ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Menghukum Mama Anin


__ADS_3

Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan Anindita saat ini selain kata malu. Sungguh kisah masa lalunya bukalah hal yang pantas untuk dikenang namun kini malah diketahui oleh banyak orang.


" Pak Ricky itu sangat menyesali perbuatannya dulu. Saya berharap Mbak Anin bisa memaafkan Pak Ricky atas apa yang dilakukan Pak Ricky di masa lalu Mbak Anin yang begitu menyakiti Mbak Anin."


Anindita tertunduk memdengar perkataan Kirania yang seolah menjudge dirinya yang selalu menyalahkan Ricky atas peristiwa yang terjadi dulu.


" Mbak Anin tahu tidak, pertama kali saya berjumpa dengan Pak Ricky, saya itu sangat sebal dengan dia. Karena dia itu menculik saya dan menyembunyikan saya di villa dia di Pangandaran." Kirania teringat pertemuan pertama kali dia dengan Ricky dulu.


" Diculik?" Anindita menegakkan kepalanya saat mendengar Ricky menculik Kirania.


" Iya, dia menculik saya tanpa sepengetahuan suami saya padahal dia itu asisten suami saya." Kirania terkekeh. " Jadi dulu saya itu bertunangan dengan pria lain ..." Kirania pun menceritakan kisah percintaannya dengan Dirga dulu.


Anindita mendengarkan dengan serius kisah pertemuan Kirania dengan Ricky dan kisah cintanya dengan Dirga. Anindita merasa jika Kirania adalah wanita yang sangat beruntung, karena baru dia ketahui jika Kirania adalah wanita dari kalangan biasa tapi begitu dicintai oleh seorang bos perusahaan besar.


" Coba Mbak Anin bayangkan, apa tidak kesal, ditanya dia itu siapa dan apa tujuan dia menculik saya? Tapi dia santai saja, sama sekali tidak memberitahukan siapa dirinya itu. Sampai akhirnya suami saya sendiri yang akhirnya menemukan keberadaan saya waktu itu. Bayangkan, Pak Ricky berani mengerjai bosnya sendiri ..." Kirania terkekeh menceritakan bagaimana sikap Ricky dulu terhadapnya.


" Tapi setelah itu baru saya tahu ternyata dia itu orangnya sangat baik. Pak Ricky itu orang kepercayaan Angkasa Raya Group. Dulu waktu suami saya belum menjabat sebagai bos di sini, Pak Ricky itu tangan kanannya Papa mertua saya." Kirania menjelaskan.


Anindita mendesah, sebenarnya dia merasa jengah jika harus membicarakan soal Ricky.


" Pak Ricky itu anak angkat Papa mertua saya. Mbak Anin percaya nggak kalau dia itu sebenarnya berasal dari orang-orang seperti kita?"


Anindita mengeryitkan keningnya mencoba memahami apa maksud kata-kata orang seperti kita.


" Dia itu anak dari salah satu pekerja bangunan di Angkasa Raya. Dan ayahnya itu tewas saat sedang beraktivitas di proyek. Akhirnya Papa Poetra mengangkat Pak Ricky menjadi anak angkatnya dan membiayai seluruh kebutuhan hidup keluarga Pak Ricky itu." Kirania sudah mirip seperti ibu-ibu rumpi yang senang bergosip.


Anindita sendiri langsung terkesiap mendengar fakta jika Ricky itu berasal dari kalangan rakyat biasa sepertinya. Hampir sulit dipercayai jika melihat bagaimana Ricky sekarang ini yang menjelma sebagai sosok eksekutif muda yang mumpuni yang sangat diandalkan oleh perusahaan raksasa sekelas Angkasa Raya Group.


***


Setelah selesai membahas soal pekerjaan dengan Dirga, Ricky memilih kembali ke meja kerjanya. Sementara Anindita sendiri masih tertahan di kamar istirahat Dirga bersama Kirania.


Ricky kemudian menghubungi seseorang dari telepon PSTN di meja kerjanya.


" Selamat siang, Pak Ilyas. Saya ingin tahu soal dua ruko kosong yang ada di bawah apartemen tempat saya tinggal. Saya ingin beli dua ruko tersebut. Tolong kabari saya secepatnya, terima kasih." Ricky menutup panggilan teleponnya.


Tak lama Ricky kemudian meraih ponselnya dari saku kantognya dan mencoba menghubungi pemilik Alabama Florist.


" Halo, Tuan Ricky. Ada apa, Tuan?" sapa Lucy dari telepon Ricky.

__ADS_1


" Nyonya, bagaimana jika toko florist Nyonya membuka cabang di ruko apartemen tempat saya tinggal? Saya tidak ingin Anin bekerja tapi dia bersikeras ingin bekerja. Saya berencana ingin membeli dua unit ruko di kawasan apartemen saya dan membuka toko florist Alabama. Biar nanti Anin saja yang handle di sana. Semua modal biar saya yang atur. Saya pastikan Nyonya akan mendapat royalty untuk itu." Ricky menjelaskan rencananya kepada Lucy.


" Oh, silahkan saja, Tuan. Kalau Tuan Ricky yang menyediakan tempat juga modalnya. Saya menerima dengan senang hati," sahut Lucy.


" Tapi saya minta salah satu karyawan Anda yang dekat dengan Anin ikut membantu Anindita. Mita atau Yeti?" tanya Ricky


" Mungkin Mita saja, Tuan. Kalau Yeti, saya perlu dia di sini karena Anin sudah tidak bekerja di sini lagi." Lucy memilih Mita yang akan mendampingi Anindita mengolah cabang Alabama florist.


" Baiklah kalau begitu. Nanti saya urus rukonya dulu agar di renovasi semenarik mungkin. Saya akan transfer dana ke Nyonya. Nanti silahkan Nyonya yang atur apa-apa saja yang diperlukan untuk toko baru itu."


" Baik, Tuan. Nanti saya atur semuanya."


" Tolong jangan beritahukan Anin jika toko itu saya beli untuk dia, dan dialah pemilik toko itu. Biarkan saja Anin mengira jika toko itu adalah milik Nyonya, dan Anda menempatkan dia di sana."


" Baik, Tuan."


" Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda, Nyonya Lucy."


" Sama-sama, Tuan. Saya juga berterima kasih Tuan ikut memajukan nama toko bunga saya."


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Lucy di telepon, Ricky menoleh arah jarum jam yang hampir menunjukkan jam sebelas siang. Sekitar sepuluh menit lagi Ramadhan akan pulang sekolah. Ricky pun kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu meraih kunci mobilnya berniat menjemput Ramadhan tanpa menunggu Anindita yang sepertinya belum selesai diajak bicara oleh Kirania.


" Mbak, apa Pak Ricky ada di dalam?" tanya Anindita kepada Lisna.


" Oh Pak Ricky baru saja keluar, Bu." Lisna menyahuti.


" Keluar? Keluar ke mana ya, Mbak?" Anindita mendadak gelisah karena dia melirik arlojinya, jam sudah menunjukkan waktunya Ramadhan akan pulang sekolah.


" Saya kurang tahu, Bu. Pak Ricky tidak bilang apa-apa saat pergi tadi," sahut Lisna.


Anindita memijat pelipisnya. Jika Ricky pergi lalu bagaimana dengan Ramadhan? Siapa yang akan menjemput Ramadhan. Walaupun seingat dia tempat sekolah anaknya itu dekat dari kantor Ricky namun dia tidak ingat jalan-jalan yang dilaluinya tadi.


" Oh, terima kasih, Mbak." Anindita kemudian berjalan menjauh dari arah meja kerja Lisna. Dia berusaha menelepon nomer Ricky. Namun setelah melakukan beberapa kali panggilan, panggilannya itu sama sekali tak diangkat oleh Ricky. Hal itu membuat Anindita semakin cemas.


Anindita pun berjalan ke arah lift, dia berniat menjemput Ramadhan sendiri ke sekolahnya, Sesampainya di lobby, Anindita langsung memesan ojek online yang akan membawanya ke tempat sekolah Ramadhan yang baru. Sementara dadanya bergemuruh, dia merasa sangat kesal pada Ricky yang dia anggap tidak bertanggung jawab dan lalai menjemput anaknya pulang sekolah.


Sementara itu di sekolah Ramadhan, Ricky memilih menunggu Ramadhan selesai belajar di ruang kepala sekolah. Dia sengaja meminta bantuan guru Ramadhan untuk mengantar Ramadhan ke tempat kepala sekolah, jika Ramadan sudah selesai belajar jadi dia tak pusing-pusing harus mencari Ramadhan di antara puluhan murid-murid yang berlarian keluar dari ruang kelasnya.


Dan setelah Ramadhan di antar oleh gurunya, Ricky pun kemudian membawa Ramadhan ke mobilnya.

__ADS_1


" Mama mana, Om?" tanya Ramadhan karena tidak menemukan Anindita di dalam mobil.


" Mama Anin sedang asyik ngobrol sampai lupa jemput Rama." Ricky terkekeh menjawab pertanyaan anaknya.


" Mama ngobrol sama siapa memangnya, Om!" tanya Ramadhan penasaran.


" Sama Tante bos," sahut Ricky.


Mata Ramadhan terbelalak saat mendengar jika Mamanya sedang berbicara dengan Kirania.


" Mama main ke kantornya Om, ya? Rama juga mau main ke kantornya Om, mau ketemu sama Tante bos, Om." Ramadhan bersemangat karena tahu Mamanya kini berada di kantor Ricky.


" Iya, kita ke sana, ya!"


" Iya, Om."


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba terdengar ponsel Ricky berbunyi. Ricky langsung mengecek siapa yang memanggilnya. Ternyata Anindita lah yang menghubunginya.


" Nih, Mama telepon. Karena Mama Anin tadi nggak ingat jemput Rama, gimana kalau sekarang kita hukum Mama Anin?" Tiba-tiba saja ide usil muncul di benak Ricky.


" Mama dihukum apa, Om?" tanya Ramadhan penasaran.


" Kita nggak usah angkat telepon dari Mama. Biar Mama Anin pusing cari kita, nanti kita kagetkan Mama Anin kalau sudah sampai kantor Om, Oke?"


" Iya, Om. Iya ..." Ramadhan terpengaruh oleh Ricky untuk mengerjai Anindita.


*


*


*


Bersambung


Yang penasaran kisahnya Dirga❤️Kirania bisa mampir di novel Rindu Tak Bertuan, makasih🙏


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2