mengira jika pria itu kini sudah berdiri tepat di sampingnya dengan satu sudut bibirnya terangkat ke atas


" Kita bisa berangkat sekarang?" tanya Ricky mengulurkan tangannya ke arah Anindita hingga wanita itu kini menatap telapak tangan Ricky yang terulur ke arahnya.


***


" Hai, Anin ..." sapa seorang wanita paruh baya yang sedang berbincang dengan Kirania saat melihat kedatangannya di restoran di sebuah hotel berbintang.


" Assalamualaikum, Nyonya. Selamat ulang tahun, semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagian selalu ..." Anindita menyapa wanita paruh baya itu seraya memberikan ucapan selamat kepada Mama Utami.


" Waalaikumsalam, Aamiin ... terima kasih Anin. Panggil Mama saja jangan panggil Nyonya. Sebentar lagi kamu 'kan menjadi istri Ricky, berarti kamu juga akan menjadi menantu Mama."


Anindita langsung menundukkan wajahnya. Perkataan-perkataan yang menyebutkan jika dia adalah calon istri Ricky selalu membuat wajahnya bersemu, apalagi saat yang mengatakan itu adalah Mama Utami, ibu dari atasan Ricky.


" Mama benar, Mbak Anin panggil Mama saja biar lebih akrab." Kirania ikut menimpali.


" Bu Rania ...."


" Apa kabar, Mbak Anin?" tanya Kirania tanpa segan langsung memeluk tubuh Anindita.


" Alhamdulillah, Bu." sahut Anindita.


" Calon pengantin sudah datang rupanya." Dirga yang tadi sedang ada di toilet langsung berkomentar saat melihat kehadiran Ricky dan Anindita.


" Abang, jangan mulai, deh!" Kirania langsung mencubit lengan suaminya itu seolah memberikan ancaman agar suaminya itu tak banyak bicara apalagi sampai menggoda Anindita.


" Rama, ayo beri salam Nenek." Ricky kemudian menyuruh putranya untuk memberikan salam kepada Mama Utami yang langsung dilaksanakan Ramadhan.


" Oh, cucu nenek yang tampan ini apa kabar ?" sapa Ma Utami.

__ADS_1


" Rama baik, Nek." sahut Ramadhan. " Selamat ulang tahun, Nenek."


" Anak pintar ... terima kasih, Sayang ..." Mama Utami mengusap wajah Ramadhan.


" Tante Rania ..." Kini Ramadhan menyalami Kirania.


" Hai, Sayang ..." Kirania langsung mengecup kedua pipi Ramadhan.


" Hai, Ricky junior ..." Dirga mengacak rambut Ramadhan saat bocah itu mendekat ke arahnya.


" Owww ... Sayang, kenapa aku dicubit?" Dirga mengusap lengannya yang kembali kena cubitan istrinya itu.


" Hihihi ... Om Dirga nakal ya, Tante." celetuk Ramadhan yang melihat Dirga meringis kesakitan karena Kirania mencubitnya, membuat Mama Utami langsung terkekeh.


" Rama ..." Sementara Anindita langsung menegur putranya itu karena seolah menertawakan Dirga.


" Iya, Rama. Om Dirga bandel." Kirania langsung mendelik ke arah suaminya yang memberengut.


" Nenek, selamat ulang tahun ..." Seorang gadis kecil cantik terlihat berlari menghampiri Mama Utami disusul dengan seorang wanita cantik dan pria tampan di belakangnya.


" Kayla? Terima kasih, cucu Nenek." Mama Utami langsung memeluk dan menciumi pipi cucu pertamanya itu.


" Buon compleanno, Ma." Nadia kini memeluk Mama Utami dan mengucapkan selamat ulang tahun dalam bahasa Italia.


" Terima kasih, Nadia. Kapan kalian datang?" tanya Mama Utami.


" Tadi siang, Ma." sahut Nadia.


" Happy birthday, Tante." Kali ini Edward yang memberikan selamat kepada Mama Utami.


" Terima kasih, Do. Senang sekali semua keluarga berkumpul seperti ini." Mama Utami tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.


" Hai, Mbak Nadia. Bang Edo ..." Kirania kini menyapa dua orang yang kini sudah resmi menjadi suami istri itu.


" Hai, Ran ..." Nadia dan Kirania, dua orang yang merupakan mantan dan istri Dirgantara itu kini berpelukan.


" Hai, Sweetie ... apa kabarmu? Masih betah menjadi istri Dirgantara?" sindir Edward menyapa Kirania.


" Si*alan, kau!" umpat Dirgantara langsung merangkulkan tangannya ke pundak sang istri. " Tentu saja dia betah menjadi istriku, karena aku adalah pria yang paling dicintainya."


" Alhamdulillah aku baik, Bang." Kirania menyahuti sapaan sepupu suaminya itu.


Sementara Ricky sendiri sedikit menarik sudut bibirnya saat bosnya itu kena sindiran Edward.


" Oh ya, siapa wanita ini?" Kini Edward menatap ke arah Anindita yang nampak grogi dan rendah diri berhadapan dengan keluarga besar atasan Ricky itu.


" Kau belum kenal siapa dia, Do? Dia ini calon istrinya Ricky." Dengan cepat Dirga menjawab pertanyaan Edward seraya melirik ke arah Ricky.


" Calon istri Ricky?" Edward menatap perut buncit Anindita. " Ternyata dia normal, Bro!" sindir Edward berbisik dekat telinga Dirga dengan nada suara yang sedikit kencang.


*


*


*


Bersambung

__ADS_1


Wah, Bang Edo muncul, nih! Abis kau, Rick!😂😂


Happy Reading ❤️


__ADS_2