
Ricky menunggu hingga lima menit. Dia berkali-kali menelepon orang itu hingga panggilannya akhirnya terjawab.
" Halo, selamat pagi, Tuan Ricky. Ada apa ya, Tuan Ricky pagi-pagi telepon saya?" Suara wanita yang terdengar parau karena terbangun mendengar panggilan telepon dari Ricky.
" Maaf, Nyonya Lucy kalau saya mengganggu tidur Anda. Saya tidak tahu harus menghubungi siapa? Karena yang saya tahu orang-orang terdekat dengan Anindita adalah Nyonya dan beberapa karyawan toko Nyonya," ujar Ricky, karena sejujurnya dia merasa tidak enak menghubungi Lucy pagi-pagi.
" Memangnya ada apa dengan Anin, Tuan Ricky?" tanya Lucy penasaran.
" Saya baru mendapatkan kabar jika Pak Arya meninggal di luar kota ...."
" Ya Tuhan ..." Lucy terkesiap sampai memotong ucapan Ricky.
" P-Pak Arya m-meninggal? Kapan? Di mana? Meninggal karena apa?" Suara Lucy kini terdengar lebih jelas karena tentu saja berita tentang Arya membuat nyawanya seketika berkunpul dan kesadarannya normal.
" Pak Arya meninggal dini hari tadi di Semarang karena serangan jantung." Ricky menjelaskan.
" Ya Tuhan, Pak Arya orang baik kenapa secepat itu pergi? Anin pasti sangat terpukul sekali mengetahui hal ini ..." Lucy bisa merasakan apa yang dirasakan Anindita saat ini.
" Karena itu, Nyonya. Saya mohon bantuan Nyonya Lucy untuk bisa menemani Anindita hari ini. Karena jenazah akan segera diurus dipulangkan ke rumah duka di tempat tinggal Pak Arya. Anindita butuh orang yang bisa menguatkannya. Saya rasa Nyonya bisa membantu untuk hal itu." Ricky menyampaikan maksudnya menghubungi Lucy.
" Baiklah, Tuan. Saya akan ke rumah Pak Arya segera. Nanti saya suruh Yeti dan Mita juga untuk menemani Anin. Saya rasa dia butuh banyak support dari orang-orang di sekelilingnya."
" Terima kasih atas bantuannya Anda, Nyonya Lucy."
" Kalau untuk urusan Anin, Tuan Ricky tidak perlu segan meminta bantuan saya. Ya sudah, saya siap-siap dulu untuk ke sana, Pak Ricky."
" Baiklah, Nyonya. Silahkan ..." Ricky pun kemudian mengakhiri panggilan teleponnya dengan Lucy.
" Mama, bangun ... hiks ...."
Ricky kembali menoleh ke arah Ramadhan yang masih menangisi Mamanya yang masih belum juga tersadar.
" Om Ricky, kok Mama nggak bangun-bangun, sih? Rama mau telepon Papa Arya saja, biar Papa Arya yang bangunin Mama," ucap Ramadhan yang belum mengetahui jika Arya sudah meninggal.
" Mama Rama sedang istirahat karena capek. Rama jangan menangis terus, ya! Rama harus kuat karena Rama yang akan jagain Mama nantinya." Ricky membelai kepala Ramadhan dengan lembut.
" Mbak, bisa bawa Rama ke kamarnya? Suruh dia agar kembali tidur karena tadi tidurnya agak terganggu." Ricky langsung mengangkat tubuh Ranadhan dan menyerahkannya ke Mita.
" Baik, Pak.".
" Rama bobo lagi, ya! Soalnya nanti akan banyak tamu di sini jadi Rama harus bobo lagi biar nanti nggak mengantuk. Mama biar nanti Om yang menemani."
" Iya, Om."
" Oh ya, Mbak. Anak Pak Arya mana?" Ricky menanyakan keberadaan Putri karena sejak tadi dia tidak melihatnya.
__ADS_1
" Putri semalam dijemput Mamanya, Pak."
" Hmmm, apa Mbak punya nomer telepon mantan istri Pak Arya? Dia juga mesti tahu tentang berita ini."
" Saya nggak punya, Pak Ricky. Mungkin di ponselnya ibu ada. Cari saja Ibu Rachel atau Mama Putri."
" Oh ya sudah, Mbak cepat bawa Rama ke kamarnya."
" Baik, Pak."
Selepas Tita keluar dari kamar Anindita, Ricky lalu kembali mengambil ponsel milik Anindita. Dia mencari nama yang disebutkan oleh Tita. Dan dia menemukan nama Mama Putri, Ricky pun lalu mencoba menghubungi Rachel.
" Assalamualikum, ada apa, Anin?" tanya suara wanita dari balik telepon Anindita.
" Waalaikumsalam, maaf apa saya bicara dengan Ibu dari Putri?" tanya Ricky.
" I-iya benar saya Rachel Mamanya Putri. Maaf ini dengan siapa, ya?" Suara Rachel terdengar kaget mendapati suara pria di ponsel Anindita.
" Saya Ricky, Nyonya Rachel. Saya ingin mengabarkan berita duka. Saya baru mendapatkan kabar dari teman Pak Arya di Semarang yang mengabarkan bahwa Pak Arya meninggal dunia dini hari tadi karena serangan jantung."
" Innalillahi Wainnaillaihi Roji'un Mas Arya ..." suara Rachel terdengar syok mendengar berita meninggalnya Arya. Bahkan suara Isak tangis terdengar dari suara wanita itu.
" Saya rasa saya harus mengabari Anda, Nyonya Rachel. Karena Anda adalah ibu dari anak Pak Arya, Putri."
" Ya Allah ..." Rachel tak henti terisak.
" I-iya, terima kasih, Pak. Oh ya, bagaimana dengan Anin?" tanya Rachel. Tentu saja dia merasa cemas dengan kondisi Anindita yang sekarang ini sedang mengandung anak dari mantan suaminya dulu.
" Nyonya Arya masih tidak sadarkan diri, Nyonya."
" Astaghfirullahal adzim, Anin pasti syok sekali mendengar berita ini."
" Benar, Nyonya."
" Sekarang jenazah Mas Arya ada di mana?"
" Jenazah Pak Arya sedang diurus untuk dipulangkan ke rumah duka."
" Ya sudah, nanti saya dan Putri akan segera ke sana. Terima kasih atas informasinya, Pak Ricky. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Ricky lalu meletakkan ponsel Anindita di dekat nakas. Dia kemudian mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Anindita. Wajah Anindita nampak pucat dengan air mata yang masih menitik. Perlahan Ricky mencoba menghapus tetesan air mata itu dari ekor mata Anindita.
Ricky lalu menatap perut Anindita yang sudah nampak sedikit membuncit. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh perut Anindita yang tertutup kain pakaian yang dipakainya.
__ADS_1
" Ya Tuhan, dia harus mengalami lagi hal yang sama untuk kedua kalinya. Harus menjalani kehamilan tanpa didampingi ayah si bayi." Ricky menatap penuh rasa prihatin.
***
Situasi di rumah Arya seketika ramai dengan orang-orang yang bertakziah. Dari tetangga sekitar sampai para guru dan murid-murid di sekolah Arya sejak kabar meninggalnya Arya beredar. Jenazah Arya sendiri akan dimakamkan selepas sholat Dzuhur karena menunggu kedatangan keluarga Arya dari luar daerah.
Anindita menatap nanar tubuh yang terbujur kaku yang telah berbalut kain kafan. Hatinya terasa hancur sehancur-hancurnya. Kebahagiaan dia menjalani sebuah biduk rumah tangga dengan pria yang mencintainya dengan begitu tulus harus hilang seketika. Kurang dari setengah tahun usia pernikahannya dengan Arya, kini dia harus kehilangan pria itu untuk selama-lamanya. Anindita merasa saat ini dia seakan kehilangan separuh nyawanya. Separuh jiwanya seakan ikut terbawa pergi bersama suaminya tercinta.
" Hiks, Mas Arya ..." lirih Anindita memanggil nama suaminya.
" Anin, kamu yang sabar. kamu mesti kuat demi bayi dalam kandungan kamu. Demi Rama juga ..." Lucy yang sedari merangkul Anindita mencoba menguatkan Anindita dan meyandarkan kepala Anindita ke bahunya.
" Kenapa Mas Arya tega ninggalin saya, Ci? Mas Arya janji mau menemani saya melahirkan. Mas Arya berjanji ingin bersama saya sampai kami menua bersama. Kenapa sekarang Mas Arya ingkar sama janjinya, Ci." Anindita berkata dengan berurai air mata.
" Itu sudah kehendak yang kuasa Anin. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan kita ke depannya. Kamu harus bertahan demi anak-anak kamu." Lucy terus menerus memotivasi Anindita di saat Anindita sedang rapuh seperti sekarang ini.
" Kenapa ini terjadi begitu cepat, Ci? Hiks ... bagaimana saya bisa bertahan tanpa Mas Arya di samping saya, Ci? Hiks ... hiks ...."
" Kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa bertahan, Anin." Lucy sungguh tidak tega melihat penderitaan Anindita.
" Anin, kamu yang sabar. Ikhlaskan Mas Arya. Mas Arya orang yang sangat baik, Allah manggil dia dengan jalan yang sangat baik juga. Kamu mesti survive demi anak kamu dan Mas Arya ..." Rachel pun yang sudah sejak pagi ada di rumah Arya mencoba menguatkan Anindita setelah dia juga harus menenangkan Putri, anaknya bersama Arya.
" Hiks ... hiks ..." Anindita hanya menyahuti perkataan Rachel dengan tangisan.
Sementara Ricky sendiri sedari tadi berbincang dengan Rochman dan beberapa sahabat Arya. Setelah sahabat-sahabat Arya itu memanjatkan doa-doa untuk Arya.
" Pak Arya itu sahabat dekat saya sejak sekolah dulu, Pak Ricky. Dia memang orang yang dikenal sangat baik dan santun. Tidaklah heran jika dia sekarang menjadi seorang kepala sekolah."
" Kemarin saat reuni pun Pak Arya mengajak kami untuk mengunjungi salah satu guru kami dulu saat SMA, karena Pak Arya sangat prihatin dengan nasib guru kami yang ditelantarkan keluarganya di panti wreda. Beliau juga bahkan menggagas teman-teman untuk membantu teman-teman kami dulu yang masih kesulitan ekonomi." Rochman menceritakan bagaimana pribadi Arya yang dia tahu selama ini.
" Kepergian Arya tentu saja merupakan duka untuk kami semua. Kami benar-benar kehilangan sahabat terbaik kami." Rochman pun tidak dapat menutupi kesedihannya.
" Iya, saya juga setuju dengan Anda, Pak Rochman. Pak Arya memang benar-benar sosok orang yang sangat baik." Ricky kini menatap ke arah Anindita yang bersandar lemah dalam pelukan Lucy dengan air mata yang terus menerus membasahi pipi wanita cantik itu.
" Ini semua karena wanita pembawa sial itu!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari arah luar pintu rumah Arya membuat semua yang ada di dalam rumah Arya memusatkan pandangan pada pemilik suara tadi.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like & komen ya Kak, makasih🙏
Happy Reading