ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Mencari Info Tentang Arya


__ADS_3

Anindita meraih ponselnya saat terdengar ada panggilan masuk di ponselnya. Dengan cepat pula dia menerima panggilan telepon itu.


" Assalamualaikum, Mas ..." sapa Anindita terlebih dahulu menjawab panggilan telepon dari Arya.


" Waalaikumsalam, Nin. Rama sudah bobo?" tanya Arya kemudian.


" Belum, Mas." Anindita menyahuti pertanyaan Arya.


" Ya sudah kamu turun ke bawah, ya! Aku ada di lobby hotel," pinta Arya.


" Iya, Mas."


" Ya sudah aku tutup teleponnya, Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Setelah menutup panggilan telepon dari Arya, Anindita segera mengajak anaknya ke lobby hotel menemui Arya.


" Om Arya ..." seru Ramadhan saat melihat Arya sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


" Ha, Rama ..." Arya merentangkan tangannya hingga membuat Ramadhan menerima pelukan dari calon ayah sambungnya itu.


" Kamu mau makan di mana? Di sini atau di luar?" tanya Arya, kini pria itu sudah menggendong Ramadhan di punggungnya.


" Di luar saja, cari yang murah di pinggir jalan, Mas." Anindita menjawab cepat, karena dia tahu harga makanan di restoran yang ada di hotel itu pasti mahal. Dia tidak mau terlalu membebani Arya.


" Ya sudah, ayo ... kamu mau makan apa?" tanya Arya lagi.


" Apa saja yang penting murah dan enak," sahut Anindita.


" Murah dan enak? Memang ada?" Arya menoleh ke arah Anindita seraya mengeryitkan keningnya.


" Banyak, nasi kucing contohnya," Anindita memberikan salah satu makanan kesukaannya, karena harganya yang relatif terjangkau oleh isi dompetnya.


" Memang kucing bisa dimakan ya, Ma?" tanya Ramadhan polos, membuat kedua orang dewasa itu tertawa.


" Bukan kucingnya yang dimakan tapi makannya sama kucing," kelakar Arya sehingga Anindita menggelengkan kepala menanggapi ke dua orang di hadapannya.


" Nasi kucing itu bukan kucingnya yang dimakan atau makannya sama kucing, tapi nasinya itu sedikit sekali, hampir sama kaya makanan buat kucing, sedikit." Anindita menjelaskan.

__ADS_1


" Oh gitu ya, Ma?" tanya Ramadhan.


" Iya sayang ..." Anindita menjawab.


" Jadi sekarang kita makan nasi kucing, nih?" tanya Arya.


" Rama mau, Om ..." sahut Ramadhan.


" Kalau Mamanya Rama mau nya apa?" Arya melirik Anindita.


" Aku disamain sama kamu saja, Mas." Anindita menyahuti. Anindita juga tidak menyadari kalau dirinya pun sudah merubah panggilan saya menjadi aku.


" Apa? Kamu mau sama aku saja?" Arya sengaja mendekatkan telinganya ke arah Anindita.


Sontak sikap Arya membuat Anindita tersipu malu.


" Nggak usah malu-malu gitu, deh. Aku ini 'kan calon suami kamu, jadi wajar kalau kamu inginnya sama aku saja. Dan harus sama aku saja jangan sama yang lain." Kata-kata Arya semakin membuat rona wajah Anindita bersemu merah.


***


Ricky membuka rekaman CCTV yang terpasang di mobilnya. Dari rekaman itu dia bisa melihat aktivitas yang terjadi di luar sekitar mobil mewah miliknya yang terparkir kemarin sore. Ricky memperhatikan mobil yang datang dan terparkir tepat di sebelahnya. Ricky pun langsung memicingkan matanya saat melihat orang yang keluar dari mobil itu adalah sosok pria yang menghajarnya.


Ricky mengulang kembali rekaman saat mobil Arya datang dan terparkir hingga menampakkan wajah Arya yang keluar dari mobil itu. Ricky langsung meraih ponselnya lalu menghubungi orang yang dia tuju.


" Baik, Pak Ricky. Kirim saja rekamannya ke saya, Pak." Deni menjawab.


" Oke, nanti saya kirimkan." Ricky mematikan sambungan teleponnya. Dia langsung mengcopy rekaman itu lalu mengirimkannya ke Deni, orang yang dia suruh untuk mencari info seputar pria yang mengaku sebagai calon suami ibu dari anaknya itu.


Sementara itu setelah makan di tempat angkringan yang ada di tepi jalan, Anindita kembali ke hotel yang sudah dua hari ini dia tempati karena Ramadhan sudah tertidur di bahu Arya.


" Mas, biar Rama aku saja yang bawa ke kamar." Anindita meminta Arya memberikan Ramadhan yang terlelap dalam gendongan Arya, karena dia tidak enak harus membawa Arya masuk ke kamar hotelnya walaupun kemarin juga Arya membantu membawakan koper miliknya.


" Biar aku saja, anakmu ini semakin lama semakin berat, kasihan jika kamu yang bawa." Arya menolak permintaan Anindita dan Anindita hanya bisa pasrah menuruti.


" Kamu betah tinggal di sini?" tanya Arya kepada Anindita saat merebahkan tubuh Ramadhan di tempat tidur.


" Rama yang senang tinggal di sini, dia bilang kasur empuk, kamar mandinya enak bisa berendam nggak sempit kaya di rumah cuma pakai ember, tempat pup nya juga bagus bisa duduk nggak harus jongkok." Anindita menceritakan bagaimana anaknya itu kegirangan tinggal di hotel.


" Kalau kamu sendiri nggak betah memangnya?"

__ADS_1


Anindita menggelengkan kepala. " Bagaimana aku bisa merasa betah enak-enakan tinggal di sini menghabiskan uang kamu, Mas? Kalau ada kontrakan, mending bantu aku cari kontrakan yang biasa saja, Mas. Aku masih punya simpanan uang kok buat bayar rumah kontrakan," ujar Anindita.


" Tidak, Nin. Aku nggak akan membiarkan kalian tinggal di kontrakan! Aku sudah suruh orang membereskan rumahku, lusa pagi kamu bisa pindah ke sana," tegas Arya.


" Kalau begitu pengeluaran untuk biaya menginap di sini aku saja yang bayar, Mas. Aku ada uang simpanan."


" Uang kamu sebaiknya kamu simpan saja, lagipula biaya menginap kamu sampai lusa check out sudah aku bayar."


Anindita mendesah, dia merasa selama ini sudah membuat repot Arya.


" Maaf ya, Mas. Aku sudah banyak repotin kamu," Anindita merasa tidak enak hati.


" Jangan merasa sungkan begitu


terhadapku, Nin. Kita ini sebentar lagi akan menikah, hanya tinggal beberapa bulan lagi saja. Jadi buang semua perasaan-perasaan tak enak hati seperti itu." Arya mencoba meyakinkan Anindita agar wanita itu tidak selalu menganggapnya orang lain.


" Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu, ya! Tidak enak harus berada di dalam hotel seperti ini. Aku takut khilaf apalagi Rama terlihat pulas." Arya menyeringai seraya mengelus tengkuknya. Sedang Anindita langsung membulatkan bola matanya mendengar uncapan Arya.


***


" Pagi, Pak Ricky ..." sapa Karina kepada atasannya yang juga asisten dari kakak iparnya itu saat Ricky memasuki ruang kerjanya.


" Pagi," sahut Ricky kepada Karina kemudian mendudukkan tubuhnya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Sejak dia menemukan Anindita dan Ramadhan hati dan pikirannya tak karuan. Untung saja hal itu tidak mempengaruhi kinerja dia yang selama ini dikenal sangat profesional.


Ddrrtt ddrrtt


Ricky langsung meraih ponselnya saat dia mendengar benda pipih itu bergetar.


" Halo, bagaimana, Den? Sudah dapat informasi?"


" Sudah, Pak. Pria itu adalah Arya Rahardja. Beliau seorang kepala sekolah di SMPN xx. Beliau seorang duda dan mempunyai putri berusia sembilan tahun. Sudah lima tahun ini berpisah dengan istrinya. Saat ini beliau tinggal di rumah dinas bersama orang tua dan anaknya. Dan ternyata beliau sendiri mempunyai rumah pribadi di perumahan Angkasa Raya Residence. Menurut informasi rumah milik Pak Arya selama ini tidak dihuni, namun dua hari ini rumah itu sedang direnovasi. Menurut info yang saya dapat dari orang yang bekerja di sana, katanya rumah itu akan segera di tempati, dan satu kamar di desain seperti kamar untuk bocah laki-laki." Deni secara gamblang memberikan informasi yang didapatknya.


" Hmmm, jadi dia tinggal di perumahan milik Angkasa Raya?" Ricky mengelus rahangnya. Seulas senyuman langsung mengembang di bibirnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2